• Home
  • About
  • Contact

Sepuluh Tahun Sudah..

August 25th, 2009 at 10:43 PM by nightlovers

Bb di sampingku berbunyi. Segera aku raih dan  menekan tombol di kiri atas, untuk men-silent-kan ringtone.  Incoming  call from +62813 – sekian – sekian. Aku tidak kenal nomor itu, dan biasanya aku memang tidak mau mengangkat nomor yang tidak aku kenal atau tidak ada di phonebook.

Dugaan awalku, ini adalah si penelepon iseng yang suka miskol-miskol gak jelas. Aku tekan tombol hijau, lalu aku biarkan begitu saja, toh sebentar lagi juga dimatikan sama yang disana. Sedetik, dua detik, tiga detik, tidak dimatikan?? Aku mendekatkan bb ke telinga.

“Halo,” suara perempuan di seberang sana.

“Ya.”

“Sy. Apa kabar?” kata perempuan itu.

Aku diam beberapa saat. Berusaha menggali ingatan, apakah aku kenal dengan suara itu. Tapi tidak, aku tidak ingat sama sekali.

“Siapa ini?” Aku balik bertanya, tetap dengan nada suara yang datar. Ini adalah setelan voice terbaikku yang biasanya berhasil membuat orang enggan untuk menelepon balik.

“Ini Tin..” jawab perempuan itu.

“Oh.” Jawabku tetap datar, walaupun dalam hati sedikit terkejut juga dapat telepon dari dia.

“Kok lemes kali Sy? Sakit?” tanya Tin.

“Enggak. Kan puasa,” entah kenapa jawaban itu tercetus begitu saja. Sedang tidak ingin berbasa-basi lebih jauh, dan sedang berpikir bagaimana caranya mengakhiri perbincangan ini.

“Masih pagipun udah lemas, hahahaa…”

Tak urung aku jadi tersenyum juga mendengar tawa itu. Tawa yang sudah bertahun-tahun tak kudengar.

Selanjutnya Tin menanyakan aku ada di mana. Sepertinya Tin mengira aku masih tinggal di Medan, karena dia bilang dia baru tiba dari Jerman di Jakarta, dan akan berangkat sebentar lagi ke Medan. Pastilah dia meneleponku bermaksud janjian ingin bertemu denganku saat di Medan.

“Aku di Jakarta sekarang.”

“Udah berapa anakmu?”

“Satu. Anakmu?”

“Belum ada,” intonasi suaranya sedikit turun. “Udah tiga tahun merid, belum hamil.”

“Oh, ya gpp lah. Namanya juga usaha.” Aku berusaha menghiburnya. “Kau kawin sama bulek ya?”

“Hehee… iyaaa.” Tin terkekeh di seberang sana. Suaranya sudah kembali ceria. “Dua minggu lagi aku ke Jakarta. Kita musti ketemu ya?” pintanya dengan suara berharap.

“Oh iya, ketemulah kita, nanti kabar-kabari aja ya..” jawabku. Suaraku sudah tidak sedatar sebelumnya.

Ketika pembicaraan kami berakhir, memoriku langsung melompat jauh ke belakang. Bertahun-tahun yang lalu. Si Tin ini temanku waktu di smp. Sebenarnya saat itu kami belum dekat karena aku punya sahabat lain, dan dia juga begitu. Kami mulai dekat justru setelah kami tamat smu, padahal smu kami berbeda. Mungkin juga karena rumah kami tidak terlalu jauh jadi kami sering ketemu untuk main bersama. Setelah kuliah, walaupun kami juga berbeda perguruan tinggi, tapi pertemanan kami tetap berlanjut. Sering saat libur semester tiba, kami bersama teman-teman kuliahku akan pergi berlibur ke Danau Toba. Selain itu kami juga sering menghabiskan waktu dengan berkeliling kota Medan.

Seperti halnya berteman, kami saling sharing tentang apapun, dan kami jarang sekali saling ngambek. Aku juga tidak pernah perhitungan pada dia, makan-minum atau jalan kemana-mana — kalau aku ada sisa uang jajan selalu aku pakai untuk kami berdua. Aku tahu dengan jumlah tanggungan ayahnya yang sampai tujuh orang, belum termasuk ibu tirinya yang baru melahirkan seorang anak (adik tirinya), dia termasuk jarang mendapat uang jajan khusus. Setiap aku main ke rumahnya di sebuah asrama, kami biasanya duduk di garasi depan sambil bercanda dengan teman-teman yang lain. Ciri-ciri anak dari keluarga broken home ada padanya, tak usahlah aku sebutkan semuanya, tapi yang cukup jelas adalah kebiasaannya memaki dengan kata-kata kasar. Sorot tak senang juga selalu dia tunjukkan bila ibu tirinya keluar memanggilnya. Sebenarnya ibu tirinya itu adik kandung mamanya, yang menikah dengan  ayahnya setelah si mama meninggal dunia.

