July 22nd, 2009 by nightlovers
Aku sedang menonton tv ketika tiba-tiba bb ku berbunyi. Notifikasi FB. Someone send me a message. Cewek. Minta di-add. Aku lalu mengirim message balik, menanyakan siapa dia. Wajahnya kurang jelas karena fotonya agak jauh. Balasanpun datang, dia menyebutkan namanya.
Tapi aku tetap tidak bisa mengingat dia siapa. Apalagi profilnya juga tidak dibuka untuk umum. Aku balas lagi dan dengan cuek aku bilang aku tidak ingat. Lalu dia reply lagi. Katanya mantan SPG kantor.
Aku langsung mengamat-amati fotonya di FB itu. Brengsek! Aku baru ingat dia siapa. Cewek satu itu — sebut saja Mia — pernah jadi salah satu task force team waktu kantorku (waktu aku masih di Medan) punya program hard selling. Mereka mendapat tugas yang persis sama dengan para AE, cuma mereka hanya akan dapat bayaran berdasarkan aplikasi yang masuk dan aktif.
Mia ini sebenarnya tidak cocok jadi SPG. Dia tidak cantik, kulitnya juga tidak mulus. Tidak tinggi, dan badannya juga standard saja, alias tidak seksi-seksi amat. Dulu sekali aku pernah ditempatkan di divisi promosi yang salah satu tugasnya adalah menseleksi SPG, dan jelas sekali kawan satu ini tidak akan masuk standardku. Aku tidak pernah mau kalau dikasih SPG yang jelek. Tapi kadang di Medan suka susah cari SPG yang secantik SPG-2 di Jakarta, jadi kalau sudah mentok, aku biasanya tidak keberatan, asalkan SPG itu punya nilai tambah : ulet dan rajin!
Eh, aku tidak bermaksud mencaci lho, tapi semua orang di kantor Medan kemarin juga mempertanyakan kenapa si Mia bisa diterima. Apa gak ada yang lain, begitu tanya setiap orang yang melihat Mia. Tapi aku tidak mau ambil pusing, karena mengurus SPG bukan lagi tanggungjawabku. Belakangan, ternyata Mia juga tidak menunjukkan kinerja yang bagus, jualannya standard-standard saja.
Setelah program hard selling berakhir, praktis Mia tidak pernah lagi kelihatan di kantor kami. Sampai suatu malam, aku melihat sosoknya di Retro. Dengan rok mini dan tanktop (hmmm benar kan kataku padamu sebelumnya, ciri-ciri midnight lady pasti aja rok mini dan tanktop), dia berjoget-joget liar karena sudah mabuk. Ketika dia melihat kehadiranku disana, dengan pedenya dia mendekati aku dan menyapa dengan ramah seakan-akan kami memang teman dekat.
“Halo mbakkk… suka kesini juga ya?” Itulah sapaan pertamanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Mia datang bersama-sama tim AE, jadi karena anak-anak AE juga temanku, jadilah mereka bergabung sebentar dengan kami, termasuk Mia.
“Mbak, mintalah minum kalian,” ini ucapan keduanya. Langsung dengan pede minta minum.
“Oh silahkan, silahkan,” aku menuangi gelas sampai terisi setengah lalu aku kasih ke dia. Dengan ekor mataku, aku tahu temanku melirik tajam. Lirikan yang artinya kira-kira begini : “Enak banged minta-minta. Beli minum sendiri dong!”
Dalam beberapa kesempatan berikutnya, aku sering bertemu Mia di situ. Dia biasanya datang dengan cowok yang berbeda-beda, cowok-cowok itu tidak pernah aku lihat di situ sebelumnya. Tapi pernah juga aku melihatnya sendirian. Dengan tampang stressnya dia akan duduk di bar, sambil tersenyum pada setiap cowok yang meliriknya, menggoda dengan harapan bisa mendapatkan minum gratis dan cinta semalam.
