<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>From Dusk Till Dawn</title>
	<atom:link href="http://susucoklat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://susucoklat.com</link>
	<description>enjoying the city of night</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Nov 2011 16:10:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.4</generator>
		<item>
		<title>Surprise (?)</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 16:06:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[Women Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku percaya pada kekuatan pikiran, atau yang disebut resonansi. Contoh gampangnya, saat kau sedang memikirkan seseorang, maka yang dipikirkan akan &#8216;konek&#8217; juga di sana.</p>
<p>Pagi hari, Jumat kemarin. Masih pukul 6. Aku menyalakan BB-ku, dan terdengarlah suara-suara SMS masuk. Semua isi sms itu sama, mengucapkan &#8216;selamat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku percaya pada kekuatan pikiran, atau yang disebut resonansi. Contoh gampangnya, saat kau sedang memikirkan seseorang, maka yang dipikirkan akan &#8216;konek&#8217; juga di sana.</p>
<p>Pagi hari, Jumat kemarin. Masih pukul 6. Aku menyalakan BB-ku, dan terdengarlah suara-suara SMS masuk. Semua isi sms itu sama, mengucapkan &#8216;selamat ulang tahun&#8217;, tapi sms yang pertama kali masuklah yang membuatku kaget. Karena aku baru saja memimpikannya. Siapa yang menyangka kalau aku saja tak pernah menduganya. Mataku berkaca-kaca, sedikit saja tapi. Dan kemudian hilang setelah aku menutup mataku beberapa detik. Isi sms yang singkat sekali.</p>
<p>Somehow I decide to reply the message. With picture.</p>
<p>And next, two days later, I&#8217;ve got MMS. MMS tertanggal kemarin tapi tak bisa di-download di hape sehingga aku harus membukanya via browser dan baru bisa sore tadi. Oh. Ternyata itu. Foto, puncak keberhasilan dari yang diimpikannya selama ini.</p>
<p>Seperti kata beruang di game iPad, keberhasilan itu harus diapresiasi dengan, &#8220;Congratulation! Two thumbs!&#8221;</p>
<p>Good luck for you, Ye!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/11/07/surprise/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengamen Tua</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/11/01/pengamen-tua/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/11/01/pengamen-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 13:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamen Siter]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mereka bilang, sering-seringlah melihat ke bawah agar kau senantiasa bersyukur. Dan melihatlah ke atas agar kau pun tak cepat berpuas diri.</p>
<p>Aku menangkap itu sebagai suatu kondisi dimana manusia diminta untuk tidak menyerah pada kenyataan. Bila kau miskin, maka tetaplah berusaha. Dan bila kau sudah berkecukupan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mereka bilang, sering-seringlah melihat ke bawah agar kau senantiasa bersyukur. Dan melihatlah ke atas agar kau pun tak cepat berpuas diri.</p>
<p>Aku menangkap itu sebagai suatu kondisi dimana manusia diminta untuk tidak menyerah pada kenyataan. Bila kau miskin, maka tetaplah berusaha. Dan bila kau sudah berkecukupan, jangan pula berdiam diri. Karena saat kau menjadi lebih daripada kecukupan, berarti semakin banyak pula orang yang bisa kau bantu.</p>
<p>Kau lihat foto ibu tua ini? Aku tak sengaja menemukannya beberapa bulan lalu saat aku pergi ke daerah Sabang untuk suatu keperluan. Sebenarnya mungkin ibu ini sudah ada di sana waktu aku keluar dari pintu toko digital printing, tapi karena aku belok ke arah yang berbeda aku tak menyadarinya. Baru ketika aku balik arah mau menuju mobil, baru aku sadar: ada perempuan tua lesehan di trotoar.<span id="more-618"></span>Dia seorang pengamen. Berkebaya biru dengan bawahan sarung bermotif, dia duduk santai di depan toko digital printing itu, bermain alat musik siter (atau harpa Jawa kalau aku tak salah) sambil menyenandungkan lagu Jawa. Aku berhenti lebih kurang lima langkah dari tempatnya. Aku ingin menikmati nyanyiannya yang halus dan merdu khas Jawa itu, sekalian menunggu driver yang sedang sholat Jumat.</p>
<div id="attachment_620" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-620" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG-20110923-02029-2.jpg" alt="" width="400" height="480" /><p class="wp-caption-text">Pengamen Tua</p></div>
<p>Kupandangi wajah keriputnya. Dia terlihat sangat tua. Entah berapa usianya, kadang susahnya hidup bisa membuat wajah orang terlihat jauh lebih tua dari usianya. Tapi sungguh aku salut padanya. Meski udara panas, dia tak terlihat mengeluh. Beberapa kali kami bersirobok mata dan saling melempar senyum. Setiap kali orang yang lewat memberinya uang (aku lihat paling kecil dikasih dua ribu, dan terbesar adalah sepuluh ribu) dia mengangguk dengan senyum kecil di bibirnya sambil terus menyanyi. Hatiku serasa digedor-gedor. Kagum, takjub, juga sedih. Yang terbayang olehku adalah wajah mamiku, wajah tanteku, dan wajah mendiang omaku dalam foto hitam putih milik mamiku. Omaku itu mirip si ibu ini, berkonde kecil dan berkebaya putih khas orang Ambon. Aku memang hanya mengenalnya lewat foto saja.</p>
<p>Lima belas menit kemudian baru driver-ku datang dan aku beringsut. Setelah menarik napas panjang-panjang, aku dekati dan kuberikan saweranku padanya. Ibu itu tersenyum penuh terima kasih.</p>
<p>Sepanjang jalan aku merenung. Tuhan memang selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengetuk pintu hati umatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/11/01/pengamen-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mark Up</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/10/27/mark-up/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/10/27/mark-up/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 13:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[night story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/10/28/mark-up/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Karena seringnya nongkrong di Food Connection, aku sudah hampir mencicipi semua resto yang ada di situ. Kecuali yang ada baknya tentu saja.</p>
<p>Di Food Connection ini aku menemukan semacam &#8220;penyakit&#8221; di sini. Penyakit yang kumaksud adalah penyakit petugas kasir resto yang sering menyebutkan angka lebih besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena seringnya nongkrong di Food Connection, aku sudah hampir mencicipi semua resto yang ada di situ. Kecuali yang ada baknya tentu saja.</p>
<p>Di Food Connection ini aku menemukan semacam &#8220;penyakit&#8221; di sini. Penyakit yang kumaksud adalah penyakit petugas kasir resto yang sering menyebutkan angka lebih besar daripada angka yang terpajang di papan menu.</p>
