<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>From Dusk Till Dawn</title>
	<atom:link href="http://susucoklat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://susucoklat.com</link>
	<description>enjoying the city of night</description>
	<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 12:16:56 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Parasit di Soccer Cafe</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/03/07/parasit-di-soccer-cafe/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/03/07/parasit-di-soccer-cafe/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 15:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Medan]]></category>

		<category><![CDATA[clubbing di medan]]></category>

		<category><![CDATA[Clubbing]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[soccer cafe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.</p>
<p>Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.</p>
<p>Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu selama beberapa waktu untuk bertukar kabar. Wakai bilang anaknya bisa dia titipkan dengan ibunya jadi kita bisa keluar. Oh iya Wakai ini seorang single parent, bercerai dengan suaminya saat anak mereka usia 3 tahun.<span id="more-305"></span></p>
<p>Ya sudah, pergilah kami berdua. Waktu itu Wakai bilang, bagaimana kalau kita ajak Ai. Ai ini teman kuliah kami juga dulu, tapi dia satu tingkat di bawah kami. Sebelumnya setamat kuliah dia pindah ke Jakarta bersama orangtuanya, dan dia sendiri baru saja kembali ke Medan entah untuk apa. Aku menyebutnya sebagai cowok pengangguran sok beken, karena actually dia itu hobinya clubbing tapi lebih sering numpang bareng teman. Kami bertemu dengan dia saat main ke Retro beberapa waktu sebelumnya dan setelah obrolan basa-basi, kami semua saling bertukar nomor ponsel.</p>
<p>Aku bilang pada Wakai, Ai bukanlah orang yang tepat untuk diajak. Tapi Wakai bilang, hanya supaya kita aman saja agar tidak ada lelaki tubang yang mengganggu. Okaylah kalau begitu, aku bilang. Toh sebenarnya kami bisa aman meskipun hanya berdua. Aku tahu selalu ada pria iseng di club manapun, tapi mereka juga tahu dirilah kalau cewek yang didekati menolak. Tapi aku pikir, ah mungkin Wakai memang menginginkan ada laki-laki yang ikut. Sekedar pemanis barangkali.</p>
<p>Wakai menelepon Ai dan mengajaknya. But, karena aku pada dasarnya keberatan membawa dia, aku pun mengusulkan untuk pergi ke Soccer Cafe saja. Aku gak mau jatuh level karena bawa orang kayak Ai hihihi&#8230; Soccer Cafe ini kafe &#8220;standard&#8221; yang berlokasi di basement Hotel Grand Angkasa. Masuk ke dalamnya serasa masuk ke pub-pub murahan seperti di film-film. Maklum interiornya kusam sekali.</p>
<p>Aku sebenarnya tidak keberatan kok masuk ke Soccer. Di sini tidak ada musik ajeb-ajeb, dan lebih dominan live music, dan karena pengunjungnya juga biasa-biasa saja alias tidak membludak seperti Retro, kami pasti bisa menikmati musik dengan santai. Aku lebih suka menikmati live music di Soccer daripada di Retro. Tapi harga minuman di Soccer termasuk mahal untuk ukuran pub kelas dua begitu. Tapi yahh, mungkin mereka buat harga mahal karena mereka menumpang di hotel berbintang. Berharap pada tamu-tamu yang menginap.</p>
<p>Benar saja seperti dugaanku. Ai benar-benar terlihat seperti parasit. Bisa kau bayangkan, bahkan rokok saja dia tidak bisa beli. Aku tidak merokok, tapi Wakai iya. Ai bertanya pada Wakai, ada rokok gak? Wakai mengeluarkan rokok mentholnya dan Ai menolak. Saat Ai pergi ke bar, Wakai berkata padaku,&#8221;Kalau mau rokok kita hemat, pilih rokok menthol. Cowok mana suka rokok menthol. Makanya rokokku hemat.&#8221; Aku tertawa mendengarnya. Alasan yang masuk akal, dan aku suka. Ini salah satu trik yang juga pernah dikatakan oleh Utie.</p>
<div id="attachment_306" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-306" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/03/sampoerna-mild-menthol.jpg" alt="sampoerna mild menthol" width="200" height="270" /><p class="wp-caption-text">sampoerna mild menthol</p></div>
<p>Tak lama Ai kembali dari bar, dan dia membual bahwa dia sudah minum satu sloki di sana. Ooouuh plis deh, sloki apa? Sloki air keran maksudnya? Dia datang membawa sebungkus rokok, dan aku tahu dia sudah membayarnya langsung di sana. Dia langsung menghabiskan minumannya, kemudian dengan pedenya dia mengambil minuman Wakai dan menenggaknya. Sebelum dia mengambil Corona-ku, aku mengambil dan memegangnya terus, dengan posisi seakan siap minum, padahal maksudnya agar tidak diambil oleh dia.</p>
<p>Aku bertatapan dengan Wakai. Rasa kesal sudah menjalar di diri kami. Cowok gembel ini kelewatan, tak tahu diri betul. Jelas-jelas dia tak akan membayar minuman kami nanti tapi dia dengan pede menghabiskan minuman. Aku melotot lagi pada Wakai, karena merasa dia yang bertanggung jawab karena telah mengajak Ai. Wakai sebenarnya juga tidak menyangka bahwa laki-laki yang diajaknya ini adalah parasit, karena dia baru bertemu Ai satu kali saat clubbing. Sementara aku lebih sering bertemu Ai dengan orang-orang lain yang bisa dibilang inangnya. Minggu lalu dia datang dengan B, lalu dua minggu sebelumnya datang dengan A, dan begitulah setiap minggu, dia berganti teman setiap datang ke tempat club. Biar bisa menumpang masuk dan minum gratis.</p>
<p>Rencana malam itu bersantai dengan Wakai jadi berantakan karena moodku sudah rusak. Aku tidak keberatan Wakai mengajak kawan mana saja selama orang itu menyenangkan dan  sama-sama enak, dan gak ganggu aku. Tapi ini, dia malah mengajak laki-laki gak bermodal. Dan ketika kami akan bayar-bayaran aku hanya mengeluarkan uang untuk membayar minumanku saja, aku tak mau menanggung minuman si Ai.  Tak pernah terbayangkan dalam pikiranku ada laki-laki seperti itu.</p>
<p>Kami berpisah di parkiran karena Ai katanya mau menumpang temannya saja yang baru datang. Baguslah, lagipula siapa yang mau anterin dia?</p>
<p>Di tengah jalan, saat aku mengantar Wakai pulang &#8212; di dalam mobil &#8212; kami membahas kelakuan Ai itu sampai berbuih. Ai yang waktu kuliah dulu bisa dibilang anak orang berpunya ternyata sekarang tidak jadi apa-apa. Entah apa kerjanya di Jakarta dan kenapa dia kembali ke Medan, siapa yang tahu kebenarannya. Dia benar-benar lelaki yang menyebalkan. Siapa coba perempuan yang mau dengan laki-laki begitu, yang bahkan beli rokok atau minum untuknya sendiripun tak mampu? Well, let say dia memang bokek, but menjadi parasit bukanlah cara yang terpuji. Pengen tampil keren tapi menumpang, aduhhh plis deh.</p>
<p>Saat aku turunkan Wakai di depan rumahnya, aku bilang, jangan pernah lagi ngajak-ngajak dia ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/03/07/parasit-di-soccer-cafe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Chit-chat @The Barrels</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/03/06/chit-chat-the-barrels/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/03/06/chit-chat-the-barrels/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 14:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[Clubbing]]></category>

		<category><![CDATA[Heineken Beer]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta 24 jam]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[The Barrels]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[<p>Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc &#8212; salah satu member group yang stay di Medan &#8212; langsung buat ikon sedih karena dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc &#8212; salah satu member group yang stay di Medan &#8212; langsung buat ikon sedih karena dia tak bisa ikut bersama kami.<span id="more-295"></span></p>
