<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>From Dusk Till Dawn</title>
	<atom:link href="http://susucoklat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://susucoklat.com</link>
	<description>enjoying the city of night</description>
	<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 03:58:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Buka Puasa Sendiri-Sendiri</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/08/17/buka-puasa-sendiri-sendiri/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/08/17/buka-puasa-sendiri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 12:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[Pulau Dua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[<p>Minggu lalu aku dan sepupu-sepupuku discuss di grup bbm kami tentang rencana buka puasa bersama. Sudah lama kami tidak berkumpul, dan momen puasa ini adalah momen yang tepat untuk itu.</p>
<p>Yud mengusulkan hari Senin, karena Selasa kan libur 17-an, jadi tak apalah kita pulang agak malam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu aku dan sepupu-sepupuku discuss di grup bbm kami tentang rencana buka puasa bersama. Sudah lama kami tidak berkumpul, dan momen puasa ini adalah momen yang tepat untuk itu.</p>
<p>Yud mengusulkan hari Senin, karena Selasa kan libur 17-an, jadi tak apalah kita pulang agak malam. Aku OK, Op OK. Dd diam. Oh, Dd diam karena dia memang gak bisa ikut. Doi lagi di puncak, ikut pesantren kilat. Aku bilang, bulan puasa lu mo tobat, nanti bulan puasa lewat, nyekek botol lagi. Hehehee&#8230; Dd ketawa aja.</p>
<p>Kami lalu mendiskusikan tempat berbuka yang nyaman. Yud dan Op ingin di Pulau Dua. Aku bilang aku ikut saja, karena aku kan keluar kantor jam setengah empat, jadi kemungkinan aksesku lebih lancar kemanapun. Aku ingatkan mereka – yang keluar kantor jam 4 jam 5 – apa Pulau Dua itu logis gak karena ini bulan puasa. Sekarang Jakarta makin gila. Mau jam berapapun keluar, pasti kejebak macet. Emosi jiwa melandalah pokoknya. Mereka berdua bilang, pasti bisa. Pasti bisa.<span id="more-413"></span>Dan tibalah hari yang dinanti. Senin sore, aku pick up anakku di kantor ayahnya. Sengaja memang dia diajak ke kantor ayahnya sejak siang, biar aku tak perlu pulang ke rumah menjemputnya. Kalau pakai acara pulang, bisa jam delapan kali aku sampai di restoran itu. Kantor Re dekat saja dari kantorku, even aku tetap masih harus melewati macet.</p>
<p>Dan benar saja dugaanku saudara-saudara. Kami jalan dari kantor Re jam 4. Normalnya sih selambatnya sejam sudah sampai, mengingat Sudirman sekarang sudah masuk 3in1. Ehh ternyata, Jl. Sudirman full kendaraan. Tiga ruas jalan penuh, kayak kembar dempet. Cuaca mendung, tapi aura bete jelas beterbangan di situ. Aku lirik kanan kiri. Semua orang mukanya bete dan lemas, mungkin karena sedang puasa, ingin cepat pulang ke rumah, tapi terjebak macet. Dan mobil-mobil itu, hhmm&#8230; banyak juga ternyata yang hanya berpenumpang satu orang. Semua orang nekat potong ambil jalan Sudirman, tak peduli sewaktu-waktu bisa ditilang polisi karena melanggar aturan. Tapi aku lihat polisi juga tidak peduli. Kalau kau sudah capek dan ribet mengurus hal lain yang lebih besar – kemacetan yang luar biasa parah – apa pentingnya mengurus hal remeh temeh?</p>
<p>Aku ngedumel terus. Tidak tahan dengan macet separah ini. Bolak-balik melirik jam tangan yang masih baru (:D). Aku bbm Re, merepet-repet. Re bilang sabar, pasti sempat. Sempat apanya. Aku udah sebel aja, karena menyetujui pilihan sepupu-sepupuku berbuka di P2.</p>
<p>Tak lama Op merepet di grup, katanya dia stuck gak jalan.</p>
<p><em>Gimana kalau tukar tempat aja?</em> Op.<br />
<em>Jangan dong, gue udah tanggung masa tuker tempat? Mana bisa muter lagi? </em>Aku.<br />
<em>Iya gpp boy, nanti kita tungguin&#8230; </em>Yud.<br />
Op diam. Gue tahu dia bete banget karena mobil gak bergerak.</p>
<p>Sudahlah macet, aku tak bawa air mineral pula di mobil. Tapi ada cookies sih. Bisa untuk batalin puasa kalau terpaksa buka di jalan. Dan ditambah bb busukku ini ngulah. Aku jadi bolak-balik restart.</p>
<p>Aku sms Yud. Aku bilang, bb ku ngulah jadi aku gak bisa bbm di grup. Aku bilang juga kalau aku baru naik ke atas. Dan di sini jalanan lancar plongggg&#8230;. Driverku ngebut, soalnya waktu kami sudah mepet. Yud reply, katanya mobilnya mogok. Aku disuruh sms Op. Dia akan jalan segera setelah mobilnya nyala.</p>
<p>Alamak. Ada saja ya cobaan hari ini. Aku mengangkat lengan kiriku lagi (mau lihat jam lagi hahah)&#8230; sepuluh menit lagi waktu berbuka. Driver membelokkan mobil ke dalam Pulau Dua. Sudah sampeeeekk&#8230;&#8230;&#8230;.!! Aku lirik anakku yang masih tertidur pulas. Aku langsung sms Yud dan Op bilang aku sudah sampai. Lalu aku bangunkan anakku, kami pun bergegas masuk. Driver kami menolak ikutan, katanya dia mau ke mesjid saja. Ya sudah, aku kasih dia lima puluh ribu untuk uang makannya, gpp sekali-kali dikasih banyak, kasihan doi udah kena repet mulu.</p>
<p>Seorang pelayan wanita menggiring kami masuk. Anakku langsung melek matanya saat melihat ikan mas gede-gede di dalam kolam. Aku duduk di meja yang sudah disediakan, dan langsung ngecek bbku. Sudah normal. Dan setelah memesan makanan, aku baca chat-chat sebelumnya di bbm grup. Op ngomel karena stuck dan maksa lagi untuk pindah tempat. Yud bilang <em>madam sudah sampai tuh, bb nya hang jadi dia sms tadi</em>. Aku me-reply di grup, aku bilang aku akan tunggu mereka.</p>
<p>Meja-meja lain sudah penuh berisi para tamu. Rata-rata orang kantoran semua. Hanya mejaku saja yang hanya berisi dua orang dewasa, dan satu balita. Terus terang aku<em> excited</em> menunggu acara berbuka ini, karena inilah pertama kali aku akan punya teman untuk berbuka puasa. Sejak hari pertama puasa, aku selalu sahur dan berbuka sendiri. Re tidak pernah menemaniku sahur atau berbuka karena dia memang tidak puasa. Buatku ini bukan masalah dan tidak mengurangi sayangku padanya. Buatku sahur atau berbuka puasa tetap nikmat meskipun hanya sendiri, kan yang penting niatnya. Re tidak menemaniku juga bukan karena tidak peduli padaku, lagipula apakah ukuran romantis dan sayang itu semata diukur dari selalu bisa menemani pasangan? Dia bisa tidur nyenyak di rumah tanpa mikirin kerjaannya saja sudah syukur. Seingatku Re sebisa mungkin akan memenuhi segala permintaanku bila dia bisa memenuhinya. Kecuali urusan pekerjaan, itu saja yang tidak bisa diganggu gugat. Aku mengerti. Pria. Always memikirkan karirnya. Jadi, saat ada teman untuk berbuka puasa ya jelas aku senang dong.</p>
<p>Tapi ternyata kali ini aku kembali harus berbuka sendiri. Op jelas tak akan tiba tepat waktu. Yud apalagi. Dia bahkan belum jalan dari kantornya, karena tidak mau meninggalkan mobilnya. Aku sedikit kecewa. Tapi tegukan teh manis hangat mengobati kekecewaanku. Alhamdulillah masih bisa berbuka di restoran mahal ini. Yah, meskipun berbuka sendiri, tapi setidaknya aku tidak harus berbuka di jalan kan?</p>
<div id="attachment_414" class="wp-caption aligncenter" style="width: 585px"><img class="size-full wp-image-414" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/08/bukapuasa.jpg" alt="suatu malam di pulau dua" width="575" height="281" /><p class="wp-caption-text">buka puasa di pulau dua</p></div>
<p>Kutunggu setengah jam, tidak ada yang muncul. Akhirnya aku pesan makanan. Dan aku makan sendiri saja ditemani anakku yang manja sekali, terus-menerus minta aku temani lihat ikan. Ya sudah, susternya aku suruh makan duluan, aku pergi bawa anakku dulu lihat ikan raksasa tadi.</p>
<p>Jam tujuh, Op muncul. Senyum merekah di wajahnya. Dia sudah berbuka dengan air saja di mobil. Jadi dia datang dengan perut kelaparan. Op bilang sambil tertawa, “Ini mah bukan buka bersama, ini sih buka sendiri-sendiri.”</p>
<p>Yud dimana? Yud masih di kantor. Dia say sorry pada kami karena tidak mungkin dia menyusul kami ke Pulau Dua. Montirnya masih balik ke bengkel untuk mengambil koil, dan dia harus menunggu lagi. Ditambah saat itu hujan turun sederas-derasnya.</p>
<p>Sebenarnya aku marah. Aku marah karena rencana tidak berjalan sempurna. Aku sudah bela-belain setuju untuk buka puasa di tempat yang jauh, sampai anakku harus dititip sebentar di kantor ayahnya, tapi semua berantakan. Kenapa mereka tidak permisi saja untuk keluar kantor lebih cepat? Kan sudah bisa prediksi macet? Dan kalau dia pergi lebih cepat, pasti mobil yang bermasalah pun cepat ketahuan. Aku jengkel karena yang menentukan hari dan tempat ini Yud &amp; Op, tapi yang satu terlambat, satu lagi pula gak bisa datang. Aku diam saja, tidak mengutarakan kekesalanku. Aku agak susah mentoleransi keterlambatan.</p>
