• Home
  • About
  • Contact

Sangkar Emas

June 17th, 2010 at 12:49 AM by nightlovers

Sudah lama ya aku tidak cerita tentang anakku. Sekarang aku ingin cerita sedikit tentang perkembangannya.

Aku akhirnya mengeluarkan dia dari sekolah khusus itu, dan dia kusekolahkan di sebuah sekolah international franchise yang jaraknya dekat sekali dari rumah. Sekitar dua menit kalau naik kendaraan. Sengaja aku pilih sekolah itu karena dekat dari rumah, dan aku suka dengan metode pengajarannya yang mengajarkan motorik halus. Memang sih anakku masih banyak ketinggalan di motorik kasar, tapi aku lebih senang dia langsung belajar motorik halus sekaligus.

Nah karena anakku masih di bawah 2 thn waktu masuk, dia tentu saja masuk kelas toddler, bersama seorang temannya. Karena mereka hanya berdua, maka mereka pun mau tak mau harus join dengan kelas kakak-kakaknya yang sudah berusia 2-3 tahun (biar hemat guru kali ya). Di sekolah ini mereka juga tidak boleh ditemani oleh orangtua atau pengasuh. Jadi benar-benar harus masuk ke kelas bersama guru, yang mereka panggil dengan sebutan Miss. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris campur bahasa Indonesia juga. Yah biarlah pakai bahasa Inggris, aku sih yang penting anakku bisa ketemu banyak teman. Toh di kelas itu juga dia dan temannya tidak diwajibkan belajar, karena konsep toddler lebih bermain ya.

Selasa kemarin, aku ambil raport ke sekolah. Hahaha, gayanya… anak masih kicik sudah gaya-gayaan pake raport. So anakku sudah 5 bulan sekolah di situ, dan buku itu berisi laporan perkembangannya. Bulan depan sih dia sudah naik kelas. Kata Miss-nya, anakku termasuk anak yang smart (yah amin lah.. amin..). Dia juga senang sekali berteman. Karena dia paling muda di kelas, dia jadi suka ngintilin kakak-kakak kelasnya dan mengikuti tingkah polah mereka, termasuk pula ikut belajar. Hei, tahu gak, dia hanya seminggu saja menangis waktu ditinggal masuk kelas sendiri, selanjutnya keluar sudah premannya. Kadang pura2 nangis aja di depan pintu, tapi begitu pintu ditutup dia diem. Malah sekarang dia jadi penghibur ketika teman Toddler-nya menangis. Kata Miss, saat temannya menangis, dia datang dan dia tepuk-tepuk punggung temannya itu biar berhenti menangis. Halah… sok tuanya kamu Vay.  Hahahaha..

Kemajuan utama tentunya adalah kemampuan verbalnya. She’s finally bisa mengucapkan kata-kata setelah dia sekolah sebulan di situ. Tentu saja aku senang sekali. Dan sekarang dia cerewet bukan main, even kata-katanya masih belum jelas ya (dia sekarang 2 tahun 2 bulan). Kayak bilang ikan, dua minggu lalu dia masih mengucapkan kata “ikan” dengan “aikam” tapi minggu ini dia sudah bisa mengucapkan dengan benar. “Ikan lele” katanya hihihi… Sudah bisa juga mengucapkan kalimat dengan 3 kata, even kepayahan dan masih sering terbalik-balik.

Tapi beberapa hari ini ada sebuah kejadian yang membuatku tersentuh dan jadi berpikir cukup lama.

Hari itu Re akan berangkat ke kantor (dia berangkat kantor lebih siang dari aku). Nah, saat itu, kata Re, anaknya itu memaksa mengantar dia sampai ke halaman. Padahal biasanya dia cukup mengantar sampai pintu ke garasi saja.

Nah begitu sampai di luar — seperti orang yang selama ini dikurung – anakku berlari secepat kilat ke pintu pagar, lalu ambil posisi di depan lubang dekat grendel. Tahu kan, lubang yang biasa dibuat untuk memasukkan tangan kita ke dalam. Nah dia mengintip dari situ, lalu menoleh ke ayahnya sambil menunjuk-nunjuk ke luar. Begitu terus.

Oh ternyata dia melihat kucing dan ayam di taman depan. Re bilang, kasihan sekali dia. Dia kelihatan sekali ingin keluar pagar, ke taman depan untuk melihat ayam atau kucing dari dekat. Tapi tentu saja Re tidak mengizinkannya.

lil_picnik

aku mau mainnn.... mainn... mainn...

Ya Tuhan. Aku langsung sadar. Mungkin selama ini tindakanku yang “mengurung” anakku di rumah saja, membuat dia terlihat seperti burung dalam sangkar emas. Anakku memang tidak pernah aku izinkan keluar pagar kalau aku tidak di rumah. Jangankan keluar pagar, keluar ke garasi depan atau ke teras depan juga tidak boleh. Dia hanya boleh main ke halaman belakang dan juga tidak boleh sampai ke samping karena ada kolam. Biarpun aku sudah pasang pagar ke kolam tapi aku takut susternya lalai – si bodat itu memang suka leler – dan anakku luput dari pengawasannya. Jadwal main ke halaman juga hanya boleh pagi. Lalu dia juga tidak boleh ke dapur karena lantai dapur pasti kotor bukan main, dan aku tak mau dia dekat-dekat benda-benda berbahaya di dapur. Main ke area belakang, area cuci-cuci dan kamar pembantu apalagi, jelas tidak boleh. Jadi istananya adalah ruang dalam yang bisa sepuasnya diobrak-abrik. Dia hanya menginjak rumput sesekali di pagi hari saat dia baru bangun tidur dan diajak keluar untuk menghirup udara segar, itu juga dengan catatan dia mau injak rumput yang masih basah itu. Injak tanah atau aspal di area depan, hampir tak pernah. Kadang bapak mertuaku suka ngomel juga kalau misalnya anakku lagi mo injek tanah di rumahnya lalu Re sibuk melarang-larang dengan alasan takut kakinya kotor. “Gak papalah, sekali-sekali biar kuat kakinya. Kan nanti bisa dicuci.” begitu kata bapak mertuaku.

