December 9th, 2010 at 10:38 PM by nightlovers
“Ini. Sa pu kawan kasih buat saya,” Tante Cie memanggilku. Aku jalan mengikutinya dan melihat dua bungkus plastik kresek di atas baskom plastik.
“Apa itu?” tanyaku.
“Bawang merah. Sa pu kawan di pasar, da yang kasih..”
“Oo…” aku mengiyakan sambil mengangggukkan kepala. Aku mengambil gelas dan menuang air ke dalamnya. Setelah itu aku ambil piring dari dalam lemari, mengambil nasi dari dalam magic com, dan mencomot sepotong ikan goreng.
“Hmm.. Enak nih ikannya.” Gumamku. Ah, sedap betul makan di rumah ini. Jarang aku dapat ikan sesegar ini di pasar dekat rumahku di Jakarta. Anakku sedang makan dengan lahap disuapi susternya. Kami berangkat pakai pesawat paling pagi dari Jakarta, pantaslah dia kelaparan, soalnya belum makan.
Tante Cie datang lagi membawa sebuah bungkusan. Isinya dua kotak sepatu. Dikeluarkannya salah satu kotak dan diambilnya isinya. Ditunjukkannya padaku.
“Ini. Sa beli di sana, salon yang sa biasa potong itu. Bagus ka tarada?” Aku mengamati sekilas sepatu pantovel sederhana itu. Biasa saja sebenarnya, masih kalah dibandingkan hand made buatan Bandung. Tapi aku tersenyum saja dan mengangguk.
“Bagus juga..” jawabku sambil menyuap ikan lagi.
“Kalau ini?” Kali ini Tante Cie mengeluarkan sepasang sepatu lagi, dengan model yang sama tapi warnanya coklat.
“Ini lebe bagus..” jawabku jujur. Warna coklatnya bagus.
“Harganya..” Tante Cie berhenti sebentar, berusaha mengingat. Lalu melanjutkan, “Satu, enam puluh lima. Tapi sa beli dua, jadi da kasih enam puluh. Sa mo pake nanti buat Natal.” Aku mengangguk lagi.
Setelah itu bungkusan itu dibawanya lagi ke kamarnya. Disimpan. Lalu Tante Cie datang lagi, dan mulai mengulang omelan yang sama seperti yang sudah-sudah. “Yang kamarin Tanta Nona datang itu, dong bilang sama saya, Tanta Nona beli sepatu banya skali….” Tante Cie berhenti sebentar mengatur napasnya. “Sa bilang, beli banya-banya buat apa. Tanta Nona itu boros skali…” Aku mengangguk-angguk lagi. Biasalah. Kecemburuan kakak adik.
Tante Cie. Umurnya sudah 65 tahun, badannya kurus dengan rambut pendek. Masih cukup sehat untuk orang seusianya. Dia jarang sakit. Hanya pernah sekali sakit parah sepuluh tahun lalu sampai harus masuk ICU sebulan, karena kesalahan dokter yang memberikan obat terlalu keras sehingga dia muntah darah. Keluar dari ICU, ada lubang di lehernya untuk tambahan aliran masuk oksigen.
Ia hanya sekolah sampai kelas 3 SD saja, karena keterbatasan yang dimilikinya. Dia sedikit tuli sejak kecil, dan karena selalu mengalami ketinggalan saat belajar di sekolah akhirnya bapaknya memutuskan dia sekolah hanya sampai kelas 3 saja. Sejak kecil Tante Cie lebih sering di dapur membantu mamanya mengurus rumah tangga. Memasak dan beres-beres. Ketika ia masuk usia matang, ada seorang pria yang kemudian datang dan menikahinya. Tapi mereka tidak punya anak.
Sejak aku kecil, Tante Cie sudah ikut keluarga kami. Dia kakak nomor dua dari mamiku. Karena suaminya tidak punya pekerjaan tetap, papiku mengizinkan ipar dan suami iparnya tinggal di salah satu kamar di rumah kami di Biak. Kadang kalau sedang ada pekerjaan, misalnya jadi mandor, maka suami Tante Cie, Om Bob, suka membelikan aku dan abangku buah matoa. Tapi kalau sedang menganggur, tugasnya adalah mengantar jemput aku dan abangku sekolah. Sementara Tante Cie di rumah tugasnya memasak untuk kami semua, karena papi dan mamiku bekerja. Selain tugas memasak, tentu saja mengurus kami keponakan-keponakannya yang masih kecil. Dari aku TK, tanteku sudah memakaikan aku kaos kaki dan sepatu, dia juga yang memandikan aku atau abangku kalau kami berdua harus mandi duduk di kursi panjang karena salah satu kaki kami luka. Dan sekarang Tante Cie masih juga dengan sayang memandikan cucunya, anak abangku.

