• Home
  • About
  • Contact

Archive for the 'Night Story' Category

InconvenienceS

December 21st, 2009 by nightlovers

Anakku sudah dua kali ikut terapi sensory integrasi. Tiga minggu lalu aku datang membawanya untuk observasi, dan kemudian tante — oh iya karena di klinik ini pakai bahasa ibu, tidak ada lagi aunty disini, tapi “tante” — menentukan hari terapi untuk anakku.

Saat observasi, anakku terlihat antusias sekali. Main kesana kemari, memanjat ini dan memanjat itu, sementara seorang tante yang dedicated untuknya terus menemani dan mengajaknya berinteraksi. Saat itu ada dua tante, aku duga mereka adalah lulusan psikologi, satunya bermain dengan anakku, satu lagi mengobservasi. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night Story

“KHUSUS”

November 25th, 2009 by nightlovers

Aahh..! Tumben cuaca malam ini begitu bersih dan terang. Tidak hujan, bahkan tidak ada rintik sedikitpun. Aku sedang di jalan bersama tante, anakku, dan susternya, menuju Kelapa Gading. Aku dapat jadwal konsultasi jam 7 malam bersama seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang, maka kami harus bergegas. Begitu tiba, kami langsung naik ke lantai 2. Re tidak bisa ikut karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal.

Pemandangan di klinik ini berbeda dengan yang pernah aku datangi. Kalau di rumah sakit tempat aku biasa membawa anakku untuk kontrol banyak bayi dan toddler yang ribut lari kesana kemari, tapi di sini aku hanya melihat seorang bayi, selebihnya sudah bisa dikatakan toddler, dan juga ada yang sudah anak-anak. Dan sebagian besar dari mereka adalah anak “berkebutuhan khusus”.

Tadi di lantai 1, ada seorang anak yang sebesar anakku, terus dipangku ibunya. Aku tak tahu apa yang dipakainya, tapi anak itu tidak mengenakan diaper, tapi ada kantong di pangkuan ibunya, yang kelihatannya berisi air seni. Anak itu bolak-balik pipis. Aku lihat kaki dan betisnya lurus saja, tidak berotot, hmm.. mungkin dia tidak bisa jalan? Entahlah.

Seorang anak yang kira-kira berumur lima tahun, diam saja saat pertama masuk, tapi ketika disuruh menimbang berat badan, dia mengamuk dan memberontak. Ada lagi seorang bocah yang duduk menunduk, tak mempan oleh bujukan ibu dan neneknya. Ketakutan disuruh ambil darah. Anakku lewat dan berhenti di depannya, lalu menunjuk-nunjuk gambar di baju kaos anak itu. “Uh..! Uh..!” Lalu aku dengar si nenek bersuara, “Tuh lihat, adeknya aja gak takut, malu lho sama adeknya.” Aku tersenyum mendengarnya.

Lalu aku lihat seorang ibu turun dari tangga lantai 3. Ia menggendong anak perempuannya yang aku tebak mungkin usianya sekitar 5-6 bulan. Anak itu begitu mungil, kecil sekali, seperti sebuah boneka anak perempuan yang dipakaikan legging dan sweater. Siapa yang bisa menebak berapa besar sebenarnya tubuh yang terbungkus sweater dan legging itu?

Perhatianku teralihkan oleh teriakan anakku. Ternyata dia marah karena mau main tapi dipegangin terus sama susternya. Klinik ini memang relatif kecil, tapi lumayan bersih menurutku. Di depan tangga ada pintu besi pengaman yang dijaga terus oleh petugas. Jadi kalau ada orang naik dan turun, dia yang akan membuka dan menutup pintu pengamannya.

Suster keluar dari kamar dokter. Bersama si ibu dengan anak boneka. Anak boneka itu digendong oleh neneknya. Aku melihat si ibu duduk di sofa dan menangis, dan suster mengucapkan sesuatu padanya. Dari tempatku duduk, aku bisa merasakan aura kesedihan dari si ibu. Dalam hati aku bersyukur karena anakku masih lebih sehat daripada anak-anak di sini.

Suster memanggil nama anakku. Aku bangkit dari kursi, meminta tanteku menunggu sementara aku mencari anakku yang ternyata masih asyik main di sudut sana. Aku deg-degan saat melangkah masuk ke dalam kamar praktek, deg-degan karena cemas dengan apa yang akan aku hadapi. Dokter masih di ruang sebelah, istirahat sebentar, begitu kata susternya. Sambil menunggu dokter datang, aku malah semakin deg-degan.

Aku datang ke klinik itu karena anakku belum bisa bicara. Dia memang terlambat bicara, karena di usianya yang sekarang satu kata pun belum bisa diucapkannya. Aku tentu paham bahwa perkembangan setiap anak berbeda, karena anak itu unik, tidak ada yang sama. Tapi sebagai orangtua, aku tentu bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak.

Dokter datang. Dia sudah berumur, dan ternyata dia seorang pribumi. Wew. Bukannya aku rasialis, lho. Hanya saja aku terbiasa bertemu dokter spesialis yang canggih-canggih yang biasanya adalah keturunan tionghoa. Dan di bayanganku, karena ini di daerah Kelapa Gading, pasti dokternya orang tionghoa juga. Hahahaha… so silly. Sebenarnya ini adalah kali kedua aku bawa anakku ke dokter tumbuh kembang. Yang pertama ketika anakku berumur 1 tahun dan dia belum bisa berdiri sendiri tanpa bantuan. Dititah saja dia belum mau waktu itu. Saat umur 1 tahun itu dia baru bisa merambat.

Dokter mengajak anakku bercanda. Anakku bermain dan dia memperhatikannya. Melakukan beberapa tes ini itu, dan dokter juga mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Entahlah, pertemuan ini terlalu singkat menurutku, dan aku rasa dia melakukan tes terlalu terburu-buru, hanya 20 menit kami di dalam. Beda dengan dokter tumbuh kembang yang pertama, dimana kami di dalam sampai 1 jam karena dia sabar melihat anakku main.