Hmm.. pantas saja anakku itu blingsatan setiap kali kakinya menginjak area depan rumah kami. Ternyata dia penasaran sekali ingin main di luar. Tapi aku tidak suka membiarkan dia main di luar. Aku dan Re memang tidak suka anak kami kotor-kotoran. Lalu rumah kami kan berhadapan dengan jalan raya komplek yang ramai mobil, kemudian taman di depan juga jelek dan kotor, lalu tukang ojek pun mangkal di depan. Aku tidak nyaman jalan-jalan sore ke depan sambil membawa anakku di bawah tatapan tukang ojek. Sementara membiarkan dia jalan dengan susternya sendiri jelas tak bisa kubiarkan. Mungkin kau mengira aku terlalu paranoid, tapi aku harus berhati-hati kan. Sekarang banyak orang jahat. Ah jadi bingung. Di satu sisi anakku butuh pergaulan, tapi di sisi lain aku tidak merasa nyaman jalan-jalan ke taman depan.

Entahlah. Re bilang, dia jatuh iba melihat anaknya mengintip-ngintip saja dari balik lubang.  Kami berdua sama-sama tersadar bahwa anak kami memang haus pergaulan. Pantaslah dia senang sekali setiap pergi sekolah atau kalau diajak jalan-jalan. Kasihan kamu, Sayang, tiap hari dikurung terus. Aku sih berharap kami bisa punya tempat tinggal yang lebih kondusif untuk membesarkan anak. Kalau tidak, dia akan terus berada dalam sangkar emasnya.

Oh iya. Akhirnya Re bilang hari Sabtu nanti dia yang akan bawa anaknya jalan-jalan keluar. Biar hatinya senang, apalagi sebulan ini kan dia libur sekolah, berarti tidak ketemu teman-temannya.

| RSS | Category: Night Story | Tags: malam, sangkar emas

11 Responses to “Sangkar Emas”

Newer Comments »
  1. Srex says:
    June 17, 2010 at 10:44 PM

    Sukurlah kalau mama nya menyadari….
    Biar bagaimanapun aspek lingkungan merupaan faktor yg sangat penting bagi perkembangan kognitif anak. Keputusan menyekolahkan si “butet ” di sekolah yg baru merupakan keputusan yg tepat. Tinggal bagaimana caranya “membuka” sangkar emas nya…ini yg paling sulit, karena menyangkut seluruh aspek kehidupan keluarga. Mungkin pindah ke lokasi rumah yg baru dan yg lebih kondusif bagi anak untuk bergaul dg teman2 sekitar rumahnya….bisa di pertimbangkan…?

    nightlovers Reply:
    June 18th, 2010 at 6:57 AM

    Bener bgt mas srex, membuka sangkar emas itu yg susah. Mudah2an ada pencerahan nih biar bisa cari lokasi baru..

  2. arman says:
    June 17, 2010 at 11:23 PM

    mungkin sudah saatnya dikasih adik biar gak kesepian… hehe

    nightlovers Reply:
    June 18th, 2010 at 6:53 AM

    hehee.. dilema jg itu, krn skrg aja maminya blm bisa total urus dia, apalagi tambah adik :(

  3. BunDit says:
    June 18, 2010 at 12:27 AM

    Tidak menganut paham “kotor itu belajar” ya mbak hehehe. Memang dilema sih mbak, anak terlalu dibebaskan kita ngeri, tidak dibebaskan kasihan juga. Btw, tinggal di mana sih mbak? Kalau buaran dekat, Ace HW Pemuda dekat, KG dekat. sepertinya di Rawamangun nih :D .

    nightlovers Reply:
    June 18th, 2010 at 6:52 AM

    Hehee… di Duren Sawit, bun…
    Iya nih, dilema. Pengen ajarin dia kotor2, tp sekarang penyakit aneh2…

  4. els says:
    June 21, 2010 at 4:08 PM

    ajak dia ke sorong ajah mau? hahaha.. main2 di halaman super luas..manjat2 pohon..
    aku rindu lho..xaxa bisa besar dilingkungan seperti itu.. sekarang pun dia ku sangkar emaskan juga..hehehe

  5. Zippy says:
    June 27, 2010 at 7:09 PM

    Sepertinya emang bener2 dilema ya…
    Tujuannya emang baik, biar anaknya aman.
    Tapi alangkah baiknya kalo si anak diajak bersosialisasi juga dengan lingkungan, jadi gak dirumah terus :)

  6. orange float says:
    July 1, 2010 at 4:25 PM

    ngak tega melihat wajah ibanya pingin bermain keluar :(

Newer Comments »


« Belanja Malam
Buka Puasa Sendiri-Sendiri »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: memang adalah kawan2ku lys…. but gak semua musti diceritakan kan :) .
  • els: ingat kak.. ada kawan2 mu…
  • nightlovers: hehe… ayukk… cheerrrrssssss! :)
  • arman: ayo cheer up!! :)
  • beni: kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya… udah gua kasih tuh orang… :D

Recent Posts

  • Pegawai Oh Pegawai
  • Apa kabar, Sus?
  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (30)