<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>From Dusk Till Dawn</title>
	<atom:link href="http://susucoklat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://susucoklat.com</link>
	<description>enjoying the city of night</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 02:18:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.4</generator>
		<item>
		<title>Pegawai Oh Pegawai</title>
		<link>http://susucoklat.com/2012/04/15/pegawai-oh-pegawai/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2012/04/15/pegawai-oh-pegawai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 14:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[Cafe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=634</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sejak kedai kopiku buka sampai sekarang, pegawainya gonta-ganti terus. Dan karena rata-rata suka kabur sesukanya, alias main berhenti aja setelah gajian, so aku dan temanku mengubah metode pemberian gaji. Sebenarnya pegawai-pegawai ini punya perjanjian bahwa mereka tidak bisa keluar sebelum mendapatkan pengganti, ditandatangani di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kedai kopiku buka sampai sekarang, pegawainya gonta-ganti terus. Dan karena rata-rata suka kabur sesukanya, alias main berhenti aja setelah gajian, so aku dan temanku mengubah metode pemberian gaji. Sebenarnya pegawai-pegawai ini punya perjanjian bahwa mereka tidak bisa keluar sebelum mendapatkan pengganti, ditandatangani di atas materai 6000 pula, tapi kau pikir, apa mereka peduli? Terbukti kan dari yang pertama kali kabur itu, baru gajian hari ini, besoknya sms bilang mau berhenti. Bener-bener minta dicekek tuh orang. Eh ternyata belakangan ketahuan, dia hanya mengancam saja, karena tak suka diburu target, dan dia sebenarnya belum dapat pekerjaan lain (seperti alasannya ke kami). Tapi aku dan temanku bukan pemaaf untuk urusan ini, karena pegawai tak bertanggung jawab jelas tak kami butuhkan. Meski memang setelah itu kami kelimpungan mencari pegawai baru.</p>
<p>Dapat sih dapat, dan tapi kemudian berhenti lagi. Tapi yang terakhir berhenti itu tidak bisa ‘melarikan’ diri dari tanggung jawab, karena sisa gajinya masih kami tahan. Let say, di tanggal 1 dia terima 75% gaji bulan sebelumnya, lalu 25% dibayar di tanggal 10. Bila mau keluar, boleh, tapi wajib memberikan training pada pengganti selama 3 hari dan mengembalikan seragam, baru deh sisa gajinya dibayarkan. Dan karena dia belum balik, jadi ya belum dikasih sisa gajinya, malah owner pun yang memberi training pada calon pegawai baru.</p>
<p>Anyhow, kedai kopi kami ini belum bisa dibilang untung, karena yang didapat selama ini hanya cukup untuk menutup operasional, makanya gaji untuk pegawai pun tak bisa gede-gede amat. Tak mungkin toh kami subsidi terus&#8230;</p>
<div id="attachment_637" class="wp-caption aligncenter" style="width: 376px"><img class="size-full wp-image-637" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2012/04/waitresss.jpg" alt="" width="366" height="520" /><p class="wp-caption-text">berikan senyum terbaikmu, dan pembeli datang dengan sendirinya...</p></div>
<p>Tapi selama beberapa bulan buka kedai di MOI, sepertinya hanya aku dan Lin owner yang rutin supervisi. Owner-owner lain jarang kelihatan, palingan Sabtu saja, atau sebulan sekali, bahkan tukang kentang goreng di sebelah kami, belum pernah aku lihat bosnya. Pegawainya juga santai saja, mau ada pembeli syukur, gak ada juga gpp, tak merasa dikejar target. Sementara kalau kedai kami, terus terang kami mengharuskan anak-anak untuk rutin berkeliling, memperkenalkan produk kami. Kalau tidak dikenalkan, siapa yang tahu, ya kan? Ah tapi memotivasi itu memang tak mudah. Buktinya ya pegawai hanya semangat di bulan awal saja, setelah itu mulai malas keliling, dan itu artinya aku dan Lin jadi naik darah mendapat laporan penjualan yang ‘benar-benar mengecewakan’.</p>
<p>Aku suka bergaul dengan para pegawai kami, suka becanda dengan mereka agar mereka tak merasa ada jarak antara bos dan pegawai. Tadi lucu deh. Aku membuka laci dan kutemukan bungkus jagung kering – yang sudah tersimpan sejak Kamis lalu – karena waktu itu aku juga datang dan memeriksa laci. Kamis lalu refleks aku berkata, “Makanan siapa ini? Gak bergizi betul.” Dan anak-anak itu ketawa. Katanya, “Itu punyanya Bapak, bu,” Oh maksudnya suaminya si Lin. Lalu tadi aku mendengus lagi karena kulihat masih ada saja kue itu di situ, “Ini sudah berapa hari di sini? Hayaahh&#8230;.. ibu gak tahan lihat makanan gak bergizi kayak gini, hehe&#8230;” Dan kedua gadis itu cekikikan geli. Lalu si Upik bilang, “Masa Bos makanannya kayak gitu.” Bah, ngejek pulak orang ini, kupikir. Kalau kedengaran Lin, bisa dicekek mereka.</p>
