March 6th, 2010 by nightlovers
Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc — salah satu member group yang stay di Medan — langsung buat ikon sedih karena dia tak bisa ikut bersama kami. Read the rest of this entry »
February 22nd, 2010 by nightlovers
Aku jalan-jalan malam lagi, kali ini keluar kongkow dengan teman-teman lama. Sempat miskom juga, karena Lin tidak memberi petunjuk dengan benar. Katanya “Seberang Gading 1. Seberangnya Pizza Hut.” Dalam bayanganku, lokasinya di dalam Mall Kelapa Gading 1, kan ada PH juga di situ. Lalu aku kira mungkin maksud dia seberang itu ke arah La Piazza. Wow, ternyata maksudnya adalah di jalan raya boulevardnya. Padahal aku sudah turun lengkap dengan stroller anakku di Gading 1. Dan ternyata semua teman juga menyangka bahwa yang dimaksud dengan “seberangnya gading 1″ adalah di dalam komplek mkg juga. Merepet-repetlah kami semua.
Akhinya suara terbanyak sepakat bahwa kita akan stay di mall saja, tidak jadi menyeberang ke kafe coklat yang dibilang Lin itu. Di dalam mall lebih gampang kalau mau kemana-mana. Read the rest of this entry »
February 14th, 2010 by nightlovers
Hmm. Aku melihat ponselku. Hang. Kenapa sih ponsel sekarang gampang sekali hang? Sepertinya semakin mahal harga ponsel kok malah semakin sering hang ya? Padahal ponsel SonEr ku ini lebih sering dalam posisi stand by, tapi barusan aku terima telepon dari tukang tas, kok nge-hang. Tukang tas mau datang sebentar lagi. Aku melirik jam dinding, sudah hampir pukul sembilan. Aku tadi tertidur ternyata. Seharian ini capek juga karena seharian di luar. Read the rest of this entry »
January 13th, 2010 by nightlovers
Aduh, entah mau jadi apa blogku ini, lama nian tidak disentuh. Rumput sudah setinggi dua meter barangkali kalau diibaratkan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah hutan.
Malam ini cuaca Jakarta sedikit bersahabat, udaranya sejuk tapi tidak hujan. Aku duduk di teras samping di tepi kolam sambil menatap bintang di langit. Tak lupa segelas susu coklat panas dan setangkup roti bakar mendampingiku. Read the rest of this entry »
November 25th, 2009 by nightlovers
Aahh..! Tumben cuaca malam ini begitu bersih dan terang. Tidak hujan, bahkan tidak ada rintik sedikitpun. Aku sedang di jalan bersama tante, anakku, dan susternya, menuju Kelapa Gading. Aku dapat jadwal konsultasi jam 7 malam bersama seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang, maka kami harus bergegas. Begitu tiba, kami langsung naik ke lantai 2. Re tidak bisa ikut karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal.
Pemandangan di klinik ini berbeda dengan yang pernah aku datangi. Kalau di rumah sakit tempat aku biasa membawa anakku untuk kontrol banyak bayi dan toddler yang ribut lari kesana kemari, tapi di sini aku hanya melihat seorang bayi, selebihnya sudah bisa dikatakan toddler, dan juga ada yang sudah anak-anak. Dan sebagian besar dari mereka adalah anak “berkebutuhan khusus”.
Tadi di lantai 1, ada seorang anak yang sebesar anakku, terus dipangku ibunya. Aku tak tahu apa yang dipakainya, tapi anak itu tidak mengenakan diaper, tapi ada kantong di pangkuan ibunya, yang kelihatannya berisi air seni. Anak itu bolak-balik pipis. Aku lihat kaki dan betisnya lurus saja, tidak berotot, hmm.. mungkin dia tidak bisa jalan? Entahlah.
Seorang anak yang kira-kira berumur lima tahun, diam saja saat pertama masuk, tapi ketika disuruh menimbang berat badan, dia mengamuk dan memberontak. Ada lagi seorang bocah yang duduk menunduk, tak mempan oleh bujukan ibu dan neneknya. Ketakutan disuruh ambil darah. Anakku lewat dan berhenti di depannya, lalu menunjuk-nunjuk gambar di baju kaos anak itu. “Uh..! Uh..!” Lalu aku dengar si nenek bersuara, “Tuh lihat, adeknya aja gak takut, malu lho sama adeknya.” Aku tersenyum mendengarnya.