<p>Sebut saja si Bakoel Desa. Harga nasi bakar komplitnya 20.900, tapi si kasir dengan yakin bilang 21.000. Eh sebenarnya bukan 21.000. Jadi waktu aku beli, dia sebut angka 20.900 tapi kembalian 100 peraknya tidak dia kasih. Aku pun merepet dan 100 itu dikembalikan. Sehabis aku bayar, giliran temanku memesan &#8212; menu yang sama! &#8212; dan di sinilah dia langsung bilang &#8220;21 ribu&#8221;, mungkin maksudnya agar kita tak &#8220;meminta&#8221; kembalian. Tapi temanku tetap meminta, karena struknya kan 20.900. Tampang kasirnya langsung jutek, jujur ingin kutabok saja rasanya tuh orang. 100 perak pun, itu namanya maling! Setelah kejadian itu, setiap kali melihat kami yang datang, dia selalu mengasih kembalian dengan cemberut. Gak berani lagi mark up.</p>
<p>Malam ini, kembali kualami kejadian serupa di tenant lain. Koi apa gitu, lupa. Aku lihat harga di menu board 25.000, lalu masnya bilang 28.000. Aku pikir, oh tax. Tapi waktu dia kasih kembalian 22.000 aku baru ngeh, kalau tax kan harusnya 27.500. Tapi karena aku sudah jalan cukup jauh, aku diamkan saja, lagipula aku sedang malas berdebat. Entah kemana pula struknya.</p>
<p>Mark up. Sudah jadi budaya, dan bahkan yang mark up pun tak malu-malu lagi. Jelas sekali pegawai seperti itu akan membuat imej resto tersebut jadi jelek. Membohongi pelanggan hanya demi seperak dua perak?! Pliiisss&#8230; Tip itu berbanding lurus dengan pelayanan jeung!</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-607" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/10/IMG-20.jpg" alt="" width="350" height="467" /></p>
<p>Bahkan pengamenpun lebih bermartabat dibanding mereka ini.</p>
<p>Ah sudahlah. Kelamaan merepet aku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/10/27/mark-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emotional Cake</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/10/23/emotional-cake/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/10/23/emotional-cake/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 09:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[women thoght]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[<p>Masih ingat jaman Friendster gak? Dulu kan ada kolom testimoni dari teman. Nah, aku masih ingat apa kata Utie, salah satu bffku. Dia tulis begini, “She’s like a blend of emotional cake, wise in a row&#8230;. bla bla”. Aku terkakak-kakak bacanya, asli aku tak mengira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat jaman Friendster gak? Dulu kan ada kolom testimoni dari teman. Nah, aku masih ingat apa kata Utie, salah satu bffku. Dia tulis begini, “She’s like a blend of emotional cake, wise in a row&#8230;. bla bla”. Aku terkakak-kakak bacanya, asli aku tak mengira bahwa Utie bisa menilaiku seperti itu. Dari situ aku sadar, bahwa bila seseorang menginginkanmu menjadi teman baiknya, maka ia akan benar-benar mencari tahu seperti apa sifatmu – setidaknya yang bisa ditangkap olehnya. Wid waktu itu bilang aku apa ya , duh aku lupa. Kalau Elz, katanya aku “wise”&#8230; mungkin karena waktu itu kami sering berdiskusi tentang kehidupan. Saat itu aku memang sedang gandrung membaca buku-buku karya Anand Krishna. So, bila sekarang aku seperti ini, mungkin sekali itu karena aku sering baca buku-buku itu ya. Dulu aku suka bermeditasi sendiri – meski kemudian tak rutin dan lambat laun tak pernah lagi dilakukan sampai sekarang.<br />
<span id="more-593"></span><br />
Back to ‘emotional cake’. Satu hal yang aku tahu tentang diriku adalah, aku memang tipe orang yang emosional. Di satu sisi aku adalah si tidak sabaran yang gampang marah, sementara di sisi lainnya aku si penggembira yang mudah tertawa karena lelucon. Aku juga sensitif bila ke-aku-anku diusik, tapi di sisi lain aku juga menikmati keterbukaan.</p>
<p>Beberapa minggu ini aku sedang jadi seorang pemarah. Sepertinya banyak hal yang bikin aku marah nih, hehee. Pertama, salah satu temanku – tak usahlah kusebut namanya – yang menurutku kurang cakap dalam menyelesaikan administrasi dari bisnis kami berdua. Aku tak sabaran melihatnya menunda-nunda, dengan alasan ini itu, padahal sudah kubilang, jangan ditunda-tunda karena nanti akan semakin susah kita men-trace bila ada yang missed. Maksudku, kalau memang dia kelabakan, biarlah tugas itu aku yang ambil alih. Dan memang akhirnya aku juga yang mengerjakan semua dari awal, dan tetap aku kerjakan meskipun dia juga sudah mulai rajin mengisi file-nya.</p>
<p>Kedua, mau marah dengan pegawai di gerai kopi. Melihat barang-barang tak beraturan bikin aku jadi spanning, belum lagi alasannya kurang bisa diterima. Aku katakan pada mereka, apapun ceritanya, ikuti saja sop. Simpan ini dimana, letak ini dimana, jangan ada yang dipindah-pindahkan. Dan kemarin nih, salah satu alat untuk froth susu pecah, trus salah satu shaker juga pecah. Emosi jiwa gak sihhh??? Aihhh&#8230; ini pegawai kok kerjanya kasar ya, kedai baru juga buka sebulan eh sudah ada barang yang pecah dan rusak.</p>
<p>Tapi kemarahanku itu bisa dibilang balance, karena di kantor aku menikmati keceriaan dengan teman-teman. Kemarin itu ada kejadian lucu. Jadi ceritanya kami satu divisi (kami satu divisi hanya bertiga) sedang meeting dengan konsultan media buyer kami. Konsultan kami sedang propose activation ini itu, bla bla&#8230;. yang salah satunya kemudian menyinggung segmen blogger: youth.</p>
<p>Terus, my boss nyeletuk dengan polosnya: “Memangnya banyak ya blogger-blogger muda? Kok yang datang nemuin aku tua-tua semua ya? Pak Guru, ibu-ibu&#8230;”</p>
<p>Meledaklah tawaku dan Daru temanku setim. So, my boss itu selama ini memang sering didatangi blogger untuk minta sponsorhip, dan mostly memang sudah tua-tua, ya gak tua kalilah, sekitar 35-40 tahun. Karena bosku juga tak begitu rajin bergaul di dunia maya dan perblog-an, jadilah – mungkin – menurutnya segmen terbesar blogger adalah yang tua-tua itu.</p>
<p>But despite all, aku dan Daru itu tertawa dengan arti tawa lebih kurang begini : “Ya iyalah, habis dapatnya juga dari si Srondol.” Srondol itu salah satu orang kantor yang juga blogger yang cereweeeeeeet bukan main. Dulu seorang teman kami – yang sudah resign – yang mengenalkan dia ke kami, dan selanjutnya baru kami sadar betapa annoyingnya orang satu itu.</p>