<p>“Nah, Upik&#8230; sekarang kamu keliling ya. Berikan senyum terbaikmu!” Dan keduanya cekikikan lagi, tersipu.<br />
“Pakai gula ajalah Bu, biar manis,” timpal Upik senyum-senyum.<br />
“Ya kalau kamu mau tarok gula di bibir boleh juga, biar bling bling&#8230;.”<br />
Tapi benar kan kataku, tak sampai lima menit si Upik balik, dia lapor dia dapat tiga pembeli.<br />
“Naaahh&#8230;. betul, kan. Itu pasti karena kamu senyumnya manis&#8230;” Dan si Mega yang lagi mengocok botol whipcream lagi-lagi ketawa. Untung botolnya gak terlepas.</p>
<p>Mega ini orangnya gemuk, beda dengan Upik yang kurus, jadi tenaganya juga lebih kuat dari Upik. Nah, tadi waktu aku lagi di dalam bioskop – aku sempetin nonton Seefood dulu tadi dengan anakku – masuk SMS dari Mega, katanya dia kesulitan membuka botol whipream. Aku sms balik dia, aku bilang rendam dulu botolnya dengan air agak panas. Ada-ada aja, kok bisa botol gak bisa dibuka.</p>
<p>“Makanya kalau nutup botol, jangan kenceng-kenceng dong ah.”<br />
“Iya Bu, dia itu pakai tenaga dalam,” sahut si Upik saat mens-shake lemonade. Gak berapa lama, Upik kelihatan kesulitan membuka tutup shaker.</p>
<p>Aku tertawa. “Alamak, ini lagi&#8230; buka shaker aja gak kuat, macam mana ini&#8230;. Mega, keluarkan kekuatanmu.” Gak sampai 2 detik, terbuka!</p>
<p>Sebenarnya aku tak suka terus-terusan harus mengawasi pegawai. Pegawai kalau ditungguin biasanya kan jadi panik ya, merasa dituntut dll. Tapi kalau tak diawasi ya mereka hanya duduk saja nunggu pembeli datang. Jadi biasanya aku suka pura-pura ada di dekat situ, padahal aku entah dimana. Aku telepon dan aku bilang, jangan lupa keliling ya, saya lagi di toko buku, sebentar lagi ke situ. Lalu kalau aku singgah ke kafe, aku stay di dalam agak lama lalu mengajak mereka mengobrol ngalor ngidul yang gak jelas, biar suasana jadi cair dan full tawa. Kadang aku traktir juga mereka makanan, lalu makan ramai-ramai di situ, menunduk-nunduk biar gak kelihatan customer, tentunya sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p>Pegawaiku yang terakhir keluar, pernah sms ketika dia baru keluar, katanya aku atasan yang baik, tahu cara memperlakukan pegawai, gak kejam memaksa pegawai. Masa sih? Kalau iya benar, tentu aku sudah jadi bos di kantorku kan? Hahahhaa&#8230; curcol deh :p.</p>
<p>Aku tidak menanggapi khusus sms itu, kupikir pendapat itu kan subjektif sekali, karena memang beberapa minggu sebelum dia memutuskan keluar, Lin sedang emosional dan agak keras menegur mereka karena penjualan mendadak turun. Aku dan Lin memang berbagi peran. Aku bilang, cukup 1 saja yang marah-marah, dan aku gak mau ambil peranan itu – kecuali terpaksa – karena aku sudah tak punya energi lagi sehabis kerja. Lagipula marah-marah terus pun sia-sialah. Aku hanya cerewet bila ada yang tak sesuai prosedur atau ada yang kurang bersih.</p>
<p>Aku pikir, pegawai tidak bisa dipaksa dengan kekerasan, harus ada pendekatan yang tepat untuk setiap orang, dan memang tak mudah memotivasi mereka. Aku dan Lin menyadari itu, tapi ya kami juga tak mau pegawai bersantai-santai dimana seharusnya kita kerja keras memperkenalkan menu yang kita miliki.</p>
<p>Tapi ya begitulah. Selalu kukatakan pada Lin, tidak ada yang bisa menghalangi para pegawai untuk keluar mencari kerja lain yang lebih baik baginya, jadi nikmati dan manfaatkan saja selama masih ada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2012/04/15/pegawai-oh-pegawai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa kabar, Sus?</title>
		<link>http://susucoklat.com/2012/03/19/apa-kabar-sus/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2012/03/19/apa-kabar-sus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 13:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ya ampun. Lama sekali aku tak menyentuh blogku ini. Sungguh tak sopan. Sampai kemudian email pemberitahuan mengenai perpanjangan domain datang, dan aku seperti tersadar, ooohh astagaa&#8230;. aku kan punya domain lain yang harus aku urusss&#8230;. begitulah kira-kira. Domain ini tak begitu banyak ya isinya, padahal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya ampun. Lama sekali aku tak menyentuh blogku ini. Sungguh tak sopan. Sampai kemudian email pemberitahuan mengenai perpanjangan domain datang, dan aku seperti tersadar, <em>ooohh astagaa&#8230;. aku kan punya domain lain yang harus aku urusss&#8230;.</em> begitulah kira-kira. Domain ini tak begitu banyak ya isinya, padahal sudah tiga tahun. Ah, pemalas sekali aku ini.</p>
