November 25th, 2009 at 10:21 PM by nightlovers
Aahh..! Tumben cuaca malam ini begitu bersih dan terang. Tidak hujan, bahkan tidak ada rintik sedikitpun. Aku sedang di jalan bersama tante, anakku, dan susternya, menuju Kelapa Gading. Aku dapat jadwal konsultasi jam 7 malam bersama seorang dokter anak spesialis tumbuh kembang, maka kami harus bergegas. Begitu tiba, kami langsung naik ke lantai 2. Re tidak bisa ikut karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal.
Pemandangan di klinik ini berbeda dengan yang pernah aku datangi. Kalau di rumah sakit tempat aku biasa membawa anakku untuk kontrol banyak bayi dan toddler yang ribut lari kesana kemari, tapi di sini aku hanya melihat seorang bayi, selebihnya sudah bisa dikatakan toddler, dan juga ada yang sudah anak-anak. Dan sebagian besar dari mereka adalah anak “berkebutuhan khusus”.
Tadi di lantai 1, ada seorang anak yang sebesar anakku, terus dipangku ibunya. Aku tak tahu apa yang dipakainya, tapi anak itu tidak mengenakan diaper, tapi ada kantong di pangkuan ibunya, yang kelihatannya berisi air seni. Anak itu bolak-balik pipis. Aku lihat kaki dan betisnya lurus saja, tidak berotot, hmm.. mungkin dia tidak bisa jalan? Entahlah.
Seorang anak yang kira-kira berumur lima tahun, diam saja saat pertama masuk, tapi ketika disuruh menimbang berat badan, dia mengamuk dan memberontak. Ada lagi seorang bocah yang duduk menunduk, tak mempan oleh bujukan ibu dan neneknya. Ketakutan disuruh ambil darah. Anakku lewat dan berhenti di depannya, lalu menunjuk-nunjuk gambar di baju kaos anak itu. “Uh..! Uh..!” Lalu aku dengar si nenek bersuara, “Tuh lihat, adeknya aja gak takut, malu lho sama adeknya.” Aku tersenyum mendengarnya.
Lalu aku lihat seorang ibu turun dari tangga lantai 3. Ia menggendong anak perempuannya yang aku tebak mungkin usianya sekitar 5-6 bulan. Anak itu begitu mungil, kecil sekali, seperti sebuah boneka anak perempuan yang dipakaikan legging dan sweater. Siapa yang bisa menebak berapa besar sebenarnya tubuh yang terbungkus sweater dan legging itu?
Perhatianku teralihkan oleh teriakan anakku. Ternyata dia marah karena mau main tapi dipegangin terus sama susternya. Klinik ini memang relatif kecil, tapi lumayan bersih menurutku. Di depan tangga ada pintu besi pengaman yang dijaga terus oleh petugas. Jadi kalau ada orang naik dan turun, dia yang akan membuka dan menutup pintu pengamannya.
Suster keluar dari kamar dokter. Bersama si ibu dengan anak boneka. Anak boneka itu digendong oleh neneknya. Aku melihat si ibu duduk di sofa dan menangis, dan suster mengucapkan sesuatu padanya. Dari tempatku duduk, aku bisa merasakan aura kesedihan dari si ibu. Dalam hati aku bersyukur karena anakku masih lebih sehat daripada anak-anak di sini.
Suster memanggil nama anakku. Aku bangkit dari kursi, meminta tanteku menunggu sementara aku mencari anakku yang ternyata masih asyik main di sudut sana. Aku deg-degan saat melangkah masuk ke dalam kamar praktek, deg-degan karena cemas dengan apa yang akan aku hadapi. Dokter masih di ruang sebelah, istirahat sebentar, begitu kata susternya. Sambil menunggu dokter datang, aku malah semakin deg-degan.
Aku datang ke klinik itu karena anakku belum bisa bicara. Dia memang terlambat bicara, karena di usianya yang sekarang satu kata pun belum bisa diucapkannya. Aku tentu paham bahwa perkembangan setiap anak berbeda, karena anak itu unik, tidak ada yang sama. Tapi sebagai orangtua, aku tentu bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anak.
Dokter datang. Dia sudah berumur, dan ternyata dia seorang pribumi. Wew. Bukannya aku rasialis, lho. Hanya saja aku terbiasa bertemu dokter spesialis yang canggih-canggih yang biasanya adalah keturunan tionghoa. Dan di bayanganku, karena ini di daerah Kelapa Gading, pasti dokternya orang tionghoa juga. Hahahaha… so silly. Sebenarnya ini adalah kali kedua aku bawa anakku ke dokter tumbuh kembang. Yang pertama ketika anakku berumur 1 tahun dan dia belum bisa berdiri sendiri tanpa bantuan. Dititah saja dia belum mau waktu itu. Saat umur 1 tahun itu dia baru bisa merambat.
Dokter mengajak anakku bercanda. Anakku bermain dan dia memperhatikannya. Melakukan beberapa tes ini itu, dan dokter juga mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Entahlah, pertemuan ini terlalu singkat menurutku, dan aku rasa dia melakukan tes terlalu terburu-buru, hanya 20 menit kami di dalam. Beda dengan dokter tumbuh kembang yang pertama, dimana kami di dalam sampai 1 jam karena dia sabar melihat anakku main.