Lalu aku lihat seorang ibu turun dari tangga lantai 3. Ia menggendong anak perempuannya yang aku tebak mungkin usianya sekitar 5-6 bulan. Anak itu begitu mungil, kecil sekali, seperti sebuah boneka anak perempuan yang dipakaikan legging dan sweater. Siapa yang bisa menebak berapa besar sebenarnya tubuh yang terbungkus sweater dan legging itu?
Perhatianku teralihkan oleh teriakan anakku. Ternyata dia marah karena mau main tapi dipegangin terus sama susternya. Klinik ini memang relatif kecil, tapi lumayan bersih menurutku. Di depan tangga ada pintu besi pengaman yang dijaga terus oleh petugas. Jadi kalau ada orang naik dan turun, dia yang akan membuka dan menutup pintu pengamannya.
Suster keluar dari kamar dokter. Bersama si ibu dengan anak boneka. Anak boneka itu digendong oleh neneknya. Aku melihat si ibu duduk di sofa dan menangis, dan suster mengucapkan sesuatu padanya. Dari tempatku duduk, aku bisa merasakan aura kesedihan dari si ibu. Dalam hati aku bersyukur karena anakku masih lebih sehat daripada anak-anak di sini.
Suster memanggil nama anakku. Aku bangkit dari kursi, meminta tanteku menunggu sementara aku mencari anakku yang ternyata masih asyik main di sudut sana. Aku deg-degan saat melangkah masuk ke dalam kamar praktek, deg-degan karena cemas dengan apa yang akan aku hadapi. Dokter masih di ruang sebelah, istirahat sebentar, begitu kata susternya. Sambil menunggu dokter datang, aku malah semakin deg-degan.
Aku datang ke klinik itu karena anakku belum bisa bicara. Dia memang terlambat bicara, karena di usianya yang sekarang satu kata pun belum bisa diucapkannya. Aku tentu paham bahwa perkembangan setiap anak berbeda, karena anak itu unik, tidak ada yang sama. Tapi sebagai orangtua, aku tentu bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak.
Dokter datang. Dia sudah berumur, dan ternyata dia seorang pribumi. Wew. Bukannya aku rasialis, lho. Hanya saja aku terbiasa bertemu dokter spesialis yang canggih-canggih yang biasanya adalah keturunan tionghoa. Dan di bayanganku, karena ini di daerah Kelapa Gading, pasti dokternya orang tionghoa juga. Hahahaha… so silly. Sebenarnya ini adalah kali kedua aku bawa anakku ke dokter tumbuh kembang. Yang pertama ketika anakku berumur 1 tahun dan dia belum bisa berdiri sendiri tanpa bantuan. Dititah saja dia belum mau waktu itu. Saat umur 1 tahun itu dia baru bisa merambat.
Dokter mengajak anakku bercanda. Anakku bermain dan dia memperhatikannya. Melakukan beberapa tes ini itu, dan dokter juga mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Entahlah, pertemuan ini terlalu singkat menurutku, dan aku rasa dia melakukan tes terlalu terburu-buru, hanya 20 menit kami di dalam. Beda dengan dokter tumbuh kembang yang pertama, dimana kami di dalam sampai 1 jam karena dia sabar melihat anakku main.
Hatiku berdegup kencang ketika dokter bilang, “Iya, memang ada sedikit.” Maksudnya anakku memang ada sedikit bakat “berkebutuhan khusus”. Tapi hanya sedikit, katanya berusaha menenangkan aku. Dia pasti sudah biasa bertemu orang tua yang cemas dengan keadaan anaknya. Dokter bilang, aku tidak perlu khawatir, karena anakku tidak separah yang aku bayangkan, tapi memang bakat itu ada, even hanya 5%.
Sebenarnya ini tidak aneh lagi bagiku, karena dulu waktu anakku berumur sembilan bulan, seorang dokter spesialis naturopatik dengan gelar profesor — dia adalah dokter keluarga kami — juga bilang bahwa anak kami ini ada bakatnya, jadi kami harus membimbingnya dengan benar. Karena kalau dibiarkan, dari yang 5% itu bisa membesar. Sejak usia sembilan bulan itu, sampai sekarang kami masih pakai sebuah alat terapi naturopatik — yang harganya luar biasa bikin bangkrut, hahaha… — untuk anak kami. Di samping itu, aku juga membuat jadwal bermain dan belajar yang cukup ketat untuk anakku setiap Senin-Jumat (kalau Sabtu Minggu dia libur belajar, sama kayak orang dewasa, hehee… ) sehingga meskipun si Keras Kepala itu belum bisa bicara, tapi dia berkembang normal seperti anak lainnya. Hapalannya cepat. Sudah mengerti banyak kebiasaan di rumah itu. Dan akalnya juga luar biasa abunawas-nya. Sudah bisa ngerjain orang pula, salah satunya ya ngerjain aku.

