March 7th, 2010 by nightlovers
Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.
Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu selama beberapa waktu untuk bertukar kabar. Wakai bilang anaknya bisa dia titipkan dengan ibunya jadi kita bisa keluar. Oh iya Wakai ini seorang single parent, bercerai dengan suaminya saat anak mereka usia 3 tahun. Read the rest of this entry »
March 6th, 2010 by nightlovers
Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc — salah satu member group yang stay di Medan — langsung buat ikon sedih karena dia tak bisa ikut bersama kami. Read the rest of this entry »
February 22nd, 2010 by nightlovers
Aku jalan-jalan malam lagi, kali ini keluar kongkow dengan teman-teman lama. Sempat miskom juga, karena Lin tidak memberi petunjuk dengan benar. Katanya “Seberang Gading 1. Seberangnya Pizza Hut.” Dalam bayanganku, lokasinya di dalam Mall Kelapa Gading 1, kan ada PH juga di situ. Lalu aku kira mungkin maksud dia seberang itu ke arah La Piazza. Wow, ternyata maksudnya adalah di jalan raya boulevardnya. Padahal aku sudah turun lengkap dengan stroller anakku di Gading 1. Dan ternyata semua teman juga menyangka bahwa yang dimaksud dengan “seberangnya gading 1″ adalah di dalam komplek mkg juga. Merepet-repetlah kami semua.
Akhinya suara terbanyak sepakat bahwa kita akan stay di mall saja, tidak jadi menyeberang ke kafe coklat yang dibilang Lin itu. Di dalam mall lebih gampang kalau mau kemana-mana. Read the rest of this entry »
February 14th, 2010 by nightlovers
Hmm. Aku melihat ponselku. Hang. Kenapa sih ponsel sekarang gampang sekali hang? Sepertinya semakin mahal harga ponsel kok malah semakin sering hang ya? Padahal ponsel SonEr ku ini lebih sering dalam posisi stand by, tapi barusan aku terima telepon dari tukang tas, kok nge-hang. Tukang tas mau datang sebentar lagi. Aku melirik jam dinding, sudah hampir pukul sembilan. Aku tadi tertidur ternyata. Seharian ini capek juga karena seharian di luar. Read the rest of this entry »
January 13th, 2010 by nightlovers
Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.
Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam sambil menatap bintang di langit. Tak lupa segelas susu coklat panas dan setangkup roti bakar mendampingiku. Read the rest of this entry »
November 25th, 2009 by nightlovers
Aahh..! Tumben cuaca malam ini begitu bersih dan terang. Tidak hujan, bahkan tidak ada rintik sedikitpun. Aku sedang di jalan bersama tante, anakku, dan susternya, menuju Kelapa Gading. Aku dapat jadwal konsultasi jam 7 malam bersama seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang, maka kami harus bergegas. Begitu tiba, kami langsung naik ke lantai 2. Re tidak bisa ikut karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal.
Pemandangan di klinik ini berbeda dengan yang pernah aku datangi. Kalau di rumah sakit tempat aku biasa membawa anakku untuk kontrol banyak bayi dan toddler yang ribut lari kesana kemari, tapi di sini aku hanya melihat seorang bayi, selebihnya sudah bisa dikatakan toddler, dan juga ada yang sudah anak-anak. Dan sebagian besar dari mereka adalah anak “berkebutuhan khusus”.
Tadi di lantai 1, ada seorang anak yang sebesar anakku, terus dipangku ibunya. Aku tak tahu apa yang dipakainya, tapi anak itu tidak mengenakan diaper, tapi ada kantong di pangkuan ibunya, yang kelihatannya berisi air seni. Anak itu bolak-balik pipis. Aku lihat kaki dan betisnya lurus saja, tidak berotot, hmm.. mungkin dia tidak bisa jalan? Entahlah.