<p>Tapi Op yang tenang-tenang saja membuatku sadar. Dia juga orangnya emosian, tapi kali ini aku lihat dia tidak marah. Apa karena sekarang perutnya sudah kenyang? Op bilang, ini sudah bencana, siapa bisa menyangka kalau Yud mobilnya bakal mogok? Kita arrange ulang saja lagi, di hari Sabtu saja biar tidak keburu-buru. Dan Dd juga nanti bisa ikut karena acara pertobatannya pasti sudah selesai.</p>
<p>Aku jadi merasa bersalah juga sudah marah dalam hati sama Yud. Itu mobil pertamanya, dia beli second, wajar jugalah kalau banyak masalah. Jadi kalau aku membandingkan dengan diriku, rasanya kurang adil. Mobilku belum pernah mogok karena tahunnya masih baru. Ah, maafkan atas kesombonganku tadi, Tuhan.</p>
<p>Aku bilang OK lah arrange ulang. Tapi plz pilih tempat yang reasonable ya. Pulau Dua memang enak, tapi kalau salah jam ke sana, bisa mati kutu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/08/17/buka-puasa-sendiri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sangkar Emas</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/06/17/sangkar-emas/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/06/17/sangkar-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 17:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[sangkar emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sudah lama ya aku tidak cerita tentang anakku. Sekarang aku ingin cerita sedikit tentang perkembangannya.</p>
<p>Aku akhirnya mengeluarkan dia dari sekolah khusus itu, dan dia kusekolahkan di sebuah sekolah international franchise yang jaraknya dekat sekali dari rumah. Sekitar dua menit kalau naik kendaraan. Sengaja aku pilih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama ya aku tidak cerita tentang anakku. Sekarang aku ingin cerita sedikit tentang perkembangannya.</p>
<p>Aku akhirnya mengeluarkan dia dari sekolah khusus itu, dan dia kusekolahkan di sebuah sekolah international franchise yang jaraknya dekat sekali dari rumah. Sekitar dua menit kalau naik kendaraan. Sengaja aku pilih sekolah itu karena dekat dari rumah, dan aku suka dengan metode pengajarannya yang mengajarkan motorik halus. Memang sih anakku masih banyak ketinggalan di motorik kasar, tapi aku lebih senang dia langsung belajar motorik halus sekaligus.<br />
<span id="more-391"></span></p>
<p>Nah karena anakku masih di bawah 2 thn waktu masuk, dia tentu saja masuk kelas toddler, bersama seorang temannya. Karena mereka hanya berdua, maka mereka pun mau tak mau harus join dengan kelas kakak-kakaknya yang sudah berusia 2-3 tahun (biar hemat guru kali ya). Di sekolah ini mereka juga tidak boleh ditemani oleh orangtua atau pengasuh. Jadi benar-benar harus masuk ke kelas bersama guru, yang mereka panggil dengan sebutan Miss. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris campur bahasa Indonesia juga. Yah biarlah pakai bahasa Inggris, aku sih yang penting anakku bisa ketemu banyak teman. Toh di kelas itu juga dia dan temannya tidak diwajibkan belajar, karena konsep toddler lebih bermain ya.</p>
<p>Selasa kemarin, aku ambil raport ke sekolah. Hahaha, gayanya&#8230; anak masih kicik sudah gaya-gayaan pake raport. So anakku sudah 5 bulan sekolah di situ, dan buku itu berisi laporan perkembangannya. Bulan depan sih dia sudah naik kelas. Kata Miss-nya, anakku termasuk anak yang smart (yah amin lah.. amin..). Dia juga senang sekali berteman. Karena dia paling muda di kelas, dia jadi suka ngintilin kakak-kakak kelasnya dan mengikuti tingkah polah mereka, termasuk pula ikut belajar. Hei, tahu gak, dia hanya seminggu saja menangis waktu ditinggal masuk kelas sendiri, selanjutnya keluar sudah premannya. Kadang pura2 nangis aja di depan pintu, tapi begitu pintu ditutup dia diem. Malah sekarang dia jadi penghibur ketika teman Toddler-nya menangis. Kata Miss, saat temannya menangis, dia datang dan dia tepuk-tepuk punggung temannya itu biar berhenti menangis. Halah&#8230; sok tuanya kamu Vay.  Hahahaha..</p>
<p>Kemajuan utama tentunya adalah kemampuan verbalnya. She’s finally bisa mengucapkan kata-kata setelah dia sekolah sebulan di situ. Tentu saja aku senang sekali. Dan sekarang dia cerewet bukan main, even kata-katanya masih belum jelas ya (dia sekarang 2 tahun 2 bulan). Kayak bilang ikan, dua minggu lalu dia masih mengucapkan kata “ikan” dengan “aikam” tapi minggu ini dia sudah bisa mengucapkan dengan benar. “Ikan lele” katanya hihihi&#8230; Sudah bisa juga mengucapkan kalimat dengan 3 kata, even kepayahan dan masih sering terbalik-balik.</p>
<p>Tapi beberapa hari ini ada sebuah kejadian yang membuatku tersentuh dan jadi berpikir cukup lama.</p>
<p>Hari itu Re akan berangkat ke kantor (dia berangkat kantor lebih siang dari aku). Nah, saat itu, kata Re, anaknya itu memaksa mengantar dia sampai ke halaman. Padahal biasanya dia cukup mengantar sampai pintu ke garasi saja.</p>
<p>Nah begitu sampai di luar &#8212; seperti orang yang selama ini dikurung – anakku berlari secepat kilat ke pintu pagar, lalu ambil posisi di depan lubang dekat grendel. Tahu kan, lubang yang biasa dibuat untuk memasukkan tangan kita ke dalam. Nah dia mengintip dari situ, lalu menoleh ke ayahnya sambil menunjuk-nunjuk ke luar. Begitu terus.</p>
<p>Oh ternyata dia melihat kucing dan ayam di taman depan. Re bilang, kasihan sekali dia. Dia kelihatan sekali ingin keluar pagar, ke taman depan untuk melihat ayam atau kucing dari dekat. Tapi tentu saja Re tidak mengizinkannya.</p>
<div id="attachment_392" class="wp-caption aligncenter" style="width: 336px"><img class="size-full wp-image-392" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/06/lil_picnik.jpg" alt="lil_picnik" width="326" height="497" /><p class="wp-caption-text">aku mau mainnn.... mainn... mainn...</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Ya Tuhan. Aku langsung sadar. Mungkin selama ini tindakanku yang &#8220;mengurung&#8221; anakku di rumah saja, membuat dia terlihat seperti burung dalam sangkar emas. Anakku memang tidak pernah aku izinkan keluar pagar kalau aku tidak di rumah. Jangankan keluar pagar, keluar ke garasi depan atau ke teras depan juga tidak boleh. Dia hanya boleh main ke halaman belakang dan juga tidak boleh sampai ke samping karena ada kolam. Biarpun aku sudah pasang pagar ke kolam tapi aku takut susternya lalai – si bodat itu memang suka leler – dan anakku luput dari pengawasannya. Jadwal main ke halaman juga hanya boleh pagi. Lalu dia juga tidak boleh ke dapur karena lantai dapur pasti kotor bukan main, dan aku tak mau dia dekat-dekat benda-benda berbahaya di dapur. Main ke area belakang, area cuci-cuci dan kamar pembantu apalagi, jelas tidak boleh. Jadi istananya adalah ruang dalam yang bisa sepuasnya diobrak-abrik. Dia hanya menginjak rumput sesekali di pagi hari saat dia baru bangun tidur dan diajak keluar untuk menghirup udara segar, itu juga dengan catatan dia mau injak rumput yang masih basah itu. Injak tanah atau aspal di area depan, hampir tak pernah. Kadang bapak mertuaku suka ngomel juga kalau misalnya anakku lagi mo injek tanah di rumahnya lalu Re sibuk melarang-larang dengan alasan takut kakinya kotor. &#8220;Gak papalah, sekali-sekali biar kuat kakinya. Kan nanti bisa dicuci.&#8221; begitu kata bapak mertuaku<em>.</em></p>
<p>Hmm.. pantas saja anakku itu blingsatan setiap kali kakinya menginjak area depan rumah kami. Ternyata dia penasaran sekali ingin main di luar. Tapi aku tidak suka membiarkan dia main di luar. Aku dan Re memang tidak suka anak kami kotor-kotoran. Lalu rumah kami kan berhadapan dengan jalan raya komplek yang ramai mobil, kemudian taman di depan juga jelek dan kotor, lalu tukang ojek pun mangkal di depan. Aku tidak nyaman jalan-jalan sore ke depan sambil membawa anakku di bawah tatapan tukang ojek. Sementara membiarkan dia jalan dengan susternya sendiri jelas tak bisa kubiarkan. Mungkin kau mengira aku terlalu paranoid, tapi aku harus berhati-hati kan. Sekarang banyak orang jahat. Ah jadi bingung. Di satu sisi anakku butuh pergaulan, tapi di sisi lain aku tidak merasa nyaman jalan-jalan ke taman depan.</p>
<p>Entahlah. Re bilang, dia jatuh iba melihat anaknya mengintip-ngintip saja dari balik lubang.  Kami berdua sama-sama tersadar bahwa anak kami memang haus pergaulan. Pantaslah dia senang sekali setiap pergi sekolah atau kalau diajak jalan-jalan. Kasihan kamu, Sayang, tiap hari dikurung terus. Aku sih berharap kami bisa punya tempat tinggal yang lebih kondusif untuk membesarkan anak. Kalau tidak, dia akan terus berada dalam sangkar emasnya.</p>
<p>Oh iya. Akhirnya Re bilang hari Sabtu nanti dia yang akan bawa anaknya jalan-jalan keluar. Biar hatinya senang, apalagi sebulan ini kan dia libur sekolah, berarti tidak ketemu teman-temannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/06/17/sangkar-emas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belanja Malam</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/05/05/belanja-malam/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/05/05/belanja-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 15:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night Story]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[night shopping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tadi aku belanja bulanan ke Carefour Buaran Plaza. Malas sebenarnya karena aku harus menyetir sendiri, driver sedang sibuk wara wiri mengantar ayahku yang lagi datang ke Jakarta. Maka menyetirlah aku ke Buaran, ikut serta juga anakku dan susternya, dan tanteku.</p>
