• Home
  • About
  • Contact

InconvenienceS

December 21st, 2009 at 10:36 PM by nightlovers

Anakku sudah dua kali ikut terapi sensory integrasi. Tiga minggu lalu aku datang membawanya untuk observasi, dan kemudian tante — oh iya karena di klinik ini pakai bahasa ibu, tidak ada lagi aunty disini, tapi “tante” — menentukan hari terapi untuk anakku.

Saat observasi, anakku terlihat antusias sekali. Main kesana kemari, memanjat ini dan memanjat itu, sementara seorang tante yang dedicated untuknya terus menemani dan mengajaknya berinteraksi. Saat itu ada dua tante, aku duga mereka adalah lulusan psikologi, satunya bermain dengan anakku, satu lagi mengobservasi. Anakku kelihatan tidak ada masalah berinteraksi dengan si tante. Beda ketika dia di sekolah lamanya, dia tidak suka dengan aunty dan uncle di sana. Aku melihat kemampuan tante disini untuk berinteraksi dan mengajak anak bermain cukup lumayan. Si tante kemudian memberi anakku jatah terapi di hari kerja, karena kebetulan klinik ini belum punya jadwal di hari Sabtu.

Terapi hari pertama tiba, dan aku sengaja cuti untuk menemani anakku. Ingin tahu seperti apakah metode terapinya. Aku melihat anakku senang-senang saja berkeliling ruangan itu, kebetulan di jam itu hanya dia sendiri yang terapi. Terapinya ternyata biasa saja, anakku hanya dibiarkan bermain dan dibiarkan mencoba semuanya sendiri. Hmm, sama saja ternyata dengan sekolah lamanya. Bedanya disini ada guru yang dedicated. Aku merekam semua di kepalaku dan aku akan mencoba membuat suasana yang sama nanti di rumah.

Ketika aku berkeliling keluar untuk melihat-lihat, aku melihat seorang terapis (biar kau tahu, semua terapis di sini perempuan) yang menghandle seorang anak. Terapis itu terlihat sangat cekatan, dengan tubuhnya yang besar dan suara yang juga besar, aku menduga dia pasti sanggup membanting seorang anak bila dia sedang jengkel. Perasaanku mulai sedikit terusik, aku tak suka melihat caranya memperlakukan anak didiknya. Dia berteriak dan menyuruh anak itu dengan nada yang terlalu keras, sedikit membentak mungkin. Lalu sejam kemudian, ketika anakku masih di dalam kelas, terapis gendut itu masuk ke kelas anakku, bersama beberapa anak lain. Aku melihatnya membuka pintu begitu saja tanpa berpikir bahwa mungkin saja ada seorang anak yang berdiri di belakang pintu itu. Dia melongo sesaat ketika mendapati seorang anak kecil berpipi bulat berdiri di belakang pintu sambil menatapnya. “Wah siapa ini, lucu bangett….” teriaknya lagi. Anak kecil itu adalah anakku, untung saja dia tidak terkena hempasan pintu. Kalau sampai kena, mungkin aku akan berkelahi dengan terapis gendut itu di situ.

Aku masuk dan duduk di lantai kelas memperhatikan anak-anak khusus yang baru masuk bersama tante dan ibunya. Mereka terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, main kesana kemari, lompat kesana kemari. Lalu aku lihat anakku, matanya berbinar melihat ada teman. Dia mendekati seorang anak perempuan yang sedang bermain piano kecil dan ikutan memencet piano, tapi anak perempuan itu berdiri dan langsung pergi. Anakku mendekati seorang anak laki-laki gendut, yang juga langsung berdiri dan tak sengaja tangannya menepis kepala anakku. Aku menarik napas perlahan.

Aku mulai berpikir, apakah keputusanku ini benar? Membawa anakku yang sebenarnya biasa-biasa saja — hanya karena dia terlambat bicara — kesini, dimana seharusnya dia bergaul dengan banyak teman, tapi di kelas terapi ini justru dia seorang diri. Aku juga menangkap pandangan tanya dari para terapis terhadap anakku. Mereka sepertinya sedang berpikir, teori apa yang cocok untuk menjelaskan tingkah laku anakku, karena secara umum anakku “sangat bisa” merespon apapun ajakan bermain.