Seorang anak yang kira-kira berumur lima tahun, diam saja saat pertama masuk, tapi ketika disuruh menimbang berat badan, dia mengamuk dan memberontak. Ada lagi seorang bocah yang duduk menunduk, tak mempan oleh bujukan ibu dan neneknya. Ketakutan disuruh ambil darah. Anakku lewat dan berhenti di depannya, lalu menunjuk-nunjuk gambar di baju kaos anak itu. “Uh..! Uh..!” Lalu aku dengar si nenek bersuara, “Tuh lihat, adeknya aja gak takut, malu lho sama adeknya.” Aku tersenyum mendengarnya.
Lalu aku lihat seorang ibu turun dari tangga lantai 3. Ia menggendong anak perempuannya yang aku tebak mungkin usianya sekitar 5-6 bulan. Anak itu begitu mungil, kecil sekali, seperti sebuah boneka anak perempuan yang dipakaikan legging dan sweater. Siapa yang bisa menebak berapa besar sebenarnya tubuh yang terbungkus sweater dan legging itu?
Perhatianku teralihkan oleh teriakan anakku. Ternyata dia marah karena mau main tapi dipegangin terus sama susternya. Klinik ini memang relatif kecil, tapi lumayan bersih menurutku. Di depan tangga ada pintu besi pengaman yang dijaga terus oleh petugas. Jadi kalau ada orang naik dan turun, dia yang akan membuka dan menutup pintu pengamannya.
Suster keluar dari kamar dokter. Bersama si ibu dengan anak boneka. Anak boneka itu digendong oleh neneknya. Aku melihat si ibu duduk di sofa dan menangis, dan suster mengucapkan sesuatu padanya. Dari tempatku duduk, aku bisa merasakan aura kesedihan dari si ibu. Dalam hati aku bersyukur karena anakku masih lebih sehat daripada anak-anak di sini.
Suster memanggil nama anakku. Aku bangkit dari kursi, meminta tanteku menunggu sementara aku mencari anakku yang ternyata masih asyik main di sudut sana. Aku deg-degan saat melangkah masuk ke dalam kamar praktek, deg-degan karena cemas dengan apa yang akan aku hadapi. Dokter masih di ruang sebelah, istirahat sebentar, begitu kata susternya. Sambil menunggu dokter datang, aku malah semakin deg-degan.
Aku datang ke klinik itu karena anakku belum bisa bicara. Dia memang terlambat bicara, karena di usianya yang sekarang satu kata pun belum bisa diucapkannya. Aku tentu paham bahwa perkembangan setiap anak berbeda, karena anak itu unik, tidak ada yang sama. Tapi sebagai orangtua, aku tentu bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak.
Dokter datang. Dia sudah berumur, dan ternyata dia seorang pribumi. Wew. Bukannya aku rasialis, lho. Hanya saja aku terbiasa bertemu dokter spesialis yang canggih-canggih yang biasanya adalah keturunan tionghoa. Dan di bayanganku, karena ini di daerah Kelapa Gading, pasti dokternya orang tionghoa juga. Hahahaha… so silly. Sebenarnya ini adalah kali kedua aku bawa anakku ke dokter tumbuh kembang. Yang pertama ketika anakku berumur 1 tahun dan dia belum bisa berdiri sendiri tanpa bantuan. Dititah saja dia belum mau waktu itu. Saat umur 1 tahun itu dia baru bisa merambat.
Dokter mengajak anakku bercanda. Anakku bermain dan dia memperhatikannya. Melakukan beberapa tes ini itu, dan dokter juga mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Entahlah, pertemuan ini terlalu singkat menurutku, dan aku rasa dia melakukan tes terlalu terburu-buru, hanya 20 menit kami di dalam. Beda dengan dokter tumbuh kembang yang pertama, dimana kami di dalam sampai 1 jam karena dia sabar melihat anakku main.