<p>Buaran Plaza bisa dibilang plaza kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi aku belanja bulanan ke Carefour Buaran Plaza. Malas sebenarnya karena aku harus menyetir sendiri, driver sedang sibuk wara wiri mengantar ayahku yang lagi datang ke Jakarta. Maka menyetirlah aku ke Buaran, ikut serta juga anakku dan susternya, dan tanteku.</p>
<p>Buaran Plaza bisa dibilang plaza kecil yang lengkap untuk warga sekitar. Selain Carefour, di sana juga banyak tenant makanan yang jadi favorit. Sebut saja KFC, Pizza Hut, Jco, Solaria, CFC, Bakso Lapangan Tembak, juga ada Bread Talk. So, untuk apa pergi jauh-jauh kalau hanya sekedar ingin menikmati sore yang indah bersama keluarga atau teman?<span id="more-361"></span></p>
<p>Aku biasanya bertemu dengan tukang tas di sini. Lebih dekat dari rumahku, kalau tidak macet, cuma sepuluh menit. Tapi kalau salah jam, sudahlah, bisa satu jam dari rumah ke Buaran.</p>
<p>Tadi pagi aku sudah bilang sama Re, aku mau belanja nanti sore, jadi aku mau pakai mobilku ke Buaran.  Tapi Re cuek saja. Dia tetap pergi ke kantor naik mobilku, dan itu artinya kalau aku mau keluar, aku harus pakai mobil dia. Itu bukan masalah besar sebenarnya, tapi aku hanya merasa kurang nyaman menyetir mobil Re. Bagiku mobil Re itu mobil bagus dan mahal, dan aku tidak leluasa menyetirnya ke Buaran. Jalannya selalu ramai, full, macet, banyak metromini, bajaj, mikrolet. Emosi jiwa nyetirnya.</p>
<p>Suasana Carefour tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini weekday ya. So, aku bisa menurunkan anakku sebentar untuk berlari-lari di dalam situ. Tapi tetap aku awasi lho. Aku agak trauma dengan peristiwa beberapa tahun lalu, waktu itu ada anak kecil yang meninggal tertimpa rak besi di Carefour. Jadi aku hanya izinkan anakku lari-lari di tengah-tengah hall yang kosong, tidak ada rak atau tangga besi, juga tidak ada TV gantung. Beberapa kali susternya aku tegur karena santai-santai saja jalannya sementara anakku sudah lari agak jauh. <em>*minta dipecat juga nih bs.</em></p>
<p>Satu setengah jam kemudian acara belanja selesai. Kami keluar dengan dua troley penuh belanjaan. Si suster mendorong satu troley (yang paling berat tentu saja, ada beras dan minyak :p), dan satu troley lagi yang tidak terlalu berat aku tarik dan dorong berdua dengan tanteku. Tadinya aku mau dorong troley itu, dan tanteku menggendong anakku. Tapi si Tembem ini bandel banget, maunya turun terus, jadi terpaksa aku gendong dia sambil menarik troley.</p>
<p>Tiba di depan lobby Jco, aku langsung mencari-cari petugas yang bisa membantuku mengangkat belanjaan. Hayah, kenapa sih semuanya ada di areal parkir belakang sana, berdiri lebih kurang 20 meter dari tempatku. Tidak ada yang melihat ke arah kami jadi mau tak mau aku harus bersuara. Anakku sudah turun dan dipegang Omanya dan aku mendorong troley ke mobil.</p>
<p><strong>“Ssttt!!” </strong>desisku cukup keras. Tidak ada reaksi. Bah! Aku lirik kanan kiri, cek situasi. Oh aman,  tidak ada cowok keren. Hehee&#8230;.</p>
<p><strong>“Ooi&#8230;!! Maass&#8230;!!</strong>” Teriakku kencang. Akhirnya keluar juga premanku hahaha&#8230; Nah, ini baru benar. Dia menoleh dan tanpa dikomando langsung lari kencang ke arah kami. Ya iyalah, sudah tahu dia bakal dapat tip. Hihihi&#8230;</p>
<p>Sementara petugas parkir dengan sigap memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, aku mencari uang pecahan di dompet. Wah. Tidak ada lima ribuan. Biasanya kalau aku belanja naik mobilku aku kasih tip dua ribu. Tapi karena kali ini naik mobil Re, standarnya minimal tiga ribu. Kalau gak pasti tukang parkirnya ngedumel dalam hati. <em>Yahh&#8230; masa naik mobil keren, cuma kasih dua rebu? Pelit amat si Bos..! </em>Hhahaha&#8230; tapi memang begitulah adanya. Petugas parkir dimana-mana pasti lihat-lihat mobil kalau mau tulus melayani. Kalau aku dan Re ke mall naik mobilku, dilirik juga enggak sama tukang parkir. Tapi kalau kami datang pakai mobil Re, diikutin terus, ngintil sampai ngejar-ngejar menawarkan parkiran. Dasar kampret!</p>
<p>Aku bongkar-bongkar laci mobil Re, di situ banyak uang dua ribuan. Aaahh.. ya sudah, empat ribu sajalah. Cukup itu. Petugas parkir yang ini kelihatannya tidak sematrek petugas parkir di daerah kota – yang berani nge-ceng-in pemilik mobil mewah yang cuma kasih dua ribu – jadi dia pasti akan senang hati dikasih tip empat ribu.</p>
<div id="attachment_359" class="wp-caption aligncenter" style="width: 585px"><img class="size-full wp-image-359" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/05/hummer_h3_84.jpg" alt="ini mobil impianku, mudah2an cepat kaya biar bisa beli mobil ini hihihih..." width="575" height="368" /><p class="wp-caption-text">ini mobil impianku, mudah2an cepat kaya biar bisa beli mobil ini hihihih...</p></div>
<p>Fiuh&#8230; 15 menit kemudian sampai di rumah. Semua penumpang turun duluan, sementara aku memasukkan mobil ke garasi dalam. Suster anakku masuk duluan, dan anakku langsung berteriak-teriak panik di gendongan si suster. &#8220;Mii&#8230; Mami&#8230;&#8221; Dia kira aku mau pergi lagi ninggalin dia. Hayaahh&#8230; mana mungkin lah Vay, kalau mami pergi pasti kamu mami ajak kemanapun pergi :).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/05/05/belanja-malam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tequila Shot &amp; Disco in Batam</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/04/04/tequila-shot-in-discotheque-batam/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/04/04/tequila-shot-in-discotheque-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 16:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Batam]]></category>

		<category><![CDATA[sex & the city]]></category>

		<category><![CDATA[Clubbing]]></category>

		<category><![CDATA[Heineken Beer]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[midnight lady]]></category>

		<category><![CDATA[pub]]></category>

		<category><![CDATA[Tequila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[<p>Minggu lalu aku ada di Batam untuk workshop dari kantor. Ini bukanlah workshop yang sebenarnya, karena 75% acara diisi oleh acara senang-senang dan jalan-jalan, bukan beneran training or pelatihan. Well, biarlah, yang penting kan aku juga jalan-jalan toh.</p>
<p>Malam harinya, sehabis dinner &#8220;udang setengah matang&#8221; di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu aku ada di Batam untuk workshop dari kantor. Ini bukanlah workshop yang sebenarnya, karena 75% acara diisi oleh acara senang-senang dan jalan-jalan, bukan beneran training or pelatihan. Well, biarlah, yang penting kan aku juga jalan-jalan toh.</p>
<p>Malam harinya, sehabis dinner &#8220;udang setengah matang&#8221; di sebuah tempat yang aku lupa namanya, aku langsung merapat ke sebuah diskotik di dalam hotel tempat kami menginap, Pacific Palace. Itu malam yang melelahkan setelah seharian penuh diisi workshop, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan malam dengan tidur saja. Dan karena aku tidak berniat kemana-mana yang jauh, diskotik hotel adalah pilihannya.<span id="more-331"></span></p>
<p>Jam setengah dua belas malam, aku masuk diskotik ditemani dua temanku, Vit dan Bang Jo. Ini diskotik jenis house music, venuenya luas juga untuk ukuran hotel. Tapi ternyata memang diskotik itu lebih banyak dikunjungi orang luar, pantas saja ruangannya seluas itu. Aku melihat beragam pengunjung memasuki diskotik, mulai dari tubang bergaya trendy norak, sampai dengan abege-abege tak bergaya yang masuk hanya dengan pakai celana pendek dan sandal.</p>
<p>Kami bertiga duduk di bar. Seorang bartender menghampiri kami, sepertinya dia bisa menduga bahwa kami pastilah bukan orang asli Batam. Aku bertanya, punya draugft beer gak. Katanya tidak ada. Mereka hanya punya bir bintang biasa yang pitcher, but not draugft. Heineken ada, tapi kalengan, tidak ada botolan. Buset deh, kayak swalayan aja, beli kalengan. Aku perhatikan sekelilingku, semua memang minumnya kalengan, dan mereka bukan minum bir Heineken, tapi bir lain. Merk Heineken itu sepertinya tidak begitu populer di situ. Vit pesan coke saja, katanya dia lagi siap-siap mo puasa besok, persiapannya untuk Paskah nanti.</p>