Tante Cie & anak abangku yang terkecil *habis nangis dan diam setelah dipangku Oma Cie*
Ketika kami sekeluarga pindah ke Medan saat aku baru naik kelas 6 SD, mamiku ingin kakaknya ikut bersama kami. Mamiku tahu, Om ku itu tidak akan bisa mengurus kakaknya dengan baik, dan akan lebih baik bila Tante Cie ikut dengan kami. Entahlah, aku tak tahu bagaimana urusan orang dewasa saat itu, tapi Om Bob tidak ikut dengan kami. Dia stay di Biak, dan kami pun berangkat naik Hercules ke Jakarta. Dulu waktu baru-baru pindah aku suka bertanya, bagaimana perasaannya pisah dengan suaminya. Tante Cie menjawab, ah kas tinggal situ, tra ada kerja bagitu..
Tante Cie orang yang sangat sederhana. Dia baik hati, penyayang, tapi juga sedikit rendah diri. Mungkin karena dia merasa jadi orang yang selalu menumpang sehingga masih ada rasa minder pada dirinya. Aku berusaha keras memahami perasaannya, dan dengan semakin bertambahnya usiaku, aku semakin paham membaca perasaan tanteku itu.
Tanteku bisa dikatakan sudah jadi janda, tidak punya anak, tidak punya penghasilan tetap, dan keahlian yang dia punya adalah keahlian standar wanita jaman dulu, yaitu masak dan menjahit. Waktu aku kecil, mamiku sering beli kain dan Tante Cie akan membuatkan aku baju dari kain itu. Aku sendiri belajar jahit-menjahit serta pakai mesin jahit dari tanteku. Dengan segala keterbatasannya, dia juga jadi gampang sensitif dan tersinggung. Aku belum pernah melihatnya menangis, tapi aku tahu bila saatnya dia sedang sedih atau lagi merajuk.
Tante Cie suka sebel kalau kakak tertuanya datang dari Sorong, karena dia menduga mamiku akan mentraktir kakaknya habis-habisan. Aku kadang suka menggodanya. “Tanta Cie, mami ada kasih Tanta Nona uang ka tida?” Dan Tante Cie langsung melapor. “Sa liat mami kasih uang banya.. segini,” dia membuat jarak antara kedua telapak tangannya. Setebal batu bata! Busettt! Ganti aku yang terkejut, hahaha…! Sebenarnya Tante Cie cemburu bukan tanpa alasan, menurutnya kakaknya itu kan pensiunan guru, su pu uang sendiri mo masa minta-minta, biking malu saja… begitu omelannya. Karena Tante Cie sendiri, tidak pernah minta ini itu pada mamiku. Dia malu hati. Kalau dikasih saja, tapi kalau minta-minta begitu sih enggak.
Tahun berlalu. Tante Cie semakin sepuh dan dia butuh perhatian. Karena itu setiap bertemu aku menyempatkan diri ngobrol dan mendengarkan cerita-ceritanya, yang mungkin sangat remeh-temeh. Seperti saat dia ketemu tukang jualan di pasar yang juga sama-sama orang Ambon. Atau tentang ukuran telur ayam yang dibelinya, dan lain-lain. Tante Cie senang sekali bila aku memuji masakannya, menyetujui pendapat atau menyukai pilihannya. Walau seringkali aku harus menegurnya karena menurutku pilihannya itu membuatku malu. Seperti pergi ke pasar dan beli tas-tas murah harga 20 ribu. Atau beli selop keras harga lima ribu, atau beli lipstik china harga lima ribu, lalu habis itu ditunjukkannya padaku. Tante Cie bangga bila bisa membeli barang semurah mungkin, padahal mamiku sudah membelikannya tas yang bagus, juga selop rata yang nyaman.
Kalau sudah begitu aku suka marah. “Tanta Cie, jang beli yang tralaku. Kalo talalu murah berarti tralaku itu. Nanti orang bilang, sa deng mami tra urus Tanta Cie. Buang itu e… jang pake lagi. Nanti katong pi cari yang bagus.” Dan kami pun pergi ke Thamrin Plaza, aku belikan tanteku lipstik Guerlain seharga tiga ratus ribu. Saat kuberikan padanya, aku ingatkan lagi. “Pake ya, jang simpan-simpan. Kalo habis nanti katong beli lagi.” Dan gigi putih itupun keluar, senang. Kemudian dia akan memamerkan lipstik itu kemana-mana sebagai pemberian dariku. Aku juga mengancamnya, kalau sampai dia masih pergi beli barang-barang murahan di pasar, aku gak akan kasih uang lagi, hehehe… Aku belikan juga Tante Cie dompet bagus untuk padanan dengan tasnya. Eh dompetku malah disimpan, katanya sayang kalau dipakai. Buat ke gereja saja… begitu alasannya.
Tante Cie bukan hanya sederhana, tapi juga lugu. Kadang aku menjadi sedikit protektif padanya. Misalnya sama bedinde di rumah, aku ingatkan selalu untuk berlaku sopan pada Tante Cie. Karena Tante Cie terlalu baik, kadang kalau pembantu becanda kelewatan, tanteku jadi sensitif, tapi tidak enak marah, akhirnya dipendam-pendam. Dengan kurangnya pendengarannya, dia juga susah diajak bicara lewat telepon, bahkan sekarang dipanggil juga sering tidak dengar, jadi aku suka khawatir kalau dia tidur di kamar dan dikunci. Kalau Tante Cie sedang main ke rumahku di Jakarta, selalu kuingatkan, pintu kamar tidak usah dikunci.