<p>Dia selalu datang ke tempat kami membawa komunitas atau teman-temannya yang menurutnya blogger-blogger terbaik di negeri ini – yang mana tak pernah kudengar namanya – dan bossku seringnya terpaku dengan kicauan Srondol karena memang doi tak paham. Aku dan Daru tak begitu suka dengan Srondol karena kelebaiannya. Buktinya beberapa bulan lalu dia bilang komunitas Kps adalah komunitas terbaik dengan ribuan member aktif, nah bulan lalu dia bbm aku dan dia bilang, jangan mau pasang placement di Kps karena sekarang sudah tidak bagus lagi. Eh, helloowww&#8230; ini pasti ada apa-apanya kan, kenapa dia mendadak menjelek-jelekkan, yang dulu dia sanjung-sanjung. Srondol ini paling pintar ambil hati. Karena dia tahu aku sering tak merekomen usulannya, pelan-pelan dia cari sela. Tapi aku dan Daru mana bisa dibujuk-bujuk. Kalau gak OK ya gak rekomen. Kami bekerja sangat profesional, jadi apapun yang masuk dengan judul minta sponsorship, insightnya ke brand perusahaan kami haruslah jelas. Satu hal yang tak kusuka dari si Srondol ini adalah, seringnya dia mengutamakan kepentingannya, jadi setiap kali ada pengajuan proposal, ada selipan kepentingan pribadinya. Gak sopan bener.</p>
<p>So, tawa kami berdua kemarin itu adalah tawa kemenangan. Aku menukas begini: “Iyalah Mas, soalnya temannya Srondol sih. Ya tua-tua semualah.”</p>
<p>Ah. Hidup ini nikmat kan? Paginya marah, siang stress, sorenya bergembira. Pagi makan oatmeal, siang makan nasi padang, malam ngopi di kede. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_597" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-597" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/10/22.jpg" alt="" width="400" height="533" /><p class="wp-caption-text">Ngopi</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/10/23/emotional-cake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdua Dengannya</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 11:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[women thoght]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku adalah orang yang menikmati kesendirian. Bila di suatu waktu aku butuh waktu untuk menyendiri dan mengkhayal &#8212; yeah let say merenungi nasib &#8212; aku selalu punya tempat dan booster sendiri untuk itu. Tak masalah bagiku meski banyak teman menganggapku menjaga jarak, tapi bukankah setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah orang yang menikmati kesendirian. Bila di suatu waktu aku butuh waktu untuk menyendiri dan mengkhayal &#8212; yeah let say merenungi nasib &#8212; aku selalu punya tempat dan booster sendiri untuk itu. Tak masalah bagiku meski banyak teman menganggapku menjaga jarak, tapi bukankah setiap orang bebas memilih teman dan juga me timenya sendiri? Aku juga menikmati kok mengobrol sampai berbusa dengan Lin atau Am, karena curhat itu tetap perlu masbro, mbaksis&#8230;</p>
<p>Saat aku menuliskan postingan ini, anakku sedang di sudut sana, sedang naik mobil-mobilan polisi, ditemani oleh nanny-nya. Plus hari ini, sudah hampir tiga minggu aku dan Lin membuka sebuah gerai kopi di sebuah mall di Jakarta Utara. Jadi kami memang masih rutin memonitor gerai kami ini, termasuk juga pegawainya.</p>
<p>Kasihan juga sebenarnya aku sama anakku, karena hampir setiap malam dia ikut aku pulang malam. Kadangkala dia terlihat begitu lelah, sampai tertidur di sampingku yang sedang menyetir. Mbaknya juga kecapekan, dan tertidur di belakang. Tak begitu jauh memang dari mall ke rumah, kalau sudah larut malam ya sekitar setengah jam-an lah. Dan aku sendiri bisa dikatakan juga lelah, karena kekurangan waktu istirahat. Praktis tidurku hanya 6 jam setiap hari, karena pagi jam 6 lewat aku sudah harus ke kantor. </p>
<p>Tapi aku menikmatinya kok, menikmati menyetir sendirian malam-malam pulang ke rumah. Mungkin karena sudah terbiasa begitu ya. Lebih dari separuh umurku kuhabiskan dengan mengurus segala sesuatunya sendiri.</p>
<p>Kalau dulu aku pulang clubbing sendirian dengan kepala berat, sekarang aku pulang malam tidak lagi sendirian, ada anak tercinta yang menemani sambil nonton dvd Barney (kalau dia tak mengantuk), dan kali ini pun bukan kepalaku yang berat akibat kebanyakan minum, tapi mataku yang berat karena mengantuk, hahaha&#8230;. Waktu memang tak terasa begitu cepat berlalu ya, dan aku menikmati setiap detiknya, dari yang membahagiakan sampai yang menyakitkan sekalipun.</p>
<p>&#8220;Mami, mamii&#8230;&#8221; panggilan itu mengagetkan aku. Anakku memanggil dari kejauhan, dengan senyum sumringah di pipinya.</p>
<p>Sudah dulu ya. Dia sudah datang. Si cantik buah hatiku&#8230; aku ingin menikmati waktu berdua dengannya dulu. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/10/09/berdua-dengannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Me Time ?</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 14:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta 24 jam]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Just finished having an after hour chit chat with friends in PIM. I think it is my first time hang out without my little girl after years hahaha&#8230;. I don&#8217;t know, maybe I should enjoy this &#8220;me time&#8221;, but I just can&#8217;t. I feel guilty [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Just finished having an after hour chit chat with friends in PIM. I think it is my first time hang out without my little girl after years hahaha&#8230;. I don&#8217;t know, maybe I should enjoy this &#8220;me time&#8221;, but I just can&#8217;t. I feel guilty because living my daughter without permission (well, should I?).</p>
<p>I called her &#8230; emmm&#8230; 5 times I guessed. On my first call, she said like, &#8220;Mommy, should I ask mbak to open the gate?&#8221; No honey, not yet.</p>
<p>And I looked at my watch many times, hope that my friends will understand. Haha&#8230; Supposed to me to compromized with myself, because .. hey, it&#8217;s just &#8220;sekali-sekali&#8221; right? Why can&#8217;t I just enjoy it.</p>
<p>But I miss my baby&#8230;. hope I can go home in a two blinks. Blink! Blink! Oups! Ternyata masih di tol.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/06/27/me-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan Kayu</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/04/18/perempuan-kayu/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/04/18/perempuan-kayu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 13:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan kayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[<p>I hope that once in a while I could become a spoiled woman. Sometimes I hated being so independent. Because for a seconds (and become munites), suddenly I feel lonely. What can I say? I&#8217;m just a woman, sometimes needs someone to care about me.</p>
<p>One [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I hope that once in a while I could become a spoiled woman. Sometimes I hated being so independent. Because for a seconds (and become munites), suddenly I feel lonely. What can I say? I&#8217;m just a woman, sometimes needs someone to care about me.</p>
<p>One of my gal friend gave me a nickname : &#8220;Perempuan Kayu&#8221;. Am I? Hmm&#8230; for now, off course I&#8217;m not sure with that hahaa..</p>
