May 5th, 2010 at 10:37 PM by nightlovers
Tadi aku belanja bulanan ke Carefour Buaran Plaza. Malas sebenarnya karena aku harus menyetir sendiri, driver sedang sibuk wara wiri mengantar ayahku yang lagi datang ke Jakarta. Maka menyetirlah aku ke Buaran, ikut serta juga anakku dan susternya, dan tanteku.
Buaran Plaza bisa dibilang plaza kecil yang lengkap untuk warga sekitar. Selain Carefour, di sana juga banyak tenant makanan yang jadi favorit. Sebut saja KFC, Pizza Hut, Jco, Solaria, CFC, Bakso Lapangan Tembak, juga ada Bread Talk. So, untuk apa pergi jauh-jauh kalau hanya sekedar ingin menikmati sore yang indah bersama keluarga atau teman?
Aku biasanya bertemu dengan tukang tas di sini. Lebih dekat dari rumahku, kalau tidak macet, cuma sepuluh menit. Tapi kalau salah jam, sudahlah, bisa satu jam dari rumah ke Buaran.
Tadi pagi aku sudah bilang sama Re, aku mau belanja nanti sore, jadi aku mau pakai mobilku ke Buaran. Tapi Re cuek saja. Dia tetap pergi ke kantor naik mobilku, dan itu artinya kalau aku mau keluar, aku harus pakai mobil dia. Itu bukan masalah besar sebenarnya, tapi aku hanya merasa kurang nyaman menyetir mobil Re. Bagiku mobil Re itu mobil bagus dan mahal, dan aku tidak leluasa menyetirnya ke Buaran. Jalannya selalu ramai, full, macet, banyak metromini, bajaj, mikrolet. Emosi jiwa nyetirnya.
Suasana Carefour tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini weekday ya. So, aku bisa menurunkan anakku sebentar untuk berlari-lari di dalam situ. Tapi tetap aku awasi lho. Aku agak trauma dengan peristiwa beberapa tahun lalu, waktu itu ada anak kecil yang meninggal tertimpa rak besi di Carefour. Jadi aku hanya izinkan anakku lari-lari di tengah-tengah hall yang kosong, tidak ada rak atau tangga besi, juga tidak ada TV gantung. Beberapa kali susternya aku tegur karena santai-santai saja jalannya sementara anakku sudah lari agak jauh. *minta dipecat juga nih bs.
Satu setengah jam kemudian acara belanja selesai. Kami keluar dengan dua troley penuh belanjaan. Si suster mendorong satu troley (yang paling berat tentu saja, ada beras dan minyak :p), dan satu troley lagi yang tidak terlalu berat aku tarik dan dorong berdua dengan tanteku. Tadinya aku mau dorong troley itu, dan tanteku menggendong anakku. Tapi si Tembem ini bandel banget, maunya turun terus, jadi terpaksa aku gendong dia sambil menarik troley.
Tiba di depan lobby Jco, aku langsung mencari-cari petugas yang bisa membantuku mengangkat belanjaan. Hayah, kenapa sih semuanya ada di areal parkir belakang sana, berdiri lebih kurang 20 meter dari tempatku. Tidak ada yang melihat ke arah kami jadi mau tak mau aku harus bersuara. Anakku sudah turun dan dipegang Omanya dan aku mendorong troley ke mobil.
“Ssttt!!” desisku cukup keras. Tidak ada reaksi. Bah! Aku lirik kanan kiri, cek situasi. Oh aman, tidak ada cowok keren. Hehee….
“Ooi…!! Maass…!!” Teriakku kencang. Akhirnya keluar juga premanku hahaha… Nah, ini baru benar. Dia menoleh dan tanpa dikomando langsung lari kencang ke arah kami. Ya iyalah, sudah tahu dia bakal dapat tip. Hihihi…
Sementara petugas parkir dengan sigap memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, aku mencari uang pecahan di dompet. Wah. Tidak ada lima ribuan. Biasanya kalau aku belanja naik mobilku aku kasih tip dua ribu. Tapi karena kali ini naik mobil Re, standarnya minimal tiga ribu. Kalau gak pasti tukang parkirnya ngedumel dalam hati. Yahh… masa naik mobil keren, cuma kasih dua rebu? Pelit amat si Bos..! Hhahaha… tapi memang begitulah adanya. Petugas parkir dimana-mana pasti lihat-lihat mobil kalau mau tulus melayani. Kalau aku dan Re ke mall naik mobilku, dilirik juga enggak sama tukang parkir. Tapi kalau kami datang pakai mobil Re, diikutin terus, ngintil sampai ngejar-ngejar menawarkan parkiran. Dasar kampret!
Aku bongkar-bongkar laci mobil Re, di situ banyak uang dua ribuan. Aaahh.. ya sudah, empat ribu sajalah. Cukup itu. Petugas parkir yang ini kelihatannya tidak sematrek petugas parkir di daerah kota – yang berani nge-ceng-in pemilik mobil mewah yang cuma kasih dua ribu – jadi dia pasti akan senang hati dikasih tip empat ribu.

ini mobil impianku, mudah2an cepat kaya biar bisa beli mobil ini hihihih...
Fiuh… 15 menit kemudian sampai di rumah. Semua penumpang turun duluan, sementara aku memasukkan mobil ke garasi dalam. Suster anakku masuk duluan, dan anakku langsung berteriak-teriak panik di gendongan si suster. “Mii… Mami…” Dia kira aku mau pergi lagi ninggalin dia. Hayaahh… mana mungkin lah Vay, kalau mami pergi pasti kamu mami ajak kemanapun pergi
.
ikut doain yah semoga impian beli mobilnya cepet tercapai mbak.
semoga bisa cepet dapet mobil impiannya ya mbak..
Berkunjung…melihat-lihat isi garasi…hehehe…Salam,
kok tipe mobil kita sama sih mbak? hehe, tapi kalau dipake di jkt rasanya gak asyik. enak buat di jalanan yg lengang.
btw, saya sudah kunjungi web devushka. keren sangad!! maaf baru sempat berkunjung. main ke blog saya mbak, ada desain kaos lucu hehe