• Home
  • About
  • Contact

Archive for the 'Night in Medan' Category

Parasit di Soccer Cafe

March 7th, 2010 by nightlovers

Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.

Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu selama beberapa waktu untuk bertukar kabar. Wakai bilang anaknya bisa dia titipkan dengan ibunya jadi kita bisa keluar. Oh iya Wakai ini seorang single parent, bercerai dengan suaminya saat anak mereka usia 3 tahun. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night in Medan, clubbing di medan

Malam Yang Sejuk

January 13th, 2010 by nightlovers

Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.

Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam sambil menatap bintang di langit. Tak lupa segelas susu coklat panas dan setangkup roti bakar mendampingiku. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night in Jakarta, Night in Medan

Titel Dulu & Sekarang

October 7th, 2009 by nightlovers

Hardcase itu masih teronggok di tempat yang sama. Di sebuah celah di sudut, antara meja rias dan dinding. Di sebelahnya tergeletak sound system kecil merk Peavey. Aku tersenyum sendiri dan meraih hardcase itu. Meraba permukaannya, ingin tahu apakah berdebu. Oh, bersih kok. Berarti sudah dibersihkan sama pembantu infal sebelum aku datang.

Aku buka hardcase coklat itu dan menemukannya di sana. Gitar listrikku yang cantik, si Telecaster hitam yang masih mulus sekali. Senar gitar yang aku kendorkan sudah berkarat, astaga.. sudah berapa lama aku tak menyentuhnya? Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night Story, Night in Medan, clubbing di medan

Seorang Ibu Tua

September 1st, 2009 by nightlovers

Dulu aku suka lunch di Cabe Rawit Sun Plaza. Menu andalanku adalah ayam goreng dan kentang (oke, itu memang gak sehat, tapi itu kan dulu. Sekarang aku sudah tobat makan junk food). Karena termasuk sering makan di situ, lama-lama aku hapal dan ngeh kalau ternyata aku juga punya “teman” lain yang suka makan junkfood di situ.

Dia wanita tua. Orang cina. Rambutnya keriting tertata rapi. Wajahnya mulus tersapu make up. Menilik gayanya, aku menebak dia orang kaya. Mungkin dia diantar supirnya ke situ. Dia selalu duduk di area yang sama dengan aku dan teman-teman. Dan setelah beberapa kali makan di situ, barulah aku ngeh kalau ibu tua itu selalu makan sendirian.

Suatu saat dia duduk dekat sekali dengan kami. Aku perhatikan pesanannya. Dia memesan satu nasi, satu ayam, satu sop, dan minuman. Mangkuk sop itu dia letakkan di depannya, sedikit lebih jauh sehingga kau akan berpikir bahwa mangkuk itu adalah jatah orang lain.

Sambil makan aku mencuri pandang ke arahnya. Dia memakan semua yang ada di depannya, kecuali mangkok sop itu. Lalu tiba-tiba aku tersedak ketika melihat wanita tua itu membuka mulutnya. Dia bersikap seolah-olah sedang mengobrol dengan seseorang di depannya. Matanya tidak memandang ke depan, tapi memandang sedikit ke bawah. Aku langsung berbisik ke temanku, mengungkapkan keterperanjatanku. Temanku melihat ke si ibu tua. Tapi ibu itu tidak perduli, biarpun barangkali bukan cuma kami yang memperhatikan dia.

Dia tetap melanjutkan obrolannya dengan temannya yang invisible. Sejenak aku terdiam. Lalu aku pun jatuh iba. Entah apa yang terjadi dengan ibu ini, tapi aku duga dia mungkin sedang stress. Dia tidak mungkin gila, karena buktinya dia masih bisa memesan makanan dan membayar dengan benar.

Besoknya aku ke Cabe Rawit lagi (oke, sepertinya tiap hari makan di situ pastilah membosankan, tapi waktu itu aku belum bosan kok.), dan lagi-lagi ibu itu juga ada di sana. Masih dengan menu fast food yang sama, dan juga duduk di area yang sama. Mangkok sup juga ada di depannya, mungkin mangkuk itu memang untuk teman invisiblenya. Ketika dia memulai acara makannya, sambil mengobrol sendiri, aku mencoba melirik ke kanan ke kiri. Beberapa pasang mata terlihat juga memandang heran campur iba pada si ibu tua.

