February 13th, 2011 at 8:52 PM by nightlovers
Aku punya teman dekat semasa kuliah. Yang menurutku terjebak dengan masa lalu. Dia begitu senang mengenang dan mengingat masa lalunya, ya mungkin baginya itulah masa-masa keemasan dan kejayaannya.
Beberapa minggu lalu, temanku bilang dia bertemu di fb dengan mantanku waktu kuliah. Sebelumnya dia cerita kalau dia sudah add si A, si B, yang termasuk dari lingkaran kami nge-band dulu. Dan akhirnya dia ketemu si laki-laki itu. Temanku ini sengaja memancing-mancing ego si mantan itu dengan menyinggung-nyinggung tentangku dan alhasil si mantan itu pun terbawa emosi. Dia bilanglah begini begitu begini begitu.
Temanku tentu saja dengan akal bulusnya langsung minta maaf karena sudah membuat emosi kembali memuncak, padahal memang maksudnya mau membuat marah. Temanku ternyata menyimpan ketersinggungan juga karena beberapa tahun lalu pernah bertemu dengan nih orang tapi nih orang cuek saja pura-pura tidak kenal — yang so pasti tidak mungkinlah secara kami semua ada di lingkaran yang sama.
Saat temanku menyampaikan padaku tentang apa yang dikatakan si mantan tentangku, aku bilang padanya bahwa aku tidak peduli si mantan itu mau bilang apa. Kukatakan padanya, it’s been a long long time ago, dan kau tahu betul kalau aku bukan orang yang suka berhubungan dengan masa laluku, dalam hal sekecil apapun.
Aku tidak peduli orang itu mau bilang apa, itu urusan dia dengan pikirannya sendiri. Bukankah dimana-mana mereka yang merasa disakiti selalu tidak terima dengan kenyataan? Lalu kenapa tidak diterima saja? Sebelum kita mendapatkan pilihan yang tepat untuk kita, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang salah. Dan belum tentu pula yang kita rasa tepat saat ini sebenarnya adalah memang tepat buat kita.

Forget It
Nah. Temanku ini. Single parent. Aku marah padanya karena dia melulu berhubungan dengan mantan-mantannya, mencari harapan dan kesempatan, walaupun berat tentu saja karena mantan-mantannya itu sudah menikah pula.
Berkali-kali aku katakan padanya, kau pantas mendapatkan yang lebih baik, tapi kenapa kau terus-terusan berusaha menghubungi mantanmu yang ini atau yang itu? Alasannya karena sudah sama-sama tahu sifat masing-masing. Tapi bukankah itu berarti kalian juga sudah sama-sama tahu apa yang membuat kalian tidak cocok kan? Mantan suaminya itu dulu juga mantan pacarnya yang sudah berkali-kali putus sambung, karena pacarnya itu ringan tangan. Nah, sudah tahu pacarnya ringan tangan, tapi dia mau juga kawin dengannya. Ternyata temanku mengakui karena dia memang butuh kepastian materi dari keluarga pacarnya itu. Ah, padahal pada akhirnya ketika mereka resmi berpisah pun dia tidak dapat apa-apa.
Kubilang padanya, buatku gak ada cerita kembali dengan orang yang merupakan bagian dari masa lalu. Boleh saja kalau kau selalu mengingat mereka, tapi biarlah itu bagian dari buku kenangan masa lalumu. Forget it. Lebih baik mencari orang baru karena dengan demikian kau akan melihat bahwa dunia ini tidak hanya itu-itu saja. Lalu temanku tersenyum dan bilang, aku tahu Sy, memang bukan sifatmu kayak gitu. Tapi aku malas cari cowok baru, entah kemana lagi mau kenalan. Aku udah punya anak kayak gini pula. Lagipula dia udah mau pisah kok dengan istrinya. Temanku ngeles lagi.
Oh. Baiklah.
saya heran dengan orang yang percaya dengan alasan busuk kalau pacarnya mau pisah dengan pasangannya. padahal bukankah lebih baik menunggu sampai dengan masalah mereka selesai dulu baru memulai hubungan baru?
five stage of grief, denial and isolation, anger, bargaining, depression, and acceptance.
saya menduga kalau temannya mba zee belom melewati kelima tahap tersebut, makanya masih belum bisa melupakan masa lalunya. kira-kira masih di tahap bargaining deh, masih mencari-cari alasan untuk mengkompromikan semua hal.
btw, jadi single parent itu susah. tapi ibu saya bisa bertahan karena ada dukungan keluarga. alhamdulillah punya penghasilan jadi ga perlu menderita. tapi itu semua ga ada artinya kalo ibu saya ga bisa melewati lima tahap kesedihan
sesuatu yang kelihatannya remeh untuk kita, belom tentu untuk orang lain. semua bergantung pada sudut pandang dan nilai relativitas.