Hatiku berdegup kencang ketika dokter bilang, “Iya, memang ada sedikit.” Maksudnya anakku memang ada sedikit bakat “berkebutuhan khusus”. Tapi hanya sedikit, katanya berusaha menenangkan aku. Dia pasti sudah biasa bertemu orang tua yang cemas dengan keadaan anaknya. Dokter bilang, aku tidak perlu khawatir, karena anakku tidak separah yang aku bayangkan, tapi memang bakat itu ada, even hanya 5%.

Sebenarnya ini tidak aneh lagi bagiku, karena dulu waktu anakku berumur sembilan bulan, seorang dokter spesialis naturopatik dengan gelar profesor — dia adalah dokter keluarga kami — juga bilang bahwa anak kami ini ada bakatnya, jadi kami harus membimbingnya dengan benar. Karena kalau dibiarkan, dari yang 5% itu bisa membesar. Sejak usia sembilan bulan itu, sampai sekarang kami masih pakai sebuah alat terapi naturopatik — yang harganya luar biasa bikin bangkrut, hahaha… — untuk anak kami. Di samping itu, aku juga membuat jadwal bermain dan belajar yang cukup ketat untuk anakku setiap Senin-Jumat (kalau Sabtu Minggu dia libur belajar, sama kayak orang dewasa, hehee… ) sehingga meskipun si Keras Kepala itu belum bisa bicara, tapi dia berkembang normal seperti anak lainnya. Hapalannya cepat. Sudah mengerti banyak kebiasaan di rumah itu. Dan akalnya juga luar biasa abunawas-nya. Sudah bisa ngerjain orang pula, salah satunya ya ngerjain aku.

Dokter bilang, anakku butuh terapi, yang namanya terapi Sensor Integrasi. Ini adalah sejenis terapi bermain dimana disediakan alat-alat permainan yang sudah didesain khusus untuk mengasah sensor integrasi anak. Ya seperti balok-balok titian, kolam bola, balok panjatan, luncuran. Hmm.. Sepertinya sih sama saja ya dengan jenis arena permainan di sekolah anakku yang sekarang. Tapi bedanya dimana, tentu aku hanya bisa tahu setelah aku mengikutkan anakku di kelas itu. Katanya terapi SI ini memang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain terapi di sekolah, si ibu juga akan dibekali ilmu terapi (bermain) yang sama, agar di rumah juga bisa berlatih bersama anak. Seems fun ya..

Bagaimana perasaanku mendengar diagnosa dokter? Hmm. Biasa saja sih. Aku tidak pernah kecewa dengan anakku, apapun itu. Mungkin pernah terbersit perasaan tidak puas, tapi itu lebih ke suggest pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi dalam mengurus anak. Buatku, anak adalah gifted dari Tuhan, jadi aku harus ikhlas dengan semua yang ada di dalam dirinya.

……

Pulang dari klinik, kami berempat makan seafood dulu di Gading Food City. Sudah lama aku tidak makan ikan bubara bakar, jadi makan malam kali ini terasa begitu nikmat. Di resto Ujung Pandang kami duduk dan makan dengan lahap. Aku lihat anakku tidak mau kalah. Bolak balik minta tambah. Telunjuknya menunjuk ke arah ikan bakar, “Uh?!”. Lalu tak lama begitu isi di mulut sudah habis, telunjuknya ganti menunjuk piring berisi cumi goreng tepung. “Uh..?!” Heheheheee…

Cepat bicara ya, Vay… biar kita bisa baca buku sama-sama…. :)

| RSS | Category: Night Story, Night in Jakarta

Sedikit Maaf

October 20th, 2009 by nightlovers

Tadi pagi Tin mengirim sms. Aku pernah cerita padamu tentang dirinya disini, ingat? Dia adalah salah satu mantan teman yang sudah lama tak bertemu. Karena smsnya masuk berbarengan dengan beberapa sms lainnya, sms itu luput dari perhatianku. Aku mengabaikannya seharian, hingga sore hari ketika aku menyetir pulang ke rumah, baru aku teringat akan sms itu.

Dia mengajakku bertemu hari ini, begitulah yang aku tangkap dari smsnya. Aku membalas smsnya, kukatakan padanya bagaimana kalau besok saja, soalnya ada seorang kawan lain yang juga ingin bertemu dengannya. Selain itu, ya ampun, ini mendadak sekali. Aku tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap, termasuk menyiapkan anakku dan semua keperluannya, karena seperti kau tahu, kemanapun aku pergi, anakku harus ikut, karena kami kan satu paket. Jika kupaksakan, akan terlalu malam bagi aku dan Tin untuk bertemu.

Tin membalas, katanya dia harus pulang besok ke Jerman, dan sebenarnya dia berharap sekali dapat berjumpa denganku. Tapi dia tak mau memaksa bertemu, karena mengerti dengan situasi Jakarta. Okay then, bukan rejeki, aku bilang begitu. So aku tak jadi bertemu dengannya bukan karena aku masih belum bisa memaafkan dia dan berusaha terus menghindarinya (walaupun bukan tak mungkin nanti kulakukan lagi), tapi memang begitulah kejadiannya.

Enough tentang Tin.

Aku sedang merenung tentang jalan hidup. Bisakah kau menduga kapan kematianmu tiba, dan pernahkah kau terpikir bagaimana caramu mati? Aku jadi ingat sebuah film yang memperlihatkan kejadian di masa akan datang dimana kita bisa tahu bagaimana maut menjemput kita. Mengerikan.

And now about Bams.

Bams, nama cowok itu. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, berkulit sedikit coklat dengan banyak bekas luka di lengannya. Dia pernah jadi salah satu canvaser di kantor kami di Medan. Ulet dan giat mencari pelanggan, dan katanya sih dia menekuni dunia modelling juga. Beberapa temanku sempat menuduhnya bencong. Ya, mereka pakai kata “bencong” untuk menggambarkan Bams, karena wajahnya yang manis memang sedikit mirip banci. Tapi aku bilang dia itu bukan bencong, dia laki-laki, even aku tak tahu pasti soal orientasi seksualnya.

