• Home
  • About
  • Contact

Baileys Story @ Club Gak Laku

May 31st, 2009 at 2:37 AM by nightlovers

Pagi buta begini mengingatkan beberapa tahun yang lalu saat aku sedang workshop di Bandung bersama sekitar dua ratusan karyawan lainnya. Saat itu kami semua baru selesai meeting sekitar jam 12 malam — oh please, bisa bayangkan meeting sampe jam 12 malam? — dan rasa penat yang tadinya membungkus badan justru hilang tepat ketika panitia mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat.

Setelah ke kamar untuk mengambil cardigan, aku turun lagi ke Lobby, berharap masih bisa ngopi-ngopi sambil denger musik di lounge nya. Tapi ternyata lounge sudah tutup, padahal aku sudah ngebet pengen santai. Dasar Horison hotel tua, makiku dalam hati. Aku tidak berminat kembali ke kamar, karena room mate ku cerewet sekali. Bertanya ini itu terus, want to know saja. Sampai mau tidurpun aku tidak bisa saking cerewetnya dia yang tidak berhenti-henti bicara.

Aku akhirnya melanjutkan niatku dengan pergi ke samping. Dua hari di situ aku memang sudah melebarkan sayap dengan lihat-lihat sedikit. Di samping hotel ada Spec’s Lounge yang masih satu komplek dengan hotel.

Awalnya aku kira itu tempat ajeb-ajeb yang standardnya Retro di Medan. Tapi begitu aku masuk, yang terdengar ternyata house music. Aku sudah pernah cerita ini juga di blogku yang satu lagi.

Lalu aku pun mendapati isi lounge yang hampir kosong melompong. Tidak ada pengunjung selain para anak band dan tentu saja pelayan. Hmm, ini klub ajeb-ajeb gak laku ternyata. Tapi aku pikir ya sudahlah, udah syukur ada. Daripada stay di kamar dengerin room mate yang cerewet?

Aku duduk di bar sambil pesan Baileys. Ada dua bartender di situ. Beberapa pengunjung sudah datang, dan musik haus digantikan dengan band. Mampuslah, ngapain pula tua-tua bangka ini kesini? Bukannya di rumah aja tidur sama bininya. Aku membatin begitu melihat yang datang apek-apek tua dengan ceweknya.

Pelayan di lounge tahu kalau aku peserta workshop yang nginap di sebelah. Dia menjelaskan segala sesuatu yang aku rasa tidak penting — tapi tak apalah, mungkin dia pengen terlihat sopan saja. It’s okay.

Kembali aku memilih minuman. Aku coba pesan Illusion, ingin tahu apakah sama kerasnya seperti Illusion-nya Retro. Ternyata beda, warnanya juga beda, kalo di Retro warnanya biru, disini warnanya hijau. Dan tidak begitu keras kayaknya. Kenapa aku bisa bilang begitu, ya karena buktinya aku biasa saja tuh, hehehee…

Seorang bartender keluar dan berusaha beramah-tamah denganku. Aku ingat dia bertanya teman-temanku mana, kenapa aku cuma sendiri. Aku menanggapi dengan biasa saja, menjawab bahwa yang lain sudah istirahat. Setelah itu aku kembali memusatkan perhatian pada band, yang lama-lama aku dengar oke juga suaranya.

Aku tahu si bartender tadi ingin mencari kenalan. Apalagi begitu mereka tahu aku ini dari Jakarta, seperti langsung tertarik dan antusias. But please dong, lihat-lihat dulu. Apa aku kelihatan seperti cewek yang datang kesitu untuk cari kenalan? Atau aku kelihatan seperti cewek patah hati yang butuh teman? Atau terlihat seperti mereka yang cari minuman gratis? Well, I’m a married woman, dan yang aku butuhkan hanya sedikit hiburan setelah meeting marathon.

Aku diam dan tidak menoleh lagi ke dia, sampai akhirnya dia malu sendiri dan kemudian beranjak. Berpura-pura ngobrol dengan temannya tapi sebenarnya dia malu berat. What can I say? Terlalu jauh untuk kau gapai, nak! Hehehee….

Aku cuma sejam saja di situ. Setelah cukup relax, aku kembali ke hotel. Besok pagi-pagi sekali kami harus bersiap-siap untuk belanja ke FO dan kembali ke Jakarta.

Ketika aku dorong pintu kamar hotel pelan-pelan, sebuah suara menyambutku. “Sy, itu elo yaa…?” Huaaaaaaah!! Ternyata belom tidur juga dia. Ya siapa lagi, emangnya ada orang lain yang mau masuk ke kamar sini? Emangnya ini hotel melati, orang-orang bebas lalu lalang?

“Iya.” Aku menjawab singkat, lalu segera ke kamar mandi untuk cuci muka, cuci kaki cuci tangan, sikat gigi, ganti baju dengan daster katun yang nyaman, lalu lompat ke kasur. Tidur pules!!

| RSS | Category: Night Story | Tags: baileys, Clubbing, malam, Tequila

9 Responses to “Baileys Story @ Club Gak Laku”

« Older Comments
  1. fraders says:
    June 6, 2009 at 2:10 PM

    Bartender lagi nyoba peribahasa tuh…

    sambil nyelem nangkap ikan.. artinya nyari uang sambil nyari kenalan…

    hehehe…

  2. annosmile says:
    June 8, 2009 at 9:17 AM

    klo pagi waktunya tidur ya
    xixixixixi…

  3. dian says:
    June 10, 2009 at 9:28 AM

    baileys oh baileys…
    pada masanya, daripada mengalami seperti yang kau alami jeng, aku dan teman-teman lebih suka membeli dan menyimpannya di rumah. lebih aman kalau minum bersama teman-teman dekat saja.
    haduh!! sudah sudah! jadi pengen nanti!!

« Older Comments


« Pub Ala Koboi & Gerobak “karet”
Dibentak Tubang »

Blogroll

  • Elmoudy
  • Srex
  • Widi
  • Wordpress Theme

Recent Comments

  • nightlovers: memang adalah kawan2ku lys…. but gak semua musti diceritakan kan :) .
  • els: ingat kak.. ada kawan2 mu…
  • nightlovers: hehe… ayukk… cheerrrrssssss! :)
  • arman: ayo cheer up!! :)
  • beni: kasian bgt., coba aja kalo gua orang kaya… udah gua kasih tuh orang… :D

Recent Posts

  • Pegawai Oh Pegawai
  • Apa kabar, Sus?
  • Surprise (?)
  • Pengamen Tua
  • Mark Up
  • Emotional Cake
  • Berdua Dengannya
  • Me Time ?
  • Perempuan Kayu
  • Forget It

Categories

  • Night in Batam (1)
  • Night in Jakarta (26)
    • makan di jakarta (8)
    • sex & the city (5)
  • Night in Medan (14)
    • clubbing di medan (7)
    • makan di medan (4)
  • Night in Pattaya (1)
  • Night Story (30)