<p>So, apa kabar Sus? Apa kabar Susucoklat? Hueheheheh&#8230;. plis deh norce bener.</p>
<p>Sebulan lebih terakhir ini aku sedang dalam keadaan dimana aku sadar bahwa aku mengalami stress. Yap. Kalau selama ini aku tahu aku stress tapi hanya tahu dan bisa kunikmati, tapi kemarin itu menurutku adalah puncaknya. Seakan semua masalah datang bertubi-tubi. Mau pecah rasanya kepala. Seorang teman di kantor bertanya, ada apa, kenapa mukaku murung terus? Aku katakan, aku ada masalah keluarga. &#8220;Peninglah, pening&#8230;!&#8221; kataku. Ya, soalnya aku kan hobi tertawa di kantor, jadi saat aku murung, temanku bisa merasakannya. Padahal aku tidak begitu dekat dengannya, tapi memang duduknya deketan, jadi ya dia bisa merasakan perubahan itu.</p>
<p>Yeah, mungkin karena terlalu banyak yang aku simpan kali ya hehe. Tapi seperti biasa, pada akhirnya semua itu harus dihadapi. Tak ada pilihan toh. Aku pikir aku akan baik-baik saja, yang penting selalu berdoa dan ikhtiar, semoga Allah memberikan yang terbaik. Ya kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2012/03/19/apa-kabar-sus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surprise (?)</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 16:06:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[Women Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku percaya pada kekuatan pikiran, atau yang disebut resonansi. Contoh gampangnya, saat kau sedang memikirkan seseorang, maka yang dipikirkan akan &#8216;konek&#8217; juga di sana.</p>
<p>Pagi hari, Jumat kemarin. Masih pukul 6. Aku menyalakan BB-ku, dan terdengarlah suara-suara SMS masuk. Semua isi sms itu sama, mengucapkan &#8216;selamat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku percaya pada kekuatan pikiran, atau yang disebut resonansi. Contoh gampangnya, saat kau sedang memikirkan seseorang, maka yang dipikirkan akan &#8216;konek&#8217; juga di sana.</p>
<p>Pagi hari, Jumat kemarin. Masih pukul 6. Aku menyalakan BB-ku, dan terdengarlah suara-suara SMS masuk. Semua isi sms itu sama, mengucapkan &#8216;selamat ulang tahun&#8217;, tapi sms yang pertama kali masuklah yang membuatku kaget. Karena aku baru saja memimpikannya. Siapa yang menyangka kalau aku saja tak pernah menduganya. Mataku berkaca-kaca, sedikit saja tapi. Dan kemudian hilang setelah aku menutup mataku beberapa detik. Isi sms yang singkat sekali.</p>
<p>Somehow I decide to reply the message. With picture.</p>
<p>And next, two days later, I&#8217;ve got MMS. MMS tertanggal kemarin tapi tak bisa di-download di hape sehingga aku harus membukanya via browser dan baru bisa sore tadi. Oh. Ternyata itu. Foto, puncak keberhasilan dari yang diimpikannya selama ini.</p>
<p>Seperti kata beruang di game iPad, keberhasilan itu harus diapresiasi dengan, &#8220;Congratulation! Two thumbs!&#8221;</p>
<p>Good luck for you, Ye!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengamen Tua</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/11/01/pengamen-tua/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/11/01/pengamen-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 13:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamen Siter]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mereka bilang, sering-seringlah melihat ke bawah agar kau senantiasa bersyukur. Dan melihatlah ke atas agar kau pun tak cepat berpuas diri.</p>
<p>Aku menangkap itu sebagai suatu kondisi dimana manusia diminta untuk tidak menyerah pada kenyataan. Bila kau miskin, maka tetaplah berusaha. Dan bila kau sudah berkecukupan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mereka bilang, sering-seringlah melihat ke bawah agar kau senantiasa bersyukur. Dan melihatlah ke atas agar kau pun tak cepat berpuas diri.</p>
<p>Aku menangkap itu sebagai suatu kondisi dimana manusia diminta untuk tidak menyerah pada kenyataan. Bila kau miskin, maka tetaplah berusaha. Dan bila kau sudah berkecukupan, jangan pula berdiam diri. Karena saat kau menjadi lebih daripada kecukupan, berarti semakin banyak pula orang yang bisa kau bantu.</p>