<p>Aku datang duluan seperti biasa. Tadinya aku pikir aku sudah telat, karena aku jalan setelah anakku selesai makan (kau tahu, dia begitu lambat menghabiskan makanannya lho, bisa satu jam setengah). Sampai di La Piazza, ternyata Op belum ada, padahal tadi dia ribut tanya-tanya di group chat kami ada dimana. Dd mengirim pesan, katanya dia masih di Pulomas. Dia sudah bilang akan datang telat, karena menunggu Yud abangnya pulang kerja. Kami memang mau kumpul semua, aku, Op, Dd, dan pasangan pengantin baru, Yud dan Dee.</p>
<p><em>Well, La Piazza is a really cool place</em>. Pilihan resto dan kafe-nya banyak, dan the outdoor venue adalah pilihan favorit pengunjung karena berhadapan langsung dengan stage. Ada <em>live music</em> di sini.</p>
<p>Tak berapa lama Op datang. Dia mengeluh karena susah mencari parkir. Volvo-nya lumayan makan tempat sehingga agak repot berkeliling. Kutanya kenapa tidak vallet saja. Malas, katanya, karena ada banyak barang di mobil. Op tidak berubah, style nya tetap seperti dulu. Always rapi dan keren. Kemeja lengan pendek yang terseterika licin dimasukkan ke dalam celana yang juga sama licinnya, cambang yang bersih tercukur, sepatu hitam mengkilat. Jam mahal di tangan sebelah kanan, serta dua cincin di jari sebelah kiri. No, dia tidak kelihatan seperti bapak-bapak, dia terlihat persis anak muda yang keren. Dia sebaya denganku tapi belum menikah.</p>
<p>Karena Dd belum datang, kami memutuskan untuk duduk duluan di luar, di depan panggung. Tadinya aku mau di dalam saja, ada venue yang disewa barengan oleh The Barrels dan Bakoel Koffie. Di situ ada sofa. Tapi kami telat, saat celingak-celinguk tahu-tahu sudah ada orang lain yang masuk duduk di sofa. Ya sudah, di luar juga tidak apa-apa. Udara malam hari itu cukup sejuk, nikmat sekali. Anakku kelihatan senang, dia main kesana kemari sambil tertawa-tawa riang. Kami mengobrol dan bergosip, hmm sebenarnya bukan bergosip, tapi sharing knowledge hahaha..</p>
<p>Setengah jam kemudian baru datang Dd, Yud, Dee, dan&#8230;. maminya? Loh, kenapa si Tante ikutan kesini? Aku dan Op refleks berpandangan dengan tatapan bertanya-tanya. Belum apa-apa kami sudah khawatir, kenapa maminya Dd ikut kesini? Ini kan acara anak muda. Si Tante berbasa-basi sebentar lalu katanya dia mau pergi belanja dulu untuk Derder (wah, Derder juga ikut? Sekeluarga bo&#8217;) yang sudah menghilang entah kemana, mungkin ketemu teman sekolahnya yang juga lagi main di La Piazza. Derder ini adiknya Dd yang masih duduk di kelas 1 SMU. Adik termuda dari persaudaraan kami.</p>
<p>Aku lihat Tante mengajak Dee ikut dengannya. Wah, aku langsung senyum-senyum. Aku tahu betul Dee pastinya ingin bergabung dengan kami tapi dia kan tak mungkin menolak permintaan ibu mertua (baru nikah pula!). Aku kenal baik sifat Tanteku ini, dia pasti bilang sama Dee agar membiarkan kami sepupu-sepupuan bercerita dan saling melepas rindu. Nasibmulah, Dee.</p>
<p>Yud tampil casual. Dia tidak separlente Op dalam berpenampilan. Lalu Dd? Adikku yang gendud itu seperti biasa dengan gaya santainya, bercelana pendek, dan pakai kaos oranye Bart Simpson. Buset deh, makin bulet aja jadinya. Gayanya persis kayak cukong, bawa tas kecil berisi dompet, uang, dan beberapa ponsel.</p>
<p>Dd yang paling semangat dengan acara kami ini. Segera dia memesan satu pitcher draught beer Heineken dari The Barrels, sementara aku dan Op sebelumnya sudah terlanjur pesan beer gelas (draught Heineken juga) dari Pisa Cafe. Dan ternyata kami memang salah. Beer segelas di Pisa harganya 40 ribuan, padahal kalau beli pitcher dari The Barrels cuma 115 rb yang bisa dapat 4-5 gelas. Yah maklum saja, tadi kan Dd dan Yud belum datang, kami berdua kan tidak ingin terlihat seperti orang mau mabuk, cuma berdua tapi udah pesen pitcher, hehehee&#8230;</p>
<div id="attachment_297" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><img class="size-full wp-image-297 " src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/03/heineken2.jpg" alt="one glass is not enough" width="576" height="391" /><p class="wp-caption-text">one glass is not enough</p></div>
<p>Aku tidak begitu suka Heineken sih sebenarnya. Tapi mereka tidak menjual Corona. Yang ada bir Bintang, Heineken, dan Bir Hitam. Buset deh, bir hitam? Jadi ingat petualangan minum bir hitam dengan Elz, hahahah! Ya sudahlah, tidak ada pilihan toh?</p>
<p>Kami mengobrol sambil diiringi tampilan live music dari seorang penyanyi cowok. Beberapa cewek di meja lain terlihat melambai pada Dd, oohhh ternyata mereka teman SMP nya Dd. Sekitar jam 9, aku lihat anakku sudah mulai mengantuk sementara pitcher kedua baru datang. Anakku pun tertidur di pangkuanku baru kemudian aku pindahkan ke pangkuan susternya. Tak mungkin bisa mengobrol sambil memangkunya, aku takut dia terbangun nanti.</p>
<p>Dulu waktu aku masih kuliah, aku sering liburan ke Jakarta dan sering jalan bareng dengan Op dan Yud (Dd gak ikutan karena waktu itu dia masih anak kecil, ga level diajak). Kami menertawakan kenangan-kenangan kami, termasuk waktu mobil Citroen Op beberapa kali panas di tengah jalan, lalu menertawakan ketololan Dd waktu pertama kali dicekokin bir sama Op waktu kami karaoke di Lembang. So silly! Aku bilang, sekarang sok tua minumnya Jack D padahal dulu minum bir aja sembunyi-sembunyi.</p>
<p>Yud mengusulkan agar bulan depan clubbing bareng, sama-sama sepupu yang lain. Lalu nanti kita buka botol ini itu, pesan minum ini itu. Aku manggut-manggut saja, tidak berani berjanji dulu. Dd dan Op semangat sekali tentu saja, dengan syarat kakaknya Op jangan diajak hahaha&#8230; Gak seru bawa kakak, mau minta buru-buru pulang, katanya. Ya iyalah, kan ada anaknya di rumah, wajar dong minta pulcep. Dasar cowok-cowok, kataku. Loh, emang Dee mau kalo kita ajak dugem? Tanya Op. Oh, dia mau pulkam kok di tanggal itu, jawab Yud. Hahaha&#8230; ngakaklah kami, ternyata ada gunanya juga Dee dibawa sama Tante tadi, karena memang benar, kami membutuhkan privasi saat berkumpul begini.</p>
<p>Mungkin orang akan mengira kami adalah sekelompok teman-teman lama yang lama tak bertemu, karena wajah kami semua tidak ada yang mirip, bahkan mendekati sekalipun. Dd dan Yud maminya orang cina, dan Dd tampangnya cina abis, persis kayak cukong dari Roxy. Op, wajahnya memang mirip bapaknya, tapi tidak terlalu kelihatan batak. Lalu aku, dengan tampang orang dari daerah Timur, jelaslah sudah. Siapa yang akan menyangka kalau kami bersaudara?</p>
<p>Saat bil datang, nah ini yang paling aku suka. Akhirnya kami semua patungan, hahaha&#8230; Aku membayar untuk pesanan Pisa Cafe karena aku harus membayar untuk makanan anakku dan minuman susternya, sementara pitcher dibayar oleh mereka.</p>
<p>Sebelum aku beranjak duluan &#8212; karena anakku sudah lelap sekali sampai tak terpengaruh suara musik yang ribut &#8212; Dd mengingatkan lagi tentang rencana bulan depan. Dugem sampai pagi. Oke, dipikirkan dulu ya, begitu kataku berlalu sambil menggendong anakku. Hehe&#8230;.</p>
<p>Ah sebenarnya aku tidak yakin aku mau ikutan. Hmm..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/03/06/chit-chat-the-barrels/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Small Dinner @ Pancious</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/02/22/small-dinner-pancious/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/02/22/small-dinner-pancious/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 16:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta 24 jam]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku jalan-jalan malam lagi, kali ini keluar kongkow dengan teman-teman lama. Sempat miskom juga, karena Lin tidak memberi petunjuk dengan benar. Katanya &#8220;Seberang Gading 1. Seberangnya Pizza Hut.&#8221; Dalam bayanganku, lokasinya di dalam Mall Kelapa Gading 1, kan ada PH juga di situ. Lalu aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku jalan-jalan malam lagi, kali ini keluar kongkow dengan teman-teman lama. Sempat miskom juga, karena Lin tidak memberi petunjuk dengan benar. Katanya &#8220;Seberang Gading 1. Seberangnya Pizza Hut.&#8221; Dalam bayanganku, lokasinya di dalam Mall Kelapa Gading 1, kan ada PH juga di situ. Lalu aku kira mungkin maksud dia seberang itu ke arah La Piazza. Wow, ternyata maksudnya adalah di jalan raya boulevardnya. Padahal aku sudah turun lengkap dengan stroller anakku di Gading 1. Dan ternyata semua teman juga menyangka bahwa yang dimaksud dengan &#8220;seberangnya gading 1&#8243; adalah di dalam komplek mkg juga. Merepet-repetlah kami semua.</p>
