• Home
  • About
  • Contact

Mark Up

October 27th, 2011 at 8:43 PM by nightlovers

Karena seringnya nongkrong di Food Connection, aku sudah hampir mencicipi semua resto yang ada di situ. Kecuali yang ada baknya tentu saja.

Di Food Connection ini aku menemukan semacam “penyakit” di sini. Penyakit yang kumaksud adalah penyakit petugas kasir resto yang sering menyebutkan angka lebih besar daripada angka yang terpajang di papan menu.

Sebut saja si Bakoel Desa. Harga nasi bakar komplitnya 20.900, tapi si kasir dengan yakin bilang 21.000. Eh sebenarnya bukan 21.000. Jadi waktu aku beli, dia sebut angka 20.900 tapi kembalian 100 peraknya tidak dia kasih. Aku pun merepet dan 100 itu dikembalikan. Sehabis aku bayar, giliran temanku memesan — menu yang sama! — dan di sinilah dia langsung bilang “21 ribu”, mungkin maksudnya agar kita tak “meminta” kembalian. Tapi temanku tetap meminta, karena struknya kan 20.900. Tampang kasirnya langsung jutek, jujur ingin kutabok saja rasanya tuh orang. 100 perak pun, itu namanya maling! Setelah kejadian itu, setiap kali melihat kami yang datang, dia selalu mengasih kembalian dengan cemberut. Gak berani lagi mark up.

Malam ini, kembali kualami kejadian serupa di tenant lain. Koi apa gitu, lupa. Aku lihat harga di menu board 25.000, lalu masnya bilang 28.000. Aku pikir, oh tax. Tapi waktu dia kasih kembalian 22.000 aku baru ngeh, kalau tax kan harusnya 27.500. Tapi karena aku sudah jalan cukup jauh, aku diamkan saja, lagipula aku sedang malas berdebat. Entah kemana pula struknya.

Mark up. Sudah jadi budaya, dan bahkan yang mark up pun tak malu-malu lagi. Jelas sekali pegawai seperti itu akan membuat imej resto tersebut jadi jelek. Membohongi pelanggan hanya demi seperak dua perak?! Pliiisss… Tip itu berbanding lurus dengan pelayanan jeung!

Bahkan pengamenpun lebih bermartabat dibanding mereka ini.

Ah sudahlah. Kelamaan merepet aku.

| RSS | Category: makan di jakarta, Night in Jakarta, Night Story | Tags: night story

2 Responses to “Mark Up”

  1. oma says:
    October 31, 2011 at 9:31 AM

    Umumnya mereka berani memark up karena merasa gajinya kecil dan keuntungan pemilik kedai sangat besar. Yah, ga berani minta tambahan gaji gitu deh. Kalau mereka nyolong dari uang kasir, kemungkinan bisa dipecat. Jadi mereka memilih untuk mengambil uang dari pelanggan karena hampir sebagian orang tidak memperdulikan uang receh kembalian. IMHO.

    nightlovers Reply:
    October 31st, 2011 at 3:27 PM

    Yah memang bawaannya gak jujur ya dimana aja kerja pasti begitu.
    Orang yg tdk memperdulikan kembalian itu umumnya karena mereka dibuat nyaman dulu saat bertransaksi.
    Kalau pelayannya bilang, “Maaf pak, recehan 100 kita habis,” tentu orang mengerti dan tak mempermasalahkan. Ini betilah dengan yg ngasih kembalian dlm bentuk permen. Pembeli mungkin diam saat diberi permen — karena malas komplen — tapi habis itu merepet kemana2 krn ga terima dikasih permen sbg pengganti 100.



« Emotional Cake
Pengamen Tua »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • beni: kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya… udah gua kasih tuh orang… :D
  • nightlovers: Hai Oma. Makasih, ya. Amin.:)
  • nightlovers: Lys… You’re a wonderfull & loving mom. I can see that, dan senaaaang kali kutengok...
  • nightlovers: Lys, you’re right. Emosi aku sama dia, tp tetap sayang juga sama dia. She’s such a nice...
  • oma: Selamat ulang tahun ya, Mba. Semoga selalu diberikan keberkahan oleh Allah :)

Recent Posts

  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It
  • Tante Cie
  • Semua Karena Cinta

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (28)