<p>Kau lihat foto ibu tua ini? Aku tak sengaja menemukannya beberapa bulan lalu saat aku pergi ke daerah Sabang untuk suatu keperluan. Sebenarnya mungkin ibu ini sudah ada di sana waktu aku keluar dari pintu toko digital printing, tapi karena aku belok ke arah yang berbeda aku tak menyadarinya. Baru ketika aku balik arah mau menuju mobil, baru aku sadar: ada perempuan tua lesehan di trotoar.<span id="more-618"></span>Dia seorang pengamen. Berkebaya biru dengan bawahan sarung bermotif, dia duduk santai di depan toko digital printing itu, bermain alat musik siter (atau harpa Jawa kalau aku tak salah) sambil menyenandungkan lagu Jawa. Aku berhenti lebih kurang lima langkah dari tempatnya. Aku ingin menikmati nyanyiannya yang halus dan merdu khas Jawa itu, sekalian menunggu driver yang sedang sholat Jumat.</p>
<div id="attachment_620" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-620" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG-20110923-02029-2.jpg" alt="" width="400" height="480" /><p class="wp-caption-text">Pengamen Tua</p></div>
<p>Kupandangi wajah keriputnya. Dia terlihat sangat tua. Entah berapa usianya, kadang susahnya hidup bisa membuat wajah orang terlihat jauh lebih tua dari usianya. Tapi sungguh aku salut padanya. Meski udara panas, dia tak terlihat mengeluh. Beberapa kali kami bersirobok mata dan saling melempar senyum. Setiap kali orang yang lewat memberinya uang (aku lihat paling kecil dikasih dua ribu, dan terbesar adalah sepuluh ribu) dia mengangguk dengan senyum kecil di bibirnya sambil terus menyanyi. Hatiku serasa digedor-gedor. Kagum, takjub, juga sedih. Yang terbayang olehku adalah wajah mamiku, wajah tanteku, dan wajah mendiang omaku dalam foto hitam putih milik mamiku. Omaku itu mirip si ibu ini, berkonde kecil dan berkebaya putih khas orang Ambon. Aku memang hanya mengenalnya lewat foto saja.</p>
<p>Lima belas menit kemudian baru driver-ku datang dan aku beringsut. Setelah menarik napas panjang-panjang, aku dekati dan kuberikan saweranku padanya. Ibu itu tersenyum penuh terima kasih.</p>
<p>Sepanjang jalan aku merenung. Tuhan memang selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengetuk pintu hati umatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/11/01/pengamen-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mark Up</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/10/27/mark-up/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/10/27/mark-up/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 13:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[night story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/10/28/mark-up/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Karena seringnya nongkrong di Food Connection, aku sudah hampir mencicipi semua resto yang ada di situ. Kecuali yang ada baknya tentu saja.</p>
<p>Di Food Connection ini aku menemukan semacam &#8220;penyakit&#8221; di sini. Penyakit yang kumaksud adalah penyakit petugas kasir resto yang sering menyebutkan angka lebih besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena seringnya nongkrong di Food Connection, aku sudah hampir mencicipi semua resto yang ada di situ. Kecuali yang ada baknya tentu saja.</p>
<p>Di Food Connection ini aku menemukan semacam &#8220;penyakit&#8221; di sini. Penyakit yang kumaksud adalah penyakit petugas kasir resto yang sering menyebutkan angka lebih besar daripada angka yang terpajang di papan menu.</p>
<p>Sebut saja si Bakoel Desa. Harga nasi bakar komplitnya 20.900, tapi si kasir dengan yakin bilang 21.000. Eh sebenarnya bukan 21.000. Jadi waktu aku beli, dia sebut angka 20.900 tapi kembalian 100 peraknya tidak dia kasih. Aku pun merepet dan 100 itu dikembalikan. Sehabis aku bayar, giliran temanku memesan &#8212; menu yang sama! &#8212; dan di sinilah dia langsung bilang &#8220;21 ribu&#8221;, mungkin maksudnya agar kita tak &#8220;meminta&#8221; kembalian. Tapi temanku tetap meminta, karena struknya kan 20.900. Tampang kasirnya langsung jutek, jujur ingin kutabok saja rasanya tuh orang. 100 perak pun, itu namanya maling! Setelah kejadian itu, setiap kali melihat kami yang datang, dia selalu mengasih kembalian dengan cemberut. Gak berani lagi mark up.</p>
<p>Malam ini, kembali kualami kejadian serupa di tenant lain. Koi apa gitu, lupa. Aku lihat harga di menu board 25.000, lalu masnya bilang 28.000. Aku pikir, oh tax. Tapi waktu dia kasih kembalian 22.000 aku baru ngeh, kalau tax kan harusnya 27.500. Tapi karena aku sudah jalan cukup jauh, aku diamkan saja, lagipula aku sedang malas berdebat. Entah kemana pula struknya.</p>