Beberapa kali dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, dia ikutan nimbrung. Awalnya dia bisa menyenangkan juga, alias bisalah dijadikan salah satu ikon konyol. But ternyata kami salah menilainya. Entahlah apa yang salah dengan dirinya. Tapi mungkin lebih tepat bila kukatakan, dia belum bisa masuk ke dalam “gaya kami.” Beberapa kali dia salah dalam menempatkan dirinya.

Aku ketemu dengan Bams terakhir kali dua tahun lalu waktu aku masih hamil tiga bulan dan kami (aku dan Re) mudik lebaran ke Medan. Hmm, Re waktu itu kayaknya sedang pergi ke rumah saudaranya, jadi aku pun pergi bertemu dengan teman-teman lama. Saat itu Bams juga diundang untuk reuni bersama. Dan komentarnya ketika melihatku adalah,”Kak, kakak gak cantik lagi sekarang, udah jelek. Jerawatan gitu.” Dan kubalas dengan nada sebal,”Eh, tenang aja kau ya.. Ini kan lagi hamil. Wajar kalo orang hamil jadi jerawatan.”

And then, dia mulai lagi. Kali ini Bams curhat pada kami (tepatnya padaku karena pertanyaan-pertanyaan itu ditujukannya padaku), tentang pacarnya. Katanya pacarnya begini, pacarnya begitu, pacarnya ngambek karena dia begini dan begitu, and then pacarnya suka kalau dibeginikan, dibegitukan… Hei hei… Stop it!

Apa dia pikir aku ini Psikolog Cinta, yang siap menampung dan menjawab pertanyaannya, bahkan sampai yang paling intim sekalipun? Aku memang sering jadi tempat curhat teman-temanku karena kata mereka aku orangnya sangat terbuka dan open minded. But not this time, and not for him. Dia belum cukup umur dan belum cukup dekat dengan kami untuk bisa berdiskusi tentang seks dengan kami. Aku bilang, Hey, Bams… Enough! Save your story for you. We don’t wanna hear that. Aku jadi marah dan ingin menendangnya ke got besar di samping Merdeka Walk itu (benar-benar menendang dia lho), tapi kutahankan saja. Aku dan temanku lalu segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain daripada kami bete karena ulahnya.

Dan sekarang… kabar itu datang.

Bams sudah meninggal. Beberapa hari lalu. Teman dekatku (yang hadir saat insiden curhat gilanya itu) yang mengabari. Dia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan tak bernyawa. Diduga bunuh diri menilik dari bukti-bukti yang ditemukan. Ah… hati ini langsung berdetak keras mendengar kabar itu. Betapa mengerikannya. Begitu cepat kematian itu datang, bahkan ketika ia belum datang, kenapa kau harus menjemputnya? Kenapa tak kau tunggu saja hingga saatnya tiba?

Entahlah apa masalah yang Bams hadapi, dan seberat apa masalah itu. Orang bilang dia mengalami kesulitan ekonomi karena dililit banyak hutang dan juga stress karena masalah keluarga. Ah, aku tak mau menduga-duga terlalu jauh, karena sesungguhnya aku tak mengenalnya.

Tapi aku sungguh mengasihani dirinya. Sungguh kasihan. Sebegitu mudahkah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Dimana peran keluarganya, orang tuanya? Dia masih sangat muda, dan hidupnya berakhir dengan sangat tragis… akhh…..!

**Aku hanya bisa berdoa, semoga masih ada sedikit maaf dari Tuhan untuk dirimu ya Bams…

| RSS | Category: Night Story, Night in Jakarta

Titel Dulu & Sekarang

October 7th, 2009 by nightlovers

Hardcase itu masih teronggok di tempat yang sama. Di sebuah celah di sudut, antara meja rias dan dinding. Di sebelahnya tergeletak sound system kecil merk Peavey. Aku tersenyum sendiri dan meraih hardcase itu. Meraba permukaannya, ingin tahu apakah berdebu. Oh, bersih kok. Berarti sudah dibersihkan sama pembantu infal sebelum aku datang.

Aku buka hardcase coklat itu dan menemukannya di sana. Gitar listrikku yang cantik, si Telecaster hitam yang masih mulus sekali. Senar gitar yang aku kendorkan sudah berkarat, astaga.. sudah berapa lama aku tak menyentuhnya? Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night Story, Night in Medan, clubbing di medan

menghitung waktu

September 3rd, 2009 by nightlovers

Malam ini aku lelah sekali. Hampir enam belas jam aku habiskan di luar rumah, dan kembali ke rumah di saat badan sudah letih dan teriak-teriak minta istirahat.

Hidup di Jakarta memang harus gesit, harus pintar kejar-kejaran dengan waktu. Buatku waktu begitu berharga sehingga setiap menitnya pun aku hitung dengan teliti. Salah satu teror yang menyeramkan, sampai menitpun aku hitung.

Sore tadi ada acara buka puasa bersama dari kantor kami di Ballroom Djakarta Theater. Waktu berbuka di Jakarta adalah pukul 17.54. Aku sudah tiba duluan di sana tepat jam 17.00, tapi itu kan tidak masuk hitungan. Jam acara tentunya dihitung pas ketika ceramah agama sudah dimulai.

Dan tepat ketika saat berbuka tiba, aku langsung melihat jam tanganku. Menghitung waktu. Berapa lama aku harus makan dan minum dan berapa lama aku harus mengobrol dengan teman kantor. Karena aku sedang berhalangan puasa, aku tidak hitung waktu untuk sholat.

Pertama ambil waffel. Balik ke meja dan ngobrol sambil makan. Selesai makan waffel, aku lihat jam lagi lalu kembali ambil bakso. Begitu juga ketika aku akan ambil dua potong dinsum. Untunglah semua kudapan itu porsinya kecil jadi bisa puas dicicipi. Tepat jam 18.20, aku berbisik ke temanku. Aku bilang aku mau pulang. Temanku bilang ya tidak apa-apa. Pulang saja, toh tidak ada yang melihat. See? I just need 26 minutes to eat & chit chat. Berarti sekitar 1 jam 26 menit aku ada di acara itu. Diam-diam aku kabur keluar dari ballroom, menyeberang ke Sarinah, dan meng-sms supir agar menjemputku di lobby belakang.