<p>Akhinya suara terbanyak sepakat bahwa kita akan stay di mall saja, tidak jadi menyeberang ke kafe coklat yang dibilang Lin itu. Di dalam mall lebih gampang kalau mau kemana-mana.<span id="more-271"></span></p>
<p>Ini adalah pertemuan kami yang kedua, kongkow bareng. Padahal kami semua sudah kumpul di Jakarta, tapi bertemunya susah setengah mati. Kami bertemu hari Senin malam di hari kerja juga karena alasan Ren pasti tidak bisa kalau ketemuan wiken (dia pulang ke Bandung ketemu suami). Tapi siangnya Ren sempat menyebalkan. Sesaat begitu Lin mengusulkan untuk makan di Yuraku, dia dengan entengnya langsung bilang,&#8221;Aku tidak ikut kalau di Yuraku. Sorry.&#8221; Aku lihat grup chat kami hening sesaat, Chie tidak merespon, juga Lin. Aku akhirnya buka suara. Aku bilang, kalau kau tidak mau di Yuraku kasih alasan yang jelas. Jangan asal bilang gak ikut aja, toh kami semua memilih kowbar di hari Senin (bayangkan, kongkow kok hari Senin?) supaya kau bisa ikut. Kalau tidak mau Yuraku, usulkan saja yang lain. Jangan main lari aja! begitu kataku ditambah tanda seru. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Suasana grup sepi sesaat. Baru akhirnya Ren menjawab, katanya dia bosan di Yuraku. Ya sud, bilang bosan saja kok susah. Aku sih curiga dia begitu karena tidak terima saja usulan Yuraku itu dari Lin. Seperti biasa, kan dia memang sedikit sentimen sama Lin, dan hanya dialah yang tahu kenapa. Kalau sampai dia tidak datang hanya gara-gara Lin mengusulkan Yuraku, aku bisa ngamuk. Tadinya kan aku usul Selasa malam saja, maksudnya sih misalnya nih kami kemalaman, anakku besok paginya masih bisa bangun siangan. Sementara kalau kongkow Senin malam, Selasa pagi anakku sudah harus bangun karena harus sekolah, kasihan kan masih ngantuk. Tapi karena semua maunya Senin, ya sudah aku mengalah tidak apa-apa, jadi maaf saja aku langsung jadi judes karena Ren sok merajuk hanya gara-gara usulan Lin. Gak pada tempatnya ngambek sama teman-teman yang sudah berkorban kongkow di hari kerja biar dia bisa ikutan.</p>
<p>Kami makan di Pancious. Aku agak bosan sebenarnya karena ini-ini melulu makannya, pancakee mulu, tapi sudah jam 7 malam, dan sudahlah, yang penting kan kami bisa kumpul dan ngobrol-ngobrol, itu intinya. Lin datang terlambat, buset dehh.. janji jam 7, dia sampai di situ jam 8. Tapi sebenarnya no probz lah, karena aku dan Lin kan bisa bertemu tiap hari di kantor, lalu Lin tiap hari ketemu Ren karena mereka satu kontrakan (bayangkan, sentimen sama teman sekontrakan :p), cuma memang ketemu sama Chie saja yang jarang-jarang. Dulu Chie sekantor sama kami waktu masih di Medan, sekarang dia pindah ke perusahaan kompetitor.</p>
<p>Eh jangan salah lho, aku cuma makan seporsi saja :D. Ren dan Chie masing-masing 1 1/2 porsi, Lin seporsi saja, anakku seporsi cream soup, dan pancake untuk susternya. Biarpun judulnya kongkow, tapi tetap harus dijaga makannya, takut gendut :D.</p>
<p>Aku lebih banyak mengamati &amp; mendengarkan teman-temanku mengobrol. Kami berempat punya banyak cerita, jadi sepertinya semua heboh ingin cerita, dan aku menikmati saja. Bergantian bercerita. Ini adalah malam yang menyenangkan untukku, karena kami mengobrol dengan suasana yang hangat. Karena kami semua dari Medan, cewek-cewek batak pula, dan meskipun kami sekarang stay di Jakarta, tapi kalau sudah berkumpul, kami akan mengobrol dengan bahasa &amp; dialek orang Medan.  Gak ada lu gue, tapi kau, aku, bodat, borjong, lontong, tahapa-hapa, kekmana, dan banyak lagi hahahaa&#8230; Cuma Ren yang memang sedikit jaim kalau bicara, kadang di depan kami masih saja sok ber-&#8221;lu gue,&#8221; biasanya langsung aku sindir, <em>perasaan aku yang lebih lama di Jakarta dari kau, tapi kau pulak yang udah jadi orang Betawi kutengok.</em> Hahahaha&#8230;</p>
<p>Jam sembilan kurang, kami berpisah. Aku ingin segera pulang karena aku lihat anakku sudah mulai mengantuk. Kami changing dulu di toilet, mengganti bajunya dengan piyama, karena aku tahu dia pasti akan langsung terkulai di mobil.</p>
<div id="attachment_285" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-285" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/02/mv.jpg" alt="21.05 waiting car @ lobby" width="550" height="438" /><p class="wp-caption-text">21.15 waiting car @ lobby</p></div>
<p>Aku dan Chie berpisah di depan lobby Mall 3, sementara Ren dan Lin masih di dalam mall, masih mau muter-muter lagi. Ah, masih terasa rindu sebenarnya berkumpul. Mungkin dua atau tiga bulan lagi nih baru bisa ketemu.. dan di hari kerja tentunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/02/22/small-dinner-pancious/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Om Jack</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/02/14/om-jack/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/02/14/om-jack/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jack daniels]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hmm. Aku melihat ponselku. Hang. Kenapa sih ponsel sekarang gampang sekali hang? Sepertinya semakin mahal harga ponsel kok malah semakin sering hang ya? Padahal ponsel SonEr ku ini lebih sering dalam posisi stand by, tapi barusan aku terima telepon dari tukang tas, kok nge-hang. Tukang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm. Aku melihat ponselku. Hang. Kenapa sih ponsel sekarang gampang sekali hang? Sepertinya semakin mahal harga ponsel kok malah semakin sering hang ya? Padahal ponsel SonEr ku ini lebih sering dalam posisi stand by, tapi barusan aku terima telepon dari tukang tas, kok nge-hang. Tukang tas mau datang sebentar lagi. Aku melirik jam dinding, sudah hampir pukul sembilan. Aku tadi tertidur ternyata. Seharian ini capek juga karena seharian di luar.<span id="more-261"></span></p>
<p>Biar sedikit segar, aku membuat es teh manis saja. Di rumahku memang jarang ada cemilan, seadanya saja. Cuma ada roti tawar saja, cemilan standar.</p>
<p>Bb ku berbunyi, aku lihat notifikasi dari grup chat. Oh, grup chat ku dengan sepupu-sepupuku. Aku hanya melirik saja, tidak bergeming. Malas.</p>
<p>Sepupu-sepupuku di grup chat itu sedang gila. Mereka ajak aku kongkow bareng malam-malam, lalu aku pula yang disuruh traktir. Huaduhhh, aku bilang memangnya aku konglomerat apa? Lalu Op bilang, uangku kan gak berseri, sebotol dua botol Om Jack gak masalahlah. Dan si Dd seperti biasa menggunakan dalih bahwa dia masih adekan jadi dia gak punya kewajiban untuk membayar.</p>
<div id="attachment_262" class="wp-caption aligncenter" style="width: 386px"><img class="size-full wp-image-262 " src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/02/jd.jpg" alt="" width="376" height="566" /><p class="wp-caption-text">Om Jack</p></div>
<p>Buset deh! Gak berseri darimana? Kalau aku mau traktir sepupuku, ya harus pakai uangku sendiri dong, masa iya aku minta uang suami, yang benar saja. Dan traktirnya beli Jack D pula&#8230; huuu rugi. Aku bilang sama mereka, aku gak sudi mentraktir mereka Jack . Soalnya aku kan gak doyan Jack D, terus aku juga bukan tukang mabok yang minum sampai berbotol-botol.</p>
<p>Dan satu lagi, aku sudah punya suami dan sudah punya anak. Sebenarnya Re tidak masalah aku kongkow dengan sepupu-sepupuku dan sedikit minum-minum, tapi aku saja yang tidak sanggup meninggalkan anakku di rumah demi bisa kongkow teler sama sepupu-sepupu. My daughter is my boss.</p>