<p>Mark up. Sudah jadi budaya, dan bahkan yang mark up pun tak malu-malu lagi. Jelas sekali pegawai seperti itu akan membuat imej resto tersebut jadi jelek. Membohongi pelanggan hanya demi seperak dua perak?! Pliiisss&#8230; Tip itu berbanding lurus dengan pelayanan jeung!</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-607" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/10/IMG-20.jpg" alt="" width="350" height="467" /></p>
<p>Bahkan pengamenpun lebih bermartabat dibanding mereka ini.</p>
<p>Ah sudahlah. Kelamaan merepet aku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/10/27/mark-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emotional Cake</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/10/23/emotional-cake/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/10/23/emotional-cake/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 09:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[women thoght]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[<p>Masih ingat jaman Friendster gak? Dulu kan ada kolom testimoni dari teman. Nah, aku masih ingat apa kata Utie, salah satu bffku. Dia tulis begini, “She’s like a blend of emotional cake, wise in a row&#8230;. bla bla”. Aku terkakak-kakak bacanya, asli aku tak mengira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat jaman Friendster gak? Dulu kan ada kolom testimoni dari teman. Nah, aku masih ingat apa kata Utie, salah satu bffku. Dia tulis begini, “She’s like a blend of emotional cake, wise in a row&#8230;. bla bla”. Aku terkakak-kakak bacanya, asli aku tak mengira bahwa Utie bisa menilaiku seperti itu. Dari situ aku sadar, bahwa bila seseorang menginginkanmu menjadi teman baiknya, maka ia akan benar-benar mencari tahu seperti apa sifatmu – setidaknya yang bisa ditangkap olehnya. Wid waktu itu bilang aku apa ya , duh aku lupa. Kalau Elz, katanya aku “wise”&#8230; mungkin karena waktu itu kami sering berdiskusi tentang kehidupan. Saat itu aku memang sedang gandrung membaca buku-buku karya Anand Krishna. So, bila sekarang aku seperti ini, mungkin sekali itu karena aku sering baca buku-buku itu ya. Dulu aku suka bermeditasi sendiri – meski kemudian tak rutin dan lambat laun tak pernah lagi dilakukan sampai sekarang.<br />
<span id="more-593"></span><br />
Back to ‘emotional cake’. Satu hal yang aku tahu tentang diriku adalah, aku memang tipe orang yang emosional. Di satu sisi aku adalah si tidak sabaran yang gampang marah, sementara di sisi lainnya aku si penggembira yang mudah tertawa karena lelucon. Aku juga sensitif bila ke-aku-anku diusik, tapi di sisi lain aku juga menikmati keterbukaan.</p>
<p>Beberapa minggu ini aku sedang jadi seorang pemarah. Sepertinya banyak hal yang bikin aku marah nih, hehee. Pertama, salah satu temanku – tak usahlah kusebut namanya – yang menurutku kurang cakap dalam menyelesaikan administrasi dari bisnis kami berdua. Aku tak sabaran melihatnya menunda-nunda, dengan alasan ini itu, padahal sudah kubilang, jangan ditunda-tunda karena nanti akan semakin susah kita men-trace bila ada yang missed. Maksudku, kalau memang dia kelabakan, biarlah tugas itu aku yang ambil alih. Dan memang akhirnya aku juga yang mengerjakan semua dari awal, dan tetap aku kerjakan meskipun dia juga sudah mulai rajin mengisi file-nya.</p>
<p>Kedua, mau marah dengan pegawai di gerai kopi. Melihat barang-barang tak beraturan bikin aku jadi spanning, belum lagi alasannya kurang bisa diterima. Aku katakan pada mereka, apapun ceritanya, ikuti saja sop. Simpan ini dimana, letak ini dimana, jangan ada yang dipindah-pindahkan. Dan kemarin nih, salah satu alat untuk froth susu pecah, trus salah satu shaker juga pecah. Emosi jiwa gak sihhh??? Aihhh&#8230; ini pegawai kok kerjanya kasar ya, kedai baru juga buka sebulan eh sudah ada barang yang pecah dan rusak.</p>
<p>Tapi kemarahanku itu bisa dibilang balance, karena di kantor aku menikmati keceriaan dengan teman-teman. Kemarin itu ada kejadian lucu. Jadi ceritanya kami satu divisi (kami satu divisi hanya bertiga) sedang meeting dengan konsultan media buyer kami. Konsultan kami sedang propose activation ini itu, bla bla&#8230;. yang salah satunya kemudian menyinggung segmen blogger: youth.</p>
<p>Terus, my boss nyeletuk dengan polosnya: “Memangnya banyak ya blogger-blogger muda? Kok yang datang nemuin aku tua-tua semua ya? Pak Guru, ibu-ibu&#8230;”</p>
<p>Meledaklah tawaku dan Daru temanku setim. So, my boss itu selama ini memang sering didatangi blogger untuk minta sponsorhip, dan mostly memang sudah tua-tua, ya gak tua kalilah, sekitar 35-40 tahun. Karena bosku juga tak begitu rajin bergaul di dunia maya dan perblog-an, jadilah – mungkin – menurutnya segmen terbesar blogger adalah yang tua-tua itu.</p>