<p>Anyway, I think every women can be hard or flexible like woods. I believe that life experiences formed a person with their character. You are &#8220;Perempuan Kayu&#8221; also dear&#8230;. because what we&#8217;ve passed doesn&#8217;t kill us&#8230; right?<span id="more-576"></span></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-578" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/04/woman.jpg" alt="" width="361" height="400" /></p>
<p>I always said to myself, never give up. If someone can&#8217;t kill me with what he did, then I became stronger and stronger. <span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span class="hps" title="Click for alternate translations">Blink</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">your eyes</span><span title="Click for alternate translations">,</span> please! Do </span><span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span class="hps" title="Click for alternate translations">not</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">let</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">the tears</span> <span class="hps" title="Click for alternate translations">spill, because you are Perempuan Kayu. </span></span></p>
<p><span id="result_box" class="short_text" lang="en"><span class="hps" title="Click for alternate translations"><em>*ps : Thanks for the nickname Wied&#8230; it gave more strength! <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/04/18/perempuan-kayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Forget It</title>
		<link>http://susucoklat.com/2011/02/13/forget-it/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2011/02/13/forget-it/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 13:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku punya teman dekat semasa kuliah. Yang menurutku terjebak dengan masa lalu. Dia begitu senang mengenang dan mengingat masa lalunya, ya mungkin baginya itulah masa-masa keemasan dan kejayaannya.</p>
<p>Beberapa minggu lalu, temanku bilang dia bertemu di fb dengan mantanku waktu kuliah. Sebelumnya dia cerita kalau dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku punya teman dekat semasa kuliah. Yang menurutku terjebak dengan masa lalu. Dia begitu senang mengenang dan mengingat masa lalunya, ya mungkin baginya itulah masa-masa keemasan dan kejayaannya.</p>
<p>Beberapa minggu lalu, temanku bilang dia bertemu di fb dengan mantanku waktu kuliah. Sebelumnya dia cerita kalau dia sudah add si A, si B, yang termasuk dari lingkaran kami nge-band dulu. Dan akhirnya dia ketemu si laki-laki itu. Temanku ini sengaja memancing-mancing ego si mantan itu dengan menyinggung-nyinggung tentangku dan alhasil si mantan itu pun terbawa emosi.  Dia bilanglah begini begitu begini begitu.</p>
<p>Temanku tentu saja dengan akal bulusnya langsung minta maaf karena sudah membuat emosi kembali memuncak, padahal memang maksudnya mau membuat marah. Temanku ternyata menyimpan ketersinggungan juga karena beberapa tahun lalu pernah bertemu dengan nih orang tapi nih orang cuek saja pura-pura tidak kenal &#8212; yang so pasti tidak mungkinlah secara kami semua ada di lingkaran yang sama.</p>
<p><span id="more-558"></span></p>
<p>Saat temanku menyampaikan padaku tentang apa yang dikatakan si mantan tentangku, aku bilang padanya bahwa aku tidak peduli si mantan itu mau bilang apa. Kukatakan padanya, <em>it&#8217;s been a long long time ago</em>, dan kau tahu betul kalau aku bukan orang yang suka berhubungan dengan masa laluku, dalam hal sekecil apapun.</p>
<p>Aku tidak peduli orang itu mau bilang apa, itu urusan dia dengan pikirannya sendiri. Bukankah dimana-mana mereka yang merasa disakiti selalu tidak terima dengan kenyataan? Lalu kenapa tidak diterima saja? Sebelum kita mendapatkan pilihan yang tepat untuk kita, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang salah. Dan belum tentu pula yang kita rasa tepat saat ini sebenarnya adalah memang tepat buat kita.</p>
<div id="attachment_559" class="wp-caption aligncenter" style="width: 412px"><img class="size-full wp-image-559" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2011/01/clipboard04.jpg" alt="Forget It" width="402" height="370" /><p class="wp-caption-text">Forget It</p></div>
<p>Nah. Temanku ini. Single parent. Aku marah padanya karena dia melulu berhubungan dengan mantan-mantannya, mencari harapan dan kesempatan, walaupun berat tentu saja karena mantan-mantannya itu sudah menikah pula.</p>
<p>Berkali-kali aku katakan padanya, kau pantas mendapatkan yang lebih baik, tapi kenapa kau terus-terusan berusaha menghubungi mantanmu yang ini atau yang itu? Alasannya karena sudah sama-sama tahu sifat masing-masing. Tapi bukankah itu berarti kalian juga sudah sama-sama tahu apa yang membuat kalian tidak cocok kan? Mantan suaminya itu dulu juga mantan pacarnya yang sudah berkali-kali putus sambung, karena pacarnya itu ringan tangan. Nah, sudah tahu pacarnya ringan tangan, tapi dia mau juga kawin dengannya. Ternyata temanku mengakui karena dia memang butuh kepastian materi dari keluarga pacarnya itu. Ah, padahal pada akhirnya ketika mereka resmi berpisah pun dia tidak dapat apa-apa.</p>
<p>Kubilang padanya, buatku gak ada cerita kembali dengan orang yang merupakan bagian dari masa lalu. Boleh saja kalau kau selalu mengingat mereka, tapi biarlah itu bagian dari buku kenangan masa lalumu. Forget it. Lebih baik mencari orang baru karena dengan demikian kau akan melihat bahwa dunia ini tidak hanya itu-itu saja. Lalu temanku tersenyum dan bilang, <em>aku tahu Sy, memang bukan sifatmu kayak gitu. Tapi aku malas cari cowok baru, entah kemana lagi mau kenalan. Aku udah punya anak kayak gini pula. Lagipula dia udah mau pisah kok dengan istrinya</em>. Temanku ngeles lagi.</p>
<p>Oh. Baiklah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2011/02/13/forget-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Cie</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/12/09/tante-cie/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/12/09/tante-cie/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 15:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[Biak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[<p>“Ini. Sa pu kawan kasih buat saya,” Tante Cie memanggilku. Aku jalan mengikutinya dan melihat dua bungkus plastik kresek di atas baskom plastik.</p>
<p>&#8220;Apa itu?” tanyaku.</p>
<p>“Bawang merah. Sa pu kawan di pasar, da yang kasih..”</p>
<p>“Oo…” aku mengiyakan sambil mengangggukkan kepala. Aku mengambil gelas dan menuang air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ini. Sa pu kawan kasih buat saya,” Tante Cie memanggilku. Aku jalan mengikutinya dan melihat dua bungkus plastik kresek di atas baskom plastik.</p>
<p>&#8220;Apa itu?” tanyaku.</p>
<p>“Bawang merah. Sa pu kawan di pasar, da yang kasih..”</p>