Dokter bilang, anakku butuh terapi, yang namanya terapi Sensor Integrasi. Ini adalah sejenis terapi bermain dimana disediakan alat-alat permainan yang sudah didesain khusus untuk mengasah sensor integrasi anak. Ya seperti balok-balok titian, kolam bola, balok panjatan, luncuran. Hmm.. Sepertinya sih sama saja ya dengan jenis arena permainan di sekolah anakku yang sekarang. Tapi bedanya dimana, tentu aku hanya bisa tahu setelah aku mengikutkan anakku di kelas itu. Katanya terapi SI ini memang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain terapi di sekolah, si ibu juga akan dibekali ilmu terapi (bermain) yang sama, agar di rumah juga bisa berlatih bersama anak. Seems fun ya..
Bagaimana perasaanku mendengar diagnosa dokter? Hmm. Biasa saja sih. Aku tidak pernah kecewa dengan anakku, apapun itu. Mungkin pernah terbersit perasaan tidak puas, tapi itu lebih ke suggest pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi dalam mengurus anak. Buatku, anak adalah gifted dari Tuhan, jadi aku harus ikhlas dengan semua yang ada di dalam dirinya.
……
Pulang dari klinik, kami berempat makan seafood dulu di Gading Food City. Sudah lama aku tidak makan ikan bubara bakar, jadi makan malam kali ini terasa begitu nikmat. Di resto Ujung Pandang kami duduk dan makan dengan lahap. Aku lihat anakku tidak mau kalah. Bolak balik minta tambah. Telunjuknya menunjuk ke arah ikan bakar, “Uh?!”. Lalu tak lama begitu isi di mulut sudah habis, telunjuknya ganti menunjuk piring berisi cumi goreng tepung. “Uh..?!” Heheheheee…
Cepat bicara ya, Vay… biar kita bisa baca buku sama-sama….
November 13th, 2009 by nightlovers
Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Seketika kota yang kotor dan penuh polusi basah kuyup oleh siraman air dari si pemilik alam. Sekeluar dari kantor, aku singgah menjemput anakku di kantor Re. Hari ini adalah hari Daddy Day Care, hari dimana Re selalu membawa si kecil ke kantor untuk bermain — tepatnya mengacaukan — di dalam pengawasannya. Tidak terlalu sering sih, paling sebulan atau dua bulan sekali.
Anakku diam saja dalam pangkuanku. Dia terlihat shock tadi karena saat diantar ke mobil — dia berpayung dengan Re — hujan angin begitu kerasnya. Ini pertama kalinya dia melihat hujan begitu deras, wajar kalau dia ketakutan. Tak lama dia tertidur lelap, lelah oleh lamunannya sendiri. Read the rest of this entry »
October 20th, 2009 by nightlovers
Tadi pagi Tin mengirim sms. Aku pernah cerita padamu tentang dirinya disini, ingat? Dia adalah salah satu mantan teman yang sudah lama tak bertemu. Karena smsnya masuk berbarengan dengan beberapa sms lainnya, sms itu luput dari perhatianku. Aku mengabaikannya seharian, hingga sore hari ketika aku menyetir pulang ke rumah, baru aku teringat akan sms itu.
Dia mengajakku bertemu hari ini, begitulah yang aku tangkap dari smsnya. Aku membalas smsnya, kukatakan padanya bagaimana kalau besok saja, soalnya ada seorang kawan lain yang juga ingin bertemu dengannya. Selain itu, ya ampun, ini mendadak sekali. Aku tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap, termasuk menyiapkan anakku dan semua keperluannya, karena seperti kau tahu, kemanapun aku pergi, anakku harus ikut, karena kami kan satu paket. Jika kupaksakan, akan terlalu malam bagi aku dan Tin untuk bertemu.