<p>But despite all, aku dan Daru itu tertawa dengan arti tawa lebih kurang begini : “Ya iyalah, habis dapatnya juga dari si Srondol.” Srondol itu salah satu orang kantor yang juga blogger yang cereweeeeeeet bukan main. Dulu seorang teman kami – yang sudah resign – yang mengenalkan dia ke kami, dan selanjutnya baru kami sadar betapa annoyingnya orang satu itu.</p>
<p>Dia selalu datang ke tempat kami membawa komunitas atau teman-temannya yang menurutnya blogger-blogger terbaik di negeri ini – yang mana tak pernah kudengar namanya – dan bossku seringnya terpaku dengan kicauan Srondol karena memang doi tak paham. Aku dan Daru tak begitu suka dengan Srondol karena kelebaiannya. Buktinya beberapa bulan lalu dia bilang komunitas Kps adalah komunitas terbaik dengan ribuan member aktif, nah bulan lalu dia bbm aku dan dia bilang, jangan mau pasang placement di Kps karena sekarang sudah tidak bagus lagi. Eh, helloowww&#8230; ini pasti ada apa-apanya kan, kenapa dia mendadak menjelek-jelekkan, yang dulu dia sanjung-sanjung. Srondol ini paling pintar ambil hati. Karena dia tahu aku sering tak merekomen usulannya, pelan-pelan dia cari sela. Tapi aku dan Daru mana bisa dibujuk-bujuk. Kalau gak OK ya gak rekomen. Kami bekerja sangat profesional, jadi apapun yang masuk dengan judul minta sponsorship, insightnya ke brand perusahaan kami haruslah jelas. Satu hal yang tak kusuka dari si Srondol ini adalah, seringnya dia mengutamakan kepentingannya, jadi setiap kali ada pengajuan proposal, ada selipan kepentingan pribadinya. Gak sopan bener.</p>
<p>So, tawa kami berdua kemarin itu adalah tawa kemenangan. Aku menukas begini: “Iyalah Mas, soalnya temannya Srondol sih. Ya tua-tua semualah.”</p>
<p>Ah. Hidup ini nikmat kan? Paginya marah, siang stress, sorenya bergembira. Pagi makan oatmeal, siang makan nasi padang, malam ngopi di kede. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_597" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-597" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/10/22.jpg" alt="" width="400" height="533" /><p class="wp-caption-text">Ngopi</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/10/23/emotional-cake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdua Dengannya</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 11:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[women thoght]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku adalah orang yang menikmati kesendirian. Bila di suatu waktu aku butuh waktu untuk menyendiri dan mengkhayal &#8212; yeah let say merenungi nasib &#8212; aku selalu punya tempat dan booster sendiri untuk itu. Tak masalah bagiku meski banyak teman menganggapku menjaga jarak, tapi bukankah setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah orang yang menikmati kesendirian. Bila di suatu waktu aku butuh waktu untuk menyendiri dan mengkhayal &#8212; yeah let say merenungi nasib &#8212; aku selalu punya tempat dan booster sendiri untuk itu. Tak masalah bagiku meski banyak teman menganggapku menjaga jarak, tapi bukankah setiap orang bebas memilih teman dan juga me timenya sendiri? Aku juga menikmati kok mengobrol sampai berbusa dengan Lin atau Am, karena curhat itu tetap perlu masbro, mbaksis&#8230;</p>
<p>Saat aku menuliskan postingan ini, anakku sedang di sudut sana, sedang naik mobil-mobilan polisi, ditemani oleh nanny-nya. Plus hari ini, sudah hampir tiga minggu aku dan Lin membuka sebuah gerai kopi di sebuah mall di Jakarta Utara. Jadi kami memang masih rutin memonitor gerai kami ini, termasuk juga pegawainya.</p>
<p>Kasihan juga sebenarnya aku sama anakku, karena hampir setiap malam dia ikut aku pulang malam. Kadangkala dia terlihat begitu lelah, sampai tertidur di sampingku yang sedang menyetir. Mbaknya juga kecapekan, dan tertidur di belakang. Tak begitu jauh memang dari mall ke rumah, kalau sudah larut malam ya sekitar setengah jam-an lah. Dan aku sendiri bisa dikatakan juga lelah, karena kekurangan waktu istirahat. Praktis tidurku hanya 6 jam setiap hari, karena pagi jam 6 lewat aku sudah harus ke kantor. </p>
<p>Tapi aku menikmatinya kok, menikmati menyetir sendirian malam-malam pulang ke rumah. Mungkin karena sudah terbiasa begitu ya. Lebih dari separuh umurku kuhabiskan dengan mengurus segala sesuatunya sendiri.</p>
