• Home
  • About
  • Contact

Peka

November 13th, 2009 at 7:41 PM by nightlovers

Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Seketika kota yang kotor dan penuh polusi basah kuyup oleh siraman air dari si pemilik alam. Sekeluar dari kantor, aku singgah menjemput anakku di kantor Re. Hari ini adalah hari Daddy Day Care, hari dimana Re selalu membawa si kecil ke kantor untuk bermain — tepatnya mengacaukan — di dalam pengawasannya. Tidak terlalu sering sih, paling sebulan atau dua bulan sekali.

Anakku diam saja dalam pangkuanku. Dia terlihat shock tadi karena saat diantar ke mobil — dia berpayung dengan Re — hujan angin begitu kerasnya. Ini pertama kalinya dia melihat hujan begitu deras, wajar kalau dia ketakutan. Tak lama dia tertidur lelap, lelah oleh lamunannya sendiri.

Setiap kali Jakarta hujan, suasana yang kurasakan tidak jauh berbeda. Suram, dingin, dan capek. Jalanan macet, tentu saja. Kalau tidak macet, baru aneh. Pulau-pulau jalan di Pulomas tertutup oleh air. Aku lihat beberapa motor terpaksa berhenti dan mendorong motor mereka yang mogok. Aku menarik napas panjang.  Ini memang pemandangan biasa di Jakarta bila musim hujan tiba, tapi pemandangan itu selalu membuatku merasa trenyuh.

Betapa beruntungnya aku dibanding mereka. Aku tak perlu kehujanan bila hujan tiba, dan tak perlu kepanasan ketika kemarau tiba. Seandainya pun aku harus menepikan kendaraan karena hujan terlalu deras, aku bisa menghabiskan waktu menunggu reda sambil duduk minum susu coklat di sebuah kafe. Sering aku berpikir hidup ini tidak adil, tapi bukankah hidup memang begitu? Tak ada sama rata sama rasa di dunia ini.

Jakarta memang kejam, bahkan sangat kejam. Hatiku perih setiap mataku menangkap bayangan mereka yang kesusahan. Saat seorang kakek tua berjalan terbata-bata berkeliling komplek berjualan rujak, lalu seorang bapak yang berjualan kue murah di dekat kantorku. Lalu seorang ibu pemulung yang memikul karung sambil menggendong anaknya yang kulitnya hitam legam karena selalu terpanggang matahari.

Saat itulah aku tak henti-hentinya mengucap syukur betapa aku jauh lebih beruntung daripada mereka. Tanpa bermaksud mengurangi hormatku pada mereka, aku biasanya membeli dagangan mereka beberapa bungkus, tapi hanya sebungkus yang aku ambil. Pada si bapak kukatakan, bungkusan lainnya itu traktiran dariku untuknya.

Apakah aku sudah menjadi lemah sekarang? Atau mungkin lebih tepat kalau dikatakan, perasaan kemanusiaanku semakin peka? Saat usia bertambah dan pengalaman hidupmu semakin banyak, suatu saat (mungkin saja) perjalananmu akan tiba dimana kau akan lebih sering mendengarkan bisikan hati nurani daripada mengedepankan egomu. Perjalanan hidup mengajarkanmu bahwa hidup ini tidak melulu harus sesuai dengan keinginanmu, jadi kau harus mulai terbiasa dengan banyaknya permainan yang ditawarkan sampai akhirnya arena permainan itu selesai pada waktunya.

| RSS | Category: Night in Jakarta | Tags: malam

9 Responses to “Peka”

« Older Comments
  1. Julie says:
    November 24, 2009 at 11:37 AM

    Hi zee, salam kenal..
    biasanya aku hanya menjadi gud reader saja, tp ga tahan buat ikut koment juga. Memang kadang hidup tidak adil, tapi akan lebih bijak jika kita bs selalu melihat kebawah supaya kita bisa terus bersyukur. Aku/suamiku pernah berada diantara mereka yg hrs menepikan motor saat hujan deras tiba, jika ingin cepat pulang, kami harus menerobos tajamnya air hujan yg mengguyur kami. Atau jika pada siang terik, kami sekeluarga berada pada mobil tua thn 90-an yg Ac nya sudah tidak bs diandalkan. yg bs kulihat dekat adalah keringat anakku yg berusia 3 thn yg mengucur deras di mukanya. Tapi… aku selalu melihat kebawah, bahwa aku hrs bersyukur, krn lebih baik dari mereka yg pada saat hujan justru berusaha mengais rejeki, disaat panas terik masih harus memikul dagangan yg tak banyak yg membeli. Andai semua org bisa lebih peka, dan bisa mensyukuri apapun yang diberikan Allah, mungkin hidup akan bisa kita rasakan secara adil. Semoga semakin banyak org sepertimu yg bisa “peka” pada hidup org2 dibawah.. GBU…

    nightlovers Reply:
    November 24th, 2009 at 12:14 PM

    Hi Julie,
    Terima kasih untuk komenmu yang mencerahkan ini :) ..

  2. Joddie says:
    November 25, 2009 at 12:58 PM

    weew.. tulisan yg manis.. salam kenal yah.. semoga Jakarta bisa makin ramah.. :)

« Older Comments


« Sedikit Maaf
“KHUSUS” »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: Hai Oma. Makasih, ya. Amin.:)
  • nightlovers: Lys… You’re a wonderfull & loving mom. I can see that, dan senaaaang kali kutengok...
  • nightlovers: Lys, you’re right. Emosi aku sama dia, tp tetap sayang juga sama dia. She’s such a nice...
  • oma: Selamat ulang tahun ya, Mba. Semoga selalu diberikan keberkahan oleh Allah :)
  • oma: Sekitar jam 2-3. Sayang banget ya ga ketemu, padahal mau ngeliat Vay. Belum rezeki kali ya, hehe

Recent Posts

  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It
  • Tante Cie
  • Semua Karena Cinta

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (28)