Sampai pada suatu hari terjadi sesuatu pada pertemanan kami. Sebabnya sepele saja. Saat kami sedang nongkrong di radio tempat kami suka main, dia merasa aku mengabaikan dirinya. Ternyata pertemanan kami selama ini membuat dia sedikit posesif. Aku awalnya heran kenapa dia diam saja waktu kami pulang, saat aku antar ke rumahnya juga dia diam saja. Tapi ketika aku tiba di rumahku sendiri sepuluh menit kemudian, telepon rumah berbunyi.

Dari Tin. Dia memakiku. Katanya, “Kau biarkan aku di luar kayak telor anjing!” Aku terdiam mendengarnya. Itulah makian pertamanya padaku. Aku tidak membalas. Aku biarkan saja dia memaki-maki. Aku tidak suka meladeni konfrontasi seperti itu, buatku itu menguras tenaga dan pikiran. Aku sadar Tin emosional dan tertekan dengan keadaannya, tapi kejadian itu tak urung membekas di hatiku. Belum pernah aku dimaki orang seperti itu.

Setelah kejadian itu, dia menghindar dariku. Aku berusaha menemuinya untuk bicara, ada masalah apa. Apakah aku ada buat salah padanya. Tapi dia tidak pernah mau ketemu. Lalu setiap jadwal latihan band tiba, dia tidak datang. Pada anggota band yang lain, dia sesumbar katanya aku tak mungkin berani memecat dia, karena aku tak akan bisa dapat vokalis dengan suara seperti dia. Hmm, belagu, suara standard begitu pikirku. Saat itu aku bilang ke dua anggota band yang lain,“Kalian mau ikut siapa? Dia atau aku? Silahkan pikirkan,” Ternyata dua cowok anggota band itu pilih ikut aku. Aku datang ke kampus Tin, menemuinya di warung-warung depan kampusnya, hendak bilang bahwa aku akan memecatnya dari band. Tapi Tin melarikan diri. Melihatku datang dia langsung pergi. Akhirnya dua temanku itulah yang menyampaikan pemecatan itu.

Setelah itu berturut-turut masuklah kabar-kabar tak menyenangkan ke telingaku. Sebenarnya selain Tin, aku juga punya dua teman dekat waktu smu. Han dan Lia. Cuma karena mereka kuliah di pulau Jawa, otomatis saat kuliah aku lebih sering jalan dengan Tin. Dari kedua temanku inilah aku mendapat cerita bahwa selama ini Tin menyebar cerita buruk tentangku pada mereka. Salah satunya adalah memfitnah keluargaku. Han dan Lia sebenarnya tidak percaya dengan cerita yang mereka dengar dari Tin, makanya dengan adanya kejadian ini mereka berinisiatif untuk cerita padaku. Terus terang aku sakit hati mendengarnya. Tidak pernah aku menyangka akan difitnah oleh seseorang yang sudah aku anggap sahabat. Inilah yang kemudian membuatku kehilangan rasa percaya pada yang namanya teman. Bertahun-tahun aku menutup semua kehidupan pribadiku dari setiap temanku. Yang perlu mereka tahu adalah yang aku mau mereka tahu, tidak lebih.

Kira-kira seminggu kemudian, Tin menelepon ke rumah. Dia memakiku soal pemecatan itu dan bilang bahwa dia tidak akan pernah lagi menganggap aku temannya, dan lupakan saja kalau kami pernah berteman. Tapi seperti biasa aku cool saja menanggapinya. Tidak ada lagi rasa sedih atau kecewa. Aku bilang padanya, aku setuju. Lebih baik memang begitu. Saat itu dalam hati aku bilang, silahkan kau cari apa ada teman lain yang bisa menerima dirimu apa adanya seperti aku. Kita lihat saja bagaimana akhirnya.

Tiga bulan kemudian, saat sedang ngobrol dengan papiku, telepon rumah berbunyi. Aku angkat. Telepon dari Tin. Aku kaget juga. Untuk apa lagi dia menelepon, tanyaku. Ternyata dia menelepon untuk minta maaf. Katanya kemarin itu dia emosi, dan sekarang dia ingin berteman lagi denganku. Padanya aku katakan kalau aku sudah biasa saja, sudah tidak mikirin kejadian kemarin lagi. Itu benar, aku memang tidak marah lagi padanya, tapi aku tidak bisa melupakan itu, dan aku lebih suka tidak berhubungan lagi dengannya. Hidupku sudah cukup tenang selama ini. Di akhir pembicaraan, dia memberiku sebuah nomor. Katanya ayahnya sudah pasang telepon rumah, jadi aku sudah bisa meneleponnya kapan saja. Ketika aku menutup telepon, papiku bertanya sambil lalu kenapa Tin tidak pernah lagi main ke rumah? Apakah kami bertengkar? Aku bilang saja kalau Tin sibuk kuliah. Tapi aku tahu papiku pasti mengerti situasi seperti itu. Dia tidak berkomentar lebih jauh.