Kadang aku berharap aku bisa seperti teman-teman yang lain yang bisa meninggalkan anaknya sebentar saja untuk bersenang-senang atau menghadiri acara kantor, tapi aku tidak bisa. Aku pasti merasa sangat bersalah kalau pulang terlalu malam dan hanya bisa mendapati anakku sudah tidur saat aku pulang. Apalagi malam ini bukan cuma acara berbuka puasa saja yang harus aku kejar, tapi aku juga ada janji ketemu orang.

Untunglah rekanku itu mau mengerti. Di pertemuan kami sebelumnya aku mengusulkan agar kami bertemu di Buaran Plaza saja, karena itu jelas lebih dekat dari tempatku dan juga tempatnya. Hanya 5-10 menit dari rumah. Bertemu di La Piazza memang kesannya keren, tapi termasuk jauh dan macet kalau sudah jam pulang kantor. Bisa sejam hanya pergi saja. Ingat, aku perhitungan soal waktu kan?

Supir kusuruh sedikit ngebut. Aku sudah janji pada suamiku bahwa aku akan pulang dulu ke rumah untuk bawa anakku ikut ke Buaran. Suamiku sedang ke luar kota, dan sesuai perjanjian kami, kalau salah satu berhalangan pulang cepat maka yang satu harus berusaha duluan sampai di rumah untuk menemani anak.

Anakku menatapku tanpa ekspresi. Dia memang selalu begitu kalau dilihatnya maminya pulang kemalaman. Aku menggodanya dan dia langsung berlari minta digendong. Sambil aku gendong, tangan kirinya mulai plak plak. Hmm. Aku menangkap tangannya dan menegurnya pelan. Anakku memang berbeda, dan aku berusaha agar tidak salah dalam menyikapinya. Setelah itu dia memelukku dan mulai ngoceh-ngoceh lagi.

Sebenarnya mataku sudah penat sekali. Cepat-cepat aku mengambil kapas dan membersihkan mataku dari eye shadow. Lalu cuci muka biar sedikit segar. Mengganti baju dengan blus coklat favoritku yang nyaman, lalu keluar kamar dan menggendong si kecil Vaya. Sepuluh menit lagi jam 8, itu adalah waktu janji temu dengan rekanku. YM ku berbunyi, dari dia. Katanya dia sudah sampai di Jco. Ok, balasku.

Tiba di Buaran Plaza terlambat tiga menit dari jam 8. Hmm. Ini akan jadi diskusi yang lumayan lama. Minimal satu setengah jam. Sambil kami berdiskusi, anakku mulai rewel. Mungkin karena mengantuk. Dia ingin selalu dekat denganku, tapi karena orang yang kutemui ini merokok, aku tidak ingin anakku terlalu dekat. Kalau rokoknya habis, baru aku ambil anakku. Tadi dia menghujaniku dengan ciuman penuh iler. Hmm… sudah lama lho dia tidak mencium aku atau ayahnya. Suka gengsi kalau disuruh. Baru tadi dia dengan keinginan sendiri mencium maminya. :)

Aku baru ingat. Aku tadi  tidak pesan apa-apa waktu duduk di Jco. Hahahaha…….. aduh jadi gak enak, kok kayaknya aku hemat banget ya? Udah gitu dengan pedenya aku keluarkan termos minumku dan aku seruput isinya.

Tahu kenapa aku tidak memesan? Karena kalau aku berdiri dan mengantri, itu berarti aku akan menghabiskan waktu lagi untuk hal yang kurang penting. Targetku tentu pertemuan itu harus segera kelar, biar kami bisa pulang dan istirahat. Mustinya si pelayan Jco itu berinisiatif untuk menawarkan menu, kayak di Bakoel Koffie La Piazza. Tapi ya sudahlah, toh minggu sebelumnya aku juga beli kok. :)

Jam setengah sepuluh lewat lima menit, kami pulang. Vaya tertidur pulas di pangkuanku, popoknya sudah bocor karena tadi terlalu lasak main kesana kemari. Kucoel-coel pun pipinya dia diam saja. Sudah lelap ternyata.

Aku melihat jam tanganku lagi. Lalu melihat keluar. Daerah Buaran masih agak ramai. Tapi sebentar lagi pasti sepi. Para pengemis dan pemilik topeng monyet yang biasa mangkal di lampu merah sudah tidak ada. Oh ya, di Buaran sini tidak ada chicken fillet, itu sejauh pengamatanku sih.

Capek sekali. Sekarang sudah saatnya tidur. Tak peduli jam berapapun aku tidur, jam bangunku tetaplah harus sama. Begitu pula dengan jam berangkat ke kantor. Seperti kubilang, hidup di Jakarta memang harus kejar-kejaran dengan waktu, hingga ke menitnya pun aku hitung.

Gud nite….

| RSS | Category: Night Story, Night in Jakarta

Seorang Ibu Tua

September 1st, 2009 by nightlovers

Dulu aku suka lunch di Cabe Rawit Sun Plaza. Menu andalanku adalah ayam goreng dan kentang (oke, itu memang gak sehat, tapi itu kan dulu. Sekarang aku sudah tobat makan junk food). Karena termasuk sering makan di situ, lama-lama aku hapal dan ngeh kalau ternyata aku juga punya “teman” lain yang suka makan junkfood di situ.

Dia wanita tua. Orang cina. Rambutnya keriting tertata rapi. Wajahnya mulus tersapu make up. Menilik gayanya, aku menebak dia orang kaya. Mungkin dia diantar supirnya ke situ. Dia selalu duduk di area yang sama dengan aku dan teman-teman. Dan setelah beberapa kali makan di situ, barulah aku ngeh kalau ibu tua itu selalu makan sendirian.

