October 20th, 2009 at 10:08 PM by nightlovers
Tadi pagi Tin mengirim sms. Aku pernah cerita padamu tentang dirinya disini, ingat? Dia adalah salah satu mantan teman yang sudah lama tak bertemu. Karena smsnya masuk berbarengan dengan beberapa sms lainnya, sms itu luput dari perhatianku. Aku mengabaikannya seharian, hingga sore hari ketika aku menyetir pulang ke rumah, baru aku teringat akan sms itu.
Dia mengajakku bertemu hari ini, begitulah yang aku tangkap dari smsnya. Aku membalas smsnya, kukatakan padanya bagaimana kalau besok saja, soalnya ada seorang kawan lain yang juga ingin bertemu dengannya. Selain itu, ya ampun, ini mendadak sekali. Aku tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap, termasuk menyiapkan anakku dan semua keperluannya, karena seperti kau tahu, kemanapun aku pergi, anakku harus ikut, karena kami kan satu paket. Jika kupaksakan, akan terlalu malam bagi aku dan Tin untuk bertemu.
Tin membalas, katanya dia harus pulang besok ke Jerman, dan sebenarnya dia berharap sekali dapat berjumpa denganku. Tapi dia tak mau memaksa bertemu, karena mengerti dengan situasi Jakarta. Okay then, bukan rejeki, aku bilang begitu. So aku tak jadi bertemu dengannya bukan karena aku masih belum bisa memaafkan dia dan berusaha terus menghindarinya (walaupun bukan tak mungkin nanti kulakukan lagi), tapi memang begitulah kejadiannya.
Enough tentang Tin.
Aku sedang merenung tentang jalan hidup. Bisakah kau menduga kapan kematianmu tiba, dan pernahkah kau terpikir bagaimana caramu mati? Aku jadi ingat sebuah film yang memperlihatkan kejadian di masa akan datang dimana kita bisa tahu bagaimana maut menjemput kita. Mengerikan.
And now about Bams.
Bams, nama cowok itu. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, berkulit sedikit coklat dengan banyak bekas luka di lengannya. Dia pernah jadi salah satu canvaser di kantor kami di Medan. Ulet dan giat mencari pelanggan, dan katanya sih dia menekuni dunia modelling juga. Beberapa temanku sempat menuduhnya bencong. Ya, mereka pakai kata “bencong” untuk menggambarkan Bams, karena wajahnya yang manis memang sedikit mirip banci. Tapi aku bilang dia itu bukan bencong, dia laki-laki, even aku tak tahu pasti soal orientasi seksualnya.
Beberapa kali dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, dia ikutan nimbrung. Awalnya dia bisa menyenangkan juga, alias bisalah dijadikan salah satu ikon konyol. But ternyata kami salah menilainya. Entahlah apa yang salah dengan dirinya. Tapi mungkin lebih tepat bila kukatakan, dia belum bisa masuk ke dalam “gaya kami.” Beberapa kali dia salah dalam menempatkan dirinya.
Aku ketemu dengan Bams terakhir kali dua tahun lalu waktu aku masih hamil tiga bulan dan kami (aku dan Re) mudik lebaran ke Medan. Hmm, Re waktu itu kayaknya sedang pergi ke rumah saudaranya, jadi aku pun pergi bertemu dengan teman-teman lama. Saat itu Bams juga diundang untuk reuni bersama. Dan komentarnya ketika melihatku adalah,”Kak, kakak gak cantik lagi sekarang, udah jelek. Jerawatan gitu.” Dan kubalas dengan nada sebal,”Eh, tenang aja kau ya.. Ini kan lagi hamil. Wajar kalo orang hamil jadi jerawatan.”
And then, dia mulai lagi. Kali ini Bams curhat pada kami (tepatnya padaku karena pertanyaan-pertanyaan itu ditujukannya padaku), tentang pacarnya. Katanya pacarnya begini, pacarnya begitu, pacarnya ngambek karena dia begini dan begitu, and then pacarnya suka kalau dibeginikan, dibegitukan… Hei hei… Stop it!
Apa dia pikir aku ini Psikolog Cinta, yang siap menampung dan menjawab pertanyaannya, bahkan sampai yang paling intim sekalipun? Aku memang sering jadi tempat curhat teman-temanku karena kata mereka aku orangnya sangat terbuka dan open minded. But not this time, and not for him. Dia belum cukup umur dan belum cukup dekat dengan kami untuk bisa berdiskusi tentang seks dengan kami. Aku bilang, Hey, Bams… Enough! Save your story for you. We don’t wanna hear that. Aku jadi marah dan ingin menendangnya ke got besar di samping Merdeka Walk itu (benar-benar menendang dia lho), tapi kutahankan saja. Aku dan temanku lalu segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain daripada kami bete karena ulahnya.