Tin membalas, katanya dia harus pulang besok ke Jerman, dan sebenarnya dia berharap sekali dapat berjumpa denganku. Tapi dia tak mau memaksa bertemu, karena mengerti dengan situasi Jakarta. Okay then, bukan rejeki, aku bilang begitu. So aku tak jadi bertemu dengannya bukan karena aku masih belum bisa memaafkan dia dan berusaha terus menghindarinya (walaupun bukan tak mungkin nanti kulakukan lagi), tapi memang begitulah kejadiannya.
Enough tentang Tin.
Aku sedang merenung tentang jalan hidup. Bisakah kau menduga kapan kematianmu tiba, dan pernahkah kau terpikir bagaimana caramu mati? Aku jadi ingat sebuah film yang memperlihatkan kejadian di masa akan datang dimana kita bisa tahu bagaimana maut menjemput kita. Mengerikan.
And now about Bams.
Bams, nama cowok itu. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, berkulit sedikit coklat dengan banyak bekas luka di lengannya. Dia pernah jadi salah satu canvaser di kantor kami di Medan. Ulet dan giat mencari pelanggan, dan katanya sih dia menekuni dunia modelling juga. Beberapa temanku sempat menuduhnya bencong. Ya, mereka pakai kata “bencong” untuk menggambarkan Bams, karena wajahnya yang manis memang sedikit mirip banci. Tapi aku bilang dia itu bukan bencong, dia laki-laki, even aku tak tahu pasti soal orientasi seksualnya.
Beberapa kali dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, dia ikutan nimbrung. Awalnya dia bisa menyenangkan juga, alias bisalah dijadikan salah satu ikon konyol. But ternyata kami salah menilainya. Entahlah apa yang salah dengan dirinya. Tapi mungkin lebih tepat bila kukatakan, dia belum bisa masuk ke dalam “gaya kami.” Beberapa kali dia salah dalam menempatkan dirinya.
Aku ketemu dengan Bams terakhir kali dua tahun lalu waktu aku masih hamil tiga bulan dan kami (aku dan Re) mudik lebaran ke Medan. Hmm, Re waktu itu kayaknya sedang pergi ke rumah saudaranya, jadi aku pun pergi bertemu dengan teman-teman lama. Saat itu Bams juga diundang untuk reuni bersama. Dan komentarnya ketika melihatku adalah,”Kak, kakak gak cantik lagi sekarang, udah jelek. Jerawatan gitu.” Dan kubalas dengan nada sebal,”Eh, tenang aja kau ya.. Ini kan lagi hamil. Wajar kalo orang hamil jadi jerawatan.”
And then, dia mulai lagi. Kali ini Bams curhat pada kami (tepatnya padaku karena pertanyaan-pertanyaan itu ditujukannya padaku), tentang pacarnya. Katanya pacarnya begini, pacarnya begitu, pacarnya ngambek karena dia begini dan begitu, and then pacarnya suka kalau dibeginikan, dibegitukan… Hei hei… Stop it!
Apa dia pikir aku ini Psikolog Cinta, yang siap menampung dan menjawab pertanyaannya, bahkan sampai yang paling intim sekalipun? Aku memang sering jadi tempat curhat teman-temanku karena kata mereka aku orangnya sangat terbuka dan open minded. But not this time, and not for him. Dia belum cukup umur dan belum cukup dekat dengan kami untuk bisa berdiskusi tentang seks dengan kami. Aku bilang, Hey, Bams… Enough! Save your story for you. We don’t wanna hear that. Aku jadi marah dan ingin menendangnya ke got besar di samping Merdeka Walk itu (benar-benar menendang dia lho), tapi kutahankan saja. Aku dan temanku lalu segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain daripada kami bete karena ulahnya.
Dan sekarang… kabar itu datang.
Bams sudah meninggal. Beberapa hari lalu. Teman dekatku (yang hadir saat insiden curhat gilanya itu) yang mengabari. Dia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan tak bernyawa. Diduga bunuh diri menilik dari bukti-bukti yang ditemukan. Ah… hati ini langsung berdetak keras mendengar kabar itu. Betapa mengerikannya. Begitu cepat kematian itu datang, bahkan ketika ia belum datang, kenapa kau harus menjemputnya? Kenapa tak kau tunggu saja hingga saatnya tiba?
Entahlah apa masalah yang Bams hadapi, dan seberat apa masalah itu. Orang bilang dia mengalami kesulitan ekonomi karena dililit banyak hutang dan juga stress karena masalah keluarga. Ah, aku tak mau menduga-duga terlalu jauh, karena sesungguhnya aku tak mengenalnya.