Dia bicara pada siapa? Arwah suaminya? Teman khayalan masa kecil? Keluarganya kemana? Kenapa tidak ada yang menemani dia? Tanya itu tak pernah terjawab.

| RSS | Category: Night Story, makan di medan

Mia si SPG

July 22nd, 2009 by nightlovers

Aku sedang menonton tv ketika tiba-tiba bb ku berbunyi. Notifikasi FB. Someone send me a message. Cewek. Minta di-add. Aku lalu mengirim message balik, menanyakan siapa dia. Wajahnya kurang jelas karena fotonya agak jauh. Balasanpun datang, dia menyebutkan namanya.

Tapi aku tetap tidak bisa mengingat dia siapa. Apalagi profilnya juga tidak dibuka untuk umum. Aku balas lagi dan dengan cuek aku bilang aku tidak ingat. Lalu dia reply lagi. Katanya mantan SPG kantor.

Aku langsung mengamat-amati fotonya di FB itu. Brengsek! Aku baru ingat dia siapa. Cewek satu itu — sebut saja Mia — pernah jadi salah satu task force team waktu kantorku (waktu aku masih di Medan) punya program hard selling. Mereka mendapat tugas yang persis sama dengan para AE, cuma mereka hanya akan dapat bayaran berdasarkan aplikasi yang masuk dan aktif.

Mia ini sebenarnya tidak cocok jadi SPG. Dia tidak cantik, kulitnya juga tidak mulus. Tidak tinggi, dan badannya juga standard saja, alias tidak seksi-seksi amat. Dulu sekali aku pernah ditempatkan di divisi promosi yang salah satu tugasnya adalah menseleksi SPG, dan jelas sekali kawan satu ini tidak akan masuk standardku.  Aku tidak pernah mau kalau dikasih SPG yang jelek. Tapi kadang di Medan suka susah cari SPG yang secantik SPG-2 di Jakarta, jadi kalau sudah mentok, aku biasanya tidak keberatan, asalkan SPG itu punya nilai tambah : ulet dan rajin!

Eh, aku tidak bermaksud mencaci lho, tapi  semua orang di kantor Medan kemarin juga mempertanyakan kenapa si Mia bisa diterima. Apa gak ada yang lain, begitu tanya setiap orang yang melihat Mia. Tapi aku tidak mau ambil pusing, karena mengurus SPG bukan lagi tanggungjawabku. Belakangan, ternyata Mia juga tidak menunjukkan kinerja yang bagus, jualannya standard-standard saja.

Setelah program hard selling berakhir, praktis Mia tidak pernah lagi kelihatan di kantor kami. Sampai suatu malam, aku melihat sosoknya di Retro. Dengan rok mini dan tanktop (hmmm benar kan kataku padamu sebelumnya, ciri-ciri midnight lady pasti aja rok mini dan tanktop), dia berjoget-joget liar karena sudah mabuk. Ketika dia melihat kehadiranku disana, dengan pedenya dia mendekati aku dan menyapa dengan ramah seakan-akan kami memang teman dekat.

“Halo mbakkk… suka kesini juga ya?” Itulah sapaan pertamanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Mia datang bersama-sama tim AE, jadi karena anak-anak AE juga temanku, jadilah mereka bergabung sebentar dengan kami, termasuk Mia.

“Mbak, mintalah minum kalian,” ini ucapan keduanya. Langsung dengan pede minta minum.

“Oh silahkan, silahkan,” aku menuangi gelas sampai terisi setengah lalu aku kasih ke dia. Dengan ekor mataku, aku tahu temanku melirik tajam. Lirikan yang artinya kira-kira begini : “Enak banged minta-minta. Beli minum sendiri dong!”