<p>Semua orang pasti sudah tahu, Batam terkenal akan wanita-wanitanya. Karena itu kami juga tidak heran melihat begitu banyak midnight lady di situ, kanan kiri depan. Full. Dan memang itulah yang ingin kami lihat, kehidupan malam di Batam lengkap dengan wanita-wanitanya yang lebih dikenal dengan istilah amoy. Walaupun mungkin istilah itu sudah tidak tepat lagi sekarang, karena tidak melulu amoy yang nongkrong di sini.</p>
<p>Bang Jo berteriak. &#8220;Yang di sana itu kayaknya masih muda banget, ya.&#8221; Dia menunjuk seorang wanita bertubuh mungil yang bajunya seksi sekali. Dress mini tanpa lengan dengan bagian pinggang yang terbuka.</p>
<p>Aku balas berteriak. &#8220;Ah, udah tua itu bang. Tunggu saja sampai dia balik, lihat mukanya.&#8221; Dan tak lama kemudian cewek berbalut dress biru muda itu berbalik, dan Bang Jo pun baru percaya kalau cewek itu memang sudah uzur untuk ukuran midnight lady. Ah tapi kan selera orang beda-beda ya. Mau tua, mau muda, punya pasar sendiri.</p>
<p>Kali ini aku gantian berteriak. &#8220;Bang! Yang di sana itu kayak bencong ya bang. Bencong bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gaakk. Cewek itu..&#8221; Tukas Bang Jo. Aku mengernyitkan kening tidak yakin. Bang Jo kemudian memanggil bartender. Dia pesan sprite. Bah! Jadi itu Heineken kagak ada yang minum, nih? Hmm&#8230;. Aku melirik penuh harap pada gelas yang masih terisi penuh itu (belakangan, tentu saja gelas penuh itu jadi milikku). Bang Jo dibisikkan sesuatu oleh si bartender. Oh, ternyata si bartender memberitahu kalau jam 1 nanti akan ada sexy dancer. Yaitu penari-penari yang hanya mengenakan underwear saja. Bartender juga menawarkan obat pada Bang Jo, barangkali tertarik sama ekstasi. Bang Jo jelaslah gak mau, emang kita apaan, mau fun-fun doang kok ngapain pake obat.</p>
<p>Jam dua belas malam, beberapa teman kantor bermunculan. Wah! Ternyata yang malas tidur buru-buru bukan cuma aku. Para cowok itu duduk dekatan dengan kami dan memesan pitcher Long Island Tea, pitcher bir hitam, air mineral, dan sejenis kratingdaeng (aku kurang jelas melihat merk-nya apa karena gelap).</p>
<p>Hid duduk di sebelah kiriku. Cowok satu ini punya tampang khas &#8220;orang Jakarta&#8221;. Tak lama seorang ayam datang duduk di sebelahnya dan langsung mengulurkan tangan mengajak kenalan. Hid terlihat sedikit tidak nyaman, lalu tak lama dia berdiri lalu maju ke depan, bergabung di gerombolan kelompok kami. Hahaha&#8230;</p>
<p>Aswn yang tadinya keliling-keliling ke depan &#8212; entah ngapain &#8212; balik ke tempat kami, lalu berteriak di telingaku. &#8220;Masa tadi ada cewek, dia bilang, <em>bang minta dua puluh ribu, bang, untuk beli minum!</em> &#8221; Aswn ini juga punya tampang khas &#8220;orang Jakarta.&#8221; Atau tepatnya Aswn ini punya tampang foto model. Bukan cuma cewek yang tertarik mengerubungi dia, cowok-cowok juga banyak yang naksir dia &#8212; walaupun dia lebih pantas dikatakan sebagai pecinta diri sendiri. Aswn dan yang lainnya lalu sibuk membahas tentang cewek-cewek ini.</p>
<p>Jam satu tepat, ketika sexy dancer muncul, para lelaki maju ke depan, merubungi panggung. Ingin melihat paha, dada, dan bokong yang meliuk-liuk erotis di atas. Aku ikut ke depan, dan mendapati seorang penarinya ternyata banci. Aih&#8230;.! Ngerusak mood saja tuh orang. Teman-temanku langsung mundur, jijay katanya ngeliat ada cowok joget erotis di depan. Hahahaha..</p>
<p>Aku memanggil bartender dan memesan tequila. Long time aku gak minum tequila, dan malam di diskotik adalah saat yang tepat untuk itu bukan? Bartender bilang, &#8220;Aku minta tip dong, mbak..&#8221; &#8220;Sipp!&#8221; kataku sambil mengacungkan jempol. Aku membayar single tequila seharga 51 rb dengan uang 60 rb, dan kembaliannya aku kasih ke dia. Kasihan juga tuh orang, kayaknya sepi tip dia dari pengunjung lokal. Denn yang melihatku menenggak tequila langsung bikin gerakan sujud hormat. Kampret! Plis deh Denn, baru gitu doang.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-332" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/04/tequila.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p>Aku lihat Denn kelihatan seperti orang yang sudah teler berat. Selama musik berdentam-dentam, kepala dan tangannya goyang-goyang terus. Kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri. Hmm. Aku melirik minumannya.  Ya elah, cuma minum Long Island saja kok mabok. Kalau dia minum peltok satu pitcher, aku percaya dia bisa teler. Dan dia tidak mungkin menenggak obat, kalau <em>only for a couple hour </em>di sini, karena kalau pakai obat bisa-bisa dia gak akan tidur sampai besok siang.</p>
<p>Hid, Aswn, Bang Jo &amp; Vit pamit duluan kembali ke kamar karena sudah ngantuk. Aku cewek sendiri jadinya, tapi itu bukan masalah kok. Kan masih banyak teman cowok yang menemani, dan tanpa harus dijaga juga aku bisa kok menjaga diri sendiri.</p>
<p>Aku tinggal berempat dengan Hendrik, Denn, dan Adit. Tak lama datang lagi beberapa teman lain, Bas dan Kab, yang kelihatannya penasaran dengan para sexy dancer. Aku lihat Denn pergi ke beberapa meja dan merangkul-rangkul para ayam. Adit yang berbadan tinggi besar, kelihatan anteng saja, dia terlihat seperti pengawal bagi Denn. Dia minum juga tapi tidak mabuk, menurutku.  Dia tidak begitu enjoy karena musiknya <em>hm </em>semua, gak level katanya. Hahahah&#8230; Aku melihat Adit mengobrol dengan cewek yang tadi aku bilang bencong itu. Si Denn berisik banged. &#8220;Sy, lo haus kan? Ini minum dulu, mau apa. Ada Long Island, aqua.&#8221; Oh, <em>come on, I can take care myself</em>, ya! Mungkin dia kira aku berhemat beli minuman, tapi sebenarnya aku merasa sudah cukup. Aku minum bukan karena kehausan. Like Bas said, it&#8217;s just a social drink on weekend.</p>
<p>Kemudian tak lama Adit menghampiriku. &#8220;Mbak, yang ngomong sama Adit barusan itu bencong ya?&#8221; Aku mengangkat bahu. &#8220;Wah, kata Bang Jo tadi cewek, Dit.&#8221; &#8220;Masa sih, kayaknya bencong deh..&#8221; Adit berlalu dan mengobrol lagi dengan &#8220;bencong&#8221; tadi. Dia kembali lagi lima menit kemudian.</p>
<p>&#8220;Betul kan, Mbak. Memang bencong dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah. Masa!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, kan Adit tanya tadi. <em>Kamu bencong ya? </em>Trus dia jawab, <em>iya, mas. Tapi aku udah operasi kok, yang penting kan rasanya mas&#8230;&#8221;<strong> </strong></em>Tawa kami berdua pun berderai. Adit ini biarpun badannya gede, tapi karena usianya masih muda dibanding aku, dia selalu membahasakan dirinya dengan &#8220;namanya&#8221;. Aku serasa ngomong dengan keponakanku saja, hihihi..</p>
<p>Kami lalu mengawasi lagi si Denn yang kelihatan kayak raja minyak, cewek di kanan kiri. Seorang ayam hasil tangkapannya datang dan duduk di sebelahku. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok, menawarkannya padaku, tapi aku tolak &#8212; aku tidak merokok. Menyodorkan kotak rokok pada Denn dan Denn juga menolak karena dia tidak merokok. Lalu Denn ajeb-ajeb di depan si ayam itu. Tak lama, cewek berambut lurus panjang itu membuka tasnya, seakan sedang mencari sesuatu. Lalu dia mengeluarkan bungkus merah dan menawarkannya pada Denn lalu pura-pura tersadar bahwa dia salah ambil. Bungkus merah itu dia masukkan kembali. Kondom! Hahahahaa&#8230;. OMG, benar-benar trik yang manis, ya kak! Pandeeee kali kakak nie&#8230;</p>
<p>Si cewek itu menoleh padaku lalu tersenyum. Dia mendekatkan kepalanya dan berkata, &#8220;Mbak, orang India ya?&#8221; Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. &#8220;Bukan.&#8221; jawabku singkat. &#8220;Dari mana?&#8221; tanyanya lagi sambil mengarahkan tangannya, maksudnya kami semua dari mana. &#8220;Jakarta.&#8221; &#8220;Oohh..&#8221; dia tersenyum dan melanjutkan merokok. Aku melihat Denn berbisik padanya sambil menunjuk aku dan teman-teman lain. &#8220;Gue bilang kita teman sekantor,&#8221; kata Denn padaku. Cewek itu mengacungkan jempol kirinya dan mencondongkan badan padaku sambil berkata, &#8220;Good job for you!&#8221; katanya padaku. Sayang aku tidak bisa mengatakan hal yang sama pada dia.</p>
<p>Denn mendekat dan berkata dengan keras (yang hanya bisa aku dan dia dengar tentunya). Aku heran. Kenapa malam ini semua orang seakan-akan melapor padaku? Memangnya aku hansip? &#8220;Sy, punya sepuluh ribu gak? Gua takut salah cabut nih.&#8221; Dia menunjukkan selembar sepuluh ribuan di tangan kirinya. Oh, aku mengerti. Cewek tadi pasti minta uang jasa dua puluh ribu untuk beli minum, dan Denn terlalu mabuk untuk mencabut uang dari dompetnya. Daripada dia salah kasih uang seratus ribu or bahkan seratus dollar sing, gimana? Hahaha&#8230;.</p>
<p>Lalu tak lama bencong jelek itu datang pula mendekati aku. Dia mengatakan sesuatu tapi aku tak dengar dan hanya mengangguk-angguk saja. Dari dekat barulah aku lihat betapa jelas gurat-gurat wajah lelakinya meskipun dipupur make up tebal. Dasar Bang Jo, matanya kurang awas ternyata, masa dia tidak bisa tahu mana bencong mana cewek asli? Wakakakakak&#8230;</p>