<p>“Oo…” aku mengiyakan sambil mengangggukkan kepala. Aku mengambil gelas dan menuang air ke dalamnya. Setelah itu aku ambil piring dari dalam lemari, mengambil nasi dari dalam <em>magic com</em>, dan mencomot sepotong ikan goreng.</p>
<p>“Hmm.. Enak nih ikannya.” Gumamku. Ah, sedap betul makan di rumah ini. Jarang aku dapat ikan sesegar ini di pasar dekat rumahku di Jakarta. Anakku sedang makan dengan lahap disuapi susternya. Kami berangkat pakai pesawat paling pagi dari Jakarta, pantaslah dia kelaparan, soalnya belum makan.<span id="more-518"></span></p>
<p>Tante Cie datang lagi membawa sebuah bungkusan. Isinya dua kotak sepatu. Dikeluarkannya salah satu kotak dan diambilnya isinya. Ditunjukkannya padaku.</p>
<p>“Ini. Sa beli di sana, salon yang sa biasa potong itu. Bagus ka tarada?” Aku mengamati sekilas sepatu pantovel sederhana itu. Biasa saja sebenarnya, masih kalah dibandingkan <em>hand made</em> buatan Bandung. Tapi aku tersenyum saja dan mengangguk.</p>
<p>“Bagus juga..” jawabku sambil menyuap ikan lagi.</p>
<p>“Kalau ini?” Kali ini Tante Cie mengeluarkan sepasang sepatu lagi, dengan model yang sama tapi warnanya coklat.</p>
<p>“Ini lebe bagus..” jawabku jujur. Warna coklatnya bagus.</p>
<p>“Harganya..” Tante Cie berhenti sebentar, berusaha mengingat. Lalu melanjutkan, “Satu, enam puluh lima. Tapi sa beli dua, jadi da kasih enam puluh. Sa mo pake nanti buat Natal.” Aku mengangguk lagi.</p>
<p>Setelah itu bungkusan itu dibawanya lagi ke kamarnya. Disimpan. Lalu Tante Cie datang lagi, dan mulai mengulang omelan yang sama seperti yang sudah-sudah. &#8220;Yang kamarin Tanta Nona datang itu, <em>dong</em> bilang sama saya, Tanta Nona beli sepatu banya skali&#8230;.&#8221; Tante Cie berhenti sebentar mengatur napasnya. &#8220;Sa bilang, beli banya-banya buat apa. Tanta Nona itu boros skali&#8230;&#8221; Aku mengangguk-angguk lagi. Biasalah. Kecemburuan kakak adik.</p>
<p>Tante Cie. Umurnya sudah 65 tahun, badannya kurus dengan rambut pendek. Masih cukup sehat untuk orang seusianya. Dia jarang sakit. Hanya pernah sekali sakit parah sepuluh tahun lalu sampai harus masuk ICU sebulan, karena kesalahan dokter yang memberikan obat terlalu keras sehingga dia muntah darah. Keluar dari ICU, ada lubang di lehernya untuk tambahan aliran masuk oksigen.</p>
<p>Ia hanya sekolah sampai kelas 3 SD saja, karena keterbatasan yang dimilikinya. Dia sedikit tuli sejak kecil, dan karena selalu mengalami ketinggalan saat belajar di sekolah akhirnya bapaknya memutuskan dia sekolah hanya sampai kelas 3 saja. Sejak kecil Tante Cie lebih sering di dapur membantu mamanya mengurus rumah tangga. Memasak dan beres-beres. Ketika ia masuk usia matang, ada seorang pria yang kemudian datang dan menikahinya. Tapi mereka tidak punya anak.</p>
<p>Sejak aku kecil, Tante Cie sudah ikut keluarga kami. Dia kakak nomor dua dari mamiku. Karena suaminya tidak punya pekerjaan tetap, papiku mengizinkan ipar dan suami iparnya tinggal di salah satu kamar di rumah kami di Biak. Kadang kalau sedang ada pekerjaan, misalnya jadi mandor, maka suami Tante Cie, Om Bob, suka membelikan aku dan abangku buah matoa. Tapi kalau sedang menganggur, tugasnya adalah mengantar jemput aku dan abangku sekolah. Sementara Tante Cie di rumah tugasnya memasak untuk kami semua, karena papi dan mamiku bekerja. Selain tugas memasak, tentu saja mengurus kami keponakan-keponakannya yang masih kecil. Dari aku TK, tanteku sudah memakaikan aku kaos kaki dan sepatu, dia juga yang memandikan aku atau abangku kalau kami berdua harus mandi duduk di kursi panjang karena salah satu kaki kami luka. Dan sekarang Tante Cie masih juga dengan sayang memandikan cucunya, anak abangku.</p>
<div id="attachment_522" class="wp-caption aligncenter" style="width: 585px"><img class="size-full wp-image-522" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/12/img_2538_picnik.jpg" alt="Tante Cie &amp; salah 1 cucu" width="575" height="354" /><p class="wp-caption-text">Tante Cie &amp; anak abangku yang terkecil *habis nangis dan diam setelah dipangku Oma Cie*</p></div>
<p>Ketika kami sekeluarga pindah ke Medan saat aku baru naik kelas 6 SD, mamiku ingin kakaknya ikut bersama kami. Mamiku tahu, Om ku itu tidak akan bisa mengurus kakaknya dengan baik, dan akan lebih baik bila Tante Cie ikut dengan kami. Entahlah, aku tak tahu bagaimana urusan orang dewasa saat itu, tapi Om Bob tidak ikut dengan kami. Dia <em>stay</em> di Biak, dan kami pun berangkat naik Hercules ke Jakarta. Dulu waktu baru-baru pindah aku suka bertanya, bagaimana perasaannya pisah dengan suaminya. Tante Cie menjawab, <em>ah kas tinggal situ, tra ada kerja bagitu..</em></p>
<p>Tante Cie orang yang sangat sederhana. Dia baik hati, penyayang, tapi juga sedikit rendah diri. Mungkin karena dia merasa jadi orang yang selalu menumpang sehingga masih ada rasa minder pada dirinya. Aku berusaha keras memahami perasaannya, dan dengan semakin bertambahnya usiaku, aku semakin paham membaca perasaan tanteku itu.</p>
<p>Tanteku bisa dikatakan sudah jadi janda, tidak punya anak, tidak punya penghasilan tetap, dan keahlian yang dia punya adalah keahlian standar wanita jaman dulu, yaitu masak dan menjahit. Waktu aku kecil, mamiku sering beli kain dan Tante Cie akan membuatkan aku baju dari kain itu. Aku sendiri belajar jahit-menjahit serta pakai mesin jahit dari tanteku. Dengan segala keterbatasannya, dia juga jadi gampang sensitif dan tersinggung. Aku belum pernah melihatnya menangis, tapi aku tahu bila saatnya dia sedang sedih atau lagi merajuk.</p>
<p>Tante Cie suka sebel kalau kakak tertuanya datang dari Sorong, karena dia menduga mamiku akan mentraktir kakaknya habis-habisan. Aku kadang suka menggodanya. &#8220;Tanta Cie, mami ada kasih Tanta Nona uang ka tida?&#8221; Dan Tante Cie langsung melapor. &#8220;Sa liat mami kasih uang banya.. segini,&#8221; dia membuat jarak antara kedua telapak tangannya. Setebal batu bata! Busettt! Ganti aku yang terkejut, hahaha&#8230;! Sebenarnya Tante Cie cemburu bukan tanpa alasan, menurutnya kakaknya itu kan pensiunan guru, <em>su pu uang sendiri mo masa minta-minta, biking malu saja</em>&#8230; begitu omelannya. Karena Tante Cie sendiri, tidak pernah minta ini itu pada mamiku. Dia malu hati. Kalau dikasih saja, tapi kalau minta-minta begitu sih enggak.</p>
<p>Tahun berlalu. Tante Cie semakin sepuh dan dia butuh perhatian. Karena itu setiap bertemu aku menyempatkan diri ngobrol dan mendengarkan cerita-ceritanya, yang mungkin sangat remeh-temeh. Seperti saat dia ketemu tukang jualan di pasar yang juga sama-sama orang Ambon. Atau tentang ukuran telur ayam yang dibelinya, dan lain-lain. Tante Cie senang sekali bila aku memuji masakannya, menyetujui pendapat atau menyukai pilihannya. Walau seringkali aku harus menegurnya karena menurutku pilihannya itu membuatku malu. Seperti pergi ke pasar dan beli tas-tas murah harga 20 ribu. Atau beli selop keras harga lima ribu, atau beli lipstik china harga lima ribu, lalu habis itu ditunjukkannya padaku. Tante Cie bangga bila bisa membeli barang semurah mungkin, padahal mamiku sudah membelikannya tas yang bagus, juga selop rata yang nyaman.</p>