Dalam beberapa kesempatan berikutnya, aku sering bertemu Mia di situ. Dia biasanya datang dengan cowok yang berbeda-beda, cowok-cowok itu tidak pernah aku lihat di situ sebelumnya. Tapi pernah juga aku melihatnya sendirian. Dengan tampang stressnya dia akan duduk di bar, sambil tersenyum pada setiap cowok yang meliriknya, menggoda dengan harapan bisa mendapatkan minum gratis dan cinta semalam.

Aku paling malas kalau harus papasan dengan dia. Dia selalu girang berlebihan, seperti menemukan harta karun saja. Aku dan teman-temanku jelas tidak ingin dia ikut bergabung dengan kami.

“Tumben sendirian,” kataku berbasa-basi waktu dia mendatangiku.

“Gak dapat cowok malam ini, hehehe..” jawabnya santai. Oh.

“Anak di rumah siapa yang jaga?” tanyaku lagi. Ya, si chicken fillet satu ini sudah punya anak batita di rumah.

“Gampanglah itu,” jawabnya sekenanya. “Buka botollah, mbak?” Rayunya lagi. Hmm, ketahuan sudah maunya apa. Matrek ternyata. Darimana sih si Mia ini belajar lenje-lenje? Bagaimana ceritanya seorang cewek mau merayu cewek lain untuk membelikan dia minuman? I’m a straight woman, catat. And she’s straight, also. Tidak pernah aku temuin case kayak gini dalam kamus dunia persilatan. Kalau teman-teman yang minta dibayarin, itu biasa. Teman gitu loh. Tapi Mia? Pede juga dia ya berusaha menyamakan kedudukannya dengan teman-temanku.

Atau jangan-jangan dia sudah tidak berhasil dalam merayu tubang-tubang? Hmm..

chivas-regal-whisky2“Botol apa? Botol kecap?”

“Kan beli satu gratis satu,” katanya lagi. Memang di club situ ada promo, beli satu botol Chivas seharga 800rb dapat satu botol lagi. Bisa hemat buat yang suka teler ramai-ramai. Tapi aku sudah pernah bilang juga kan, kalau aku dan teman-temanku tidak pernah beli botol. We are tequila united! Halah. Lebay!

Aku dengan cuek menjawab kalau kami sedang tidak ingin minum banyak. Botolan itu pasti akan bersisa dan harus dititip di bartender? Malas banged rasanya. Aku menduga Mia akan menjawab,”Biar aku aja yang habiskan,” tapi ternyata tidak.

Dia cuma bilang “Ah, gak enaklah,” dengan nada merajuk dan berlalu. Bitch! Kalau tidak ingat dia sedang mabuk, mungkin sudah aku kasih pelajaran perempuan satu itu. Udah syukur aku tidak cuekin dia dan masih menanggapi ke-sok akrab-annya itu, eh malah ngenyek balik pula. Kadang aku memang tidak tega berkata kasar pada orang seperti itu, karena aku tahu dia sudah cukup menyedihkan tanpa perlu diserang lagi.

Sekarang dia datang lagi. Tapi setelah message terakhir darinya, aku tidak membalasnya lagi. Tidak tertarik untuk meng-addnya.

| RSS | Category: Night Story, Night in Medan, sex & the city

Simpang Barat & Kurtak (?)

July 21st, 2009 by nightlovers

Kemarin malam waktu lagi baca-baca email di milis bb, seorang teman di milis cerita kalau dia sedang makan di Simpang Barat. Hueheee… aku langsung terkikik-kikik geli.

Simpang Barat itu nama satu tempat di Medan, daerah Medan Baru. Selain tempat makan, disana juga terkenal dengan kedai Opung nya, yaitu toko yang menjual minuman keras. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night in Medan, clubbing di medan

Dibentak Tubang

June 9th, 2009 by nightlovers

Kali ini aku mau cerita pengalaman lucu waktu aku dan temanku clubbing ke Equator (sekarang ganti nama jadi Zodiak) di Novotel Medan. It means sudah bertahun-tahun yang lalu jamannya kami berdua baru kerja dan juga belum merit, tapi masih terasa lucu kalau diingat. Waktu itu kami baru pulang dari acara kantor pada malam hari, lalu kami pikir, oh bagaimana kalau kita ke Equator saja? Jaman itu Retro belum ada, jadi tempat clubbing ya terbatas. Dan inilah pertama kali nya kami kenal clubbing. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night in Medan, clubbing di medan

