April 4th, 2010 at 11:02 PM by nightlovers
Minggu lalu aku ada di Batam untuk workshop dari kantor. Ini bukanlah workshop yang sebenarnya, karena 75% acara diisi oleh acara senang-senang dan jalan-jalan, bukan beneran training or pelatihan. Well, biarlah, yang penting kan aku juga jalan-jalan toh.
Malam harinya, sehabis dinner “udang setengah matang” di sebuah tempat yang aku lupa namanya, aku langsung merapat ke sebuah diskotik di dalam hotel tempat kami menginap, Pacific Palace. Itu malam yang melelahkan setelah seharian penuh diisi workshop, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan malam dengan tidur saja. Dan karena aku tidak berniat kemana-mana yang jauh, diskotik hotel adalah pilihannya.
Jam setengah dua belas malam, aku masuk diskotik ditemani dua temanku, Vit dan Bang Jo. Ini diskotik jenis house music, venuenya luas juga untuk ukuran hotel. Tapi ternyata memang diskotik itu lebih banyak dikunjungi orang luar, pantas saja ruangannya seluas itu. Aku melihat beragam pengunjung memasuki diskotik, mulai dari tubang bergaya trendy norak, sampai dengan abege-abege tak bergaya yang masuk hanya dengan pakai celana pendek dan sandal.
Kami bertiga duduk di bar. Seorang bartender menghampiri kami, sepertinya dia bisa menduga bahwa kami pastilah bukan orang asli Batam. Aku bertanya, punya draugft beer gak. Katanya tidak ada. Mereka hanya punya bir bintang biasa yang pitcher, but not draugft. Heineken ada, tapi kalengan, tidak ada botolan. Buset deh, kayak swalayan aja, beli kalengan. Aku perhatikan sekelilingku, semua memang minumnya kalengan, dan mereka bukan minum bir Heineken, tapi bir lain. Merk Heineken itu sepertinya tidak begitu populer di situ. Vit pesan coke saja, katanya dia lagi siap-siap mo puasa besok, persiapannya untuk Paskah nanti.
Semua orang pasti sudah tahu, Batam terkenal akan wanita-wanitanya. Karena itu kami juga tidak heran melihat begitu banyak midnight lady di situ, kanan kiri depan. Full. Dan memang itulah yang ingin kami lihat, kehidupan malam di Batam lengkap dengan wanita-wanitanya yang lebih dikenal dengan istilah amoy. Walaupun mungkin istilah itu sudah tidak tepat lagi sekarang, karena tidak melulu amoy yang nongkrong di sini.
Bang Jo berteriak. “Yang di sana itu kayaknya masih muda banget, ya.” Dia menunjuk seorang wanita bertubuh mungil yang bajunya seksi sekali. Dress mini tanpa lengan dengan bagian pinggang yang terbuka.
Aku balas berteriak. “Ah, udah tua itu bang. Tunggu saja sampai dia balik, lihat mukanya.” Dan tak lama kemudian cewek berbalut dress biru muda itu berbalik, dan Bang Jo pun baru percaya kalau cewek itu memang sudah uzur untuk ukuran midnight lady. Ah tapi kan selera orang beda-beda ya. Mau tua, mau muda, punya pasar sendiri.
Kali ini aku gantian berteriak. “Bang! Yang di sana itu kayak bencong ya bang. Bencong bukan?”
“Gaakk. Cewek itu..” Tukas Bang Jo. Aku mengernyitkan kening tidak yakin. Bang Jo kemudian memanggil bartender. Dia pesan sprite. Bah! Jadi itu Heineken kagak ada yang minum, nih? Hmm…. Aku melirik penuh harap pada gelas yang masih terisi penuh itu (belakangan, tentu saja gelas penuh itu jadi milikku). Bang Jo dibisikkan sesuatu oleh si bartender. Oh, ternyata si bartender memberitahu kalau jam 1 nanti akan ada sexy dancer. Yaitu penari-penari yang hanya mengenakan underwear saja. Bartender juga menawarkan obat pada Bang Jo, barangkali tertarik sama ekstasi. Bang Jo jelaslah gak mau, emang kita apaan, mau fun-fun doang kok ngapain pake obat.
Jam dua belas malam, beberapa teman kantor bermunculan. Wah! Ternyata yang malas tidur buru-buru bukan cuma aku. Para cowok itu duduk dekatan dengan kami dan memesan pitcher Long Island Tea, pitcher bir hitam, air mineral, dan sejenis kratingdaeng (aku kurang jelas melihat merk-nya apa karena gelap).