<p>Aku bilang aku traktir saja Tony Jack, gimana? Kan sama-sama Jack. Dasar sepupuku matrek semua, sudah bisa ditebak mereka gak mau. Tetap memaksa aku harus traktir mereka di kafe yang mahal dan harus ada Om Jack. Lama-lama aku jadi kesal. Dari dulu kayaknya aku atau abangku (yang di Medan) selalu saja diporotin sama sodara. Masalahnya tidak pernah sekalipun dalam hidupku aku minta traktir or minta apapun sama mereka, dan secara hirarki duit juga, ya ampunnn duit mereka berkali-kali gaji ku kali.</p>
<p>Tapi memang dasar mereka merki aja, maunya dibayarin tapi gak pengen bayarin orang. Minta ditraktir tapi pake nentuin pula maunya dimana, dan yang mahal-mahal pula. Aku sih biasanya gak keberatan kalau habis dari mana terus si Dd titip pesen fast food kesukaannya yang mahal itu, karena aku suka berbagi. Dan aku care dengan saudara. Tapi kalau jadi keterusan sering minta dan pakai nentukan tempat, aku tersinggung juga jadinya. Kenapa gue melulu yang harus jadi cukong nih&#8230;!</p>
<p>Pantas saja waktu abangku kemarin mau datang ke Jakarta dan supirku tidak bisa menjemputnya karena harus antar anakku sekolah, kan aku tanya kenapa tidak minta dijemput Dd saja. Abangku bilang  begini, hhmmm&#8230; Dd jajannya beratt&#8230;. sehari bisa koyak sejuta! Buseettttttt&#8230;..!</p>
<p>Waktu aku curhat sama Re, Re bilang, udah suruh saja makan di rumah, kita beli bihun dari warung depan. Terus beli bir bintang aja&#8230;. beres kan? Huh..! Tidak menyelesaikan masalah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/02/14/om-jack/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Yang Sejuk</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/01/13/malam-yang-sejuk/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/01/13/malam-yang-sejuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 12:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[Night in Medan]]></category>

		<category><![CDATA[baileys]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.</p>
<p>Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.</p>
<p>Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam sambil menatap bintang di langit. Tak lupa segelas susu coklat panas dan setangkup roti bakar mendampingiku. <span id="more-253"></span></p>
<p>Ah, coba ada Baileys. Sedikit campuran Baileys tentu akan membuat suasana menjadi lebih soft dan warm. Tentu saja itu menurutku, lho. Karena aku dulu sering mencobanya. Baileys Hot Chocolate, dengan versiku tentunya. Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/baileys.jpg" alt=" " /></p>
<p>Hahahaha.. aku jadi ingat pada temanku Am. Dulu kalau kami main biliar bersama waktu aku masih di Medan, kami suka order minuman yang ada campuran Baileys-nya. Lalu setelah itu kami akan membanding-bandingkan, minuman mana yang terbaik di antara sekian banyak minuman itu. Tentu saja dengan gaya bak pencita rasa sejati. But, menurutku taste setiap orang tentu beda-beda, dan ketika dia berubah menjadi seorang pencita rasa, itu karena dia telah melakukan banyak latihan. Dengan kata lain tentu saja dia harus banyak-banyak mencicipi. Asal selalu ingat untuk berhenti saja.</p>
<p>Brr&#8230;! Roti bakar ini terlalu kering. Aku menyetel toaster terlalu lama tadi, dan sekarang rotinya kering plus sedikit gosong. Hmm, mau kasih ke siapa ya? Kami tidak punya binatang piaraan di rumah. Waktu di Medan, jalan depan rumah lengang sehingga banyak kucing liar berkeliaran. Kucing-kucing itu adalah pemakan segala, jadi pastilah roti kering pun mereka libas. Seandainya sendal butut juga bisa dimakan mungkin akan mereka makan juga, hahahaa&#8230;</p>
<p>Ya sudahlah, daripada mubazir, kumakan saja. Dicelupkan ke susu coklat tadi lumayan juga ternyata rasanya.</p>
<p>&#8220;Aahhh&#8230;. Aahhh..&#8221; Aku menoleh. Oh, anakku ternyata. Dia menyusul ke teras samping. Seperti biasa tangannya menunjuk-nunjuk laptopku ini, dia ingin ikut berpartisipasi.</p>
<p>Oke. Aku pergi dulu ya. Malam ini tidak bisa lama-lama bercerita. Sekarang saatnya bermain kuda-kudaan dulu dengan anakku. <em>Nite..!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/01/13/malam-yang-sejuk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>InconvenienceS</title>
		<link>http://susucoklat.com/2009/12/21/inconveniences/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2009/12/21/inconveniences/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 15:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[<p>Anakku sudah dua kali ikut terapi sensory integrasi. Tiga minggu lalu aku datang membawanya untuk observasi, dan kemudian tante &#8212; oh iya karena di klinik ini pakai bahasa ibu, tidak ada lagi aunty disini, tapi &#8220;tante&#8221; &#8212; menentukan hari terapi untuk anakku.</p>
<p>Saat observasi, anakku terlihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anakku sudah dua kali ikut terapi sensory integrasi. Tiga minggu lalu aku datang membawanya untuk observasi, dan kemudian tante &#8212; oh iya karena di klinik ini pakai bahasa ibu, tidak ada lagi aunty disini, tapi &#8220;tante&#8221; &#8212; menentukan hari terapi untuk anakku.</p>
<p>Saat observasi, anakku terlihat antusias sekali. Main kesana kemari, memanjat ini dan memanjat itu, sementara seorang tante yang dedicated untuknya terus menemani dan mengajaknya berinteraksi. Saat itu ada dua tante, aku duga mereka adalah lulusan psikologi, satunya bermain dengan anakku, satu lagi mengobservasi.<span id="more-245"></span> Anakku kelihatan tidak ada masalah berinteraksi dengan si tante. Beda ketika dia di sekolah lamanya, dia tidak suka dengan aunty dan uncle di sana. Aku melihat kemampuan tante disini untuk berinteraksi dan mengajak anak bermain cukup lumayan. Si tante kemudian memberi anakku jatah terapi di hari kerja, karena kebetulan klinik ini belum punya jadwal di hari Sabtu.</p>
<p>Terapi hari pertama tiba, dan aku sengaja cuti untuk menemani anakku. Ingin tahu seperti apakah metode terapinya. Aku melihat anakku senang-senang saja berkeliling ruangan itu, kebetulan di jam itu hanya dia sendiri yang terapi. Terapinya ternyata biasa saja, anakku hanya dibiarkan bermain dan dibiarkan mencoba semuanya sendiri. Hmm, sama saja ternyata dengan sekolah lamanya. Bedanya disini ada guru yang dedicated. Aku merekam semua di kepalaku dan aku akan mencoba membuat suasana yang sama nanti di rumah.</p>
<p>Ketika aku berkeliling keluar untuk melihat-lihat, aku melihat seorang terapis (biar kau tahu, semua terapis di sini perempuan) yang menghandle seorang anak. Terapis itu terlihat sangat cekatan, dengan tubuhnya yang besar dan suara yang juga besar, aku menduga dia pasti sanggup membanting seorang anak bila dia sedang jengkel. Perasaanku mulai sedikit terusik, aku tak suka melihat caranya memperlakukan anak didiknya. Dia berteriak dan menyuruh anak itu dengan nada yang terlalu keras, sedikit membentak mungkin. Lalu sejam kemudian, ketika anakku masih di dalam kelas, terapis gendut itu masuk ke kelas anakku, bersama beberapa anak lain. Aku melihatnya membuka pintu begitu saja tanpa berpikir bahwa mungkin saja ada seorang anak yang berdiri di belakang pintu itu. Dia melongo sesaat ketika mendapati seorang anak kecil berpipi bulat berdiri di belakang pintu sambil menatapnya. &#8220;Wah siapa ini, lucu bangett&#8230;.&#8221; teriaknya lagi. Anak kecil itu adalah anakku, untung saja dia tidak terkena hempasan pintu. Kalau sampai kena, mungkin aku akan berkelahi dengan terapis gendut itu di situ.</p>
<p>Aku masuk dan duduk di lantai kelas memperhatikan anak-anak khusus yang baru masuk bersama tante dan ibunya. Mereka terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, main kesana kemari, lompat kesana kemari. Lalu aku lihat anakku, matanya berbinar melihat ada teman. Dia mendekati seorang anak perempuan yang sedang bermain piano kecil dan ikutan memencet piano, tapi anak perempuan itu berdiri dan langsung pergi. Anakku mendekati seorang anak laki-laki gendut, yang juga langsung berdiri dan tak sengaja tangannya menepis kepala anakku. Aku menarik napas perlahan.</p>