<p>Kau tahu, kemanapun aku pergi, aku selalu saja mendapat &#8220;kenalan&#8221; atau sapaan dari wanita-wanita malam yang aku jumpai. Bahkan ketika ada teman wanita lain di sampingku, para midnight lady ini pasti memilih untuk bicara dengan aku. Setelah aku pikirkan, aku rasa mungkin sekali mereka merasa nyaman saat melihatku, jadi berbicara denganku pun mereka tetap santun dan bernada pertemanan. Aku percaya bahwa tidak ada orang yang berani membuka percakapan bila yang dihadapinya terlihat kurang &#8220;welcome&#8221;.</p>
<p>Atau barangkali mereka mengira aku &#8220;mami&#8221;? Wakakakaka&#8230; husshh&#8230; gak ah, aku yakin mereka melihat aku sebagai orang yang terbuka menerima mereka. Suit suitt&#8230; jijay. Eh tapi benar sih, aku memang bukan orang yang gampang menjudge orang hanya dari profesinya. So what kalau dia memang midnight lady? Itu urusan dialah, bukan hakku menilai baik buruknya orang lain.</p>
<p>Jam setengah tiga pagi, kami beranjak ke atas. Aku sudah mengantuk. Jam 5 pagi harus bangun karena mau menyeberang ke Singapura, jadi tetap butuh tidur.</p>
<p>Di dalam lift, Denn bilang sama Adit, &#8220;Gue masih kenceng nih. Ini mo nganter Sy dulu baru balik lagi ke bawah.&#8221; Aku dan Adit cuma cengar-cengir aja. Iyalahhh, atur aja dahh. Kenceng, kenceng, emangnya naik motor? Kenceng&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/04/04/tequila-shot-in-discotheque-batam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Semalam di Pattaya</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/03/16/semalam-di-pattaya/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/03/16/semalam-di-pattaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 16:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Pattaya]]></category>

		<category><![CDATA[sex & the city]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[midnight lady]]></category>

		<category><![CDATA[Pattaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bagaimana suasana malam di Pattaya? Panas. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkannya. Bukan hanya cuacanya saja yang gerah tapi kehidupan di sana juga bikin gerah. Beberapa malam lalu aku ada di Pattaya untuk pelesir gratis dari kantor.</p>
<p>Begitu tiba di Pattaya, check in dan mandi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana suasana malam di Pattaya? Panas. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkannya. Bukan hanya cuacanya saja yang gerah tapi kehidupan di sana juga bikin gerah. Beberapa malam lalu aku ada di Pattaya untuk pelesir gratis dari kantor.</p>
<p>Begitu tiba di Pattaya, check in dan mandi, kami berombongan pergi menonton show banci di Alcazar Theater. Melihat banci cantik tetap tidak pernah terasa membosankan. Mereka luar biasa cantik. Ada yang mirip Angel Karamoy, Manohara, Dian Sastro, hahahaa&#8230; Bahkan ada yang campuran wajah antara KD dan Inul. Buset deh.<span id="more-321"></span></p>
<div id="attachment_322" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><img class="size-full wp-image-322" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/03/1.jpg" alt="Penampilan Banci Alcazar. Hanya mencat seluruh tubuh saja dengan cat, tanpa pakai baju apa-apa. Sexy, but fake." width="576" height="360" /><p class="wp-caption-text">Penampilan Banci Alcazar. Hanya mencat seluruh tubuh saja dengan cat, tanpa pakai baju apa-apa. Payudaranya bulat dan kencang. Sexy, but fake lhoo hehee...</p></div>
<p>Berjalan-jalan malam adalah tujuanku. Kelar nonton show banci, saya dan dua orang teman (satu cewek satu cowok) jalan keluar hotel. Ingin melihat-lihat kota Pattaya di malam hari. Cuaca terasa hangat karena memang sedang cuaca terik di  Thailand. Kami melewati gang kecil di samping hotel. Guide kami menyebut gang itu sebagan Lorong Neraka, karena dari ujung ke ujung pub semua. Pub murah dengan ayam-ayam lokal. Ada ayam gendut, ayam kurus, mereka mejeng di pinggir jalan atau di depan pub-nya. Berpakaian dress mini yang ketat membalut tubuh. Lorong yang aku lewati itu adalah lorong tempat pembuatan film Bangkok Dangerous.</p>
<p>Aku melewati pub itu sambil melirik-lirik ke dalam. Pattaya kota yang aman untuk urusan maksiat, jadi semua hal yang berhubungan dengan maksiat di sana halal hukumnya. Sebuah mobil angkutan sejenis mikrolet lewat. Isinya beberapa pasang turis bule yang saling berciuman.</p>
<p>Semakin jauh kami berjalan, makin banyak pula pub dan klub. Beberapa jelas berada di pinggir jalan raya, tubuh-tubuh gempal bergoyang erotis layaknya penari streaptease. Nah kan, aku marah kalau begini. Mbok ya kuruskan sedikit kek badannya. Kalau mau jualan ya harus jaga bodi, lhoo&#8230; untung aku bukan makciknya, kalau tidak sudah aku ikat di kamar, suruh diet dulu.</p>
<div id="attachment_323" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><img class="size-full wp-image-323" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/03/2.jpg" alt="Salah satu klub malam di Pattaya" width="576" height="360" /><p class="wp-caption-text">Salah satu klub malam di Pattaya</p></div>
<p>Pengunjung bar rata-rata orang bule. Mereka tak malu-malu bergendong rapat dengan ayam lokal seakan sudah mau naik ke tempat tidur, even orang lalu lalang. Bule punya selera banyak di sana, cewek-cewek lokal yang kulitnya item. Tapi mereka bukan item mulus, itemnya dekil. Memang selera bule nih suka ancur ya.</p>
<p>Yang aku dengar, cewek-cewek  Thai tidak begitu tertarik dengan pria Asia. Mareka adalah perempuan-perempuan miskin yang sejak kecil sudah dijual oleh ayah ibunya, jadi bekerja menjadi ayam bergincu juga sekaligus mencari pria bule yang mungkin saja akan kesambet panah cupid, kemudian jatuh cinta padanya, dan dia dibawa bersama si bule ke negaranya. Mimpi Cinderella jadi kenyataan.</p>
<p>Para pria di rombongan kami ingin nonton Thai  Girl Show katanya. Tapi malam itu jadwal Thai Girl Show sudah habis, jadi mereka pun mengundurnya sampai esok malamnya di Bangkok. Sudah pernah nonton show yang satu ini? Ini adalah atraksi dewasa, yang bisa buka tutup botol Coca Cola, bisa keluarkan tikus, macam-macamlah. Lalu di akhir acara, kedua pemain (cewek dan cowok lokal) akan beradegan seks di atas panggung pas di depan penonton. Aku belum pernah nonton dan tidak ingin nonton soalnya sayang Bath-nya. Mending Bath-ku untuk belanja, kecuali kalau dibayari ya gpp hahaha. Aku mendengar cerita ini dari seorang teman cewek yang ikut nonton di malam kedua. Tapi katanya adegan seks itu tidak terlalu jelas sekali karena lampunya kan temaram. Dan ketika dua bintang itu beraksi di atas meja, cahaya lampu semakin diredupkan, sehingga hanya ada lampu sorot yang menyorot sekilas-sekilas. Yah, serasa nonton film porno secara livelah.</p>
<p>Semalam di Pattaya tidak cukup sebenarnya. Sayang kami hanya semalam saja karena besoknya langsung ke Bangkok. Suasana malam di Pattaya memang luar biasa. Kalau ke Pattaya hanya untuk tidur, haduhh sayangnya. Ini adalah daerah bebas segala hal. Kalau kataku sih, Pattaya adalah daerah bebas selingkuh. Siapa yang tahu apa yang bisa dilakukan oleh semua orang yang datang ke sini? Semua pria di bar itu, dengan mulut berbau alkohol dan mata merah kayak ikan busuk. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> But be carefull, guys. Beware of HIV.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/03/16/semalam-di-pattaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Parasit di Soccer Cafe</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/03/07/parasit-di-soccer-cafe/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/03/07/parasit-di-soccer-cafe/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 15:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Medan]]></category>

		<category><![CDATA[clubbing di medan]]></category>

		<category><![CDATA[Clubbing]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[soccer cafe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.</p>
<p>Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.</p>
<p>Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu selama beberapa waktu untuk bertukar kabar. Wakai bilang anaknya bisa dia titipkan dengan ibunya jadi kita bisa keluar. Oh iya Wakai ini seorang single parent, bercerai dengan suaminya saat anak mereka usia 3 tahun.<span id="more-305"></span></p>
<p>Ya sudah, pergilah kami berdua. Waktu itu Wakai bilang, bagaimana kalau kita ajak Ai. Ai ini teman kuliah kami juga dulu, tapi dia satu tingkat di bawah kami. Sebelumnya setamat kuliah dia pindah ke Jakarta bersama orangtuanya, dan dia sendiri baru saja kembali ke Medan entah untuk apa. Aku menyebutnya sebagai cowok pengangguran sok beken, karena actually dia itu hobinya clubbing tapi lebih sering numpang bareng teman. Kami bertemu dengan dia saat main ke Retro beberapa waktu sebelumnya dan setelah obrolan basa-basi, kami semua saling bertukar nomor ponsel.</p>