Suatu saat dia duduk dekat sekali dengan kami. Aku perhatikan pesanannya. Dia memesan satu nasi, satu ayam, satu sop, dan minuman. Mangkuk sop itu dia letakkan di depannya, sedikit lebih jauh sehingga kau akan berpikir bahwa mangkuk itu adalah jatah orang lain.

Sambil makan aku mencuri pandang ke arahnya. Dia memakan semua yang ada di depannya, kecuali mangkok sop itu. Lalu tiba-tiba aku tersedak ketika melihat wanita tua itu membuka mulutnya. Dia bersikap seolah-olah sedang mengobrol dengan seseorang di depannya. Matanya tidak memandang ke depan, tapi memandang sedikit ke bawah. Aku langsung berbisik ke temanku, mengungkapkan keterperanjatanku. Temanku melihat ke si ibu tua. Tapi ibu itu tidak perduli, biarpun barangkali bukan cuma kami yang memperhatikan dia.

Dia tetap melanjutkan obrolannya dengan temannya yang invisible. Sejenak aku terdiam. Lalu aku pun jatuh iba. Entah apa yang terjadi dengan ibu ini, tapi aku duga dia mungkin sedang stress. Dia tidak mungkin gila, karena buktinya dia masih bisa memesan makanan dan membayar dengan benar.

Besoknya aku ke Cabe Rawit lagi (oke, sepertinya tiap hari makan di situ pastilah membosankan, tapi waktu itu aku belum bosan kok.), dan lagi-lagi ibu itu juga ada di sana. Masih dengan menu fast food yang sama, dan juga duduk di area yang sama. Mangkok sup juga ada di depannya, mungkin mangkuk itu memang untuk teman invisiblenya. Ketika dia memulai acara makannya, sambil mengobrol sendiri, aku mencoba melirik ke kanan ke kiri. Beberapa pasang mata terlihat juga memandang heran campur iba pada si ibu tua.

Dia bicara pada siapa? Arwah suaminya? Teman khayalan masa kecil? Keluarganya kemana? Kenapa tidak ada yang menemani dia? Tanya itu tak pernah terjawab.

| RSS | Category: Night Story, makan di medan

Sepuluh Tahun Sudah..

August 25th, 2009 by nightlovers

Bb di sampingku berbunyi. Segera aku raih dan  menekan tombol di kiri atas, untuk men-silent-kan ringtone.  Incoming  call from +62813 – sekian – sekian. Aku tidak kenal nomor itu, dan biasanya aku memang tidak mau mengangkat nomor yang tidak aku kenal atau tidak ada di phonebook.

Dugaan awalku, ini adalah si penelepon iseng yang suka miskol-miskol gak jelas. Aku tekan tombol hijau, lalu aku biarkan begitu saja, toh sebentar lagi juga dimatikan sama yang disana. Sedetik, dua detik, tiga detik, tidak dimatikan?? Aku mendekatkan bb ke telinga.

“Halo,” suara perempuan di seberang sana.

“Ya.”

“Sy. Apa kabar?” kata perempuan itu.

Aku diam beberapa saat. Berusaha menggali ingatan, apakah aku kenal dengan suara itu. Tapi tidak, aku tidak ingat sama sekali.

“Siapa ini?” Aku balik bertanya, tetap dengan nada suara yang datar. Ini adalah setelan voice terbaikku yang biasanya berhasil membuat orang enggan untuk menelepon balik.

“Ini Tin..” jawab perempuan itu.

“Oh.” Jawabku tetap datar, walaupun dalam hati sedikit terkejut juga dapat telepon dari dia.

“Kok lemes kali Sy? Sakit?” tanya Tin.

“Enggak. Kan puasa,” entah kenapa jawaban itu tercetus begitu saja. Sedang tidak ingin berbasa-basi lebih jauh, dan sedang berpikir bagaimana caranya mengakhiri perbincangan ini.

“Masih pagipun udah lemas, hahahaa…”

Tak urung aku jadi tersenyum juga mendengar tawa itu. Tawa yang sudah bertahun-tahun tak kudengar.

Selanjutnya Tin menanyakan aku ada di mana. Sepertinya Tin mengira aku masih tinggal di Medan, karena dia bilang dia baru tiba dari Jerman di Jakarta, dan akan berangkat sebentar lagi ke Medan. Pastilah dia meneleponku bermaksud janjian ingin bertemu denganku saat di Medan.

“Aku di Jakarta sekarang.”

“Udah berapa anakmu?”

“Satu. Anakmu?”

“Belum ada,” intonasi suaranya sedikit turun. “Udah tiga tahun merid, belum hamil.”

“Oh, ya gpp lah. Namanya juga usaha.” Aku berusaha menghiburnya. “Kau kawin sama bulek ya?”

“Hehee… iyaaa.” Tin terkekeh di seberang sana. Suaranya sudah kembali ceria. “Dua minggu lagi aku ke Jakarta. Kita musti ketemu ya?” pintanya dengan suara berharap.

“Oh iya, ketemulah kita, nanti kabar-kabari aja ya..” jawabku. Suaraku sudah tidak sedatar sebelumnya.

Ketika pembicaraan kami berakhir, memoriku langsung melompat jauh ke belakang. Bertahun-tahun yang lalu. Si Tin ini temanku waktu di smp. Sebenarnya saat itu kami belum dekat karena aku punya sahabat lain, dan dia juga begitu. Kami mulai dekat justru setelah kami tamat smu, padahal smu kami berbeda. Mungkin juga karena rumah kami tidak terlalu jauh jadi kami sering ketemu untuk main bersama. Setelah kuliah, walaupun kami juga berbeda perguruan tinggi, tapi pertemanan kami tetap berlanjut. Sering saat libur semester tiba, kami bersama teman-teman kuliahku akan pergi berlibur ke Danau Toba. Selain itu kami juga sering menghabiskan waktu dengan berkeliling kota Medan.