Hatiku berdegup kencang ketika dokter bilang, “Iya, memang ada sedikit.” Maksudnya anakku memang ada sedikit bakat “berkebutuhan khusus”. Tapi hanya sedikit, katanya berusaha menenangkan aku. Dia pasti sudah biasa bertemu orang tua yang cemas dengan keadaan anaknya. Dokter bilang, aku tidak perlu khawatir, karena anakku tidak separah yang aku bayangkan, tapi memang bakat itu ada, even hanya 5%.
Sebenarnya ini tidak aneh lagi bagiku, karena dulu waktu anakku berumur sembilan bulan, seorang dokter spesialis naturopatik dengan gelar profesor — dia adalah dokter keluarga kami — juga bilang bahwa anak kami ini ada bakatnya, jadi kami harus membimbingnya dengan benar. Karena kalau dibiarkan, dari yang 5% itu bisa membesar. Sejak usia sembilan bulan itu, sampai sekarang kami masih pakai sebuah alat terapi naturopatik — yang harganya luar biasa bikin bangkrut, hahaha… — untuk anak kami. Di samping itu, aku juga membuat jadwal bermain dan belajar yang cukup ketat untuk anakku setiap Senin-Jumat (kalau Sabtu Minggu dia libur belajar, sama kayak orang dewasa, hehee… ) sehingga meskipun si Keras Kepala itu belum bisa bicara, tapi dia berkembang normal seperti anak lainnya. Hapalannya cepat. Sudah mengerti banyak kebiasaan di rumah itu. Dan akalnya juga luar biasa abunawas-nya. Sudah bisa ngerjain orang pula, salah satunya ya ngerjain aku.

Dokter bilang, anakku butuh terapi, yang namanya terapi Sensor Integrasi. Ini adalah sejenis terapi bermain dimana disediakan alat-alat permainan yang sudah didesain khusus untuk mengasah sensor integrasi anak. Ya seperti balok-balok titian, kolam bola, balok panjatan, luncuran. Hmm.. Sepertinya sih sama saja ya dengan jenis arena permainan di sekolah anakku yang sekarang. Tapi bedanya dimana, tentu aku hanya bisa tahu setelah aku mengikutkan anakku di kelas itu. Katanya terapi SI ini memang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain terapi di sekolah, si ibu juga akan dibekali ilmu terapi (bermain) yang sama, agar di rumah juga bisa berlatih bersama anak. Seems fun ya..
Bagaimana perasaanku mendengar diagnosa dokter? Hmm. Biasa saja sih. Aku tidak pernah kecewa dengan anakku, apapun itu. Mungkin pernah terbersit perasaan tidak puas, tapi itu lebih ke suggest pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi dalam mengurus anak. Buatku, anak adalah gifted dari Tuhan, jadi aku harus ikhlas dengan semua yang ada di dalam dirinya.
……
Pulang dari klinik, kami berempat makan seafood dulu di Gading Food City. Sudah lama aku tidak makan ikan bubara bakar, jadi makan malam kali ini terasa begitu nikmat. Di resto Ujung Pandang kami duduk dan makan dengan lahap. Aku lihat anakku tidak mau kalah. Bolak balik minta tambah. Telunjuknya menunjuk ke arah ikan bakar, “Uh?!”. Lalu tak lama begitu isi di mulut sudah habis, telunjuknya ganti menunjuk piring berisi cumi goreng tepung. “Uh..?!” Heheheheee…
Cepat bicara ya, Vay… biar kita bisa baca buku sama-sama….
November 13th, 2009 by nightlovers
Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Seketika kota yang kotor dan penuh polusi basah kuyup oleh siraman air dari si pemilik alam. Sekeluar dari kantor, aku singgah menjemput anakku di kantor Re. Hari ini adalah hari Daddy Day Care, hari dimana Re selalu membawa si kecil ke kantor untuk bermain — tepatnya mengacaukan — di dalam pengawasannya. Tidak terlalu sering sih, paling sebulan atau dua bulan sekali.