Hatiku berdegup kencang ketika dokter bilang, “Iya, memang ada sedikit.” Maksudnya anakku memang ada sedikit bakat “berkebutuhan khusus”. Tapi hanya sedikit, katanya berusaha menenangkan aku. Dia pasti sudah biasa bertemu orang tua yang cemas dengan keadaan anaknya. Dokter bilang, aku tidak perlu khawatir, karena anakku tidak separah yang aku bayangkan, tapi memang bakat itu ada, even hanya 5%.
Sebenarnya ini tidak aneh lagi bagiku, karena dulu waktu anakku berumur sembilan bulan, seorang dokter spesialis naturopatik dengan gelar profesor — dia adalah dokter keluarga kami — juga bilang bahwa anak kami ini ada bakatnya, jadi kami harus membimbingnya dengan benar. Karena kalau dibiarkan, dari yang 5% itu bisa membesar. Sejak usia sembilan bulan itu, sampai sekarang kami masih pakai sebuah alat terapi naturopatik — yang harganya luar biasa bikin bangkrut, hahaha… — untuk anak kami. Di samping itu, aku juga membuat jadwal bermain dan belajar yang cukup ketat untuk anakku setiap Senin-Jumat (kalau Sabtu Minggu dia libur belajar, sama kayak orang dewasa, hehee… ) sehingga meskipun si Keras Kepala itu belum bisa bicara, tapi dia berkembang normal seperti anak lainnya. Hapalannya cepat. Sudah mengerti banyak kebiasaan di rumah itu. Dan akalnya juga luar biasa abunawas-nya. Sudah bisa ngerjain orang pula, salah satunya ya ngerjain aku.

Dokter bilang, anakku butuh terapi, yang namanya terapi Sensor Integrasi. Ini adalah sejenis terapi bermain dimana disediakan alat-alat permainan yang sudah didesain khusus untuk mengasah sensor integrasi anak. Ya seperti balok-balok titian, kolam bola, balok panjatan, luncuran. Hmm.. Sepertinya sih sama saja ya dengan jenis arena permainan di sekolah anakku yang sekarang. Tapi bedanya dimana, tentu aku hanya bisa tahu setelah aku mengikutkan anakku di kelas itu. Katanya terapi SI ini memang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain terapi di sekolah, si ibu juga akan dibekali ilmu terapi (bermain) yang sama, agar di rumah juga bisa berlatih bersama anak. Seems fun ya..
Bagaimana perasaanku mendengar diagnosa dokter? Hmm. Biasa saja sih. Aku tidak pernah kecewa dengan anakku, apapun itu. Mungkin pernah terbersit perasaan tidak puas, tapi itu lebih ke suggest pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi dalam mengurus anak. Buatku, anak adalah gifted dari Tuhan, jadi aku harus ikhlas dengan semua yang ada di dalam dirinya.
……
Pulang dari klinik, kami berempat makan seafood dulu di Gading Food City. Sudah lama aku tidak makan ikan bubara bakar, jadi makan malam kali ini terasa begitu nikmat. Di resto Ujung Pandang kami duduk dan makan dengan lahap. Aku lihat anakku tidak mau kalah. Bolak balik minta tambah. Telunjuknya menunjuk ke arah ikan bakar, “Uh?!”. Lalu tak lama begitu isi di mulut sudah habis, telunjuknya ganti menunjuk piring berisi cumi goreng tepung. “Uh..?!” Heheheheee…
Cepat bicara ya, Vay… biar kita bisa baca buku sama-sama….
Sekarang keadaanya si kecil gimana jeng ?
Semoga lekas bisa bicara sepeerti anak-anak yg lain yach ..
yang penting dah berusaha dan berdo’a..
Selanjutnya, biarlah kuasa Tuhan yg bicara
Temenku disini punya anak kurang lebih 2 tahun waktu itu mbak tetapi blom bisa bicara juga, akhirnya bersama istrinya mereka sepakat untuk memasukkan ke sekola khusus terapi untuk akan “khusus” dengan biaya mungkin ngalahin ongkos kuliah adekku yg di trisakti perenam bulannya…hehehehe… tetapi mereka kuatkan diri untuk tetepa memberikan yang terbaik buat anaknya. Sekarang anaknya sudah berumur 3 tahun dan sewaktu mengikutin kelash khusus itu 10 bulan perkembangannya pesat banget…alhasil sekarang anaknya itu cerewet banget, apa aja di tanyain…hihihihihi…tindakan preventive selalu lebih baik ya mbak, dikenali sedari dini agar manfaatnya juga cepat terasa….
semoga Vaya cantik cepat isa ngoceh2 sama mamanya, dan apabila hari itu tiba siapkan jawabannya dari skr mbak…hihihihi…pertanyaan anak kecil kan aneh2 tuh
Anak adalah Anugrah dari alloh yg di titipkan kepada kita. sayah juga punyak adek sepupu di umurnya yg 2 taun lebih… tapi dia sulit untuk bicara.. tapi tingkahnya gesit mintak ampun. atau emang alloh uda menrancang kembang tumbuh suatu anak.
anak adalah titipan dan anugerah Tuhan yang terindah. apapun yang terjadi dalam proses pertumbuhannya, semua harus diterima dengan hati yang ikhlas. wuaaa saya jadi terharu. inspiratip