Hid duduk di sebelah kiriku. Cowok satu ini punya tampang khas “orang Jakarta”. Tak lama seorang ayam datang duduk di sebelahnya dan langsung mengulurkan tangan mengajak kenalan. Hid terlihat sedikit tidak nyaman, lalu tak lama dia berdiri lalu maju ke depan, bergabung di gerombolan kelompok kami. Hahaha…
Aswn yang tadinya keliling-keliling ke depan — entah ngapain — balik ke tempat kami, lalu berteriak di telingaku. “Masa tadi ada cewek, dia bilang, bang minta dua puluh ribu, bang, untuk beli minum! ” Aswn ini juga punya tampang khas “orang Jakarta.” Atau tepatnya Aswn ini punya tampang foto model. Bukan cuma cewek yang tertarik mengerubungi dia, cowok-cowok juga banyak yang naksir dia — walaupun dia lebih pantas dikatakan sebagai pecinta diri sendiri. Aswn dan yang lainnya lalu sibuk membahas tentang cewek-cewek ini.
Jam satu tepat, ketika sexy dancer muncul, para lelaki maju ke depan, merubungi panggung. Ingin melihat paha, dada, dan bokong yang meliuk-liuk erotis di atas. Aku ikut ke depan, dan mendapati seorang penarinya ternyata banci. Aih….! Ngerusak mood saja tuh orang. Teman-temanku langsung mundur, jijay katanya ngeliat ada cowok joget erotis di depan. Hahahaha..
Aku memanggil bartender dan memesan tequila. Long time aku gak minum tequila, dan malam di diskotik adalah saat yang tepat untuk itu bukan? Bartender bilang, “Aku minta tip dong, mbak..” “Sipp!” kataku sambil mengacungkan jempol. Aku membayar single tequila seharga 51 rb dengan uang 60 rb, dan kembaliannya aku kasih ke dia. Kasihan juga tuh orang, kayaknya sepi tip dia dari pengunjung lokal. Denn yang melihatku menenggak tequila langsung bikin gerakan sujud hormat. Kampret! Plis deh Denn, baru gitu doang.

Aku lihat Denn kelihatan seperti orang yang sudah teler berat. Selama musik berdentam-dentam, kepala dan tangannya goyang-goyang terus. Kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri. Hmm. Aku melirik minumannya. Ya elah, cuma minum Long Island saja kok mabok. Kalau dia minum peltok satu pitcher, aku percaya dia bisa teler. Dan dia tidak mungkin menenggak obat, kalau only for a couple hour di sini, karena kalau pakai obat bisa-bisa dia gak akan tidur sampai besok siang.
Hid, Aswn, Bang Jo & Vit pamit duluan kembali ke kamar karena sudah ngantuk. Aku cewek sendiri jadinya, tapi itu bukan masalah kok. Kan masih banyak teman cowok yang menemani, dan tanpa harus dijaga juga aku bisa kok menjaga diri sendiri.
Aku tinggal berempat dengan Hendrik, Denn, dan Adit. Tak lama datang lagi beberapa teman lain, Bas dan Kab, yang kelihatannya penasaran dengan para sexy dancer. Aku lihat Denn pergi ke beberapa meja dan merangkul-rangkul para ayam. Adit yang berbadan tinggi besar, kelihatan anteng saja, dia terlihat seperti pengawal bagi Denn. Dia minum juga tapi tidak mabuk, menurutku. Dia tidak begitu enjoy karena musiknya hm semua, gak level katanya. Hahahah… Aku melihat Adit mengobrol dengan cewek yang tadi aku bilang bencong itu. Si Denn berisik banged. “Sy, lo haus kan? Ini minum dulu, mau apa. Ada Long Island, aqua.” Oh, come on, I can take care myself, ya! Mungkin dia kira aku berhemat beli minuman, tapi sebenarnya aku merasa sudah cukup. Aku minum bukan karena kehausan. Like Bas said, it’s just a social drink on weekend.
Kemudian tak lama Adit menghampiriku. “Mbak, yang ngomong sama Adit barusan itu bencong ya?” Aku mengangkat bahu. “Wah, kata Bang Jo tadi cewek, Dit.” “Masa sih, kayaknya bencong deh..” Adit berlalu dan mengobrol lagi dengan “bencong” tadi. Dia kembali lagi lima menit kemudian.
“Betul kan, Mbak. Memang bencong dia.”
“Ah. Masa!”
“Iya, kan Adit tanya tadi. Kamu bencong ya? Trus dia jawab, iya, mas. Tapi aku udah operasi kok, yang penting kan rasanya mas…” Tawa kami berdua pun berderai. Adit ini biarpun badannya gede, tapi karena usianya masih muda dibanding aku, dia selalu membahasakan dirinya dengan “namanya”. Aku serasa ngomong dengan keponakanku saja, hihihi..