Dan sekarang… kabar itu datang.
Bams sudah meninggal. Beberapa hari lalu. Teman dekatku (yang hadir saat insiden curhat gilanya itu) yang mengabari. Dia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan tak bernyawa. Diduga bunuh diri menilik dari bukti-bukti yang ditemukan. Ah… hati ini langsung berdetak keras mendengar kabar itu. Betapa mengerikannya. Begitu cepat kematian itu datang, bahkan ketika ia belum datang, kenapa kau harus menjemputnya? Kenapa tak kau tunggu saja hingga saatnya tiba?
Entahlah apa masalah yang Bams hadapi, dan seberat apa masalah itu. Orang bilang dia mengalami kesulitan ekonomi karena dililit banyak hutang dan juga stress karena masalah keluarga. Ah, aku tak mau menduga-duga terlalu jauh, karena sesungguhnya aku tak mengenalnya.
Tapi aku sungguh mengasihani dirinya. Sungguh kasihan. Sebegitu mudahkah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Dimana peran keluarganya, orang tuanya? Dia masih sangat muda, dan hidupnya berakhir dengan sangat tragis… akhh…..!
**Aku hanya bisa berdoa, semoga masih ada sedikit maaf dari Tuhan untuk dirimu ya Bams…
Bams.. bunuh diri
pastinya ia sudah memikirkan dalam
antara 2 pilihan yg teramat pelik
atas pilihan yg terambil
adalah jawaban atas ribuan tanya itu
dan semuanya terjawab sudah
Zee, walaupun tak begitu mengenal.. tapi bila seseorang yang pernah bertemu dan berbincang dengan kita tiba2 dikabarkan bunuh diri.. uuhhh, jantung rasanya mau lepas ya zee..
semoga masih ada ampunan untuk Bams..
nightlovers Reply:
October 21st, 2009 at 7:01 PM
Iya say, mksd aku, aku tak begitu mengenalnya jadi tak tega kalau menduga2 yg tak baik tentangnya… lebih baik diingat yg baik2 saja yaa…
Komen apa yaa…..
O ya, menurut medis aja deh…
Definisi mati adalah berhentinya fungsi batang otak sebagai sentral dari inti2 saraf indera dan organ tubuh yg vital/utama ( brainstem death is death).
Apapun penyebabnya bila sudah tidak aktifitas elektrik di batang otak maka manusia sudah dikatakan mati…walaupun mungkin jantung masih berdenyut dan paru masih bernafas dg bantuan alat2 life support….
Yg jadi masalah memang penyebab/causa dia mati…ini yg membedakan, karena menyangkut ranah hukum dan religi-keTuhanan….
Ada orang2 yg menganggap bahwa mereka memiliki hak sepenuhnya terhadap hidup/nyawa mereka…sehingga ada kelompok pro euthanasia dan pro suicide yg mendukungnya…Tapi dipihak lain menganggap bahwa hidup/nyawa adalah milik Tuhan, sehingga manusia harus merawatnya dan mempertahankannya semaksimal mungkin…ini kemudian yg menjadi ‘blunder’…akibatnya pada kasus2 pasien infaust (tak ada harapan hidup) tetap dipertahankan denyut jantung dan nafasnya dg bantuan alat/mesin…walaupun sebenarnya otak sudah tak ada aktifitas listrik/ mati…bila mesin dimatikan dan dicabut dari tubuh akan dianggap sebagai euthanasia…atau bunuh diri…atau pembunuhan….
Hmm.,nggak nyambung dg postingmu ya mbak.,sorry,
Ntar tak bikin artikel khusus aja lah di blog ku.
nightlovers Reply:
October 22nd, 2009 at 7:50 AM
hahahaa… gpp lah mas.
biar kita juga tahu sedikit ttg proses matinya tubuh itu bagaimana secara medis.
mmmm semoga Tuhan memaafkan temanmu ya mbak karena tela mengambil tugas yg seharusnya bukan mengambil nyawa…
sedih
hidup = berjuang kalau udah gak berjuang ya terkadang orang berusaha mengakhiri hidup
Hidup ini begitu bulat, bahkan saking bulatnya, kita tak pernah tahu akan berada di mana: atas, samping, atau di bawah. Jangankan orang lain, diri kita saja kadang tak bisa dikendalikan. Yang penting, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, berusaha sekuat tenaga….
berkunjung….
mencari inspirasi baru….
masih sibukkah dikau mbak Zee….?