<p>Kalau sudah begitu aku suka marah. “Tanta Cie, jang beli yang tralaku. Kalo talalu murah berarti tralaku itu. Nanti orang bilang, sa deng mami tra urus Tanta Cie. Buang itu e… jang pake lagi. Nanti katong pi cari yang bagus.” Dan kami pun pergi ke Thamrin Plaza, aku belikan tanteku lipstik Guerlain seharga tiga ratus ribu. Saat kuberikan padanya, aku ingatkan lagi. “Pake ya, jang simpan-simpan. Kalo habis nanti katong beli lagi.” Dan gigi putih itupun keluar, senang. Kemudian dia akan memamerkan lipstik itu kemana-mana sebagai pemberian dariku. Aku juga mengancamnya, kalau sampai dia masih pergi beli barang-barang murahan di pasar, aku gak akan kasih uang lagi, hehehe… Aku belikan juga Tante Cie dompet bagus untuk padanan dengan tasnya. Eh dompetku malah disimpan, katanya sayang kalau dipakai. <em>Buat ke gereja saja&#8230; </em>begitu alasannya.</p>
<p>Tante Cie bukan hanya sederhana, tapi juga lugu. Kadang aku menjadi sedikit protektif padanya. Misalnya sama bedinde di rumah, aku ingatkan selalu untuk berlaku sopan pada Tante Cie. Karena Tante Cie terlalu baik, kadang kalau pembantu becanda kelewatan, tanteku jadi sensitif, tapi tidak enak marah, akhirnya dipendam-pendam. Dengan kurangnya pendengarannya, dia juga susah diajak bicara lewat telepon, bahkan sekarang dipanggil juga sering tidak dengar, jadi aku suka khawatir kalau dia tidur di kamar dan dikunci. Kalau Tante Cie sedang main ke rumahku di Jakarta, selalu kuingatkan, pintu kamar tidak usah dikunci.</p>
<p>Dan kalau kami pergi bersama ke mall atau ke toko apa gitu misalnya, aku pastikan aku selalu mendampinginya saat berbicara. Tante Cie hanya bisa berbicara dengan dialek Irian saja, sehingga tidak semua orang bisa mengerti perkataannya. Dan aku selalu ada di sampingnya, berjaga-jaga kalau ada orang yang coba-coba memandangnya sebelah mata maka akan kubalbal bolak-balik si bodat itu. Bayangkan saja, kami keluar dari toko dan tanteku dengan ramah mengucapkan permisi pada pemilik atau penjaga toko, padahal kan tidak semua penjaga toko ramah, kadang ada yang jutek. Kalau dulu aku suka merepet. “Tra usah permisi, biar saja… dong juga tra pusing mo…” Tapi sekarang aku biarkan saja. Aku malah tersenyum dan membukakan pintu toko untuk tanteku, dan aku bisa lihat senyum senang yang tulus dari pelayan-pelayan toko itu.</p>
<p>Biarpun demikian, Tante Cie sebenarnya punya selera cukup bagus. Kalau kami pergi ke mall, dan aku bilang mau membelikannya baju, maka tanteku pasti cari baju yang modelnya bagus &amp; bahannya enak dipakai dan juga sudah dia intip harganya, alias cukup mahal, hahaha….</p>
<p>Tante Cie juga sedikit pelit. Ia akan menyimpan uang miliknya seperti menyimpan pundi-pundi emas. Soalnya dulu waktu abangku masih lajang, biasalah &#8212; suka kehabisan uang, dia suka minjem ke Tante Cie tapi jarang dikembalikan, jadi tanteku kebiasaan bilang tidak ada duit kalau ditanya, hahaha&#8230;</p>
<p>Tante Cie suka membelanjakan uangnya itu dengan beli jajan-jajanan kecil untuk cucu-cucunya, anak-anak abangku yang memang tinggal di kota yang sama dengan orang tua kami. Kemarin waktu di Parapat, aku lihat  tanteku membelikan permen untuk keponakanku. Ponakanku bolak-balik datang minta tambah. Aku kaget melihatnya dan kutanya pada kakak iparku, kok anak-anak dikasih permen. Kakak iparku curhat, katanya dia sebenarnya ingin menegur Tante Cie, tapi segan, takut Tante Cie tersinggung. Aku akhirnya bilang pada Tante Cie, &#8220;Tanta Cie, jang kasih gula-gula buat anak-anak e&#8230; tra bagus buat gigi. Nanti <em>dong</em> pu gigi busuk.&#8221; Aku bilang kalau mau kasih jajanan, yang lain saja. Tapi jangan permen.</p>
<p>Biarpun demikian, aku menyayangi Tante Cie sama seperti aku menyayangi mamiku. Dan aku tahu dia menyayangi aku dan abangku juga seperti anaknya. Dia sangat sayang padaku. Katanya hanya aku yang suka memberinya uang, sementara abangku pelit.</p>
<p>Tante Cie tak suka bila ada orang lain yang ikut-ikutan sok manja padanya. Misalnya waktu ada sepupuku datang dari Sorong lalu sok <em>bossy</em> minta dibikinkan telur dadar oleh Tante Cie, tanteku dengan jengkel bilang, “Itu ada telur deng minya… goreng sendiri..!” Padahal kalau aku dan abangku yang minta digorengkan, tanteku dengan senang hati memenuhinya. Buat Tante Cie, anaknya adalah aku dan abangku, keponakan-keponakan lain jangan harap.</p>
<p>Kemarin saat aku pamit pulang ke Jakarta, aku cium pipinya dengan sayang. Aku sudah mencium pipi mamiku di Siantar saat pamit turun ke Medan. Dan karena Tante Cie adalah mami keduaku, tentu saja dia juga mengharapkan peluk dan cium sayang dariku. Tentu saja. Dari siapa lagi? Ah. Betapa aku bersyukur karena punya dua orang ibu sekaligus. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/12/09/tante-cie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semua Karena Cinta</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/10/21/semua-karena-cinta/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/10/21/semua-karena-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 15:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
				<category><![CDATA[Night Story]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu buta]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ceritaku kali ini agak-agak memicu adrenalin. Ada heboh, panik, marah, kocak, dan juga menghibur. Menurutku tentu saja.</p>
<p>Bermula dari hari Minggu yang lalu. Saat itu sudah masuk waktu maghrib ketika mobil kami masih melaju di jalan, hendak pulang. Sudah dekat rumah jadi akupun memutar nomor di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ceritaku kali ini agak-agak memicu adrenalin. Ada heboh, panik, marah, kocak, dan juga menghibur. Menurutku tentu saja.</p>
<p>Bermula dari hari Minggu yang lalu. Saat itu sudah masuk waktu maghrib ketika mobil kami masih melaju di jalan, hendak pulang. Sudah dekat rumah jadi akupun memutar nomor di ponselku dan menelepon ke rumah.</p>
<p>“Dy, buka pagar,” kataku pada Edy, penjaga rumah kami. Umurnya 15 tahun, impor dari Siantar. Orang Jawa Siantarlah.<span id="more-456"></span></p>
<p>Lima menit kemudian. Kami tiba di rumah, dan kami lihat pintu pagar terbuka lebar. Ada Edy, Mm, dan Yul di dalam garasi. Mm dan Yul adalah bedinde baru di rumah &#8212; kakak beradik &#8212; baru mau sebulan. “Loh, kenapa ini semua bedinde pada keluar?” komentar Re. Aku juga lihat ada Bud, pegawai toko kelontong sebelah rumah, dan Pak Ruf, penjual sate di dekat rumah kami. Pasti terjadi sesuatu, batinku.</p>