Aku paling malas kalau harus papasan dengan dia. Dia selalu girang berlebihan, seperti menemukan harta karun saja. Aku dan teman-temanku jelas tidak ingin dia ikut bergabung dengan kami.
“Tumben sendirian,” kataku berbasa-basi waktu dia mendatangiku.
“Gak dapat cowok malam ini, hehehe..” jawabnya santai. Oh.
“Anak di rumah siapa yang jaga?” tanyaku lagi. Ya, si chicken fillet satu ini sudah punya anak batita di rumah.
“Gampanglah itu,” jawabnya sekenanya. “Buka botollah, mbak?” Rayunya lagi. Hmm, ketahuan sudah maunya apa. Matrek ternyata. Darimana sih si Mia ini belajar lenje-lenje? Bagaimana ceritanya seorang cewek mau merayu cewek lain untuk membelikan dia minuman? I’m a straight woman, catat. And she’s straight, also. Tidak pernah aku temuin case kayak gini dalam kamus dunia persilatan. Kalau teman-teman yang minta dibayarin, itu biasa. Teman gitu loh. Tapi Mia? Pede juga dia ya berusaha menyamakan kedudukannya dengan teman-temanku.
Atau jangan-jangan dia sudah tidak berhasil dalam merayu tubang-tubang? Hmm..
“Botol apa? Botol kecap?”
“Kan beli satu gratis satu,” katanya lagi. Memang di club situ ada promo, beli satu botol Chivas seharga 800rb dapat satu botol lagi. Bisa hemat buat yang suka teler ramai-ramai. Tapi aku sudah pernah bilang juga kan, kalau aku dan teman-temanku tidak pernah beli botol. We are tequila united! Halah. Lebay!
Aku dengan cuek menjawab kalau kami sedang tidak ingin minum banyak. Botolan itu pasti akan bersisa dan harus dititip di bartender? Malas banged rasanya. Aku menduga Mia akan menjawab,”Biar aku aja yang habiskan,” tapi ternyata tidak.
Dia cuma bilang “Ah, gak enaklah,” dengan nada merajuk dan berlalu. Bitch! Kalau tidak ingat dia sedang mabuk, mungkin sudah aku kasih pelajaran perempuan satu itu. Udah syukur aku tidak cuekin dia dan masih menanggapi ke-sok akrab-annya itu, eh malah ngenyek balik pula. Kadang aku memang tidak tega berkata kasar pada orang seperti itu, karena aku tahu dia sudah cukup menyedihkan tanpa perlu diserang lagi.
Sekarang dia datang lagi. Tapi setelah message terakhir darinya, aku tidak membalasnya lagi. Tidak tertarik untuk meng-addnya.
May 20th, 2009 by nightlovers
Malam yang ramai dan padat ketika aku keluar dari rumah. Malam ini aku ada janji nonton dengan suamiku, jadi aku pun diantar ke kantornya sama sopir. Sampai sana, dengan mobil suami baru kami akan jalan ke bioskop.
Gile jalanan padat banged. Ini pasti karena besok Kamis, libur. Dan ternyata begitu sampai di kantor suami, suamiku bilang Premier penuh. Artinya kita harus buru-buru kalo mau mengejar film di kelas biasa. Kita memang selalu nonton di kelas Premiere. Ngejar suasana, sofa empuk dan selimutnya ;D. Read the rest of this entry »
May 2nd, 2009 by nightlovers
Kalau aku lagi suntuk, biasanya saat malam hari tiba aku akan berkeliling kota nyetir mobil sambil denger musik keras-keras. Itu kebiasaan yang selalu aku lakukan waktu masih di Medan.
Setelah di Jakarta, jam-jam berkeliaran malam otomatis berkurang. Bukan apa-apa, pertama aku belum begitu hapal jalan di Jakarta ini. Kedua, selalu aja ada polisi iseng yang bikin razia gak resmi kalo udah lewat jam 10 malam. Pasti dong aku akan jadi sasaran empuk mereka kalo aku nyetir tengah malam sendirian. Read the rest of this entry »