March 6th, 2010 at 9:05 PM by nightlovers
Akhirnya jadi juga aku kongkow dengan sepupu-sepupuku. Kami janjian untuk sekedar minum-minum ringan di The Barrels, La Piazza. Tentu saja dipilih hari Jumat, sebagai hari favorit para pekerja. Tc — salah satu member group yang stay di Medan — langsung buat ikon sedih karena dia tak bisa ikut bersama kami.
Aku datang duluan seperti biasa. Tadinya aku pikir aku sudah telat, karena aku jalan setelah anakku selesai makan (kau tahu, dia begitu lambat menghabiskan makanannya lho, bisa satu jam setengah). Sampai di La Piazza, ternyata Op belum ada, padahal tadi dia ribut tanya-tanya di group chat kami ada dimana. Dd mengirim pesan, katanya dia masih di Pulomas. Dia sudah bilang akan datang telat, karena menunggu Yud abangnya pulang kerja. Kami memang mau kumpul semua, aku, Op, Dd, dan pasangan pengantin baru, Yud dan Dee.
Well, La Piazza is a really cool place. Pilihan resto dan kafe-nya banyak, dan the outdoor venue adalah pilihan favorit pengunjung karena berhadapan langsung dengan stage. Ada live music di sini.
Tak berapa lama Op datang. Dia mengeluh karena susah mencari parkir. Volvo-nya lumayan makan tempat sehingga agak repot berkeliling. Kutanya kenapa tidak vallet saja. Malas, katanya, karena ada banyak barang di mobil. Op tidak berubah, style nya tetap seperti dulu. Always rapi dan keren. Kemeja lengan pendek yang terseterika licin dimasukkan ke dalam celana yang juga sama licinnya, cambang yang bersih tercukur, sepatu hitam mengkilat. Jam mahal di tangan sebelah kanan, serta dua cincin di jari sebelah kiri. No, dia tidak kelihatan seperti bapak-bapak, dia terlihat persis anak muda yang keren. Dia sebaya denganku tapi belum menikah.
Karena Dd belum datang, kami memutuskan untuk duduk duluan di luar, di depan panggung. Tadinya aku mau di dalam saja, ada venue yang disewa barengan oleh The Barrels dan Bakoel Koffie. Di situ ada sofa. Tapi kami telat, saat celingak-celinguk tahu-tahu sudah ada orang lain yang masuk duduk di sofa. Ya sudah, di luar juga tidak apa-apa. Udara malam hari itu cukup sejuk, nikmat sekali. Anakku kelihatan senang, dia main kesana kemari sambil tertawa-tawa riang. Kami mengobrol dan bergosip, hmm sebenarnya bukan bergosip, tapi sharing knowledge hahaha..
Setengah jam kemudian baru datang Dd, Yud, Dee, dan…. maminya? Loh, kenapa si Tante ikutan kesini? Aku dan Op refleks berpandangan dengan tatapan bertanya-tanya. Belum apa-apa kami sudah khawatir, kenapa maminya Dd ikut kesini? Ini kan acara anak muda. Si Tante berbasa-basi sebentar lalu katanya dia mau pergi belanja dulu untuk Derder (wah, Derder juga ikut? Sekeluarga bo’) yang sudah menghilang entah kemana, mungkin ketemu teman sekolahnya yang juga lagi main di La Piazza. Derder ini adiknya Dd yang masih duduk di kelas 1 SMU. Adik termuda dari persaudaraan kami.
Aku lihat Tante mengajak Dee ikut dengannya. Wah, aku langsung senyum-senyum. Aku tahu betul Dee pastinya ingin bergabung dengan kami tapi dia kan tak mungkin menolak permintaan ibu mertua (baru nikah pula!). Aku kenal baik sifat Tanteku ini, dia pasti bilang sama Dee agar membiarkan kami sepupu-sepupuan bercerita dan saling melepas rindu. Nasibmulah, Dee.
Yud tampil casual. Dia tidak separlente Op dalam berpenampilan. Lalu Dd? Adikku yang gendud itu seperti biasa dengan gaya santainya, bercelana pendek, dan pakai kaos oranye Bart Simpson. Buset deh, makin bulet aja jadinya. Gayanya persis kayak cukong, bawa tas kecil berisi dompet, uang, dan beberapa ponsel.
Dd yang paling semangat dengan acara kami ini. Segera dia memesan satu pitcher draught beer Heineken dari The Barrels, sementara aku dan Op sebelumnya sudah terlanjur pesan beer gelas (draught Heineken juga) dari Pisa Cafe. Dan ternyata kami memang salah. Beer segelas di Pisa harganya 40 ribuan, padahal kalau beli pitcher dari The Barrels cuma 115 rb yang bisa dapat 4-5 gelas. Yah maklum saja, tadi kan Dd dan Yud belum datang, kami berdua kan tidak ingin terlihat seperti orang mau mabuk, cuma berdua tapi udah pesen pitcher, hehehee…

one glass is not enough
Aku tidak begitu suka Heineken sih sebenarnya. Tapi mereka tidak menjual Corona. Yang ada bir Bintang, Heineken, dan Bir Hitam. Buset deh, bir hitam? Jadi ingat petualangan minum bir hitam dengan Elz, hahahah! Ya sudahlah, tidak ada pilihan toh?