<p>Kalau dulu aku pulang clubbing sendirian dengan kepala berat, sekarang aku pulang malam tidak lagi sendirian, ada anak tercinta yang menemani sambil nonton dvd Barney (kalau dia tak mengantuk), dan kali ini pun bukan kepalaku yang berat akibat kebanyakan minum, tapi mataku yang berat karena mengantuk, hahaha&#8230;. Waktu memang tak terasa begitu cepat berlalu ya, dan aku menikmati setiap detiknya, dari yang membahagiakan sampai yang menyakitkan sekalipun.</p>
<p>&#8220;Mami, mamii&#8230;&#8221; panggilan itu mengagetkan aku. Anakku memanggil dari kejauhan, dengan senyum sumringah di pipinya.</p>
<p>Sudah dulu ya. Dia sudah datang. Si cantik buah hatiku&#8230; aku ingin menikmati waktu berdua dengannya dulu. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Me Time ?</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 14:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta 24 jam]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Just finished having an after hour chit chat with friends in PIM. I think it is my first time hang out without my little girl after years hahaha&#8230;. I don&#8217;t know, maybe I should enjoy this &#8220;me time&#8221;, but I just can&#8217;t. I feel guilty [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Just finished having an after hour chit chat with friends in PIM. I think it is my first time hang out without my little girl after years hahaha&#8230;. I don&#8217;t know, maybe I should enjoy this &#8220;me time&#8221;, but I just can&#8217;t. I feel guilty because living my daughter without permission (well, should I?).</p>
<p>I called her &#8230; emmm&#8230; 5 times I guessed. On my first call, she said like, &#8220;Mommy, should I ask mbak to open the gate?&#8221; No honey, not yet.</p>
<p>And I looked at my watch many times, hope that my friends will understand. Haha&#8230; Supposed to me to compromized with myself, because .. hey, it&#8217;s just &#8220;sekali-sekali&#8221; right? Why can&#8217;t I just enjoy it.</p>
<p>But I miss my baby&#8230;. hope I can go home in a two blinks. Blink! Blink! Oups! Ternyata masih di tol.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan Kayu</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/04/18/perempuan-kayu/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/04/18/perempuan-kayu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 13:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan kayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[<p>I hope that once in a while I could become a spoiled woman. Sometimes I hated being so independent. Because for a seconds (and become munites), suddenly I feel lonely. What can I say? I&#8217;m just a woman, sometimes needs someone to care about me.</p>
<p>One [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I hope that once in a while I could become a spoiled woman. Sometimes I hated being so independent. Because for a seconds (and become munites), suddenly I feel lonely. What can I say? I&#8217;m just a woman, sometimes needs someone to care about me.</p>
<p>One of my gal friend gave me a nickname : &#8220;Perempuan Kayu&#8221;. Am I? Hmm&#8230; for now, off course I&#8217;m not sure with that hahaa..</p>
<p>Anyway, I think every women can be hard or flexible like woods. I believe that life experiences formed a person with their character. You are &#8220;Perempuan Kayu&#8221; also dear&#8230;. because what we&#8217;ve passed doesn&#8217;t kill us&#8230; right?<span id="more-576"></span></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-578" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/04/woman.jpg" alt="" width="361" height="400" /></p>
<p>I always said to myself, never give up. If someone can&#8217;t kill me with what he did, then I became stronger and stronger. <span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span class="hps" title="Click for alternate translations">Blink</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">your eyes</span><span title="Click for alternate translations">,</span> please! Do </span><span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span class="hps" title="Click for alternate translations">not</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">let</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">the tears</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">spill, because you are Perempuan Kayu. </span></span></p>
