• Home
  • About
  • Contact

Parasit di Soccer Cafe

March 7th, 2010 at 10:46 PM by nightlovers

Ini cerita beberapa tahun yang lalu, saat aku belum pindah ke Jakarta. Saat itu seperti biasa tiap Jumat malam aku hampir selalu keluar dengan teman-temanku, walaupun mungkin hanya nongkrong di McD saja.

Tapi malam itu, Wakai, teman dekatku saat kuliah mengajakku keluar. Kami memang biasa bertemu selama beberapa waktu untuk bertukar kabar. Wakai bilang anaknya bisa dia titipkan dengan ibunya jadi kita bisa keluar. Oh iya Wakai ini seorang single parent, bercerai dengan suaminya saat anak mereka usia 3 tahun.

Ya sudah, pergilah kami berdua. Waktu itu Wakai bilang, bagaimana kalau kita ajak Ai. Ai ini teman kuliah kami juga dulu, tapi dia satu tingkat di bawah kami. Sebelumnya setamat kuliah dia pindah ke Jakarta bersama orangtuanya, dan dia sendiri baru saja kembali ke Medan entah untuk apa. Aku menyebutnya sebagai cowok pengangguran sok beken, karena actually dia itu hobinya clubbing tapi lebih sering numpang bareng teman. Kami bertemu dengan dia saat main ke Retro beberapa waktu sebelumnya dan setelah obrolan basa-basi, kami semua saling bertukar nomor ponsel.

Aku bilang pada Wakai, Ai bukanlah orang yang tepat untuk diajak. Tapi Wakai bilang, hanya supaya kita aman saja agar tidak ada lelaki tubang yang mengganggu. Okaylah kalau begitu, aku bilang. Toh sebenarnya kami bisa aman meskipun hanya berdua. Aku tahu selalu ada pria iseng di club manapun, tapi mereka juga tahu dirilah kalau cewek yang didekati menolak. Tapi aku pikir, ah mungkin Wakai memang menginginkan ada laki-laki yang ikut. Sekedar pemanis barangkali.

Wakai menelepon Ai dan mengajaknya. But, karena aku pada dasarnya keberatan membawa dia, aku pun mengusulkan untuk pergi ke Soccer Cafe saja. Aku gak mau jatuh level karena bawa orang kayak Ai hihihi… Soccer Cafe ini kafe “standard” yang berlokasi di basement Hotel Grand Angkasa. Masuk ke dalamnya serasa masuk ke pub-pub murahan seperti di film-film. Maklum interiornya kusam sekali.

Aku sebenarnya tidak keberatan kok masuk ke Soccer. Di sini tidak ada musik ajeb-ajeb, dan lebih dominan live music, dan karena pengunjungnya juga biasa-biasa saja alias tidak membludak seperti Retro, kami pasti bisa menikmati musik dengan santai. Aku lebih suka menikmati live music di Soccer daripada di Retro. Tapi harga minuman di Soccer termasuk mahal untuk ukuran pub kelas dua begitu. Tapi yahh, mungkin mereka buat harga mahal karena mereka menumpang di hotel berbintang. Berharap pada tamu-tamu yang menginap.

Benar saja seperti dugaanku. Ai benar-benar terlihat seperti parasit. Bisa kau bayangkan, bahkan rokok saja dia tidak bisa beli. Aku tidak merokok, tapi Wakai iya. Ai bertanya pada Wakai, ada rokok gak? Wakai mengeluarkan rokok mentholnya dan Ai menolak. Saat Ai pergi ke bar, Wakai berkata padaku,”Kalau mau rokok kita hemat, pilih rokok menthol. Cowok mana suka rokok menthol. Makanya rokokku hemat.” Aku tertawa mendengarnya. Alasan yang masuk akal, dan aku suka. Ini salah satu trik yang juga pernah dikatakan oleh Utie.

sampoerna mild menthol

sampoerna mild menthol

Tak lama Ai kembali dari bar, dan dia membual bahwa dia sudah minum satu sloki di sana. Ooouuh plis deh, sloki apa? Sloki air keran maksudnya? Dia datang membawa sebungkus rokok, dan aku tahu dia sudah membayarnya langsung di sana. Dia langsung menghabiskan minumannya, kemudian dengan pedenya dia mengambil minuman Wakai dan menenggaknya. Sebelum dia mengambil Corona-ku, aku mengambil dan memegangnya terus, dengan posisi seakan siap minum, padahal maksudnya agar tidak diambil oleh dia.