Bertahun-tahun berlalu. Tin tetap berusaha menghubungiku. Tapi aku tak kunjung mau bertemu dengannya. Keadaan jadi terbalik sekarang. Bedanya adalah, aku tidak membalasnya dengan kasar dan tidak menghindarinya, cuma ya aku memang selalu cari-cari alasan agar tidak usah menemuinya. Pernah juga tak sengaja ketemu di salah satu plaza di Medan, kami saling menanyakan kabar, dan saling bertukar nomor ponsel (sebenarnya aku gak mau, tapi kan gak mungkin menolak).

Dulu pernah seorang teman kami (tepatnya teman si Tin yang aku kenal belakangan) menelepon, katanya Tin ada di sebelahnya, terbaring sakit. Si teman bertanya kenapa aku tak pernah menelepon Tin. Tin sakit karena kangen pada aku, sahabatnya. Aku bilang, “Untuk apa aku telepon dia? Setahuku kami tidak ada urusan.” Kata teman-temanku, aku kejam. Tapi aku bilang, itu jujur.

Lalu tahun lalu, sebuah sms dari nomor luar negeri masuk ke ponselku. Dia bilang dia Tin, menanyakan kabar. Aku cuek tak membalas. Masuk sms berikutnya, sedikit memaksa kenapa aku tak juga membalas. Aku tak bergeming. Sms-sms itu aku delete dengan sukses.

Sekarang, sudah sepuluh tahun dari kejadian terakhir. Sepuluh tahun kami tidak bertemu dalam arti sebenarnya. Sebenarnya aku rindu juga padanya. Kami sama-sama cocok kalau sudah gila-gilaan, dan masa-masa remaja kami lumayan menyenangkan kok.

Entah ya. Mungkin dia sudah berubah. Atau mungkin juga tidak. Tapi bagaimana aku tahu kalau aku tidak mencobanya? Seharian ini aku berpikir.

Dan… aku pikir mungkin aku akan menemuinya nanti kalau dia mengajakku. Tak apalah kali ini aku mengalah, mencoba berdamai dengan hatiku. Sudah saatnya kucoba membersihkan sisa sakit hati itu. Sudah terlalu lama… sepuluh tahun sudah..

| RSS | Category: Night Story | Tags: kenangan

30 Responses to “Sepuluh Tahun Sudah..”

« Older Comments
  1. b4nch4 says:
    September 16, 2009 at 3:19 PM

    to forgive is probably the hardest thing ever.

  2. oma says:
    September 21, 2009 at 1:51 AM

    forgive, not forget
    bekas luka akan tetap ada, seperti paku yang menancap pada papan dan kemudian kita mencabutnya
    take care mba, karena bekas luka akan membantu kita mengingatkan tentang penyebab luka itu dan bagaimana sakitnya :D

  3. widi says:
    September 26, 2009 at 11:01 AM

    inspirasional kak Si….

    “Untuk apa aku telepon dia? Setahuku kami tidak ada urusan.” Kata teman-temanku, aku kejam. Tapi aku bilang, itu jujur ===>> kadang orang2 lebih ga bisa menerima kejujuran dan mengatakan kejam sebagai balasannya.

    “Lalu tahun lalu, sebuah sms dari nomor luar negeri masuk ke ponselku. Dia bilang dia Tin, menanyakan kabar. Aku cuek tak membalas. Masuk sms berikutnya, sedikit memaksa kenapa aku tak juga membalas. Aku tak bergeming. Sms-sms itu aku delete dengan sukses.===>> yg ini bener2 inspirasional. DELETE THE MESSAGES, DON’T READ ANYMORE WHILE WAITING YOUR HEART CHANGING *maksudnya ditujukan buatku wahahahahah*

    nightlovers Reply:
    October 15th, 2009 at 3:49 PM

    Hihihihhi……….. memang harus kejam Wid. Daripada mengganggu kenyamanan hidup kita kan?

« Older Comments


« Sore di La Piazza
Seorang Ibu Tua »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: memang adalah kawan2ku lys…. but gak semua musti diceritakan kan :) .
  • els: ingat kak.. ada kawan2 mu…
  • nightlovers: hehe… ayukk… cheerrrrssssss! :)
  • arman: ayo cheer up!! :)
  • beni: kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya… udah gua kasih tuh orang… :D

Recent Posts

  • Pegawai Oh Pegawai
  • Apa kabar, Sus?
  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (30)