Seperti halnya berteman, kami saling sharing tentang apapun, dan kami jarang sekali saling ngambek. Aku juga tidak pernah perhitungan pada dia, makan-minum atau jalan kemana-mana — kalau aku ada sisa uang jajan selalu aku pakai untuk kami berdua. Aku tahu dengan jumlah tanggungan ayahnya yang sampai tujuh orang, belum termasuk ibu tirinya yang baru melahirkan seorang anak (adik tirinya), dia termasuk jarang mendapat uang jajan khusus. Setiap aku main ke rumahnya di sebuah asrama, kami biasanya duduk di garasi depan sambil bercanda dengan teman-teman yang lain. Ciri-ciri anak dari keluarga broken home ada padanya, tak usahlah aku sebutkan semuanya, tapi yang cukup jelas adalah kebiasaannya memaki dengan kata-kata kasar. Sorot tak senang juga selalu dia tunjukkan bila ibu tirinya keluar memanggilnya. Sebenarnya ibu tirinya itu adik kandung mamanya, yang menikah dengan  ayahnya setelah si mama meninggal dunia.

Sampai pada suatu hari terjadi sesuatu pada pertemanan kami. Sebabnya sepele saja. Saat kami sedang nongkrong di radio tempat kami suka main, dia merasa aku mengabaikan dirinya. Ternyata pertemanan kami selama ini membuat dia sedikit posesif. Aku awalnya heran kenapa dia diam saja waktu kami pulang, saat aku antar ke rumahnya juga dia diam saja. Tapi ketika aku tiba di rumahku sendiri sepuluh menit kemudian, telepon rumah berbunyi.

Dari Tin. Dia memakiku. Katanya, “Kau biarkan aku di luar kayak telor anjing!” Aku terdiam mendengarnya. Itulah makian pertamanya padaku. Aku tidak membalas. Aku biarkan saja dia memaki-maki. Aku tidak suka meladeni konfrontasi seperti itu, buatku itu menguras tenaga dan pikiran. Aku sadar Tin emosional dan tertekan dengan keadaannya, tapi kejadian itu tak urung membekas di hatiku. Belum pernah aku dimaki orang seperti itu.

Setelah kejadian itu, dia menghindar dariku. Aku berusaha menemuinya untuk bicara, ada masalah apa. Apakah aku ada buat salah padanya. Tapi dia tidak pernah mau ketemu. Lalu setiap jadwal latihan band tiba, dia tidak datang. Pada anggota band yang lain, dia sesumbar katanya aku tak mungkin berani memecat dia, karena aku tak akan bisa dapat vokalis dengan suara seperti dia. Hmm, belagu, suara standard begitu pikirku. Saat itu aku bilang ke dua anggota band yang lain,“Kalian mau ikut siapa? Dia atau aku? Silahkan pikirkan,” Ternyata dua cowok anggota band itu pilih ikut aku. Aku datang ke kampus Tin, menemuinya di warung-warung depan kampusnya, hendak bilang bahwa aku akan memecatnya dari band. Tapi Tin melarikan diri. Melihatku datang dia langsung pergi. Akhirnya dua temanku itulah yang menyampaikan pemecatan itu.

Setelah itu berturut-turut masuklah kabar-kabar tak menyenangkan ke telingaku. Sebenarnya selain Tin, aku juga punya dua teman dekat waktu smu. Han dan Lia. Cuma karena mereka kuliah di pulau Jawa, otomatis saat kuliah aku lebih sering jalan dengan Tin. Dari kedua temanku inilah aku mendapat cerita bahwa selama ini Tin menyebar cerita buruk tentangku pada mereka. Salah satunya adalah memfitnah keluargaku. Han dan Lia sebenarnya tidak percaya dengan cerita yang mereka dengar dari Tin, makanya dengan adanya kejadian ini mereka berinisiatif untuk cerita padaku. Terus terang aku sakit hati mendengarnya. Tidak pernah aku menyangka akan difitnah oleh seseorang yang sudah aku anggap sahabat. Inilah yang kemudian membuatku kehilangan rasa percaya pada yang namanya teman. Bertahun-tahun aku menutup semua kehidupan pribadiku dari setiap temanku. Yang perlu mereka tahu adalah yang aku mau mereka tahu, tidak lebih.

Kira-kira seminggu kemudian, Tin menelepon ke rumah. Dia memakiku soal pemecatan itu dan bilang bahwa dia tidak akan pernah lagi menganggap aku temannya, dan lupakan saja kalau kami pernah berteman. Tapi seperti biasa aku cool saja menanggapinya. Tidak ada lagi rasa sedih atau kecewa. Aku bilang padanya, aku setuju. Lebih baik memang begitu. Saat itu dalam hati aku bilang, silahkan kau cari apa ada teman lain yang bisa menerima dirimu apa adanya seperti aku. Kita lihat saja bagaimana akhirnya.

Tiga bulan kemudian, saat sedang ngobrol dengan papiku, telepon rumah berbunyi. Aku angkat. Telepon dari Tin. Aku kaget juga. Untuk apa lagi dia menelepon, tanyaku. Ternyata dia menelepon untuk minta maaf. Katanya kemarin itu dia emosi, dan sekarang dia ingin berteman lagi denganku. Padanya aku katakan kalau aku sudah biasa saja, sudah tidak mikirin kejadian kemarin lagi. Itu benar, aku memang tidak marah lagi padanya, tapi aku tidak bisa melupakan itu, dan aku lebih suka tidak berhubungan lagi dengannya. Hidupku sudah cukup tenang selama ini. Di akhir pembicaraan, dia memberiku sebuah nomor. Katanya ayahnya sudah pasang telepon rumah, jadi aku sudah bisa meneleponnya kapan saja. Ketika aku menutup telepon, papiku bertanya sambil lalu kenapa Tin tidak pernah lagi main ke rumah? Apakah kami bertengkar? Aku bilang saja kalau Tin sibuk kuliah. Tapi aku tahu papiku pasti mengerti situasi seperti itu. Dia tidak berkomentar lebih jauh.