Ah bagaimana kalau aku tes si terapis? Aku pun bertanya pada terapis, apa pendapatnya tentang anakku. Dan ternyata, seperti dugaanku, dia tidak berani terus terang mengatakan anakku ini normal dan tak butuh terapi khusus. Kalau memang anakku adalah anak berkebutuhan khusus, dia pasti berani blak-blakan bilang bahwa anakku khusus dan terapinya harus begini begitu. Tapi kalau untuk bilang anakku normal, beranikah dia? Sementara dia dibayar dokter untuk mengajar di situ. Dia berpikir sesaat — pasti sedang membuka pustaka teori di kepalanya — lalu dia bilang, anakku belum kuat secara motorik, jadi sekarang ini dia harus dilatih motoriknya biar semakin kuat dan stabil. Dia juga harus dikenalkan dengan banyak tekstur dan simbol untuk melatih kepekaan motoriknya. Oh iya, di klinik ini, semua yang masuk tidak memakai kaos kaki, berbeda sekali dengan sekolah lamanya yang mengharuskan kaki orang dewasa ditutupi kaos kaki, dan aku tak bisa berhenti bergidik membayangkan kuman-kuman yang bertebaran di dalam ruangan itu.

Aku mengirim pesan pada Re, kukatakan padanya bahwa perasaanku tidak nyaman dan aku mulai ragu dengan tindakanku ini. Yang dibutuhkan anakku adalah bergaul sesering mungkin dengan teman sebaya, tapi anak-anak disini bahkan tidak perduli apakah ada teman atau tidak. Anakku malah menjadi eksklusif di sini.

Di akhir terapi, si Tante menuliskan hasil penilaiannya. Aku membacanya dan melengos. Apa ya yang harus kukatakan pada kalian? Soalnya isinya menjengkelkan aku. Dia menulis, “Sudah mulai bisa bereaksi ketika dipanggil.” kemudian, “Tangannya sering masuk ke mulut kalau dia tidak merasa nyaman,” “Beberapa kali sudah banyak menunjuk sambil bilang ‘a’ “, “Harus menunggu lama baru mau mencoba sesuatu permainan.”

Heiii.. hei….. sebenarnya apa yang dilakukan terapis ini ketika observasi kemarin? Dia baru sekali menerapi anakku dan isi penilaiannya seakan dia sudah menerapi anakku selama berbulan-bulan. Semua yang ditulisnya itu sudah bisa dilakukan anakku sejak jauh-jauh hari, dan tentu saja karena aku ibunya akulah yang lebih tahu anakku seperti apa. Oke, aku mengerti, dia memang bukan ibu anakku, tapi tidak seharusnya dia membuat penilaian yang sangat teoritis. Buatlah penilaian sewajarnya. Bukankah saat observasi kemarin kami saling berdiskusi tentang kebiasaan dan kebisaan anakku, tapi mungkin tidak disimaknya. Kuisoner yang kuisi mungkin juga tidak dibacanya, karena kalau dia membacanya dia pasti bisa mengenal pelan-pelan karakter anakku dengan baik dan bukan asal duga.

Maksudku, anakku tidak ada masalah dengan “reaksi” ketika dipanggil. Dia justru sangat bereaksi dengan baik, jadi penilaian itu terlalu mengada-ada seakan-akan sebelumnya anakku susah bereaksi ketika dipanggil. Anakku, dia selalu memasukkan tangan ke mulut kalau dia tidak nyaman, haus, atau mengantuk. Kemudian anakku memang tidak mau langsung terjun ke suatu permainan kalau dia belum pernah mencobanya. Dia akan menilai dulu apakah dia suka dan nyaman dengan benda itu baru dia mau mencobanya. Kau tahu, si terapis berusaha memancing anakku masuk terowongan dengan menaruh sebuah bentuk segitiga di ujung satunya. Anakku, dia tetap tidak mau masuk terowongan. Dia mengintipnya sebentar lalu dia berjalan ke ujung satunya, dia tahu bahwa dia tidak perlu masuk terowongan untuk mengambil segitiga itu. Cukup memutar saja ke seberang, jauh lebih mudah. Hahahaha…. Sudah kubilang kan, anakku lebih abunawas otaknya, jadi gak bisa dikibulin dengan trik begitu.