<p>Aku keluar dari mobil lalu kutanya ada apa. Aku lihat Mm buru-buru masuk ke dalam. Lalu Yul yang  menjawab. “Itu bu, pacarnya si Mm datang, mukulin si Edy.”</p>
<p>“Hah?” aku terperanjat dan kutanya lagi si Edy untuk memastikan, kok bisa. Budi dan Pak Ruf menjawab keherananku semampunya. Mereka berusaha mengejar laki-laki itu tapi orangnya keburu kabur. Re heran, kok bisa pacar si Mm tahu rumah? Ya Mm kan dulunya kerja di komplek ini juga, pastilah dia pacaran sama orang sini juga, kataku.</p>
<p>Re tanya kenapa dibuka pagarnya. Soalnya Edy memang seharusnya tidak membuka pagar kecuali dia sudah lihat mobil kami datang. Lalu Edy bilang, waktu dia sedang siap-siap membuka pagar, pacar si Mm &#8211;  ternyata sudah menunggu di taman depan sejak sore – langsung datang dan menendang pintu pagar rumah. Aku menduga, saat pagar ditendang, tanpa curiga si Edy buka pagar.</p>
<p>&#8220;Orang mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kerja di bangunan sana, Bu.&#8221; Yul menjawab. Lalu dia kusuruh masuk ke dalam.</p>
<p>&#8220;Udah berapa kali orang itu kesini?&#8221; tanyaku curiga. Aku ingin tahu apa Mm sering terima tamu diam-diam saat siang hari. Edy menggeleng. &#8220;Belum pernah, Bu. Baru hari ini.&#8221;</p>
<p>“Kok bisa dipukulnya kau?” tanyaku. Cepat-cepat si <em>nanny</em> kusuruh menggendong anakku masuk, sebelum dia terbangun mendengar suara keras maminya.</p>
<p>&#8220;Ntah tu..&#8221; jawab Edy polos. &#8220;Masuk gitu aja dia,&#8221; <em>Aaahhh tak jelas kali si Edy ni cakap</em>. Aku mulai hilang kesabaran.</p>
<p>&#8220;Gimana ceritanya?&#8221;</p>
<p>“Tadi aku mo buka pagar, terus ditendangnya pagar, Bu. Kutanya, <em>kenapa ini?</em> Terus dicekeknya aku (<em>Edy memperagakan gaya mencekek lehernya sendiri</em>), katanya : <em>kau ganggu-ganggu si Mm ya?</em> <em>Siapa yang ganggu-ganggu si Mm?</em> Kupukulkan, terus dipukulnya aku sampai terjatuh, di situ.” cerita Edy sambil menunjuk ke bawah. Grr&#8230;! Mataku langsung membesar. Tapi dalam hati aku geli juga, kan gak mungkin pacar Mm bicaranya dengan logat Siantar begitu.</p>
<p>&#8220;Apamu yang dipukul?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kepala, terus di sini.&#8221; Edy menunjuk dada sebelah kanan dekat ketiaknya.</p>
<p>“Kurang ajar tuh monyet! Mana itu si Mm, panggil-panggil.” Aku meradang dengan penuh emosi. Kurang ajar sekali kuli bangunan kampret itu. Bukan penduduk sini tapi gayanya macam preman. Mm datang,  juga dengan Yul. “Siapa itu tadi?” “Joko, bu.” Dia mo kasih penjelasan tapi aku cukupkan, aku suruh dia masuk, hubungi pacarnya itu. Saat itu pintu pagar sudah kami tutup. Pak Ruf dan Budi sudah kembali. Jalanan sepi karena memang sudah gelap karena maghrib.</p>
<p>Sementara itu Re sudah jalan keluar, dia bilang akan cari si Joko, suruh dia selesaikan masalahnya baik-baik dengan Edy atau kita akan laporkan ke polisi. Itu masih sekitar lima sepuluh menit, berarti si Joko itu kemungkinan masih ada di sekitar situ.</p>
<p>Aku yang masih mendidih langsung menelepon Dd (adik sepupuku, ingat?) di depan teras, aku pikir Dd ada di rumah. Aku perlu saran bagaimana menyelesaikan masalah dengan pembokat ini, soalnya Mm dan Yul itu pembokat baru yang dibawa tanteku alias maminya Dd. Dd ikut marah di seberang sana mendengar Edy diserang. Katanya besok pagi dia akan sisir seluruh komplek. Malam itu dia sedang di Bogor.</p>
<p>Aku marah sekali malam itu. Aku melangkah masuk garasi langsung menuju dapur. “Mana parang, Dy? Ambilkan parang! Biar kupotong lehernya itu!” Teriakku pada Edy. Edy tergopoh-gopoh mencari golok. Aku lihat Yul dan Mm menegang. Aku menatap mereka dengan pandangan yang berarti : <em>Biar kalian tahu ya, jangan coba macam-macam di rumah saya</em>. Kulirik si Mm, pasti dalam hatinya gemetar dia membayangkan leher pacarnya mau dipotong sama majikannya.</p>
<p>Aku bawa golok itu lalu kususul Re. Kata Mm, pacarnya itu kerja di bangunan sudut sana. Jadi akupun kesana. Ngapain pula si Re nyusul ke sana gelap-gelap, sendirian pula. Model orang nekat begitu – sampai berani masuk ke rumah orang karena cemburu buta – jelas bukan model orang yang bisa diajak bicara baik-baik pada saat itu. Bisa jadi dia bawa senjata tajam, apalagi kata Mm dia sudah sejak sore doi nongkrong di taman itu.</p>
<p>Ternyata si Joko itu tidak ada. Di depan bangunan itu tidak ada penerangan, dan banyak pohon, jelas gelap sekali. Jadi kalaupun ada orang lewat, kami kan tidak tahu orangnya yang mana. Yang pasti, saat Re tanya ke orang di situ, katanya Joko tidak ada. Kami berdua pun pulang ke rumah. Sampai di rumah, Re keluar lagi ada janji ketemu orang. Dan aku mandi. Setelah itu aku panggil si Mm. Aku tanya ulang asal muasal kejadiannya.</p>
<p>Jadi memang pacarnya – si Joko itu – sejak dulu cemburuan. Jadi Joko cemburu karena di rumah kami ada pembantu laki-laki, dan dia takut Mm suka sama Edy. Gitu juga sebaliknya. Ah, cembetol aja si Edy mau sor sama si Mm itu, wong dia gak bisa dibilang cantik, terus kelebihan berat badan pula. Edy itu masih abege dan sepengamatanku dia tidak terlihat tertarik dengan Mm itu. Setahuku juga punya pacar di Siantar sana (karena tiap malam aku sering dengar Edy dan pacarnya itu telepon-teleponan di teras depan dengan suara keras sampai kedengaran ke kamar).</p>
<p><em>Besoknya, setelah kejadian ini, Yul datang melapor ke aku, katanya Mm memang kalo becanda sama laki-laki suka gak dijaga, padahal sudah tahu kalau pacarnya cemburuan. </em>Dan sore kemarin itu, ternyata Mm ama Joko berantem karena Joko cemburu lagi, jadi si Mm langsung memutuskan Joko sore itu. Jadi makin panaslah hati si Joko, mungkin dia kira Mm mutusin dia karena naksir Edy, makanya sore itu dia berjaga di depan taman menunggu pagar terbuka. Beugh!</p>
<p>Aku nasihati Yul dan Mm, kalau memang ada pacarnya kasih tahu saja. Jadi biar tidak ada kejadian salah paham lagi. Tapi malam itu juga aku bilang ke Mm, kalau sampai besok si Joko tidak datang ke rumah, dipastikan Joko bakal bonyok dihajar Dd dan akan masuk sel. Dan Mm juga harus keluar dari rumah. Iya dong, kalau masalah dendam si Joko belum kelar, tidak ada jaminan dia tidak muncul lagi siang hari saat aku dan Re tidak di rumah. Anakku kan di rumah.</p>
<p>Agak malam, papiku tiba di rumah. Beliau memang sedang ada urusan di Jakarta, jadi menginap di rumah. Begitu tahu Edy dipukul, papiku suruh besok pagi bawa polisi jemput si kampret itu. Setelah itu beliau malah ketawa dengar aku pergi kejar si laki-laki itu bawa parang. <em>Hmm.. Kok ketawa, Pa?</em></p>
<p>Esok paginya sebelum berangkat ke kantor, Mm melapor padaku. Katanya Joko tidak berani datang. Dia mau lari saja. Terserah, kataku. Mau lari sampai kapan dia? Dia kerja di proyek bangunan itu kan belum selesai. Jangan harap dia bisa muncul lagi masuk sini.</p>