Tapi aku sungguh mengasihani dirinya. Sungguh kasihan. Sebegitu mudahkah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Dimana peran keluarganya, orang tuanya? Dia masih sangat muda, dan hidupnya berakhir dengan sangat tragis… akhh…..!
**Aku hanya bisa berdoa, semoga masih ada sedikit maaf dari Tuhan untuk dirimu ya Bams…
September 13th, 2009 by nightlovers
Malam Minggu.
Aku meletakkan papercup berisi susu coklat yang masih hangat di sofa merah, berdampingan dengan sekotak popcorn caramel. Re, suamiku duduk di sebelahnya, menyeruput susu coklat dinginnya langsung dari papercup. Aku jadi ingat si kasir tadi, yang beberapa kali bilang, “strawnya silahkan diambil disini,” pada Re. Padahal Re memang tidak suka minum pake straw.
“Gue ke toilet dulu,” kataku. Kami sedang ada di Blitz Megaplex, mau nonton Hang Over. Tadinya aku mengajak Re nonton Final Destination, tapi seperti dugaanku, dia menolak. Katanya, nonton film kayak gitu bikin capek. Pengen nonton yang santai-santai aja. Ya sudah. Read the rest of this entry »
September 10th, 2009 by nightlovers
Tadi aku berkumpul dengan teman-teman smu dulu. Hanya bertiga, teman-teman sekelas. Kemarin Li bilang, ada acara buka puasa bersama anak-anak milis smansa medan, tapi aku menolak. Aku tidak kenal satupun dari nama yang dia sebutkan akan hadir disana. Okelah, ada satu-dua nama yang pernah aku dengar, tapi aku tidak ingat mukanya. Aku sudah bilang pada Li, aku tidak akan bisa ingat si A atau si B itu yang mana, karena aku kan jarang bergaul dengan anak fisika (tidak seperti Li yang temannya banyak anak fisik). Aku dulu jurusan bio. Read the rest of this entry »
September 3rd, 2009 by nightlovers
Malam ini aku lelah sekali. Hampir enam belas jam aku habiskan di luar rumah, dan kembali ke rumah di saat badan sudah letih dan teriak-teriak minta istirahat.
Hidup di Jakarta memang harus gesit, harus pintar kejar-kejaran dengan waktu. Buatku waktu begitu berharga sehingga setiap menitnya pun aku hitung dengan teliti. Salah satu teror yang menyeramkan, sampai menitpun aku hitung.
Sore tadi ada acara buka puasa bersama dari kantor kami di Ballroom Djakarta Theater. Waktu berbuka di Jakarta adalah pukul 17.54. Aku sudah tiba duluan di sana tepat jam 17.00, tapi itu kan tidak masuk hitungan. Jam acara tentunya dihitung pas ketika ceramah agama sudah dimulai.
Dan tepat ketika saat berbuka tiba, aku langsung melihat jam tanganku. Menghitung waktu. Berapa lama aku harus makan dan minum dan berapa lama aku harus mengobrol dengan teman kantor. Karena aku sedang berhalangan puasa, aku tidak hitung waktu untuk sholat.
Pertama ambil waffel. Balik ke meja dan ngobrol sambil makan. Selesai makan waffel, aku lihat jam lagi lalu kembali ambil bakso. Begitu juga ketika aku akan ambil dua potong dinsum. Untunglah semua kudapan itu porsinya kecil jadi bisa puas dicicipi. Tepat jam 18.20, aku berbisik ke temanku. Aku bilang aku mau pulang. Temanku bilang ya tidak apa-apa. Pulang saja, toh tidak ada yang melihat. See? I just need 26 minutes to eat & chit chat. Berarti sekitar 1 jam 26 menit aku ada di acara itu. Diam-diam aku kabur keluar dari ballroom, menyeberang ke Sarinah, dan meng-sms supir agar menjemputku di lobby belakang.
Kadang aku berharap aku bisa seperti teman-teman yang lain yang bisa meninggalkan anaknya sebentar saja untuk bersenang-senang atau menghadiri acara kantor, tapi aku tidak bisa. Aku pasti merasa sangat bersalah kalau pulang terlalu malam dan hanya bisa mendapati anakku sudah tidur saat aku pulang. Apalagi malam ini bukan cuma acara berbuka puasa saja yang harus aku kejar, tapi aku juga ada janji ketemu orang.