Bertahun-tahun berlalu. Tin tetap berusaha menghubungiku. Tapi aku tak kunjung mau bertemu dengannya. Keadaan jadi terbalik sekarang. Bedanya adalah, aku tidak membalasnya dengan kasar dan tidak menghindarinya, cuma ya aku memang selalu cari-cari alasan agar tidak usah menemuinya. Pernah juga tak sengaja ketemu di salah satu plaza di Medan, kami saling menanyakan kabar, dan saling bertukar nomor ponsel (sebenarnya aku gak mau, tapi kan gak mungkin menolak).

Dulu pernah seorang teman kami (tepatnya teman si Tin yang aku kenal belakangan) menelepon, katanya Tin ada di sebelahnya, terbaring sakit. Si teman bertanya kenapa aku tak pernah menelepon Tin. Tin sakit karena kangen pada aku, sahabatnya. Aku bilang, “Untuk apa aku telepon dia? Setahuku kami tidak ada urusan.” Kata teman-temanku, aku kejam. Tapi aku bilang, itu jujur.

Lalu tahun lalu, sebuah sms dari nomor luar negeri masuk ke ponselku. Dia bilang dia Tin, menanyakan kabar. Aku cuek tak membalas. Masuk sms berikutnya, sedikit memaksa kenapa aku tak juga membalas. Aku tak bergeming. Sms-sms itu aku delete dengan sukses.

Sekarang, sudah sepuluh tahun dari kejadian terakhir. Sepuluh tahun kami tidak bertemu dalam arti sebenarnya. Sebenarnya aku rindu juga padanya. Kami sama-sama cocok kalau sudah gila-gilaan, dan masa-masa remaja kami lumayan menyenangkan kok.

Entah ya. Mungkin dia sudah berubah. Atau mungkin juga tidak. Tapi bagaimana aku tahu kalau aku tidak mencobanya? Seharian ini aku berpikir.

Dan… aku pikir mungkin aku akan menemuinya nanti kalau dia mengajakku. Tak apalah kali ini aku mengalah, mencoba berdamai dengan hatiku. Sudah saatnya kucoba membersihkan sisa sakit hati itu. Sudah terlalu lama… sepuluh tahun sudah..

| RSS | Category: Night Story

Feeling Blue

August 10th, 2009 by nightlovers

AC di kamar terasa begitu dingin. Padahal aku sudah menyetel turun suhunya hingga ke angka 27. Apa karena AC kamar baru di-service dan diisi freon? Tapi dinginnya benar-benar menusuk tulang, sehingga berulang kali aku menghidupkan - mematikan AC. Kalau aku lihat anakku mulai gelisah dan kepalanya berkeringat, aku hidupkan lagi AC nya. Berusaha bergelung dalam selimut juga tidak membantu.

Mungkin badanku sedang tidak enak. Dan sebenarnya hatiku sendiri sedang tidak mood. Perasaan kurang nyaman aku rasakan sejak tadi. Biarpun aku berusaha menepis semua perasaan itu, pada kenyataannya susah sekali.

Apakah ini sebuah pertanda? Apakah ini sebuah firasat? Percayakah kamu pada yang namanya firasat? Pada bisikan halus yang kamu dengar, yang kamu pikir itu berasal dari hatimu, tapi mungkin saja bisikan itu hanya hasil olah pikiranmu sendiri, hasil kecurigaanmu, dan bukan murni kata hatimu.

Percayakah kamu? Kalau aku, jujur aku katakan aku tidak tahu. Aku hanya berharap perasaan tidak enak ini segera berlalu.

| RSS | Category: Night Story

Mia si SPG

July 22nd, 2009 by nightlovers

Aku sedang menonton tv ketika tiba-tiba bb ku berbunyi. Notifikasi FB. Someone send me a message. Cewek. Minta di-add. Aku lalu mengirim message balik, menanyakan siapa dia. Wajahnya kurang jelas karena fotonya agak jauh. Balasanpun datang, dia menyebutkan namanya.

Tapi aku tetap tidak bisa mengingat dia siapa. Apalagi profilnya juga tidak dibuka untuk umum. Aku balas lagi dan dengan cuek aku bilang aku tidak ingat. Lalu dia reply lagi. Katanya mantan SPG kantor.

Aku langsung mengamat-amati fotonya di FB itu. Brengsek! Aku baru ingat dia siapa. Cewek satu itu — sebut saja Mia — pernah jadi salah satu task force team waktu kantorku (waktu aku masih di Medan) punya program hard selling. Mereka mendapat tugas yang persis sama dengan para AE, cuma mereka hanya akan dapat bayaran berdasarkan aplikasi yang masuk dan aktif.

Mia ini sebenarnya tidak cocok jadi SPG. Dia tidak cantik, kulitnya juga tidak mulus. Tidak tinggi, dan badannya juga standard saja, alias tidak seksi-seksi amat. Dulu sekali aku pernah ditempatkan di divisi promosi yang salah satu tugasnya adalah menseleksi SPG, dan jelas sekali kawan satu ini tidak akan masuk standardku.  Aku tidak pernah mau kalau dikasih SPG yang jelek. Tapi kadang di Medan suka susah cari SPG yang secantik SPG-2 di Jakarta, jadi kalau sudah mentok, aku biasanya tidak keberatan, asalkan SPG itu punya nilai tambah : ulet dan rajin!

Eh, aku tidak bermaksud mencaci lho, tapi  semua orang di kantor Medan kemarin juga mempertanyakan kenapa si Mia bisa diterima. Apa gak ada yang lain, begitu tanya setiap orang yang melihat Mia. Tapi aku tidak mau ambil pusing, karena mengurus SPG bukan lagi tanggungjawabku. Belakangan, ternyata Mia juga tidak menunjukkan kinerja yang bagus, jualannya standard-standard saja.

Setelah program hard selling berakhir, praktis Mia tidak pernah lagi kelihatan di kantor kami. Sampai suatu malam, aku melihat sosoknya di Retro. Dengan rok mini dan tanktop (hmmm benar kan kataku padamu sebelumnya, ciri-ciri midnight lady pasti aja rok mini dan tanktop), dia berjoget-joget liar karena sudah mabuk. Ketika dia melihat kehadiranku disana, dengan pedenya dia mendekati aku dan menyapa dengan ramah seakan-akan kami memang teman dekat.