<p>Akhirnya – ketika aku di kantor – aku dapat kabar, si Joko mau juga datang untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi dia wanti-wanti ke Mm bahwa dia butuh kepastian bahwa dia gak akan masuk sel. <em>Halah, sudah syukur gak dibalbal kau, pakek nawar pulak,</em> batinku jengkel.</p>
<p>Aku bilang ke Mm, suruh datang sore saja pas aku sudah pulang kantor. Tapi pagi hari itu, Joko sudah ditatar duluan sama Dd. Gak digebukinlah (aku sudah bilang jangan digebukin), hanya dimarahin, sedikit <em>shock therapy</em> saja, biar dia kapok. Fotokopi KTP juga sudah diminta.</p>
<p>Sementara kabar Edy, katanya dadanya masih sakit sejak dipukul itu. Oke, aku suruh dia mendaftar untuk berobat sore hari ke klinik di depan.</p>
<p>Sore hari tiba. Aku sampai di rumah. Lalu supir kami menelepon si Joko suruh datang. Dan datanglah seorang laki-laki dengan tampang merana. Dia masuk lalu duduk di lantai teras. Aku mengintip dulu dari dalam. Kasihan amat nih anak tampangnya, nunduuu..kk aja dia. Diapain ya tadi pagi sama Dd, kok dia kelihatan ketakutan dan stress berat gitu, pikirku. Aku belum keluar karena menunggu Dd. Dd bilang tunggu, dia mau mendampingi aku. Lho untuk apa toh didampingi? Kayak bakal terjadi kekerasan saja. Mana mungkin Joko berani macam-macam secara di situ banyak orang dan tadi pagi juga sudah mau pingsan dia kena tatar? Aku juga gak berniat lagi motong lehernya itu.</p>
<p>Dd datang. Masih dengan gaya cukongnya. Aku keluar.</p>
<p>“Oh, jadi kamu yang namanya Joko?” tanyaku.</p>
<p>“Iya, Bu,” dia menjawab sambil tertunduk.</p>
<p>“Apa kerjamu?”</p>
<p>“Di bangunan, Bu.”</p>
<p>“Hm. Kau mau jadi preman rupanya?” Kali ini aku gak pakai ‘kamu-kamu’ lagi.</p>
<p>Dia terdiam sebentar. “Nggak, bu.”</p>
<p>“Umurmu berapa?”</p>
<p>“25, Bu.”</p>
<p>“Kau tahu berapa umur si Edy? 15 tahun! Anak-anak itu yang kau pukul! Jadi apa masalahmu, kok berani-beraninya kau masuk rumah orang main pukul aja? Udah bukan orang sini, mau jadi preman pulak kau.”</p>
<p>Lalu tampang memelas itu pun bercerita panjang lebar, cerita yang kurleb sama seperti yang dikisahkan Mm. Kata Joko, saat kemarin sore dia menelepon Mm, dia dengar Mm ketawa-ketawa. Dia tanya kenapa, kata Mm dia dicubit Edy. Panaslah hatinya. Aku menarik napas. <em>Cembetol aja kudengarkan kisah cinta anak-anak remaja ini bah</em>. Kupanggil juga Yul dan Mm. Beramai-ramai mereka duduk di teras itu kena ‘wejangan’.</p>
<p>“Kalau semalam sempat dapat kau, udah hilang tanganmu itu satu!” Bentakku. Dia terdiam. Dd senyum-senyum sambil merokok, berdiri di samping mobilku.</p>
<p>“Iya, Bu. Saya minta maaf, Bu.” Lalu aku katakan pada mereka semua di situ, bahwa sebagai majikan aku juga bertanggung jawab atas keselamatan orang-orang yang bekerja di rumahku. Jadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Joko itu terang saja memicu amarahku karena menurutku itu sudah mengancam keamanan para penghuni rumah.</p>
<p>“Gua gak mau lihat lo lagi di sekitar sini, bisa gak?” tanya Dd tiba-tiba. “Gak ada cerita kedua kali deh. Sekarang ini juga kamu bisa kita masukin sel kalau kita mau. <em>Gimana, Kak? Ini mau kita masukin sel aja atau gimana?&#8221;</em></p>
<p>Joko terdiam dan makin menunduk. Tampangnya masih memelas, tapi tetap aja pengen kupukul mukanya itu. Tentu saja dia tak bisa menjawab, secara dia orang luar dan tidak ada pilihan. Dd itu &#8216;pemuda setempat&#8217;, dan disegani pula sama orang-orang situ. Anggotanya banyak kalau dia memang pengen ngegebukin nih kampret.</p>
<p>“Kalau nanti misalnya si Edy terbukti, saya yang mukul lagi&#8230;” sepertinya si Joko salah kata. Langsung aku potong bicaranya. ”Kok terbukti pulak. Ya kalau kejadian lagi ya sudah pasti kaulah yang mukul.”</p>
<p>“Jadi ini sebenarnya masih pacaran atau gak sih?” tanyaku. Yul menjawab untuk Mm yang cuma bisa menunduk. “Iya Bu, si Joko ini memang calonnya Mm.”</p>
<p>“Jadi kenapa kemarin bilangnya sudah putus?” Aku merepet lagi. Diam lagi semuanya.</p>
<p>“Jadi ini gimana nih? Nih anak orang udah remuk begini, harus berobat. Mau tanggung jawab gak?” Tanya Dd. “Masa iya lo cuma minta maaf doang. Itu mah enak di lo doang, tuh si Edy gimana coba?” Dd nyerocos. Joko masih menunduk. “Misalnya sekarang lo gua gebukin ampe bonyok, terus habis itu gua minta maaf, gua bilang sorry tadi gua lagi emosi, lo terima gak? Kagak kan?”</p>
<p>Aku lirik si Edy yang lagi jongkok di sudut sana, duduk menunduk, <em>acting</em> teraniaya. <em>Halah ilmu juga si Edy inilah.</em></p>
<p>Joko terdiam. Aku jadi kasihan. Aku tanya, ada uang gak. Katanya gak ada. Hmm&#8230; kamu gak ada uang kok berani-beraninya mau nikahin si Mm sih, Jok? tanyaku. Dia diam.</p>
<p>Lalu Dd bicara, “Tadi pagi kan katanya mau tanggung jawab. Tanggung jawab itu kan macam-macam ya. Bisa masuk sel 10 hari, atau bayarin uang berobat.” Aimak. Dasar Dd, suka banget nakut-nakutin orang. Aku lihat wajah si Joko makin pucat dengar kata-kata “sel”.</p>
<p>“Ya sudah, Bu. Biar Mi keluar saja, Bu.” Si Mm bicara. “Daripada nanti kejadian lagi, lebih baik Mm keluar saja.” Aku dan Dd berpandangan. Dalam hati aku memang lebih suka dia keluar daripada panjang urusan dengan pacarnya yang gelap mata itu. Dd lalu telepon maminya.</p>
<p>Si Joko permisi sebentar, katanya mau pinjam uang ke temannya. Dia kembali lagi tak lama kemudian. Saat itu aku sudah tidak marah lagi tentu saja. Aku bilang ke mereka berdua, aku berharap kalau mereka memang saling cinta, mudah-mudahan bisa lancar sampai ke pelaminan. Biar kejadian ini jadi pelajaran buat mereka. Joko juga jangan kelewat cemburu gak jelas, nanti si Mm gak bisa kerja dimana-mana. Susah juga kan? Ke Mm aku bilang, kalau sudah tahu pacarnya cemburuan begitu ya dijaga sikapnya, jangan selalu dipancing-pancing.</p>
<p>Semenit kemudian lama maminya Dd juga sampai di rumahku. Dan si Joko kena semprot lagi karena gara-gara dia Mm jadi kehilangan pekerjaan.</p>
<p>Setelah kenyang oleh omelan, Joko aku suruh minta maaf ke Edy. Lalu saat Joko dan Mm bersiap-siap mau pergi, Joko mengeluarkan uang seratus ribu. Itu uang maksimal yang bisa dia dapatkan katanya. Aku berbisik pada Dd. Aku tidak tega mengambil uang itu, kasihan. Tapi Dd bilang ambil saja, biar bagaimanapun si Joko memang harus dikasih pelajaran. Dd yang terima uang itu. Sementara Mm juga tidak terima uang sepeser pun karena dia belum sebulan bekerja dan harus ganti rugi uang ambil yang sudah aku keluarkan ke agennya.</p>
<p>Tapi cerita soal parang itu, tentu saja aku tidak berniat benar-benar mau potong kepalanya. Itu hanya ecek-ecek saja buat pembokat di rumah, biar mereka mikir lagi kalau mau macam-macam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/10/21/semua-karena-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