Dan kalau kami pergi bersama ke mall atau ke toko apa gitu misalnya, aku pastikan aku selalu mendampinginya saat berbicara. Tante Cie hanya bisa berbicara dengan dialek Irian saja, sehingga tidak semua orang bisa mengerti perkataannya. Dan aku selalu ada di sampingnya, berjaga-jaga kalau ada orang yang coba-coba memandangnya sebelah mata maka akan kubalbal bolak-balik si bodat itu. Bayangkan saja, kami keluar dari toko dan tanteku dengan ramah mengucapkan permisi pada pemilik atau penjaga toko, padahal kan tidak semua penjaga toko ramah, kadang ada yang jutek. Kalau dulu aku suka merepet. “Tra usah permisi, biar saja… dong juga tra pusing mo…” Tapi sekarang aku biarkan saja. Aku malah tersenyum dan membukakan pintu toko untuk tanteku, dan aku bisa lihat senyum senang yang tulus dari pelayan-pelayan toko itu.
Biarpun demikian, Tante Cie sebenarnya punya selera cukup bagus. Kalau kami pergi ke mall, dan aku bilang mau membelikannya baju, maka tanteku pasti cari baju yang modelnya bagus & bahannya enak dipakai dan juga sudah dia intip harganya, alias cukup mahal, hahaha….
Tante Cie juga sedikit pelit. Ia akan menyimpan uang miliknya seperti menyimpan pundi-pundi emas. Soalnya dulu waktu abangku masih lajang, biasalah — suka kehabisan uang, dia suka minjem ke Tante Cie tapi jarang dikembalikan, jadi tanteku kebiasaan bilang tidak ada duit kalau ditanya, hahaha…
Tante Cie suka membelanjakan uangnya itu dengan beli jajan-jajanan kecil untuk cucu-cucunya, anak-anak abangku yang memang tinggal di kota yang sama dengan orang tua kami. Kemarin waktu di Parapat, aku lihat tanteku membelikan permen untuk keponakanku. Ponakanku bolak-balik datang minta tambah. Aku kaget melihatnya dan kutanya pada kakak iparku, kok anak-anak dikasih permen. Kakak iparku curhat, katanya dia sebenarnya ingin menegur Tante Cie, tapi segan, takut Tante Cie tersinggung. Aku akhirnya bilang pada Tante Cie, “Tanta Cie, jang kasih gula-gula buat anak-anak e… tra bagus buat gigi. Nanti dong pu gigi busuk.” Aku bilang kalau mau kasih jajanan, yang lain saja. Tapi jangan permen.
Biarpun demikian, aku menyayangi Tante Cie sama seperti aku menyayangi mamiku. Dan aku tahu dia menyayangi aku dan abangku juga seperti anaknya. Dia sangat sayang padaku. Katanya hanya aku yang suka memberinya uang, sementara abangku pelit.
Tante Cie tak suka bila ada orang lain yang ikut-ikutan sok manja padanya. Misalnya waktu ada sepupuku datang dari Sorong lalu sok bossy minta dibikinkan telur dadar oleh Tante Cie, tanteku dengan jengkel bilang, “Itu ada telur deng minya… goreng sendiri..!” Padahal kalau aku dan abangku yang minta digorengkan, tanteku dengan senang hati memenuhinya. Buat Tante Cie, anaknya adalah aku dan abangku, keponakan-keponakan lain jangan harap.
Kemarin saat aku pamit pulang ke Jakarta, aku cium pipinya dengan sayang. Aku sudah mencium pipi mamiku di Siantar saat pamit turun ke Medan. Dan karena Tante Cie adalah mami keduaku, tentu saja dia juga mengharapkan peluk dan cium sayang dariku. Tentu saja. Dari siapa lagi? Ah. Betapa aku bersyukur karena punya dua orang ibu sekaligus.
Anaknya abang juga ga mirip orang batak ya.. #lostfocus
nightlovers Reply:
December 10th, 2010 at 4:50 PM
Iya, soalnya abangku jg g kek batak, trs istrinya org minang
. Jd makin larilah..
Zee, aku sukaaa banget tulisan ini..!
dua tulisan terakhir milik zee, termasuk yang di pajak horas itu entah mengapa mengharu biru. rangkaian kalimat zee terasa lain, nuansa cinta yang berbeda. aku suka.
nightlovers Reply:
December 10th, 2010 at 4:49 PM
Ah Bundo… Aku jadi tersanjung
.
Mungkin hatiku juga sedang mengharu biru ya hehee..
ikut terhanyut perasaan membaca tulisan ini…pengalaman biasa ditulis dgn luar biasa.. terus menulis zee..
nightlovers Reply:
December 13th, 2010 at 7:46 AM
Terima kasih kunjungannya Mas Ibra. ^_^
kali ini ceritanya bikin sedih, beneran pengen nangis :’(
jadi inget sama nenek, mirip banget sama Tante Cie
salam ya untuk Tante Cie, peluk cium yang hangat