<p>Aku bilang pada Wakai, Ai bukanlah orang yang tepat untuk diajak. Tapi Wakai bilang, hanya supaya kita aman saja agar tidak ada lelaki tubang yang mengganggu. Okaylah kalau begitu, aku bilang. Toh sebenarnya kami bisa aman meskipun hanya berdua. Aku tahu selalu ada pria iseng di club manapun, tapi mereka juga tahu dirilah kalau cewek yang didekati menolak. Tapi aku pikir, ah mungkin Wakai memang menginginkan ada laki-laki yang ikut. Sekedar pemanis barangkali.</p>
<p>Wakai menelepon Ai dan mengajaknya. But, karena aku pada dasarnya keberatan membawa dia, aku pun mengusulkan untuk pergi ke Soccer Cafe saja. Aku gak mau jatuh level karena bawa orang kayak Ai hihihi&#8230; Soccer Cafe ini kafe &#8220;standard&#8221; yang berlokasi di basement Hotel Grand Angkasa. Masuk ke dalamnya serasa masuk ke pub-pub murahan seperti di film-film. Maklum interiornya kusam sekali.</p>
<p>Aku sebenarnya tidak keberatan kok masuk ke Soccer. Di sini tidak ada musik ajeb-ajeb, dan lebih dominan live music, dan karena pengunjungnya juga biasa-biasa saja alias tidak membludak seperti Retro, kami pasti bisa menikmati musik dengan santai. Aku lebih suka menikmati live music di Soccer daripada di Retro. Tapi harga minuman di Soccer termasuk mahal untuk ukuran pub kelas dua begitu. Tapi yahh, mungkin mereka buat harga mahal karena mereka menumpang di hotel berbintang. Berharap pada tamu-tamu yang menginap.</p>
<p>Benar saja seperti dugaanku. Ai benar-benar terlihat seperti parasit. Bisa kau bayangkan, bahkan rokok saja dia tidak bisa beli. Aku tidak merokok, tapi Wakai iya. Ai bertanya pada Wakai, ada rokok gak? Wakai mengeluarkan rokok mentholnya dan Ai menolak. Saat Ai pergi ke bar, Wakai berkata padaku,&#8221;Kalau mau rokok kita hemat, pilih rokok menthol. Cowok mana suka rokok menthol. Makanya rokokku hemat.&#8221; Aku tertawa mendengarnya. Alasan yang masuk akal, dan aku suka. Ini salah satu trik yang juga pernah dikatakan oleh Utie.</p>
<div id="attachment_306" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-306" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/03/sampoerna-mild-menthol.jpg" alt="sampoerna mild menthol" width="200" height="270" /><p class="wp-caption-text">sampoerna mild menthol</p></div>
<p>Tak lama Ai kembali dari bar, dan dia membual bahwa dia sudah minum satu sloki di sana. Ooouuh plis deh, sloki apa? Sloki air keran maksudnya? Dia datang membawa sebungkus rokok, dan aku tahu dia sudah membayarnya langsung di sana. Dia langsung menghabiskan minumannya, kemudian dengan pedenya dia mengambil minuman Wakai dan menenggaknya. Sebelum dia mengambil Corona-ku, aku mengambil dan memegangnya terus, dengan posisi seakan siap minum, padahal maksudnya agar tidak diambil oleh dia.</p>
<p>Aku bertatapan dengan Wakai. Rasa kesal sudah menjalar di diri kami. Cowok gembel ini kelewatan, tak tahu diri betul. Jelas-jelas dia tak akan membayar minuman kami nanti tapi dia dengan pede menghabiskan minuman. Aku melotot lagi pada Wakai, karena merasa dia yang bertanggung jawab karena telah mengajak Ai. Wakai sebenarnya juga tidak menyangka bahwa laki-laki yang diajaknya ini adalah parasit, karena dia baru bertemu Ai satu kali saat clubbing. Sementara aku lebih sering bertemu Ai dengan orang-orang lain yang bisa dibilang inangnya. Minggu lalu dia datang dengan B, lalu dua minggu sebelumnya datang dengan A, dan begitulah setiap minggu, dia berganti teman setiap datang ke tempat club. Biar bisa menumpang masuk dan minum gratis.</p>
<p>Rencana malam itu bersantai dengan Wakai jadi berantakan karena moodku sudah rusak. Aku tidak keberatan Wakai mengajak kawan mana saja selama orang itu menyenangkan dan  sama-sama enak, dan gak ganggu aku. Tapi ini, dia malah mengajak laki-laki gak bermodal. Dan ketika kami akan bayar-bayaran aku hanya mengeluarkan uang untuk membayar minumanku saja, aku tak mau menanggung minuman si Ai.  Tak pernah terbayangkan dalam pikiranku ada laki-laki seperti itu.</p>
<p>Kami berpisah di parkiran karena Ai katanya mau menumpang temannya saja yang baru datang. Baguslah, lagipula siapa yang mau anterin dia?</p>
<p>Di tengah jalan, saat aku mengantar Wakai pulang &#8212; di dalam mobil &#8212; kami membahas kelakuan Ai itu sampai berbuih. Ai yang waktu kuliah dulu bisa dibilang anak orang berpunya ternyata sekarang tidak jadi apa-apa. Entah apa kerjanya di Jakarta dan kenapa dia kembali ke Medan, siapa yang tahu kebenarannya. Dia benar-benar lelaki yang menyebalkan. Siapa coba perempuan yang mau dengan laki-laki begitu, yang bahkan beli rokok atau minum untuknya sendiripun tak mampu? Well, let say dia memang bokek, but menjadi parasit bukanlah cara yang terpuji. Pengen tampil keren tapi menumpang, aduhhh plis deh.</p>
<p>Saat aku turunkan Wakai di depan rumahnya, aku bilang, jangan pernah lagi ngajak-ngajak dia ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/03/07/parasit-di-soccer-cafe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Chit-chat @The Barrels</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/03/06/chit-chat-the-barrels/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/03/06/chit-chat-the-barrels/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 14:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[Clubbing]]></category>

		<category><![CDATA[Heineken Beer]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta 24 jam]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<category><![CDATA[The Barrels]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[<p>Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc &#8212; salah satu member group yang stay di Medan &#8212; langsung buat ikon sedih karena dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc &#8212; salah satu member group yang stay di Medan &#8212; langsung buat ikon sedih karena dia tak bisa ikut bersama kami.<span id="more-295"></span></p>
<p>Aku datang duluan seperti biasa. Tadinya aku pikir aku sudah telat, karena aku jalan setelah anakku selesai makan (kau tahu, dia begitu lambat menghabiskan makanannya lho, bisa satu jam setengah). Sampai di La Piazza, ternyata Op belum ada, padahal tadi dia ribut tanya-tanya di group chat kami ada dimana. Dd mengirim pesan, katanya dia masih di Pulomas. Dia sudah bilang akan datang telat, karena menunggu Yud abangnya pulang kerja. Kami memang mau kumpul semua, aku, Op, Dd, dan pasangan pengantin baru, Yud dan Dee.</p>
<p><em>Well, La Piazza is a really cool place</em>. Pilihan resto dan kafe-nya banyak, dan the outdoor venue adalah pilihan favorit pengunjung karena berhadapan langsung dengan stage. Ada <em>live music</em> di sini.</p>
<p>Tak berapa lama Op datang. Dia mengeluh karena susah mencari parkir. Volvo-nya lumayan makan tempat sehingga agak repot berkeliling. Kutanya kenapa tidak vallet saja. Malas, katanya, karena ada banyak barang di mobil. Op tidak berubah, style nya tetap seperti dulu. Always rapi dan keren. Kemeja lengan pendek yang terseterika licin dimasukkan ke dalam celana yang juga sama licinnya, cambang yang bersih tercukur, sepatu hitam mengkilat. Jam mahal di tangan sebelah kanan, serta dua cincin di jari sebelah kiri. No, dia tidak kelihatan seperti bapak-bapak, dia terlihat persis anak muda yang keren. Dia sebaya denganku tapi belum menikah.</p>
<p>Karena Dd belum datang, kami memutuskan untuk duduk duluan di luar, di depan panggung. Tadinya aku mau di dalam saja, ada venue yang disewa barengan oleh The Barrels dan Bakoel Koffie. Di situ ada sofa. Tapi kami telat, saat celingak-celinguk tahu-tahu sudah ada orang lain yang masuk duduk di sofa. Ya sudah, di luar juga tidak apa-apa. Udara malam hari itu cukup sejuk, nikmat sekali. Anakku kelihatan senang, dia main kesana kemari sambil tertawa-tawa riang. Kami mengobrol dan bergosip, hmm sebenarnya bukan bergosip, tapi sharing knowledge hahaha..</p>
<p>Setengah jam kemudian baru datang Dd, Yud, Dee, dan&#8230;. maminya? Loh, kenapa si Tante ikutan kesini? Aku dan Op refleks berpandangan dengan tatapan bertanya-tanya. Belum apa-apa kami sudah khawatir, kenapa maminya Dd ikut kesini? Ini kan acara anak muda. Si Tante berbasa-basi sebentar lalu katanya dia mau pergi belanja dulu untuk Derder (wah, Derder juga ikut? Sekeluarga bo&#8217;) yang sudah menghilang entah kemana, mungkin ketemu teman sekolahnya yang juga lagi main di La Piazza. Derder ini adiknya Dd yang masih duduk di kelas 1 SMU. Adik termuda dari persaudaraan kami.</p>
<p>Aku lihat Tante mengajak Dee ikut dengannya. Wah, aku langsung senyum-senyum. Aku tahu betul Dee pastinya ingin bergabung dengan kami tapi dia kan tak mungkin menolak permintaan ibu mertua (baru nikah pula!). Aku kenal baik sifat Tanteku ini, dia pasti bilang sama Dee agar membiarkan kami sepupu-sepupuan bercerita dan saling melepas rindu. Nasibmulah, Dee.</p>