Kami mengobrol sambil diiringi tampilan live music dari seorang penyanyi cowok. Beberapa cewek di meja lain terlihat melambai pada Dd, oohhh ternyata mereka teman SMP nya Dd. Sekitar jam 9, aku lihat anakku sudah mulai mengantuk sementara pitcher kedua baru datang. Anakku pun tertidur di pangkuanku baru kemudian aku pindahkan ke pangkuan susternya. Tak mungkin bisa mengobrol sambil memangkunya, aku takut dia terbangun nanti.
Dulu waktu aku masih kuliah, aku sering liburan ke Jakarta dan sering jalan bareng dengan Op dan Yud (Dd gak ikutan karena waktu itu dia masih anak kecil, ga level diajak). Kami menertawakan kenangan-kenangan kami, termasuk waktu mobil Citroen Op beberapa kali panas di tengah jalan, lalu menertawakan ketololan Dd waktu pertama kali dicekokin bir sama Op waktu kami karaoke di Lembang. So silly! Aku bilang, sekarang sok tua minumnya Jack D padahal dulu minum bir aja sembunyi-sembunyi.
Yud mengusulkan agar bulan depan clubbing bareng, sama-sama sepupu yang lain. Lalu nanti kita buka botol ini itu, pesan minum ini itu. Aku manggut-manggut saja, tidak berani berjanji dulu. Dd dan Op semangat sekali tentu saja, dengan syarat kakaknya Op jangan diajak hahaha… Gak seru bawa kakak, mau minta buru-buru pulang, katanya. Ya iyalah, kan ada anaknya di rumah, wajar dong minta pulcep. Dasar cowok-cowok, kataku. Loh, emang Dee mau kalo kita ajak dugem? Tanya Op. Oh, dia mau pulkam kok di tanggal itu, jawab Yud. Hahaha… ngakaklah kami, ternyata ada gunanya juga Dee dibawa sama Tante tadi, karena memang benar, kami membutuhkan privasi saat berkumpul begini.
Mungkin orang akan mengira kami adalah sekelompok teman-teman lama yang lama tak bertemu, karena wajah kami semua tidak ada yang mirip, bahkan mendekati sekalipun. Dd dan Yud maminya orang cina, dan Dd tampangnya cina abis, persis kayak cukong dari Roxy. Op, wajahnya memang mirip bapaknya, tapi tidak terlalu kelihatan batak. Lalu aku, dengan tampang orang dari daerah Timur, jelaslah sudah. Siapa yang akan menyangka kalau kami bersaudara?
Saat bil datang, nah ini yang paling aku suka. Akhirnya kami semua patungan, hahaha… Aku membayar untuk pesanan Pisa Cafe karena aku harus membayar untuk makanan anakku dan minuman susternya, sementara pitcher dibayar oleh mereka.
Sebelum aku beranjak duluan — karena anakku sudah lelap sekali sampai tak terpengaruh suara musik yang ribut — Dd mengingatkan lagi tentang rencana bulan depan. Dugem sampai pagi. Oke, dipikirkan dulu ya, begitu kataku berlalu sambil menggendong anakku. Hehe….
Ah sebenarnya aku tidak yakin aku mau ikutan. Hmm..
heineken adalah satu2nya bir yang pernah gua minum seumur idup gua. 1 botol. dan langsung panas dalem seminggu abis itu. huahahaha…
gak suka gua minum bir.
nightlovers Reply:
March 7th, 2010 at 9:53 PM
wah, panas dalam? hihihi… berarti ga cocok merk itu, coba merk lain mgkn lbh cocok :p
Asyik ya…bisa ngumpul and minum2. sebenarnya esesensinya di persahabatn itu kan sist….O ya, itu si butet cantik banget loh…kayak mamanya mesti…hmmm….nice…
nightlovers Reply:
March 7th, 2010 at 9:53 PM
kekeke… pdhl klo kata moudy, maminya ya ancur :p
uh.. Vay makin manis n cantik aja
lebih cantik daripada mamanya.. heheheeeee
nightlovers Reply:
March 7th, 2010 at 9:52 PM
hehehee iya dong, anak hrs lebih cantik dr ibunya, klo lebih jelek tar org2 pd bilang kasian
doh vy..jangan minta seteguk yah…ngga boleh sayang..tunggu dd xaxa gedean..kalian boleh dech hangout bareng..hahaha
bir hitam + ikhlas = nikmat luar biasa..
nightlovers Reply:
March 9th, 2010 at 2:40 PM
ahahahaa…. hmm, nanti mamak-mamak sama anak2nya hang out bareng, lyss?? kekeke…