<p>Aku mulai berpikir, apakah keputusanku ini benar? Membawa anakku yang sebenarnya biasa-biasa saja &#8212; hanya karena dia terlambat bicara &#8212; kesini, dimana seharusnya dia bergaul dengan banyak teman, tapi di kelas terapi ini justru dia seorang diri. Aku juga menangkap pandangan tanya dari para terapis terhadap anakku. Mereka sepertinya sedang berpikir, teori apa yang cocok untuk menjelaskan tingkah laku anakku, karena secara umum anakku &#8220;sangat bisa&#8221; merespon apapun ajakan bermain.</p>
<p>Ah bagaimana kalau aku tes si terapis? Aku pun bertanya pada terapis, apa pendapatnya tentang anakku. Dan ternyata, seperti dugaanku, dia tidak berani terus terang mengatakan anakku ini normal dan tak butuh terapi khusus. Kalau memang anakku adalah anak berkebutuhan khusus, dia pasti berani blak-blakan bilang bahwa anakku khusus dan terapinya harus begini begitu. Tapi kalau untuk bilang anakku normal, beranikah dia? Sementara dia dibayar dokter untuk mengajar di situ. Dia berpikir sesaat &#8212; pasti sedang membuka pustaka teori di kepalanya &#8212; lalu dia bilang, anakku belum kuat secara motorik, jadi sekarang ini dia harus dilatih motoriknya biar semakin kuat dan stabil. Dia juga harus dikenalkan dengan banyak tekstur dan simbol untuk melatih kepekaan motoriknya. Oh iya, di klinik ini, semua yang masuk tidak memakai kaos kaki, berbeda sekali dengan sekolah lamanya yang mengharuskan kaki orang dewasa ditutupi kaos kaki, dan aku tak bisa berhenti bergidik membayangkan kuman-kuman yang bertebaran di dalam ruangan itu.</p>
<p>Aku mengirim pesan pada Re, kukatakan padanya bahwa perasaanku tidak nyaman dan aku mulai ragu dengan tindakanku ini. Yang dibutuhkan anakku adalah bergaul sesering mungkin dengan teman sebaya, tapi anak-anak disini bahkan tidak perduli apakah ada teman atau tidak. Anakku malah menjadi eksklusif di sini.</p>
<p>Di akhir terapi, si Tante menuliskan hasil penilaiannya. Aku membacanya dan melengos. Apa ya yang harus kukatakan pada kalian? Soalnya isinya menjengkelkan aku. Dia menulis, <strong>&#8220;Sudah mulai bisa bereaksi ketika dipanggil.&#8221;</strong> kemudian, <strong>&#8220;Tangannya sering masuk ke mulut kalau dia tidak merasa nyaman,&#8221;</strong> <strong>&#8220;Beberapa kali sudah banyak menunjuk sambil bilang &#8216;a&#8217; &#8220;, &#8220;Harus menunggu lama baru mau mencoba sesuatu permainan.&#8221;</strong></p>
<p>Heiii.. hei&#8230;.. sebenarnya apa yang dilakukan terapis ini ketika observasi kemarin? Dia baru sekali menerapi anakku dan isi penilaiannya seakan dia sudah menerapi anakku selama berbulan-bulan. Semua yang ditulisnya itu sudah bisa dilakukan anakku sejak jauh-jauh hari, dan tentu saja karena aku ibunya akulah yang lebih tahu anakku seperti apa. Oke, aku mengerti, dia memang bukan ibu anakku, tapi tidak seharusnya dia membuat penilaian yang sangat teoritis. Buatlah penilaian sewajarnya. Bukankah saat observasi kemarin kami saling berdiskusi tentang kebiasaan dan kebisaan anakku, tapi mungkin tidak disimaknya. Kuisoner yang kuisi mungkin juga tidak dibacanya, karena kalau dia membacanya dia pasti bisa mengenal pelan-pelan karakter anakku dengan baik dan bukan asal duga.</p>
<p>Maksudku, anakku tidak ada masalah dengan &#8220;reaksi&#8221; ketika dipanggil. Dia justru sangat bereaksi dengan baik, jadi penilaian itu terlalu mengada-ada seakan-akan sebelumnya anakku susah bereaksi ketika dipanggil. Anakku, dia selalu memasukkan tangan ke mulut kalau dia tidak nyaman, haus, atau mengantuk. Kemudian anakku memang tidak mau langsung terjun ke suatu permainan kalau dia belum pernah mencobanya. Dia akan menilai dulu apakah dia suka dan nyaman dengan benda itu baru dia mau mencobanya. Kau tahu, si terapis berusaha memancing anakku masuk terowongan dengan menaruh sebuah bentuk segitiga di ujung satunya. Anakku, dia tetap tidak mau masuk terowongan. Dia mengintipnya sebentar lalu dia berjalan ke ujung satunya, dia tahu bahwa dia tidak perlu masuk terowongan untuk mengambil segitiga itu. Cukup memutar saja ke seberang, jauh lebih mudah. Hahahaha&#8230;. Sudah kubilang kan, anakku lebih abunawas otaknya, jadi gak bisa dikibulin dengan trik begitu.</p>
<p>Pulang dari situ aku berpikir, apakah aku akan melanjutkan terapi itu atau tidak. Aku berdiskusi dengan Re dan aku katakan bahwa mungkin aku memang salah sudah terlalu paranoid, dan aku minta izinnya untuk mencoba terapi ini sebulan saja, setelah itu anakku kembali sekolah biasa. Re setuju.</p>
<p>Minggu berikutnya ibu mertuaku yang menemani anakku sekolah. Aku memang meminta mertuaku bergantian menemani sekolah. Dalam hatiku, aku sudah bisa menebak kalau ibu mertuaku pasti juga tidak setuju melihat model terapi di klinik itu, terutama karena ada beberapa terapis lain yang &#8220;kejam&#8221;.  Aku menunggu hasil laporan dari Re. Dan betul dugaanku, ibu mertuaku tidak suka sama sekali. Pendapatnya juga sama, terapis di sana terlalu &#8220;keras&#8221; mendidik beberapa anak. Kemarin itu ada seorang anak yang menangis, lalu sama tantenya si ibu disuruh keluar. Tantenya yang akan membujuk (baca : memaksa) anak itu untuk berhenti menangis dan kembali bermain. Bisa kau bayangkan seperti apa? Keponakanku saja &#8212; yang bukan anak berkebutuhan khusus &#8212; kalau menangis pasti mencari ibunya, lalu ketika seorang anak berkebutuhan khusus menangis, ibunya disuruh keluar? Woowww, sorry kalau aku tak sependapat dengan teori psikologis mereka. Alhasil anak itu tak berhenti menangis selama setengah jam, dan ibunya akhirnya dipanggil masuk. Anakku pun batal bermain karena dia terpaku melihat anak yang menangis itu. Kali ini tante menulis penilaiannya : <strong>&#8220;Hari ini agak susah diarahkan, harus di-push untuk bermain.&#8221; </strong>Aku mengerutkan kening membaca kertas penilaian itu. Kenapa harus di-push? Seorang anak berhak merasa capek atau hilang mood, dan tentu saja mereka juga sudah bisa menunjukkan keinginannya seperti apa.</p>
<p>Akhirnya aku bilang pada Re, aku akan mengeluarkan anakku dari klinik itu. Aku akui bahwa keputusanku memasukkan anakku ke sekolah SI kemarin kurang tepat. Mungkin secara umum para terapis itu punya sense dalam mendekati anak &#8212; makanya anakku senang-senang saja main dengan tantenya &#8211;  tapi aku kok takut ya anakku malah nantinya jadi benar-benar khusus.  No offense, perasaan seperti itu wajar menurutku. Anak-anak di sini tidak suka bermain bersama, dan aku tak mau anakku nantinya menjadi pribadi yang &#8220;emoh bergaul.&#8221; Anakku membutuhkan teman yang mau berinteraksi.</p>
<p>Dan tentu saja alasan utamanya karena feelingku sebagai seorang ibu berperan disini. Perasaanku tidak enak sejak melihat terapis gendut itu. Terapis-terapis muda yang berpedoman pada teori, bukan pada basic rasa empati atau banyaknya pengalaman mengajar anak-anak khusus. Aku tidak percaya pada mereka.</p>
<p>Kata Re, itulah aku, terlalu paranoid. Anak baik-baik saja tapi khawatirnya berlebihan. Oke, Re memang benar. Tapi setidaknya aku melewatinya tanpa harus ada rasa penasaran dalam diriku. Aku tak mudah menerima atau percaya akan sesuatu kecuali aku sudah membuktikannya sendiri. Dengan demikian aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan kemudian. Dan aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan sekarang. Membawa anakku keluar dari situ.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2009/12/21/inconveniences/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;KHUSUS&#8221;</title>
		<link>http://susucoklat.com/2009/11/25/khusus/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2009/11/25/khusus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 15:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>