“Halo mbakkk… suka kesini juga ya?” Itulah sapaan pertamanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Mia datang bersama-sama tim AE, jadi karena anak-anak AE juga temanku, jadilah mereka bergabung sebentar dengan kami, termasuk Mia.

“Mbak, mintalah minum kalian,” ini ucapan keduanya. Langsung dengan pede minta minum.

“Oh silahkan, silahkan,” aku menuangi gelas sampai terisi setengah lalu aku kasih ke dia. Dengan ekor mataku, aku tahu temanku melirik tajam. Lirikan yang artinya kira-kira begini : “Enak banged minta-minta. Beli minum sendiri dong!”

Dalam beberapa kesempatan berikutnya, aku sering bertemu Mia di situ. Dia biasanya datang dengan cowok yang berbeda-beda, cowok-cowok itu tidak pernah aku lihat di situ sebelumnya. Tapi pernah juga aku melihatnya sendirian. Dengan tampang stressnya dia akan duduk di bar, sambil tersenyum pada setiap cowok yang meliriknya, menggoda dengan harapan bisa mendapatkan minum gratis dan cinta semalam.

Aku paling malas kalau harus papasan dengan dia. Dia selalu girang berlebihan, seperti menemukan harta karun saja. Aku dan teman-temanku jelas tidak ingin dia ikut bergabung dengan kami.

“Tumben sendirian,” kataku berbasa-basi waktu dia mendatangiku.

“Gak dapat cowok malam ini, hehehe..” jawabnya santai. Oh.

“Anak di rumah siapa yang jaga?” tanyaku lagi. Ya, si chicken fillet satu ini sudah punya anak batita di rumah.

“Gampanglah itu,” jawabnya sekenanya. “Buka botollah, mbak?” Rayunya lagi. Hmm, ketahuan sudah maunya apa. Matrek ternyata. Darimana sih si Mia ini belajar lenje-lenje? Bagaimana ceritanya seorang cewek mau merayu cewek lain untuk membelikan dia minuman? I’m a straight woman, catat. And she’s straight, also. Tidak pernah aku temuin case kayak gini dalam kamus dunia persilatan. Kalau teman-teman yang minta dibayarin, itu biasa. Teman gitu loh. Tapi Mia? Pede juga dia ya berusaha menyamakan kedudukannya dengan teman-temanku.

Atau jangan-jangan dia sudah tidak berhasil dalam merayu tubang-tubang? Hmm..

chivas-regal-whisky2“Botol apa? Botol kecap?”

“Kan beli satu gratis satu,” katanya lagi. Memang di club situ ada promo, beli satu botol Chivas seharga 800rb dapat satu botol lagi. Bisa hemat buat yang suka teler ramai-ramai. Tapi aku sudah pernah bilang juga kan, kalau aku dan teman-temanku tidak pernah beli botol. We are tequila united! Halah. Lebay!

Aku dengan cuek menjawab kalau kami sedang tidak ingin minum banyak. Botolan itu pasti akan bersisa dan harus dititip di bartender? Malas banged rasanya. Aku menduga Mia akan menjawab,”Biar aku aja yang habiskan,” tapi ternyata tidak.

Dia cuma bilang “Ah, gak enaklah,” dengan nada merajuk dan berlalu. Bitch! Kalau tidak ingat dia sedang mabuk, mungkin sudah aku kasih pelajaran perempuan satu itu. Udah syukur aku tidak cuekin dia dan masih menanggapi ke-sok akrab-annya itu, eh malah ngenyek balik pula. Kadang aku memang tidak tega berkata kasar pada orang seperti itu, karena aku tahu dia sudah cukup menyedihkan tanpa perlu diserang lagi.

Sekarang dia datang lagi. Tapi setelah message terakhir darinya, aku tidak membalasnya lagi. Tidak tertarik untuk meng-addnya.

| RSS | Category: Night Story, Night in Medan, sex & the city

Teman Tengah Malam

June 29th, 2009 by nightlovers

Malam minggu. Setiap orang pasti punya acara favorit untuk mengisi malam panjangnya. Ada yang suka clubbing, ada yang suka kumpul-kumpul dengan teman-teman, atau yang cuma nonton tv di rumah dengan keluarga juga banyak.

Di depan rumahku ini ada taman. Di ujung taman itu — yang pas di simpang jalan — alias depan rumahku, siang hari sampai agak maghrib jadi tempat pangkalan ojek. Yah menyebalkan sih, soalnya dengan posisinya yang pas di depan rumah, setiap pintu gerbang dibuka, pasti pandangan orang di luar bisa langsung melihat ke dalam. Ketahuan deh isi garasi apa aja hehehee… Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night Story, Night in Jakarta
« Previous Page

Blogroll

  • Teh Susu
  • Widi
  • Elmoudy
  • Srex
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: ahahahaa…. hmm, nanti mamak-mamak sama anak2nya hang out bareng, lyss?? kekeke…
  • els: doh vy..jangan minta seteguk yah…ngga boleh sayang..tunggu dd xaxa gedean..kalian boleh dech hangout...
  • Vicky Laurentina: Waduh, Ai ini jenis laki-laki bertipe Sumitro, alias SUka MInTa ROkok! :D
  • nightlovers: hahaha… emosi kan? iyalah, parasit kayak gitu :D
  • Srex: Situasi yg benar2 gak nyaman…selalu aja ada orang2 dg tabiat spt itu. Berharap dibayarin terus, tapi...

Recent Posts

  • Parasit di Soccer Cafe
  • Chit-chat @The Barrels
  • Small Dinner @ Pancious
  • Om Jack
  • Malam Yang Sejuk
  • InconvenienceS
  • “KHUSUS”
  • Peka
  • Sedikit Maaf
  • Titel Dulu & Sekarang

Categories

  • Night in Jakarta (19)
    • makan di jakarta (6)
    • sex & the city (3)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night Story (18)