<p>Yud tampil casual. Dia tidak separlente Op dalam berpenampilan. Lalu Dd? Adikku yang gendud itu seperti biasa dengan gaya santainya, bercelana pendek, dan pakai kaos oranye Bart Simpson. Buset deh, makin bulet aja jadinya. Gayanya persis kayak cukong, bawa tas kecil berisi dompet, uang, dan beberapa ponsel.</p>
<p>Dd yang paling semangat dengan acara kami ini. Segera dia memesan satu pitcher draught beer Heineken dari The Barrels, sementara aku dan Op sebelumnya sudah terlanjur pesan beer gelas (draught Heineken juga) dari Pisa Cafe. Dan ternyata kami memang salah. Beer segelas di Pisa harganya 40 ribuan, padahal kalau beli pitcher dari The Barrels cuma 115 rb yang bisa dapat 4-5 gelas. Yah maklum saja, tadi kan Dd dan Yud belum datang, kami berdua kan tidak ingin terlihat seperti orang mau mabuk, cuma berdua tapi udah pesen pitcher, hehehee&#8230;</p>
<div id="attachment_297" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><img class="size-full wp-image-297 " src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/03/heineken2.jpg" alt="one glass is not enough" width="576" height="391" /><p class="wp-caption-text">one glass is not enough</p></div>
<p>Aku tidak begitu suka Heineken sih sebenarnya. Tapi mereka tidak menjual Corona. Yang ada bir Bintang, Heineken, dan Bir Hitam. Buset deh, bir hitam? Jadi ingat petualangan minum bir hitam dengan Elz, hahahah! Ya sudahlah, tidak ada pilihan toh?</p>
<p>Kami mengobrol sambil diiringi tampilan live music dari seorang penyanyi cowok. Beberapa cewek di meja lain terlihat melambai pada Dd, oohhh ternyata mereka teman SMP nya Dd. Sekitar jam 9, aku lihat anakku sudah mulai mengantuk sementara pitcher kedua baru datang. Anakku pun tertidur di pangkuanku baru kemudian aku pindahkan ke pangkuan susternya. Tak mungkin bisa mengobrol sambil memangkunya, aku takut dia terbangun nanti.</p>
<p>Dulu waktu aku masih kuliah, aku sering liburan ke Jakarta dan sering jalan bareng dengan Op dan Yud (Dd gak ikutan karena waktu itu dia masih anak kecil, ga level diajak). Kami menertawakan kenangan-kenangan kami, termasuk waktu mobil Citroen Op beberapa kali panas di tengah jalan, lalu menertawakan ketololan Dd waktu pertama kali dicekokin bir sama Op waktu kami karaoke di Lembang. So silly! Aku bilang, sekarang sok tua minumnya Jack D padahal dulu minum bir aja sembunyi-sembunyi.</p>
<p>Yud mengusulkan agar bulan depan clubbing bareng, sama-sama sepupu yang lain. Lalu nanti kita buka botol ini itu, pesan minum ini itu. Aku manggut-manggut saja, tidak berani berjanji dulu. Dd dan Op semangat sekali tentu saja, dengan syarat kakaknya Op jangan diajak hahaha&#8230; Gak seru bawa kakak, mau minta buru-buru pulang, katanya. Ya iyalah, kan ada anaknya di rumah, wajar dong minta pulcep. Dasar cowok-cowok, kataku. Loh, emang Dee mau kalo kita ajak dugem? Tanya Op. Oh, dia mau pulkam kok di tanggal itu, jawab Yud. Hahaha&#8230; ngakaklah kami, ternyata ada gunanya juga Dee dibawa sama Tante tadi, karena memang benar, kami membutuhkan privasi saat berkumpul begini.</p>
<p>Mungkin orang akan mengira kami adalah sekelompok teman-teman lama yang lama tak bertemu, karena wajah kami semua tidak ada yang mirip, bahkan mendekati sekalipun. Dd dan Yud maminya orang cina, dan Dd tampangnya cina abis, persis kayak cukong dari Roxy. Op, wajahnya memang mirip bapaknya, tapi tidak terlalu kelihatan batak. Lalu aku, dengan tampang orang dari daerah Timur, jelaslah sudah. Siapa yang akan menyangka kalau kami bersaudara?</p>
<p>Saat bil datang, nah ini yang paling aku suka. Akhirnya kami semua patungan, hahaha&#8230; Aku membayar untuk pesanan Pisa Cafe karena aku harus membayar untuk makanan anakku dan minuman susternya, sementara pitcher dibayar oleh mereka.</p>
<p>Sebelum aku beranjak duluan &#8212; karena anakku sudah lelap sekali sampai tak terpengaruh suara musik yang ribut &#8212; Dd mengingatkan lagi tentang rencana bulan depan. Dugem sampai pagi. Oke, dipikirkan dulu ya, begitu kataku berlalu sambil menggendong anakku. Hehe&#8230;.</p>
<p>Ah sebenarnya aku tidak yakin aku mau ikutan. Hmm..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/03/06/chit-chat-the-barrels/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Small Dinner @ Pancious</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/02/22/small-dinner-pancious/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/02/22/small-dinner-pancious/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 16:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[makan di jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta 24 jam]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku jalan-jalan malam lagi, kali ini keluar kongkow dengan teman-teman lama. Sempat miskom juga, karena Lin tidak memberi petunjuk dengan benar. Katanya &#8220;Seberang Gading 1. Seberangnya Pizza Hut.&#8221; Dalam bayanganku, lokasinya di dalam Mall Kelapa Gading 1, kan ada PH juga di situ. Lalu aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku jalan-jalan malam lagi, kali ini keluar kongkow dengan teman-teman lama. Sempat miskom juga, karena Lin tidak memberi petunjuk dengan benar. Katanya &#8220;Seberang Gading 1. Seberangnya Pizza Hut.&#8221; Dalam bayanganku, lokasinya di dalam Mall Kelapa Gading 1, kan ada PH juga di situ. Lalu aku kira mungkin maksud dia seberang itu ke arah La Piazza. Wow, ternyata maksudnya adalah di jalan raya boulevardnya. Padahal aku sudah turun lengkap dengan stroller anakku di Gading 1. Dan ternyata semua teman juga menyangka bahwa yang dimaksud dengan &#8220;seberangnya gading 1&#8243; adalah di dalam komplek mkg juga. Merepet-repetlah kami semua.</p>
<p>Akhirnya suara terbanyak sepakat bahwa kita akan stay di mall saja, tidak jadi menyeberang ke kafe coklat yang dibilang Lin itu. Di dalam mall lebih gampang kalau mau kemana-mana.<span id="more-271"></span></p>
<p>Ini adalah pertemuan kami yang kedua, kongkow bareng. Padahal kami semua sudah kumpul di Jakarta, tapi bertemunya susah setengah mati. Kami bertemu hari Senin malam di hari kerja juga karena alasan Ren pasti tidak bisa kalau ketemuan wiken (dia pulang ke Bandung ketemu suami). Tapi siangnya Ren sempat menyebalkan. Sesaat begitu Lin mengusulkan untuk makan di Yuraku, dia dengan entengnya langsung bilang,&#8221;Aku tidak ikut kalau di Yuraku. Sorry.&#8221; Aku lihat grup chat kami hening sesaat, Chie tidak merespon, juga Lin. Aku akhirnya buka suara. Aku bilang, kalau kau tidak mau di Yuraku kasih alasan yang jelas. Jangan asal bilang gak ikut aja, toh kami semua memilih kowbar di hari Senin (bayangkan, kongkow kok hari Senin?) supaya kau bisa ikut. Kalau tidak mau Yuraku, usulkan saja yang lain. Jangan main lari aja! begitu kataku ditambah tanda seru. <img src='http://susucoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Suasana grup sepi sesaat. Baru akhirnya Ren menjawab, katanya dia bosan di Yuraku. Ya sud, bilang bosan saja kok susah. Aku sih curiga dia begitu karena tidak terima saja usulan Yuraku itu dari Lin. Seperti biasa, kan dia memang sedikit sentimen sama Lin, dan hanya dialah yang tahu kenapa. Kalau sampai dia tidak datang hanya gara-gara Lin mengusulkan Yuraku, aku bisa ngamuk. Tadinya kan aku usul Selasa malam saja, maksudnya sih misalnya nih kami kemalaman, anakku besok paginya masih bisa bangun siangan. Sementara kalau kongkow Senin malam, Selasa pagi anakku sudah harus bangun karena harus sekolah, kasihan kan masih ngantuk. Tapi karena semua maunya Senin, ya sudah aku mengalah tidak apa-apa, jadi maaf saja aku langsung jadi judes karena Ren sok merajuk hanya gara-gara usulan Lin. Gak pada tempatnya ngambek sama teman-teman yang sudah berkorban kongkow di hari kerja biar dia bisa ikutan.</p>
<p>Kami makan di Pancious. Aku agak bosan sebenarnya karena ini-ini melulu makannya, pancakee mulu, tapi sudah jam 7 malam, dan sudahlah, yang penting kan kami bisa kumpul dan ngobrol-ngobrol, itu intinya. Lin datang terlambat, buset dehh.. janji jam 7, dia sampai di situ jam 8. Tapi sebenarnya no probz lah, karena aku dan Lin kan bisa bertemu tiap hari di kantor, lalu Lin tiap hari ketemu Ren karena mereka satu kontrakan (bayangkan, sentimen sama teman sekontrakan :p), cuma memang ketemu sama Chie saja yang jarang-jarang. Dulu Chie sekantor sama kami waktu masih di Medan, sekarang dia pindah ke perusahaan kompetitor.</p>
<p>Eh jangan salah lho, aku cuma makan seporsi saja :D. Ren dan Chie masing-masing 1 1/2 porsi, Lin seporsi saja, anakku seporsi cream soup, dan pancake untuk susternya. Biarpun judulnya kongkow, tapi tetap harus dijaga makannya, takut gendut :D.</p>