		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aahh..! Tumben cuaca malam ini begitu bersih dan terang. Tidak hujan, bahkan tidak ada rintik sedikitpun. Aku sedang di jalan bersama tante, anakku, dan susternya, menuju Kelapa Gading. Aku dapat jadwal konsultasi jam 7 malam bersama seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang, maka kami harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aahh..! Tumben cuaca malam ini begitu bersih dan terang. Tidak hujan, bahkan tidak ada rintik sedikitpun. Aku sedang di jalan bersama tante, anakku, dan susternya, menuju Kelapa Gading. Aku dapat jadwal konsultasi jam 7 malam bersama seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang, maka kami harus bergegas. Begitu tiba, kami langsung naik ke lantai 2. Re tidak bisa ikut karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal.</p>
<p>Pemandangan di klinik ini berbeda dengan yang pernah aku datangi. Kalau di rumah sakit tempat aku biasa membawa anakku untuk kontrol banyak bayi dan toddler yang ribut lari kesana kemari, tapi di sini aku hanya melihat seorang bayi, selebihnya sudah bisa dikatakan toddler, dan juga ada yang sudah anak-anak. Dan sebagian besar dari mereka adalah anak &#8220;berkebutuhan khusus&#8221;.</p>
<p>Tadi di lantai 1, ada seorang anak yang sebesar anakku, terus dipangku ibunya. Aku tak tahu apa yang dipakainya, tapi anak itu tidak mengenakan diaper, tapi ada kantong di pangkuan ibunya, yang kelihatannya berisi air seni. Anak itu bolak-balik pipis. Aku lihat kaki dan betisnya lurus saja, tidak berotot, hmm.. mungkin dia tidak bisa jalan? Entahlah.</p>
<p>Seorang anak yang kira-kira berumur lima tahun, diam saja saat pertama masuk, tapi ketika disuruh menimbang berat badan, dia mengamuk dan memberontak. Ada lagi seorang bocah yang duduk menunduk, tak mempan oleh bujukan ibu dan neneknya. Ketakutan disuruh ambil darah. Anakku lewat dan berhenti di depannya, lalu menunjuk-nunjuk gambar di baju kaos anak itu. &#8220;Uh..! Uh..!&#8221; Lalu aku dengar si nenek bersuara, &#8220;Tuh lihat, adeknya aja gak takut, malu lho sama adeknya.&#8221; Aku tersenyum mendengarnya.</p>
<p>Lalu aku lihat seorang ibu turun dari tangga lantai 3. Ia menggendong anak perempuannya yang aku tebak mungkin usianya sekitar 5-6 bulan. Anak itu begitu mungil, kecil sekali, seperti sebuah boneka anak perempuan yang dipakaikan legging dan sweater. Siapa yang bisa menebak berapa besar sebenarnya tubuh yang terbungkus sweater dan legging itu?</p>
<p>Perhatianku teralihkan oleh teriakan anakku. Ternyata dia marah karena mau main tapi dipegangin terus sama susternya. Klinik ini memang relatif kecil, tapi lumayan bersih menurutku. Di depan tangga ada pintu besi pengaman yang dijaga terus oleh petugas. Jadi kalau ada orang naik dan turun, dia yang akan membuka dan menutup pintu pengamannya.</p>
<p>Suster keluar dari kamar dokter. Bersama si ibu dengan anak boneka. Anak boneka itu digendong oleh neneknya. Aku melihat si ibu duduk di sofa dan menangis, dan suster mengucapkan sesuatu padanya. Dari tempatku duduk, aku bisa merasakan aura kesedihan dari si ibu. Dalam hati aku bersyukur karena anakku masih lebih sehat daripada anak-anak di sini.</p>
<p>Suster memanggil nama anakku. Aku bangkit dari kursi, meminta tanteku menunggu sementara aku mencari anakku yang ternyata masih asyik main di sudut sana. Aku deg-degan saat melangkah masuk ke dalam kamar praktek, deg-degan karena cemas dengan apa yang akan aku hadapi. Dokter masih di ruang sebelah, istirahat sebentar, begitu kata susternya. Sambil menunggu dokter datang, aku malah semakin deg-degan.</p>
<p>Aku datang ke klinik itu karena anakku belum bisa bicara. Dia memang terlambat bicara, karena di usianya yang sekarang satu kata pun belum bisa diucapkannya. Aku tentu paham bahwa perkembangan setiap anak berbeda, karena anak itu unik, tidak ada yang sama. Tapi sebagai orangtua, aku tentu bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak.</p>
<p>Dokter datang. Dia sudah berumur, dan ternyata dia seorang pribumi. Wew. Bukannya aku rasialis, lho. Hanya saja aku terbiasa bertemu dokter spesialis yang canggih-canggih yang biasanya adalah keturunan tionghoa. Dan di bayanganku, karena ini di daerah Kelapa Gading, pasti dokternya orang tionghoa juga. Hahahaha&#8230; <em>so silly</em>. Sebenarnya ini adalah kali kedua aku bawa anakku ke dokter tumbuh kembang. Yang pertama ketika anakku berumur 1 tahun dan dia belum bisa berdiri sendiri tanpa bantuan. Dititah saja dia belum mau waktu itu. Saat umur 1 tahun itu dia baru bisa merambat.</p>
<p>Dokter mengajak anakku bercanda. Anakku bermain dan dia memperhatikannya. Melakukan beberapa tes ini itu, dan dokter juga mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Entahlah, pertemuan ini terlalu singkat menurutku, dan aku rasa dia melakukan tes terlalu terburu-buru, hanya 20 menit kami di dalam. Beda dengan dokter tumbuh kembang yang pertama, dimana kami di dalam sampai 1 jam karena dia sabar melihat anakku main.</p>
<p>Hatiku berdegup kencang ketika dokter bilang, &#8220;Iya, memang ada sedikit.&#8221; Maksudnya anakku memang ada sedikit bakat &#8220;berkebutuhan khusus&#8221;. Tapi hanya sedikit, katanya berusaha menenangkan aku. Dia pasti sudah biasa bertemu orang tua yang cemas dengan keadaan anaknya. Dokter bilang, aku tidak perlu khawatir, karena anakku tidak separah yang aku bayangkan, tapi memang bakat itu ada, even hanya 5%.</p>
<p>Sebenarnya ini tidak aneh lagi bagiku, karena dulu waktu anakku berumur sembilan bulan, seorang dokter spesialis naturopatik dengan gelar profesor &#8212; dia adalah dokter keluarga kami &#8212; juga bilang bahwa anak kami ini ada bakatnya, jadi kami harus membimbingnya dengan benar. Karena kalau dibiarkan, dari yang 5% itu bisa membesar. Sejak usia sembilan bulan itu, sampai sekarang kami masih pakai sebuah alat terapi naturopatik &#8212; yang harganya luar biasa bikin bangkrut, hahaha&#8230; &#8212; untuk anak kami. Di samping itu, aku juga membuat jadwal bermain dan belajar yang cukup ketat untuk anakku setiap Senin-Jumat (kalau Sabtu Minggu dia libur belajar, sama kayak orang dewasa, hehee&#8230; ) sehingga meskipun si Keras Kepala itu belum bisa bicara, tapi dia berkembang normal seperti anak lainnya. Hapalannya cepat. Sudah mengerti banyak kebiasaan di rumah itu. Dan akalnya juga luar biasa abunawas-nya. Sudah bisa ngerjain orang pula, salah satunya ya ngerjain aku.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2009/10/abc.jpg" alt=" " /></p>
<p>Dokter bilang, anakku butuh terapi, yang namanya terapi Sensor Integrasi. Ini adalah sejenis terapi bermain dimana disediakan alat-alat permainan yang sudah didesain khusus untuk mengasah sensor integrasi anak. Ya seperti balok-balok titian, kolam bola, balok panjatan, luncuran. Hmm.. Sepertinya sih sama saja ya dengan jenis arena permainan di sekolah anakku yang sekarang. Tapi bedanya dimana, tentu aku hanya bisa tahu setelah aku mengikutkan anakku di kelas itu. Katanya terapi SI ini memang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain terapi di sekolah, si ibu juga akan dibekali ilmu terapi (bermain) yang sama, agar di rumah juga bisa berlatih bersama anak. <em>Seems fun</em> ya..</p>
<p>Bagaimana perasaanku mendengar diagnosa dokter? Hmm. Biasa saja sih. Aku tidak pernah kecewa dengan anakku, apapun itu. Mungkin pernah terbersit perasaan tidak puas, tapi itu lebih ke <em>suggest</em> pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi dalam mengurus anak. Buatku, anak adalah <em>gifted</em> dari Tuhan, jadi aku harus ikhlas dengan semua yang ada di dalam dirinya.</p>
<p>&#8230;&#8230;</p>
<p>Pulang dari klinik, kami berempat makan seafood dulu di Gading Food City. Sudah lama aku tidak makan ikan bubara bakar, jadi makan malam kali ini terasa begitu nikmat. Di resto Ujung Pandang kami duduk dan makan dengan lahap. Aku lihat anakku tidak mau kalah. Bolak balik minta tambah. Telunjuknya menunjuk ke arah ikan bakar, &#8220;Uh?!&#8221;. Lalu tak lama begitu isi di mulut sudah habis, telunjuknya ganti menunjuk piring berisi cumi goreng tepung. &#8220;Uh..?!&#8221; Heheheheee&#8230;</p>