<p><span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span class="hps" title="Click for alternate translations"><em>*ps : Thanks for the nickname Wied&#8230; it gave more strength! <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/04/18/perempuan-kayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Forget It</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/02/13/forget-it/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/02/13/forget-it/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 13:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku punya teman dekat semasa kuliah. Yang menurutku terjebak dengan masa lalu. Dia begitu senang mengenang dan mengingat masa lalunya, ya mungkin baginya itulah masa-masa keemasan dan kejayaannya.</p>
<p>Beberapa minggu lalu, temanku bilang dia bertemu di fb dengan mantanku waktu kuliah. Sebelumnya dia cerita kalau dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku punya teman dekat semasa kuliah. Yang menurutku terjebak dengan masa lalu. Dia begitu senang mengenang dan mengingat masa lalunya, ya mungkin baginya itulah masa-masa keemasan dan kejayaannya.</p>
<p>Beberapa minggu lalu, temanku bilang dia bertemu di fb dengan mantanku waktu kuliah. Sebelumnya dia cerita kalau dia sudah add si A, si B, yang termasuk dari lingkaran kami nge-band dulu. Dan akhirnya dia ketemu si laki-laki itu. Temanku ini sengaja memancing-mancing ego si mantan itu dengan menyinggung-nyinggung tentangku dan alhasil si mantan itu pun terbawa emosi.  Dia bilanglah begini begitu begini begitu.</p>
<p>Temanku tentu saja dengan akal bulusnya langsung minta maaf karena sudah membuat emosi kembali memuncak, padahal memang maksudnya mau membuat marah. Temanku ternyata menyimpan ketersinggungan juga karena beberapa tahun lalu pernah bertemu dengan nih orang tapi nih orang cuek saja pura-pura tidak kenal &#8212; yang so pasti tidak mungkinlah secara kami semua ada di lingkaran yang sama.</p>
<p><span id="more-558"></span></p>
<p>Saat temanku menyampaikan padaku tentang apa yang dikatakan si mantan tentangku, aku bilang padanya bahwa aku tidak peduli si mantan itu mau bilang apa. Kukatakan padanya, <em>it&#8217;s been a long long time ago</em>, dan kau tahu betul kalau aku bukan orang yang suka berhubungan dengan masa laluku, dalam hal sekecil apapun.</p>
<p>Aku tidak peduli orang itu mau bilang apa, itu urusan dia dengan pikirannya sendiri. Bukankah dimana-mana mereka yang merasa disakiti selalu tidak terima dengan kenyataan? Lalu kenapa tidak diterima saja? Sebelum kita mendapatkan pilihan yang tepat untuk kita, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang salah. Dan belum tentu pula yang kita rasa tepat saat ini sebenarnya adalah memang tepat buat kita.</p>
<div id="attachment_559" class="wp-caption aligncenter" style="width: 412px"><img class="size-full wp-image-559" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/01/clipboard04.jpg" alt="Forget It" width="402" height="370" /><p class="wp-caption-text">Forget It</p></div>
<p>Nah. Temanku ini. Single parent. Aku marah padanya karena dia melulu berhubungan dengan mantan-mantannya, mencari harapan dan kesempatan, walaupun berat tentu saja karena mantan-mantannya itu sudah menikah pula.</p>
<p>Berkali-kali aku katakan padanya, kau pantas mendapatkan yang lebih baik, tapi kenapa kau terus-terusan berusaha menghubungi mantanmu yang ini atau yang itu? Alasannya karena sudah sama-sama tahu sifat masing-masing. Tapi bukankah itu berarti kalian juga sudah sama-sama tahu apa yang membuat kalian tidak cocok kan? Mantan suaminya itu dulu juga mantan pacarnya yang sudah berkali-kali putus sambung, karena pacarnya itu ringan tangan. Nah, sudah tahu pacarnya ringan tangan, tapi dia mau juga kawin dengannya. Ternyata temanku mengakui karena dia memang butuh kepastian materi dari keluarga pacarnya itu. Ah, padahal pada akhirnya ketika mereka resmi berpisah pun dia tidak dapat apa-apa.</p>
<p>Kubilang padanya, buatku gak ada cerita kembali dengan orang yang merupakan bagian dari masa lalu. Boleh saja kalau kau selalu mengingat mereka, tapi biarlah itu bagian dari buku kenangan masa lalumu. Forget it. Lebih baik mencari orang baru karena dengan demikian kau akan melihat bahwa dunia ini tidak hanya itu-itu saja. Lalu temanku tersenyum dan bilang, <em>aku tahu Sy, memang bukan sifatmu kayak gitu. Tapi aku malas cari cowok baru, entah kemana lagi mau kenalan. Aku udah punya anak kayak gini pula. Lagipula dia udah mau pisah kok dengan istrinya</em>. Temanku ngeles lagi.</p>
<p>Oh. Baiklah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/02/13/forget-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