Makan Nasgor Pake Emosi

May 19th, 2009 by nightlovers

Masih ingat ceritaku kemarin tentang Warkop Elizabeth? Kali ini aku mau cerita tentang saat aku dan temanku Utie (again..)lagi makan malam di warung Nasi Goreng Wak Ribut, Multatuli. Gak usah heran ya, menu nasi goreng memang menu standard favorit kami, jadi kemanapun pergi, selalu ada warung nasi goreng yang dicoba.

Sebenarnya gak penting banged sih harus makan malam nasgor terus, tapi kalo aku dan temanku lagi pengen ketemu dan ngobrol ngalur ngidul, kita akan cari tempat sesuai dengan isi kantong. Kadang kalo lagi kaya raya ya ketemunya di Starbucks, tapi kalo lagi pengen makan & pengen apa adanya, kita memilih ketemuan di warung nasgor saja. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night Story, Night in Medan, makan di medan

Jet Plane Karaoke

May 13th, 2009 by nightlovers

Ini dia salah satu tempat clubbing yang sedang naik daun, alias sedang berperkara karena diduga menjadi tempat peredaran narkoba. Aku pernah sekali ke Jet Plane ini (waktu masih di Medan lho ya), waktu itu ada seorang temanku yang temannya berulang tahun dan dia diundang untuk party di situ.

Ini temanku waktu kuliah, single parent with one daughter. Karena aku baru ketemu dia lagi setelah sekian lama sibuk ma kerjaan, dia ajak aku aja sekalian ke Jet Plane itu. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night in Medan, clubbing di medan

Warkop Elizabeth - Harapan

May 5th, 2009 by nightlovers

Hmm..

Aku tahu, makan mie rebus itu gak sehat. Tapi aku pikir, orang lain aja makan, masa aku gak boleh menikmati? Sesekali boleh kan ya. Ada satu tempat favoritku dan teman-teman, untuk nongkrong malam habis ngantor, ato nongkrong habis dugem jam 2 pagi. Namanya Warkop Elizabeth.

Disebut Warkop Elizabeth karena letaknya di depan RS Elizabeth - Medan. Actually, di sisi seberangnya ada lebih banyak lagi warkop berjejer, yang lebih dikenal dengan nama warkop Harapan. Cuma kita lebih confi di Warkop Elizabeth, lebih sepi, jadi gak terlalu menarik perhatian kalo pulang clubbing dalam keadaan sedikit teler. Read the rest of this entry »

| RSS | Category: Night in Medan, makan di medan
« Previous Page

Blogroll

  • Teh Susu
  • Widi
  • Elmoudy
  • Srex
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: ahahahaa…. hmm, nanti mamak-mamak sama anak2nya hang out bareng, lyss?? kekeke…
  • els: doh vy..jangan minta seteguk yah…ngga boleh sayang..tunggu dd xaxa gedean..kalian boleh dech hangout...
  • Vicky Laurentina: Waduh, Ai ini jenis laki-laki bertipe Sumitro, alias SUka MInTa ROkok! :D
  • nightlovers: hahaha… emosi kan? iyalah, parasit kayak gitu :D
  • Srex: Situasi yg benar2 gak nyaman…selalu aja ada orang2 dg tabiat spt itu. Berharap dibayarin terus, tapi...

Recent Posts

  • Parasit di Soccer Cafe
  • Chit-chat @The Barrels
  • Small Dinner @ Pancious
  • Om Jack
  • Malam Yang Sejuk
  • InconvenienceS
  • “KHUSUS”
  • Peka
  • Sedikit Maaf
  • Titel Dulu & Sekarang

Categories

  • Night in Jakarta (19)
    • makan di jakarta (6)
    • sex & the city (3)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night Story (18)