• Home
  • About
  • Contact

Pengamen Tua

November 1st, 2011 at 8:29 PM by nightlovers

Mereka bilang, sering-seringlah melihat ke bawah agar kau senantiasa bersyukur. Dan melihatlah ke atas agar kau pun tak cepat berpuas diri.

Aku menangkap itu sebagai suatu kondisi dimana manusia diminta untuk tidak menyerah pada kenyataan. Bila kau miskin, maka tetaplah berusaha. Dan bila kau sudah berkecukupan, jangan pula berdiam diri. Karena saat kau menjadi lebih daripada kecukupan, berarti semakin banyak pula orang yang bisa kau bantu.

Kau lihat foto ibu tua ini? Aku tak sengaja menemukannya beberapa bulan lalu saat aku pergi ke daerah Sabang untuk suatu keperluan. Sebenarnya mungkin ibu ini sudah ada di sana waktu aku keluar dari pintu toko digital printing, tapi karena aku belok ke arah yang berbeda aku tak menyadarinya. Baru ketika aku balik arah mau menuju mobil, baru aku sadar: ada perempuan tua lesehan di trotoar.Dia seorang pengamen. Berkebaya biru dengan bawahan sarung bermotif, dia duduk santai di depan toko digital printing itu, bermain alat musik siter (atau harpa Jawa kalau aku tak salah) sambil menyenandungkan lagu Jawa. Aku berhenti lebih kurang lima langkah dari tempatnya. Aku ingin menikmati nyanyiannya yang halus dan merdu khas Jawa itu, sekalian menunggu driver yang sedang sholat Jumat.

Pengamen Tua

Kupandangi wajah keriputnya. Dia terlihat sangat tua. Entah berapa usianya, kadang susahnya hidup bisa membuat wajah orang terlihat jauh lebih tua dari usianya. Tapi sungguh aku salut padanya. Meski udara panas, dia tak terlihat mengeluh. Beberapa kali kami bersirobok mata dan saling melempar senyum. Setiap kali orang yang lewat memberinya uang (aku lihat paling kecil dikasih dua ribu, dan terbesar adalah sepuluh ribu) dia mengangguk dengan senyum kecil di bibirnya sambil terus menyanyi. Hatiku serasa digedor-gedor. Kagum, takjub, juga sedih. Yang terbayang olehku adalah wajah mamiku, wajah tanteku, dan wajah mendiang omaku dalam foto hitam putih milik mamiku. Omaku itu mirip si ibu ini, berkonde kecil dan berkebaya putih khas orang Ambon. Aku memang hanya mengenalnya lewat foto saja.

Lima belas menit kemudian baru driver-ku datang dan aku beringsut. Setelah menarik napas panjang-panjang, aku dekati dan kuberikan saweranku padanya. Ibu itu tersenyum penuh terima kasih.

Sepanjang jalan aku merenung. Tuhan memang selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengetuk pintu hati umatnya.

| RSS | Category: Night in Jakarta, Night Story | Tags: Pengamen Siter, Wanita Tua

3 Responses to “Pengamen Tua”

  1. els says:
    November 1, 2011 at 10:32 PM

    kak…
    kamulah satu2nya temen ku yang hebat tapi ngga sok paten…

    mungkin karena rajin membaca ya..hehehe *sedang berusaha rajin baca dan berusaha menularkan pada anak

    hug hug hug…
    salam buat vy yaaa

    nightlovers Reply:
    November 9th, 2011 at 5:59 PM

    Lys…

    You’re a wonderfull & loving mom. I can see that, dan senaaaang kali kutengok gimana caramu menjadi ibu. :) dan masih tetap rendah hati spt gimananya ellys..

    *hug*

  2. beni says:
    November 17, 2011 at 2:44 PM

    kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya…

    udah gua kasih tuh orang… :D



« Mark Up
Surprise (?) »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: memang adalah kawan2ku lys…. but gak semua musti diceritakan kan :) .
  • els: ingat kak.. ada kawan2 mu…
  • nightlovers: hehe… ayukk… cheerrrrssssss! :)
  • arman: ayo cheer up!! :)
  • beni: kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya… udah gua kasih tuh orang… :D

Recent Posts

  • Pegawai Oh Pegawai
  • Apa kabar, Sus?
  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (30)