<p>Aku lebih banyak mengamati &amp; mendengarkan teman-temanku mengobrol. Kami berempat punya banyak cerita, jadi sepertinya semua heboh ingin cerita, dan aku menikmati saja. Bergantian bercerita. Ini adalah malam yang menyenangkan untukku, karena kami mengobrol dengan suasana yang hangat. Karena kami semua dari Medan, cewek-cewek batak pula, dan meskipun kami sekarang stay di Jakarta, tapi kalau sudah berkumpul, kami akan mengobrol dengan bahasa &amp; dialek orang Medan.  Gak ada lu gue, tapi kau, aku, bodat, borjong, lontong, tahapa-hapa, kekmana, dan banyak lagi hahahaa&#8230; Cuma Ren yang memang sedikit jaim kalau bicara, kadang di depan kami masih saja sok ber-&#8221;lu gue,&#8221; biasanya langsung aku sindir, <em>perasaan aku yang lebih lama di Jakarta dari kau, tapi kau pulak yang udah jadi orang Betawi kutengok.</em> Hahahaha&#8230;</p>
<p>Jam sembilan kurang, kami berpisah. Aku ingin segera pulang karena aku lihat anakku sudah mulai mengantuk. Kami changing dulu di toilet, mengganti bajunya dengan piyama, karena aku tahu dia pasti akan langsung terkulai di mobil.</p>
<div id="attachment_285" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-285" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/02/mv.jpg" alt="21.05 waiting car @ lobby" width="550" height="438" /><p class="wp-caption-text">21.15 waiting car @ lobby</p></div>
<p>Aku dan Chie berpisah di depan lobby Mall 3, sementara Ren dan Lin masih di dalam mall, masih mau muter-muter lagi. Ah, masih terasa rindu sebenarnya berkumpul. Mungkin dua atau tiga bulan lagi nih baru bisa ketemu.. dan di hari kerja tentunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/02/22/small-dinner-pancious/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Om Jack</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/02/14/om-jack/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/02/14/om-jack/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jack daniels]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hmm. Aku melihat ponselku. Hang. Kenapa sih ponsel sekarang gampang sekali hang? Sepertinya semakin mahal harga ponsel kok malah semakin sering hang ya? Padahal ponsel SonEr ku ini lebih sering dalam posisi stand by, tapi barusan aku terima telepon dari tukang tas, kok nge-hang. Tukang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm. Aku melihat ponselku. Hang. Kenapa sih ponsel sekarang gampang sekali hang? Sepertinya semakin mahal harga ponsel kok malah semakin sering hang ya? Padahal ponsel SonEr ku ini lebih sering dalam posisi stand by, tapi barusan aku terima telepon dari tukang tas, kok nge-hang. Tukang tas mau datang sebentar lagi. Aku melirik jam dinding, sudah hampir pukul sembilan. Aku tadi tertidur ternyata. Seharian ini capek juga karena seharian di luar.<span id="more-261"></span></p>
<p>Biar sedikit segar, aku membuat es teh manis saja. Di rumahku memang jarang ada cemilan, seadanya saja. Cuma ada roti tawar saja, cemilan standar.</p>
<p>Bb ku berbunyi, aku lihat notifikasi dari grup chat. Oh, grup chat ku dengan sepupu-sepupuku. Aku hanya melirik saja, tidak bergeming. Malas.</p>
<p>Sepupu-sepupuku di grup chat itu sedang gila. Mereka ajak aku kongkow bareng malam-malam, lalu aku pula yang disuruh traktir. Huaduhhh, aku bilang memangnya aku konglomerat apa? Lalu Op bilang, uangku kan gak berseri, sebotol dua botol Om Jack gak masalahlah. Dan si Dd seperti biasa menggunakan dalih bahwa dia masih adekan jadi dia gak punya kewajiban untuk membayar.</p>
<div id="attachment_262" class="wp-caption aligncenter" style="width: 386px"><img class="size-full wp-image-262 " src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/02/jd.jpg" alt="" width="376" height="566" /><p class="wp-caption-text">Om Jack</p></div>
<p>Buset deh! Gak berseri darimana? Kalau aku mau traktir sepupuku, ya harus pakai uangku sendiri dong, masa iya aku minta uang suami, yang benar saja. Dan traktirnya beli Jack D pula&#8230; huuu rugi. Aku bilang sama mereka, aku gak sudi mentraktir mereka Jack . Soalnya aku kan gak doyan Jack D, terus aku juga bukan tukang mabok yang minum sampai berbotol-botol.</p>
<p>Dan satu lagi, aku sudah punya suami dan sudah punya anak. Sebenarnya Re tidak masalah aku kongkow dengan sepupu-sepupuku dan sedikit minum-minum, tapi aku saja yang tidak sanggup meninggalkan anakku di rumah demi bisa kongkow teler sama sepupu-sepupu. My daughter is my boss.</p>
<p>Aku bilang aku traktir saja Tony Jack, gimana? Kan sama-sama Jack. Dasar sepupuku matrek semua, sudah bisa ditebak mereka gak mau. Tetap memaksa aku harus traktir mereka di kafe yang mahal dan harus ada Om Jack. Lama-lama aku jadi kesal. Dari dulu kayaknya aku atau abangku (yang di Medan) selalu saja diporotin sama sodara. Masalahnya tidak pernah sekalipun dalam hidupku aku minta traktir or minta apapun sama mereka, dan secara hirarki duit juga, ya ampunnn duit mereka berkali-kali gaji ku kali.</p>
<p>Tapi memang dasar mereka merki aja, maunya dibayarin tapi gak pengen bayarin orang. Minta ditraktir tapi pake nentuin pula maunya dimana, dan yang mahal-mahal pula. Aku sih biasanya gak keberatan kalau habis dari mana terus si Dd titip pesen fast food kesukaannya yang mahal itu, karena aku suka berbagi. Dan aku care dengan saudara. Tapi kalau jadi keterusan sering minta dan pakai nentukan tempat, aku tersinggung juga jadinya. Kenapa gue melulu yang harus jadi cukong nih&#8230;!</p>
<p>Pantas saja waktu abangku kemarin mau datang ke Jakarta dan supirku tidak bisa menjemputnya karena harus antar anakku sekolah, kan aku tanya kenapa tidak minta dijemput Dd saja. Abangku bilang  begini, hhmmm&#8230; Dd jajannya beratt&#8230;. sehari bisa koyak sejuta! Buseettttttt&#8230;..!</p>
<p>Waktu aku curhat sama Re, Re bilang, udah suruh saja makan di rumah, kita beli bihun dari warung depan. Terus beli bir bintang aja&#8230;. beres kan? Huh..! Tidak menyelesaikan masalah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/02/14/om-jack/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Yang Sejuk</title>
		<link>http://susucoklat.com/2010/01/13/malam-yang-sejuk/</link>
		<comments>http://susucoklat.com/2010/01/13/malam-yang-sejuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 12:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nightlovers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Night in Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[Night in Medan]]></category>

		<category><![CDATA[baileys]]></category>

		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susucoklat.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.</p>
<p>Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.</p>
<p>Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam sambil menatap bintang di langit. Tak lupa segelas susu coklat panas dan setangkup roti bakar mendampingiku. <span id="more-253"></span></p>
<p>Ah, coba ada Baileys. Sedikit campuran Baileys tentu akan membuat suasana menjadi lebih soft dan warm. Tentu saja itu menurutku, lho. Karena aku dulu sering mencobanya. Baileys Hot Chocolate, dengan versiku tentunya. Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://susucoklat.com/wp-content/uploads/2010/baileys.jpg" alt=" " /></p>
<p>Hahahaha.. aku jadi ingat pada temanku Am. Dulu kalau kami main biliar bersama waktu aku masih di Medan, kami suka order minuman yang ada campuran Baileys-nya. Lalu setelah itu kami akan membanding-bandingkan, minuman mana yang terbaik di antara sekian banyak minuman itu. Tentu saja dengan gaya bak pencita rasa sejati. But, menurutku taste setiap orang tentu beda-beda, dan ketika dia berubah menjadi seorang pencita rasa, itu karena dia telah melakukan banyak latihan. Dengan kata lain tentu saja dia harus banyak-banyak mencicipi. Asal selalu ingat untuk berhenti saja.</p>
<p>Brr&#8230;! Roti bakar ini terlalu kering. Aku menyetel toaster terlalu lama tadi, dan sekarang rotinya kering plus sedikit gosong. Hmm, mau kasih ke siapa ya? Kami tidak punya binatang piaraan di rumah. Waktu di Medan, jalan depan rumah lengang sehingga banyak kucing liar berkeliaran. Kucing-kucing itu adalah pemakan segala, jadi pastilah roti kering pun mereka libas. Seandainya sendal butut juga bisa dimakan mungkin akan mereka makan juga, hahahaa&#8230;</p>
<p>Ya sudahlah, daripada mubazir, kumakan saja. Dicelupkan ke susu coklat tadi lumayan juga ternyata rasanya.</p>
<p>&#8220;Aahhh&#8230;. Aahhh..&#8221; Aku menoleh. Oh, anakku ternyata. Dia menyusul ke teras samping. Seperti biasa tangannya menunjuk-nunjuk laptopku ini, dia ingin ikut berpartisipasi.</p>
<p>Oke. Aku pergi dulu ya. Malam ini tidak bisa lama-lama bercerita. Sekarang saatnya bermain kuda-kudaan dulu dengan anakku. <em>Nite..!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susucoklat.com/2010/01/13/malam-yang-sejuk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