Anakku diam saja dalam pangkuanku. Dia terlihat shock tadi karena saat diantar ke mobil — dia berpayung dengan Re — hujan angin begitu kerasnya. Ini pertama kalinya dia melihat hujan begitu deras, wajar kalau dia ketakutan. Tak lama dia tertidur lelap, lelah oleh lamunannya sendiri. Read the rest of this entry »
October 20th, 2009 by nightlovers
Tadi pagi Tin mengirim sms. Aku pernah cerita padamu tentang dirinya disini, ingat? Dia adalah salah satu mantan teman yang sudah lama tak bertemu. Karena smsnya masuk berbarengan dengan beberapa sms lainnya, sms itu luput dari perhatianku. Aku mengabaikannya seharian, hingga sore hari ketika aku menyetir pulang ke rumah, baru aku teringat akan sms itu.
Dia mengajakku bertemu hari ini, begitulah yang aku tangkap dari smsnya. Aku membalas smsnya, kukatakan padanya bagaimana kalau besok saja, soalnya ada seorang kawan lain yang juga ingin bertemu dengannya. Selain itu, ya ampun, ini mendadak sekali. Aku tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap, termasuk menyiapkan anakku dan semua keperluannya, karena seperti kau tahu, kemanapun aku pergi, anakku harus ikut, karena kami kan satu paket. Jika kupaksakan, akan terlalu malam bagi aku dan Tin untuk bertemu.
Tin membalas, katanya dia harus pulang besok ke Jerman, dan sebenarnya dia berharap sekali dapat berjumpa denganku. Tapi dia tak mau memaksa bertemu, karena mengerti dengan situasi Jakarta. Okay then, bukan rejeki, aku bilang begitu. So aku tak jadi bertemu dengannya bukan karena aku masih belum bisa memaafkan dia dan berusaha terus menghindarinya (walaupun bukan tak mungkin nanti kulakukan lagi), tapi memang begitulah kejadiannya.
Enough tentang Tin.
Aku sedang merenung tentang jalan hidup. Bisakah kau menduga kapan kematianmu tiba, dan pernahkah kau terpikir bagaimana caramu mati? Aku jadi ingat sebuah film yang memperlihatkan kejadian di masa akan datang dimana kita bisa tahu bagaimana maut menjemput kita. Mengerikan.
And now about Bams.
Bams, nama cowok itu. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, berkulit sedikit coklat dengan banyak bekas luka di lengannya. Dia pernah jadi salah satu canvaser di kantor kami di Medan. Ulet dan giat mencari pelanggan, dan katanya sih dia menekuni dunia modelling juga. Beberapa temanku sempat menuduhnya bencong. Ya, mereka pakai kata “bencong” untuk menggambarkan Bams, karena wajahnya yang manis memang sedikit mirip banci. Tapi aku bilang dia itu bukan bencong, dia laki-laki, even aku tak tahu pasti soal orientasi seksualnya.
Beberapa kali dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, dia ikutan nimbrung. Awalnya dia bisa menyenangkan juga, alias bisalah dijadikan salah satu ikon konyol. But ternyata kami salah menilainya. Entahlah apa yang salah dengan dirinya. Tapi mungkin lebih tepat bila kukatakan, dia belum bisa masuk ke dalam “gaya kami.” Beberapa kali dia salah dalam menempatkan dirinya.
Aku ketemu dengan Bams terakhir kali dua tahun lalu waktu aku masih hamil tiga bulan dan kami (aku dan Re) mudik lebaran ke Medan. Hmm, Re waktu itu kayaknya sedang pergi ke rumah saudaranya, jadi aku pun pergi bertemu dengan teman-teman lama. Saat itu Bams juga diundang untuk reuni bersama. Dan komentarnya ketika melihatku adalah,”Kak, kakak gak cantik lagi sekarang, udah jelek. Jerawatan gitu.” Dan kubalas dengan nada sebal,”Eh, tenang aja kau ya.. Ini kan lagi hamil. Wajar kalo orang hamil jadi jerawatan.”