<p><em>Cepat bicara ya, Vay&#8230; biar kita bisa baca buku sama-sama&#8230;.</em> <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2009/11/25/khusus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peka</title>
		<link>http://susucoklat.com/2009/11/13/peka/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2009/11/13/peka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 12:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Seketika kota yang kotor dan penuh polusi basah kuyup oleh siraman air dari si pemilik alam. Sekeluar dari kantor, aku singgah menjemput anakku di kantor Re. Hari ini adalah hari Daddy Day Care, hari dimana Re selalu membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Seketika kota yang kotor dan penuh polusi basah kuyup oleh siraman air dari si pemilik alam. Sekeluar dari kantor, aku singgah menjemput anakku di kantor Re. Hari ini adalah hari Daddy Day Care, hari dimana Re selalu membawa si kecil ke kantor untuk bermain &#8212; tepatnya mengacaukan &#8212; di dalam pengawasannya. Tidak terlalu sering sih, paling sebulan atau dua bulan sekali.</p>
<p>Anakku diam saja dalam pangkuanku. Dia terlihat shock tadi karena saat diantar ke mobil &#8212; dia berpayung dengan Re &#8212; hujan angin begitu kerasnya. Ini pertama kalinya dia melihat hujan begitu deras, wajar kalau dia ketakutan. Tak lama dia tertidur lelap, lelah oleh lamunannya sendiri.<span id="more-228"></span></p>
<p>Setiap kali Jakarta hujan, suasana yang kurasakan tidak jauh berbeda. Suram, dingin, dan capek. Jalanan macet, tentu saja. Kalau tidak macet, baru aneh. Pulau-pulau jalan di Pulomas tertutup oleh air. Aku lihat beberapa motor terpaksa berhenti dan mendorong motor mereka yang mogok. Aku menarik napas panjang.  Ini memang pemandangan biasa di Jakarta bila musim hujan tiba, tapi pemandangan itu selalu membuatku merasa trenyuh.</p>
<p>Betapa beruntungnya aku dibanding mereka. Aku tak perlu kehujanan bila hujan tiba, dan tak perlu kepanasan ketika kemarau tiba. Seandainya pun aku harus menepikan kendaraan karena hujan terlalu deras, aku bisa menghabiskan waktu menunggu reda sambil duduk minum susu coklat di sebuah kafe. Sering aku berpikir hidup ini tidak adil, tapi bukankah hidup memang begitu? Tak ada sama rata sama rasa di dunia ini.</p>
<p>Jakarta memang kejam, bahkan sangat kejam. Hatiku perih setiap mataku menangkap bayangan mereka yang kesusahan. Saat seorang kakek tua berjalan terbata-bata berkeliling komplek berjualan rujak, lalu seorang bapak yang berjualan kue murah di dekat kantorku. Lalu seorang ibu pemulung yang memikul karung sambil menggendong anaknya yang kulitnya hitam legam karena selalu terpanggang matahari.</p>
<p>Saat itulah aku tak henti-hentinya mengucap syukur betapa aku jauh lebih beruntung daripada mereka. Tanpa bermaksud mengurangi hormatku pada mereka, aku biasanya membeli dagangan mereka beberapa bungkus, tapi hanya sebungkus yang aku ambil. Pada si bapak kukatakan, bungkusan lainnya itu traktiran dariku untuknya.</p>
<p>Apakah aku sudah menjadi lemah sekarang? Atau mungkin lebih tepat kalau dikatakan, perasaan kemanusiaanku semakin peka? Saat usia bertambah dan pengalaman hidupmu semakin banyak, suatu saat (mungkin saja) perjalananmu akan tiba dimana kau akan lebih sering mendengarkan bisikan hati nurani daripada mengedepankan egomu. Perjalanan hidup mengajarkanmu bahwa hidup ini tidak melulu harus sesuai dengan keinginanmu, jadi kau harus mulai terbiasa dengan banyaknya permainan yang ditawarkan sampai akhirnya arena permainan itu selesai pada waktunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2009/11/13/peka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Maaf</title>
		<link>http://susucoklat.com/2009/10/20/sedikit-maaf/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2009/10/20/sedikit-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 15:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>

		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tadi pagi Tin mengirim sms. Aku pernah cerita padamu tentang dirinya disini, ingat? Dia adalah salah satu mantan teman yang sudah lama tak bertemu. Karena smsnya masuk berbarengan dengan beberapa sms lainnya, sms itu luput dari perhatianku. Aku mengabaikannya seharian, hingga sore hari ketika aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi pagi Tin mengirim sms. Aku pernah cerita padamu tentang dirinya <a href="http://susucoklat.com/2009/08/25/sepuluh-tahun-sudah/" target="_blank">disini</a>, ingat? Dia adalah salah satu mantan teman yang sudah lama tak bertemu. Karena smsnya masuk berbarengan dengan beberapa sms lainnya, sms itu luput dari perhatianku. Aku mengabaikannya seharian, hingga sore hari ketika aku menyetir pulang ke rumah, baru aku teringat akan sms itu.</p>
<p>Dia mengajakku bertemu hari ini, begitulah yang aku tangkap dari smsnya. Aku membalas smsnya, kukatakan padanya bagaimana kalau besok saja, soalnya ada seorang kawan lain yang juga ingin bertemu dengannya. Selain itu, ya ampun, ini mendadak sekali. Aku tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap, termasuk menyiapkan anakku dan semua keperluannya, karena seperti kau tahu, kemanapun aku pergi, anakku harus ikut, karena kami kan satu paket. Jika kupaksakan, akan terlalu malam bagi aku dan Tin untuk bertemu.</p>
<p>Tin membalas, katanya dia harus pulang besok ke Jerman, dan sebenarnya dia berharap sekali dapat berjumpa denganku. Tapi dia tak mau memaksa bertemu, karena mengerti dengan situasi Jakarta. Okay then, bukan rejeki, aku bilang begitu. So aku tak jadi bertemu dengannya bukan karena aku masih belum bisa memaafkan dia dan berusaha terus menghindarinya (walaupun bukan tak mungkin nanti kulakukan lagi), tapi memang begitulah kejadiannya.</p>
<p><em>Enough tentang Tin.<br />
</em></p>
<p>Aku sedang merenung tentang jalan hidup. Bisakah kau menduga kapan kematianmu tiba, dan pernahkah kau terpikir bagaimana caramu mati? Aku jadi ingat sebuah film yang memperlihatkan kejadian di masa akan datang dimana kita bisa tahu bagaimana maut menjemput kita. Mengerikan.</p>
<p><em>And now about Bams.<br />
</em></p>
<p>Bams, nama cowok itu. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, berkulit sedikit coklat dengan banyak bekas luka di lengannya. Dia pernah jadi salah satu canvaser di kantor kami di Medan. Ulet dan giat mencari pelanggan, dan katanya sih dia menekuni dunia modelling juga. Beberapa temanku sempat menuduhnya bencong. Ya, mereka pakai kata &#8220;bencong&#8221; untuk menggambarkan Bams, karena wajahnya yang manis memang sedikit mirip banci. Tapi aku bilang dia itu bukan bencong, dia laki-laki, even aku tak tahu pasti soal orientasi seksualnya.</p>
<p>Beberapa kali dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, dia ikutan nimbrung. Awalnya dia bisa menyenangkan juga, alias bisalah dijadikan salah satu ikon konyol. But ternyata kami salah menilainya. Entahlah apa yang salah dengan dirinya. Tapi mungkin lebih tepat bila kukatakan, dia belum bisa masuk ke dalam &#8220;gaya kami.&#8221; Beberapa kali dia salah dalam menempatkan dirinya.</p>
<p>Aku ketemu dengan Bams terakhir kali dua tahun lalu waktu aku masih hamil tiga bulan dan kami (aku dan Re) mudik lebaran ke Medan. Hmm, Re waktu itu kayaknya sedang pergi ke rumah saudaranya, jadi aku pun pergi bertemu dengan teman-teman lama. Saat itu Bams juga diundang untuk reuni bersama. Dan komentarnya ketika melihatku adalah,&#8221;Kak, kakak gak cantik lagi sekarang, udah jelek. Jerawatan gitu.&#8221; Dan kubalas dengan nada sebal,&#8221;Eh, tenang aja kau ya.. Ini kan lagi hamil. Wajar kalo orang hamil jadi jerawatan.&#8221;</p>