Aku bertatapan dengan Wakai. Rasa kesal sudah menjalar di diri kami. Cowok gembel ini kelewatan, tak tahu diri betul. Jelas-jelas dia tak akan membayar minuman kami nanti tapi dia dengan pede menghabiskan minuman. Aku melotot lagi pada Wakai, karena merasa dia yang bertanggung jawab karena telah mengajak Ai. Wakai sebenarnya juga tidak menyangka bahwa laki-laki yang diajaknya ini adalah parasit, karena dia baru bertemu Ai satu kali saat clubbing. Sementara aku lebih sering bertemu Ai dengan orang-orang lain yang bisa dibilang inangnya. Minggu lalu dia datang dengan B, lalu dua minggu sebelumnya datang dengan A, dan begitulah setiap minggu, dia berganti teman setiap datang ke tempat club. Biar bisa menumpang masuk dan minum gratis.

Rencana malam itu bersantai dengan Wakai jadi berantakan karena moodku sudah rusak. Aku tidak keberatan Wakai mengajak kawan mana saja selama orang itu menyenangkan danĀ  sama-sama enak, dan gak ganggu aku. Tapi ini, dia malah mengajak laki-laki gak bermodal. Dan ketika kami akan bayar-bayaran aku hanya mengeluarkan uang untuk membayar minumanku saja, aku tak mau menanggung minuman si Ai. Tak pernah terbayangkan dalam pikiranku ada laki-laki seperti itu.

Kami berpisah di parkiran karena Ai katanya mau menumpang temannya saja yang baru datang. Baguslah, lagipula siapa yang mau anterin dia?

Di tengah jalan, saat aku mengantar Wakai pulang — di dalam mobil — kami membahas kelakuan Ai itu sampai berbuih. Ai yang waktu kuliah dulu bisa dibilang anak orang berpunya ternyata sekarang tidak jadi apa-apa. Entah apa kerjanya di Jakarta dan kenapa dia kembali ke Medan, siapa yang tahu kebenarannya. Dia benar-benar lelaki yang menyebalkan. Siapa coba perempuan yang mau dengan laki-laki begitu, yang bahkan beli rokok atau minum untuknya sendiripun tak mampu? Well, let say dia memang bokek, but menjadi parasit bukanlah cara yang terpuji. Pengen tampil keren tapi menumpang, aduhhh plis deh.

Saat aku turunkan Wakai di depan rumahnya, aku bilang, jangan pernah lagi ngajak-ngajak dia ya!

| RSS | Category: clubbing di medan, Night in Medan | Tags: Clubbing, malam, soccer cafe

5 Responses to “Parasit di Soccer Cafe”

  1. arman says:
    March 7, 2010 at 11:32 PM

    dulu gua punya temen yang parasit juga tuh. cuma karena anaknya rame, jadi selalu ada aja yang mau diparasitin. gua sih kagak mau dah. selama dia gak minta gua yang bayarin sih gua masalah pergi bareng dia. hehe.

    nightlovers Reply:
    March 8th, 2010 at 6:48 AM

    iya, klo orgnya asik sih gpp ya, tp klo nyebelin dan bener2 ga malu utk minta, aduuhh….

  2. Srex says:
    March 8, 2010 at 9:03 AM

    Situasi yg benar2 gak nyaman…selalu aja ada orang2 dg tabiat spt itu. Berharap dibayarin terus, tapi nggak tahu diri…dasar parasit obligat…(jd ikutan sebel nih).
    Ps : lain kali ajak aku aja sist…dijamin nggak nyebelin kayak Ai…

    nightlovers Reply:
    March 8th, 2010 at 9:31 AM

    hahaha… emosi kan? iyalah, parasit kayak gitu :D

  3. Vicky Laurentina says:
    March 8, 2010 at 1:40 PM

    Waduh, Ai ini jenis laki-laki bertipe Sumitro, alias SUka MInTa ROkok! :D



« Chit-chat @The Barrels
Semalam di Pattaya »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: Hai Oma. Makasih, ya. Amin.:)
  • nightlovers: Lys… You’re a wonderfull & loving mom. I can see that, dan senaaaang kali kutengok...
  • nightlovers: Lys, you’re right. Emosi aku sama dia, tp tetap sayang juga sama dia. She’s such a nice...
  • oma: Selamat ulang tahun ya, Mba. Semoga selalu diberikan keberkahan oleh Allah :)
  • oma: Sekitar jam 2-3. Sayang banget ya ga ketemu, padahal mau ngeliat Vay. Belum rezeki kali ya, hehe

Recent Posts

  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It
  • Tante Cie
  • Semua Karena Cinta

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (28)