June 9th, 2009 at 1:15 AM by nightlovers
Kali ini aku mau cerita pengalaman lucu waktu aku dan temanku clubbing ke Equator (sekarang ganti nama jadi Zodiak) di Novotel Medan. It means sudah bertahun-tahun yang lalu jamannya kami berdua baru kerja dan juga belum merit, tapi masih terasa lucu kalau diingat. Waktu itu kami baru pulang dari acara kantor pada malam hari, lalu kami pikir, oh bagaimana kalau kita ke Equator saja? Jaman itu Retro belum ada, jadi tempat clubbing ya terbatas. Dan inilah pertama kali nya kami kenal clubbing.
Elz — nama temanku itu, benar-benar partner in crime yang oke untuk urusan bertanding minum. Katanya papanya sering simpan botol minuman di rumah, jadi kadang tiap malam dia suka ambil sedikit di gelas sloki untuk diminumnya di kamar. Hmm.. bandal kali memang kau Elz.
Sampai di dalam Equator, suasana berisik sekali. Musik sudah hingar bingar dan orang juga penuh. Kami agak kesulitan mencari tempat untuk duduk, karena semua table penuh. And finally dapat juga, ada di sebelah kiri. Bukan posisi yang mantap tapi bukan masalah, yang penting kan bisa duduk.
Aku lihat di sebelah kanan kami duduk sekelompok abang-abang tua, duh gimana ya bilangnya. Ada yang bapak-bapak, ada juga yang abang-abang. Jadi kita bilanglah abang-abang tua aja. Dari gayanya ketahuanlah orang batak. Di depannya ada pitcher berisi draught beer dan gelas-gelas kosong.
Aku dan Elz memutuskan untuk pesan bir hitam. Maksud kami, kalau bir biasa terlalu standard, tapi kalau pesan slokian, costly banged, karena kan sebenarnya kami ingin bertanding minum bir saja. Hahahaha… Sementara seorang teman kami yang lain cuma mau pesan coke saja.
Nah ketika kami lagi ngobrol-2 sambil menikmati musik, dan juga lagi menunggu pitcher kami diantar, bapak yang duduk di sebelah kami dengan pedenya menuangkan draught beernya ke dalam tiga gelas kosong, lalu meletakkannya di meja kami. Dia sendirian, karena seorang kawannya sedang pergi entah kemana.
Kami bertiga berpandangan. Elz yang akhirnya angkat bicara duluan. Dengan gaya bicara Elz yang sedikit berwibawa, Elz bilang begini : “Maaf, Pak. Tidak usah… sudah pesan sendiri..” sambil tangannya membuat gerakan menolak.
“Ini… buat kalian.” kata bapak itu lagi.
“Sudah pesan, pak…” kata Elz lagi.
Si bapak itu kembali merokok dan tidak perduli dengan jawaban Elz. Mungkin juga dia tidak dengar karena suara musik yang keras. Tiga gelas bir tergeletak di depan muncung kami. Kami gengsi menyentuh karena tidak mau dianggap cewek gak bener yang cari minuman gratis.
Tak lama, datanglah kawan si bapak tadi. Sambil merokok tentunya. Tiba-tiba kami dikagetkan sama suara kencang si bapak tersebut. “Gak mau orang ini minum! Haram rupanya buat orang ini?!”
Maakk!! Kagetlah kami bertiga, gak menyangka kalau si bapak itu tersinggung karena birnya ditolak. Si abang-abang kawannya itu tertawa saja, lalu dengan gaya bataknya, dia menghampiri kami dan bilang begini : “Minumlah, dek… gak haram kok… gak papa…” sambil menyorongkan gelas bir itu lagi. Dari senyumnya aku tahu, dia mafhum bahwa kami hanya cewek baik-baik yang ingin fun tanpa diganggu. Dan maksud si bapak itu ngasih bir mungkin hanya sekedar menunjukkan niat baiknya saja, bukan bermaksud melecehkan. You knowlah, laki-laki… pantang tak tunjuk kekuasaan kan? :p
“Haram ya? Haram rupanya?” Merepet lagi si bapak tadi.
Elz langsung panik. Mungkin karena Elz merasa dialah yang telah membuat si bapak itu tersinggung.
“Iii.. iya pak, iyaa..” kata Elz ketakutan sambil buru-buru mengambil gelas bir dan meminumnya. Hahahahahaa…
Aduh kalau mengingat itu rasanya mau ketawa guling-guling. Iyalah, aku juga sempat jiper, takut aja kalau-kalau si bapak tadi tiba-tiba ngamuk.
Yang lebih lucu lagi, setelah bir hitam kami datang dan aku berdua Elz seakan berlomba menghabiskan isi gelas kami, kami akhirnya minum juga bir-bir yang dikasih bapak tadi. Soalnya kurang, bo’. Hahahaa…
Pas pulangnya di dalam mobil, kami yang sudah sedikit teler jadi ngakak-ngakak gila di dalam mobil. Sampai aku berkali-kali harus mengingatkan Elz agar tidak kehilangan kontrol, takut tiba-tiba ada polisi lewat.
“Iiissh tadi kita sok nolak, terakhir kita minum juga bir yang dikasih bapak itu..” Elz.
“Hahahaaa… Iya, buat malu aja ya.” Aku.
“Berapa gelas kita tadi, mbak? Sama ya?” Elz mulai ngakak-ngakak gila lagi. Aku kembali mengingatkan Elz, supaya jangan terlalu semangat.
“Elz, kau mabok ya?”
“Hahaahaa… lucu kali tadi ya. Kau yang mabok, Mbak. Sampe mesen jus jeruk. ”
“Iya, itu biar ilangin pusing Elz. Nanti gak ada yang nyetir mobil, kayak mana kita pulang? Kena tangkap polisi pulak kita nanti…” Aku ngeles.
“Tapi tadi ada yang mantap kali ah… sampai naik meja.” Yang dimaksud Elz itu aku. Wakaakakaa… Aku lupa waktu itu band nya sedang bawa lagu apa, but pastilah lagu yang keren banged, sampai-sampai aku naik meja untuk dance. Too bad waktu itu Elz gak naik meja juga, katanya takut mejanya jatuh. Tapi itu dulu… kalo sekarang dia naik meja, pasti meja gak akan jatuh. Udah langsing bo’. Kekekekee…
Setelah malam itu aku dan Elz selalu ngakak-ngakak setiap teringat kejadian itu. Benar-benar melatih mental lho kena bentak tubang, hahahaaa..
makjang… ko tulis pulak cerita memalukan ini… jadi ngakak2 aku dikantor…ih emang yah..itu pengalaman tak terlupakan..
gak berani aku baca kuat2, nanti kedengaran bebi bala2 pulak…hahaha.. tapi emang ada saatnya gairah buat ky gt lagi agak padam yah? sekarang rasanya ngga senikmat dulu lagi..hahaha..
nightlovers Reply:
July 3rd, 2009 at 10:36 AM
Kkekkeee…….. betul itu elz….. sekarang da beda lhooo..
Ayoo minum lagi… !!!
wakakaka…