Pulang dari situ aku berpikir, apakah aku akan melanjutkan terapi itu atau tidak. Aku berdiskusi dengan Re dan aku katakan bahwa mungkin aku memang salah sudah terlalu paranoid, dan aku minta izinnya untuk mencoba terapi ini sebulan saja, setelah itu anakku kembali sekolah biasa. Re setuju.

Minggu berikutnya ibu mertuaku yang menemani anakku sekolah. Aku memang meminta mertuaku bergantian menemani sekolah. Dalam hatiku, aku sudah bisa menebak kalau ibu mertuaku pasti juga tidak setuju melihat model terapi di klinik itu, terutama karena ada beberapa terapis lain yang “kejam”.  Aku menunggu hasil laporan dari Re. Dan betul dugaanku, ibu mertuaku tidak suka sama sekali. Pendapatnya juga sama, terapis di sana terlalu “keras” mendidik beberapa anak. Kemarin itu ada seorang anak yang menangis, lalu sama tantenya si ibu disuruh keluar. Tantenya yang akan membujuk (baca : memaksa) anak itu untuk berhenti menangis dan kembali bermain. Bisa kau bayangkan seperti apa? Keponakanku saja — yang bukan anak berkebutuhan khusus — kalau menangis pasti mencari ibunya, lalu ketika seorang anak berkebutuhan khusus menangis, ibunya disuruh keluar? Woowww, sorry kalau aku tak sependapat dengan teori psikologis mereka. Alhasil anak itu tak berhenti menangis selama setengah jam, dan ibunya akhirnya dipanggil masuk. Anakku pun batal bermain karena dia terpaku melihat anak yang menangis itu. Kali ini tante menulis penilaiannya : “Hari ini agak susah diarahkan, harus di-push untuk bermain.” Aku mengerutkan kening membaca kertas penilaian itu. Kenapa harus di-push? Seorang anak berhak merasa capek atau hilang mood, dan tentu saja mereka juga sudah bisa menunjukkan keinginannya seperti apa.

Akhirnya aku bilang pada Re, aku akan mengeluarkan anakku dari klinik itu. Aku akui bahwa keputusanku memasukkan anakku ke sekolah SI kemarin kurang tepat. Mungkin secara umum para terapis itu punya sense dalam mendekati anak — makanya anakku senang-senang saja main dengan tantenya –  tapi aku kok takut ya anakku malah nantinya jadi benar-benar khusus.  No offense, perasaan seperti itu wajar menurutku. Anak-anak di sini tidak suka bermain bersama, dan aku tak mau anakku nantinya menjadi pribadi yang “emoh bergaul.” Anakku membutuhkan teman yang mau berinteraksi.

Dan tentu saja alasan utamanya karena feelingku sebagai seorang ibu berperan disini. Perasaanku tidak enak sejak melihat terapis gendut itu. Terapis-terapis muda yang berpedoman pada teori, bukan pada basic rasa empati atau banyaknya pengalaman mengajar anak-anak khusus. Aku tidak percaya pada mereka.