<p>And then, dia mulai lagi. Kali ini Bams curhat pada kami (tepatnya padaku karena pertanyaan-pertanyaan itu ditujukannya padaku), tentang pacarnya. Katanya pacarnya begini, pacarnya begitu, pacarnya ngambek karena dia begini dan begitu, and then pacarnya suka kalau dibeginikan, dibegitukan&#8230; <strong>Hei hei&#8230; Stop it!</strong></p>
<p>Apa dia pikir aku ini Psikolog Cinta, yang siap menampung dan menjawab pertanyaannya, bahkan sampai yang paling intim sekalipun? Aku memang sering jadi tempat curhat teman-temanku karena kata mereka aku orangnya sangat terbuka dan open minded. But not this time, and not for him. Dia belum cukup umur dan belum cukup dekat dengan kami untuk bisa berdiskusi tentang seks dengan kami. Aku bilang, <em>Hey, Bams&#8230; Enough! Save your story for you. We don&#8217;t wanna hear that. </em>Aku jadi marah dan ingin menendangnya ke got besar di samping Merdeka Walk itu (benar-benar menendang dia lho), tapi kutahankan saja. Aku dan temanku lalu segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain daripada kami bete karena ulahnya.</p>
<p><strong>Dan sekarang&#8230; kabar itu datang.</strong></p>
<p>Bams sudah meninggal. Beberapa hari lalu. Teman dekatku (yang hadir saat insiden curhat gilanya itu) yang mengabari. Dia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan tak bernyawa. Diduga bunuh diri menilik dari bukti-bukti yang ditemukan. Ah&#8230; hati ini langsung berdetak keras mendengar kabar itu. Betapa mengerikannya. Begitu cepat kematian itu datang, bahkan ketika ia belum datang, kenapa kau harus menjemputnya? Kenapa tak kau tunggu saja hingga saatnya tiba?</p>
<p>Entahlah apa masalah yang Bams hadapi, dan seberat apa masalah itu. Orang bilang dia mengalami kesulitan ekonomi karena dililit banyak hutang dan juga stress karena masalah keluarga. Ah, aku tak mau menduga-duga terlalu jauh, karena sesungguhnya aku tak mengenalnya.</p>
<p>Tapi aku sungguh mengasihani dirinya. Sungguh kasihan. Sebegitu mudahkah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Dimana peran keluarganya, orang tuanya? Dia masih sangat muda, dan hidupnya berakhir dengan sangat tragis&#8230; akhh&#8230;..!</p>
<p><em>**Aku hanya bisa berdoa, semoga masih ada sedikit maaf dari Tuhan untuk dirimu ya Bams&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2009/10/20/sedikit-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Titel Dulu &amp; Sekarang</title>
		<link>http://susucoklat.com/2009/10/07/titel-dulu-dan-sekarang/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2009/10/07/titel-dulu-dan-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 15:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>

		<category><![CDATA[Night in Medan]]></category>

		<category><![CDATA[clubbing di medan]]></category>

		<category><![CDATA[Clubbing]]></category>

		<category><![CDATA[kenangan]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hardcase itu masih teronggok di tempat yang sama. Di sebuah celah di sudut, antara meja rias dan dinding. Di sebelahnya tergeletak sound system kecil merk Peavey. Aku tersenyum sendiri dan meraih hardcase itu. Meraba permukaannya, ingin tahu apakah berdebu. Oh, bersih kok. Berarti sudah dibersihkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hardcase itu masih teronggok di tempat yang sama. Di sebuah celah di sudut, antara meja rias dan dinding. Di sebelahnya tergeletak sound system kecil merk Peavey. Aku tersenyum sendiri dan meraih hardcase itu. Meraba permukaannya, ingin tahu apakah berdebu. Oh, bersih kok. Berarti sudah dibersihkan sama pembantu infal sebelum aku datang.</p>
<p>Aku buka hardcase coklat itu dan menemukannya di sana. Gitar listrikku yang cantik, si Telecaster hitam yang masih mulus sekali. Senar gitar yang aku kendorkan sudah berkarat, astaga.. sudah berapa lama aku tak menyentuhnya? <span id="more-208"></span>Sudah tiga kali aku mudik ke Medan dan baru kali ini aku teringat untuk membuka dan menyentuhnya. Kasihannya kamu sayang. Maafkan aku karena telah menyimpanku sekian lama di kotak itu seakan kau sudah jadi besi tua.</p>
<p>Aku menoleh ke lemari pakaian. Di pintu lemari itu terpasang banyak poster. Poster-poster sebagai bentuk eksistensi band yang dulu aku miliki. Aku jadi senyum-senyum sendiri, dan kemudian beranjak membuka laci lemari. Mengais-ngais laci mencari foto-foto lama. Dan ketemu. Seringaiku melebar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2009/10/wom.jpg" alt="" /></p>
<p>Memoriku pun terbang ke masa lalu. Saat aku masih kuliah. Aih, betapa jadulnya aku dulu. Dengan badan cungkring, wajah polos tanpa sapuan make up apapun, dan rambut masih hitam panjang dan tergerai seperti singa (hei jaman dulu itu belum ada yang namanya catokan lho ya), aku berbeda sekali dengan sekarang. Sekarang rambut sudah menipis karena umur dan kebanyakan dimacem-macemin, kulit wajah sedikit berjerawat juga karena sering dimacem-macemin. Syukurlah alis masih sebagus dulu, gak pernah terpikir mau ditato kayak Krisdayanti. Kekekeke&#8230;.</p>
<p>Yang masih kelihatan sama adalah ekspresi wajahku saat di foto. Dari dulu tak berubah. Kadang manis, kadang bengis, kadang cool. Tergantung situasi. Aku lihat foto-fotoku saat manggung, lebih banyak tanpa senyum. Aku memang cool sekali dulu, hahahaa&#8230;. sampai cowok-cowok dulu bilang aku sombong karena aku susah sekali tersenyum, ditambah lagi setiap habis manggung aku pasti pulang dan tidak mau gabung-gabung dengan komunitas band. Aka, pemain basku jauh lebih supel. Kalau sudah ada yang bilang enggak-enggak tentang aku, dia akan mengeluarkan statement pembelaan yang oke banged, &#8220;Gitaris kami memang bawaannya begitu, ampherenya udah goyang dikit, jadi harap maklum ya.&#8221; Kampret memang si Aka itu.</p>
<p>Aku tertawa tanpa suara melihat foto di depanku. Aku, Aka, dan Ratna sedang manggung di sebuah kafe. Wajah kami ketat sekali, aku lupa kenapa kami seperti orang stress waktu itu. Itu adalah penampilan kami yang kesekian, wajah kami sudah tak sepolos dulu, sudah mulai dipoles dandanan sedikit. Maklum band sudah mulai terkenal jadi penampilan harus diperhatikan juga. Smokey &amp; gothic adalah gayaku, girly dan sassy adalah gaya Aka dan Ratna.</p>
<p>&#8230; &#8230; &#8230;</p>
<p>Suara rengekan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke belakang, melihat anakku yang tertidur pulas. Mungkin dia sedang bermimpi. Kumasukkan kembali gitarku ke dalam hardcasenya dengan perlahan. Kurapatkan kunci-kuncinya. Aku bangkit dan naik ke tempat tidur, menepuk-nepuk pantat si kecil agar dia kembali lelap.</p>
<p>Saat merapikan kembali printilan masa lalu yang berantakan di lantai, aku berkaca sebentar di depan meja rias. Hei, waktu ternyata begitu cepat berlalu ya. Di suatu waktu yang lalu aku adalah seorang anak band, lalu di masa berikutnya aku adalah si ratu dugem, dan sekarang aku ada di kamarku kembali bersama seorang anak perempuan berumur 1,5 tahun. Aku sudah jadi seorang ibu. Walaupun kata Achie temanku, aku mamak-mamak lasak, tapi tetap kan&#8230; judulnya sudah jadi emak-emak hehee. Sebuah titel yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun. Dan aku bahagia sekali dengan titel itu sekarang. Biarlah aku tidak bisa dugem lagi, tak apa. Toh nanti kalau anakku sudah agak besar, bisalah sesekali aku ajak dia clubbing dengan teman-teman lama (yang juga udah pada punya anak). Bukan masalah. Hidup memang harus berjalan terus kan?</p>
<p>Aku mengintip keluar kamar.<em> Oh.</em> Re sedang di ruang tengah, duduk di meja kerja papiku, lagi me-remote kerjaan kantornya. Hei, laki-laki memang begitu, karir adalah yang terpenting. Tapi tak apalah, selama kami bertiga masih punya quality time aku tidak akan protes. Aku menutup pintu dan berbaring di samping anakku. Hmm, gini deh kalau gak ada TV di kamar. Bengong!</p>
<p><em><strong>Medan, 24 September 2009</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2009/10/07/titel-dulu-dan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