Untunglah rekanku itu mau mengerti. Di pertemuan kami sebelumnya aku mengusulkan agar kami bertemu di Buaran Plaza saja, karena itu jelas lebih dekat dari tempatku dan juga tempatnya. Hanya 5-10 menit dari rumah. Bertemu di La Piazza memang kesannya keren, tapi termasuk jauh dan macet kalau sudah jam pulang kantor. Bisa sejam hanya pergi saja. Ingat, aku perhitungan soal waktu kan?
Supir kusuruh sedikit ngebut. Aku sudah janji pada suamiku bahwa aku akan pulang dulu ke rumah untuk bawa anakku ikut ke Buaran. Suamiku sedang ke luar kota, dan sesuai perjanjian kami, kalau salah satu berhalangan pulang cepat maka yang satu harus berusaha duluan sampai di rumah untuk menemani anak.
Anakku menatapku tanpa ekspresi. Dia memang selalu begitu kalau dilihatnya maminya pulang kemalaman. Aku menggodanya dan dia langsung berlari minta digendong. Sambil aku gendong, tangan kirinya mulai plak plak. Hmm. Aku menangkap tangannya dan menegurnya pelan. Anakku memang berbeda, dan aku berusaha agar tidak salah dalam menyikapinya. Setelah itu dia memelukku dan mulai ngoceh-ngoceh lagi.
Sebenarnya mataku sudah penat sekali. Cepat-cepat aku mengambil kapas dan membersihkan mataku dari eye shadow. Lalu cuci muka biar sedikit segar. Mengganti baju dengan blus coklat favoritku yang nyaman, lalu keluar kamar dan menggendong si kecil Vaya. Sepuluh menit lagi jam 8, itu adalah waktu janji temu dengan rekanku. YM ku berbunyi, dari dia. Katanya dia sudah sampai di Jco. Ok, balasku.
Tiba di Buaran Plaza terlambat tiga menit dari jam 8. Hmm. Ini akan jadi diskusi yang lumayan lama. Minimal satu setengah jam. Sambil kami berdiskusi, anakku mulai rewel. Mungkin karena mengantuk. Dia ingin selalu dekat denganku, tapi karena orang yang kutemui ini merokok, aku tidak ingin anakku terlalu dekat. Kalau rokoknya habis, baru aku ambil anakku. Tadi dia menghujaniku dengan ciuman penuh iler. Hmm… sudah lama lho dia tidak mencium aku atau ayahnya. Suka gengsi kalau disuruh. Baru tadi dia dengan keinginan sendiri mencium maminya.
Aku baru ingat. Aku tadi tidak pesan apa-apa waktu duduk di Jco. Hahahaha…….. aduh jadi gak enak, kok kayaknya aku hemat banget ya? Udah gitu dengan pedenya aku keluarkan termos minumku dan aku seruput isinya.
Tahu kenapa aku tidak memesan? Karena kalau aku berdiri dan mengantri, itu berarti aku akan menghabiskan waktu lagi untuk hal yang kurang penting. Targetku tentu pertemuan itu harus segera kelar, biar kami bisa pulang dan istirahat. Mustinya si pelayan Jco itu berinisiatif untuk menawarkan menu, kayak di Bakoel Koffie La Piazza. Tapi ya sudahlah, toh minggu sebelumnya aku juga beli kok.
Jam setengah sepuluh lewat lima menit, kami pulang. Vaya tertidur pulas di pangkuanku, popoknya sudah bocor karena tadi terlalu lasak main kesana kemari. Kucoel-coel pun pipinya dia diam saja. Sudah lelap ternyata.
Aku melihat jam tanganku lagi. Lalu melihat keluar. Daerah Buaran masih agak ramai. Tapi sebentar lagi pasti sepi. Para pengemis dan pemilik topeng monyet yang biasa mangkal di lampu merah sudah tidak ada. Oh ya, di Buaran sini tidak ada chicken fillet, itu sejauh pengamatanku sih.
Capek sekali. Sekarang sudah saatnya tidur. Tak peduli jam berapapun aku tidur, jam bangunku tetaplah harus sama. Begitu pula dengan jam berangkat ke kantor. Seperti kubilang, hidup di Jakarta memang harus kejar-kejaran dengan waktu, hingga ke menitnya pun aku hitung.
Gud nite….