Kata Re, itulah aku, terlalu paranoid. Anak baik-baik saja tapi khawatirnya berlebihan. Oke, Re memang benar. Tapi setidaknya aku melewatinya tanpa harus ada rasa penasaran dalam diriku. Aku tak mudah menerima atau percaya akan sesuatu kecuali aku sudah membuktikannya sendiri. Dengan demikian aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan kemudian. Dan aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan sekarang. Membawa anakku keluar dari situ.

| RSS | Category: Night Story | Tags: khusus

15 Responses to “InconvenienceS”

« Older Comments
  1. elmoudy says:
    December 31, 2009 at 3:02 PM

    pengen nongkrong di sini.. lagi bete banget ama kerjaan.. ngelamuun sambil baca2 disini ya zee.. boleh dunk..

    hmm… gitu jadinya. ya iya seh, gw rasa persoalannya cuman 1.. vay perlu lebih banyak temen, banyak bermain. n gw cukup tidak spakat kalau ampe ke klinik sgalaa.. Vay kan anak cerdas..

  2. widi says:
    January 3, 2010 at 10:35 PM

    Kak Zee,
    Aku rasa vaya emang cerdas lah. Buktinya dia mudeng ama “laki” hahahahah….

    nightlovers Reply:
    January 6th, 2010 at 7:57 AM

    Hahahaaa…. betul juga ya =))

  3. 69 says:
    January 5, 2010 at 2:24 PM

    hm..sepertinya level paranoid kamu mirip dengan gw untuk urusan anak :)
    mom’s insting is the best in the world!
    btw, emang Vay umur berapa? anak kolega gw ada yang baru bisa ngomong sekitar umur 4 lebih. Sekarang sudah umur 8, cerdas dan papanya juga ilang : “abunawas banget otaknya!” :)

  4. yuyunt says:
    January 5, 2010 at 11:24 PM

    hai zee…baca postinganmu yang ini jadi inget anak temenku yang udah 2 th tp blm ngomong juga. Anak temenku ini emang punya kebutuhan ‘khusus’, jadi dia blm bisa ngomong karena lidahnya blm bisa bergerak secara baik, menjulurkan lidah pun dia belum bisa.
    Sabar ya Zee…nanti klo Vay udah isa ngomong pasti deh gak bisa diem…hehehhe…

  5. ceuceusovi says:
    January 9, 2010 at 5:54 PM

    klo ga salah.. vay.. umur 21 bulan kan ? sangat wajar klo blom bisa bicara lancar. Mm.. masalah anak2 paling menarik krn saya juga seorang mama. Anak saya yg pertama sejak lahir hingga usianya 4 thn tinggal di rmh hanya dgn seorang pembantu krn saya kerja dan tiap hari pulang menjelang maghrib atau bahkan mlm. dan dengan tetangga kami tidak kenal sama sekali. Meski jarang bertemu orang banyak tapi ia sudah bicara lancar sejak umur 2,5 thn. Anehnya adiknya yang sejak kecil justru berada di lingkungan dengan banyak orang, bicaranya malah baru lumayan lancar umur 3,5 thn. Dan sekarng umurnya 4,5 thn klo dibilang lancar bgt juga nggga.. Sebagai ortu tunggal, saya juga sgt khawatir dgn perkembangan mental anak2, terutama setelah papahnya ga ada.. surely God always besides them..

    nightlovers Reply:
    January 9th, 2010 at 10:19 PM

    Tq buat sharingnya ya mbak, mudah-mudahan anakku bisa segera lancar bicaranya.. :)

  6. oma says:
    January 16, 2010 at 12:22 PM

    aku waktu kecil juga ngomongnya telat dan berhubung jaman dulu ga kaya jaman sekarang, sama si ibu ya dibiarin aja, cuma lebih sering diajak main dan ngobrol
    semangat mba! \(^o^)/

« Older Comments


« “KHUSUS”
Malam Yang Sejuk »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: memang adalah kawan2ku lys…. but gak semua musti diceritakan kan :) .
  • els: ingat kak.. ada kawan2 mu…
  • nightlovers: hehe… ayukk… cheerrrrssssss! :)
  • arman: ayo cheer up!! :)
  • beni: kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya… udah gua kasih tuh orang… :D

Recent Posts

  • Pegawai Oh Pegawai
  • Apa kabar, Sus?
  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (30)