And then, dia mulai lagi. Kali ini Bams curhat pada kami (tepatnya padaku karena pertanyaan-pertanyaan itu ditujukannya padaku), tentang pacarnya. Katanya pacarnya begini, pacarnya begitu, pacarnya ngambek karena dia begini dan begitu, and then pacarnya suka kalau dibeginikan, dibegitukan… Hei hei… Stop it!
Apa dia pikir aku ini Psikolog Cinta, yang siap menampung dan menjawab pertanyaannya, bahkan sampai yang paling intim sekalipun? Aku memang sering jadi tempat curhat teman-temanku karena kata mereka aku orangnya sangat terbuka dan open minded. But not this time, and not for him. Dia belum cukup umur dan belum cukup dekat dengan kami untuk bisa berdiskusi tentang seks dengan kami. Aku bilang, Hey, Bams… Enough! Save your story for you. We don’t wanna hear that. Aku jadi marah dan ingin menendangnya ke got besar di samping Merdeka Walk itu (benar-benar menendang dia lho), tapi kutahankan saja. Aku dan temanku lalu segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain daripada kami bete karena ulahnya.
Dan sekarang… kabar itu datang.
Bams sudah meninggal. Beberapa hari lalu. Teman dekatku (yang hadir saat insiden curhat gilanya itu) yang mengabari. Dia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan tak bernyawa. Diduga bunuh diri menilik dari bukti-bukti yang ditemukan. Ah… hati ini langsung berdetak keras mendengar kabar itu. Betapa mengerikannya. Begitu cepat kematian itu datang, bahkan ketika ia belum datang, kenapa kau harus menjemputnya? Kenapa tak kau tunggu saja hingga saatnya tiba?
Entahlah apa masalah yang Bams hadapi, dan seberat apa masalah itu. Orang bilang dia mengalami kesulitan ekonomi karena dililit banyak hutang dan juga stress karena masalah keluarga. Ah, aku tak mau menduga-duga terlalu jauh, karena sesungguhnya aku tak mengenalnya.
Tapi aku sungguh mengasihani dirinya. Sungguh kasihan. Sebegitu mudahkah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Dimana peran keluarganya, orang tuanya? Dia masih sangat muda, dan hidupnya berakhir dengan sangat tragis… akhh…..!
**Aku hanya bisa berdoa, semoga masih ada sedikit maaf dari Tuhan untuk dirimu ya Bams…
October 7th, 2009 by nightlovers
Hardcase itu masih teronggok di tempat yang sama. Di sebuah celah di sudut, antara meja rias dan dinding. Di sebelahnya tergeletak sound system kecil merk Peavey. Aku tersenyum sendiri dan meraih hardcase itu. Meraba permukaannya, ingin tahu apakah berdebu. Oh, bersih kok. Berarti sudah dibersihkan sama pembantu infal sebelum aku datang.
Aku buka hardcase coklat itu dan menemukannya di sana. Gitar listrikku yang cantik, si Telecaster hitam yang masih mulus sekali. Senar gitar yang aku kendorkan sudah berkarat, astaga.. sudah berapa lama aku tak menyentuhnya? Read the rest of this entry »
September 13th, 2009 by nightlovers
Malam Minggu.
Aku meletakkan papercup berisi susu coklat yang masih hangat di sofa merah, berdampingan dengan sekotak popcorn caramel. Re, suamiku duduk di sebelahnya, menyeruput susu coklat dinginnya langsung dari papercup. Aku jadi ingat si kasir tadi, yang beberapa kali bilang, “strawnya silahkan diambil disini,” pada Re. Padahal Re memang tidak suka minum pake straw.
“Gue ke toilet dulu,” kataku. Kami sedang ada di Blitz Megaplex, mau nonton Hang Over. Tadinya aku mengajak Re nonton Final Destination, tapi seperti dugaanku, dia menolak. Katanya, nonton film kayak gitu bikin capek. Pengen nonton yang santai-santai aja. Ya sudah. Read the rest of this entry »