Kami lalu mengawasi lagi si Denn yang kelihatan kayak raja minyak, cewek di kanan kiri. Seorang ayam hasil tangkapannya datang dan duduk di sebelahku. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok, menawarkannya padaku, tapi aku tolak — aku tidak merokok. Menyodorkan kotak rokok pada Denn dan Denn juga menolak karena dia tidak merokok. Lalu Denn ajeb-ajeb di depan si ayam itu. Tak lama, cewek berambut lurus panjang itu membuka tasnya, seakan sedang mencari sesuatu. Lalu dia mengeluarkan bungkus merah dan menawarkannya pada Denn lalu pura-pura tersadar bahwa dia salah ambil. Bungkus merah itu dia masukkan kembali. Kondom! Hahahahaa…. OMG, benar-benar trik yang manis, ya kak! Pandeeee kali kakak nie…
Si cewek itu menoleh padaku lalu tersenyum. Dia mendekatkan kepalanya dan berkata, “Mbak, orang India ya?” Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Bukan.” jawabku singkat. “Dari mana?” tanyanya lagi sambil mengarahkan tangannya, maksudnya kami semua dari mana. “Jakarta.” “Oohh..” dia tersenyum dan melanjutkan merokok. Aku melihat Denn berbisik padanya sambil menunjuk aku dan teman-teman lain. “Gue bilang kita teman sekantor,” kata Denn padaku. Cewek itu mengacungkan jempol kirinya dan mencondongkan badan padaku sambil berkata, “Good job for you!” katanya padaku. Sayang aku tidak bisa mengatakan hal yang sama pada dia.
Denn mendekat dan berkata dengan keras (yang hanya bisa aku dan dia dengar tentunya). Aku heran. Kenapa malam ini semua orang seakan-akan melapor padaku? Memangnya aku hansip? “Sy, punya sepuluh ribu gak? Gua takut salah cabut nih.” Dia menunjukkan selembar sepuluh ribuan di tangan kirinya. Oh, aku mengerti. Cewek tadi pasti minta uang jasa dua puluh ribu untuk beli minum, dan Denn terlalu mabuk untuk mencabut uang dari dompetnya. Daripada dia salah kasih uang seratus ribu or bahkan seratus dollar sing, gimana? Hahaha….
Lalu tak lama bencong jelek itu datang pula mendekati aku. Dia mengatakan sesuatu tapi aku tak dengar dan hanya mengangguk-angguk saja. Dari dekat barulah aku lihat betapa jelas gurat-gurat wajah lelakinya meskipun dipupur make up tebal. Dasar Bang Jo, matanya kurang awas ternyata, masa dia tidak bisa tahu mana bencong mana cewek asli? Wakakakakak…
Kau tahu, kemanapun aku pergi, aku selalu saja mendapat “kenalan” atau sapaan dari wanita-wanita malam yang aku jumpai. Bahkan ketika ada teman wanita lain di sampingku, para midnight lady ini pasti memilih untuk bicara dengan aku. Setelah aku pikirkan, aku rasa mungkin sekali mereka merasa nyaman saat melihatku, jadi berbicara denganku pun mereka tetap santun dan bernada pertemanan. Aku percaya bahwa tidak ada orang yang berani membuka percakapan bila yang dihadapinya terlihat kurang “welcome”.
Atau barangkali mereka mengira aku “mami”? Wakakakaka… husshh… gak ah, aku yakin mereka melihat aku sebagai orang yang terbuka menerima mereka. Suit suitt… jijay. Eh tapi benar sih, aku memang bukan orang yang gampang menjudge orang hanya dari profesinya. So what kalau dia memang midnight lady? Itu urusan dialah, bukan hakku menilai baik buruknya orang lain.
Jam setengah tiga pagi, kami beranjak ke atas. Aku sudah mengantuk. Jam 5 pagi harus bangun karena mau menyeberang ke Singapura, jadi tetap butuh tidur.
Di dalam lift, Denn bilang sama Adit, “Gue masih kenceng nih. Ini mo nganter Sy dulu baru balik lagi ke bawah.” Aku dan Adit cuma cengar-cengir aja. Iyalahhh, atur aja dahh. Kenceng, kenceng, emangnya naik motor? Kenceng…!
Menarik….
Hahahahah…banyak kali yang mau aku komen, buat no ajalah :
1. Tolong ya Bang Jo, kalo gelap jangan sampe salah cek banci, fatal itu wakakkaka
2. Cewek itu mengacungkan jempol kirinya dan mencondongkan badan padaku sambil berkata, “Good job for you!” katanya padaku. Sayang aku tidak bisa mengatakan hal yang sama pada dia. <===== ahahahah… *guling-guling*
3.Salam Ama Adit ya kak *kan tinggi besar* tapi bilang kalo bicara jangan sebut nama lagi, emangnya SMA hahahah… sok imut ah dia di depan kak Si.